In Another Life Secret

In Another Life Secret
Bagian 26


__ADS_3

...🍁Disclaimer🍁...


...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....


...•••...


Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam saat Anna duduk di pinggiran tempat tidurnya sembari bermain ponsel. Sebenarnya ia sedang mengetikkan pesan pada Bian. Ia merasa bersalah karena tidak menepati janjinya untuk datang ke cafe seperti yang sudah mereka sepakati kemarin.


Bian :


[Santai ajah Na. Gue udah hubungin kakak gue kok dan jelasin semuanya. Katanya lo bisa datang besok atau lusa juga ngga masalah.]


Setelah membaca itu, Anna baru merasa tenang. Ia berbaring diatas tempat tidurnya sembari menscroll layar ponselnya. Rasanya kalau dipikir-pikir lagi Anna sudah lama tidak mengunggah sesuatu yang menarik di media sosialnya. Entah kenapa bawaannya malam ini gadis itu merasa tenang. Apa mungkin karena efek obat yang ia minum, tapi Anna tidak terlalu memikirkannya.


Lantas perempuan yang mengenakan baju tidur hello kitty itu mulai sibuk memilihkan foto cantik yang akan ia unggah di akun media sosialnya. Sebuah foto yang memperlihatkan Anna begitu cantik dengan pakaian hitam dan rambut yang diurai bebas.


Foto yang ia ambil saat dirinya bersama Dean menghabiskan waktu mereka disebuah pemeran seni setahun lalu. Foto ini mengandung banyak arti untuk Anna. Anna masih menyimpan foto itu di memori ponselnya tapi orang yang mengambil gambarnya entah pergi kemana.


Karinababy Keluarin semuanya Na!


RiaAnjelina Cantiknya aku ini


****Satria**** :)


Daviann Awas ada yang cemburu


_****Arkana11**** Tumben-tumbenan lo nongol. Paket lo udah diisi? @Satria


RoganAm Follow balik ya Anna. Jangan sampai kelupaan. Abang tampan ngga boleh sampai ngga di follback


Satria Notif aman?? @_Arkana11 @Davinn @RoganAm


Pembencimu Alay bangat. Foto gitu doang dipamerin!! 🤮🤮


Yesii118 Gak usah sok cantik @Pembencimu


Sean ❤️


_Arkana11 Jangan pacaran disini, woy 🚨


...Komentar dikiriman ini sudah dibatasi....


...🍁🍁🍁...


Keesokan paginya Anna duduk di meja makan bersama dengan ayahnya. Tangannya yang masih terlilit perban masih berdenyut-denyut nyeri pelan-pelan menyendokkan nasi ke mulutnya. Sedikit demi sedikit Anna menikmati sarapan paginya sampai suara sang ayah memasuki indera pendengarannya.

__ADS_1


"Jadi laki-laki yang membawamu dari rumah kemarin itu pacarmu? Apa dia juga yang membuat nilaimu serendah itu?—ayah tidak menyangka di usiamu belasan tahun kamu sudah berani pacaran, apalagi ayah lihat dia sepertinya tidak baik untukmu," ucap Ryan


"Ayah tau apa tentang teman Anna?" ujarnya mengangkat wajah menatap sang ayah. "Apa semua yang menyangkut Anna juga harus dapat izin dari ayah?"


Anna meletakkan sendoknya kasar disamping piring. Kemudian tanpa menunggu ayahnya membalas ucapannya, Anna langsung pergi menjauh dari meja makan. Ia bahkan sampai lupa meminum susunya karena ulah sang ayah yang masih pagi betul pun sudah mencari gara-gara dengannya.


Anna keluar dari rumah, berjalan menyusuri komplek perumahan dan tepat di belokan kanan, sebuah angkutan umum yang kemarin ia naiki berhenti dipinggir jalan. Sopir angkot tersebut tersenyum menatapnya.


"Ayo, Neng, buruan naik," seru beliau. Anna pun mengangguk lalu duduk di bangku tepat di belakang sopir. Sesekali ia terlihat mencuri pandang ke arah penumpang yang berada di dekat pintu. Logo sekolah yang sama dengannya.


"Lebih enakan naik angkot bukan dari pada diantar sopir terus tiap hari?" Anna menolehkan matanya menatap seorang perempuan yang mengajaknya berbicara.


Apa lagi ini? Ia sudah kesal keluar dari rumah dan sekarang ia malah harus mendengarkan celotehan orang-orang yang tidak Anna kenal sama sekali, walau logo sekolahnya sama dengan seragamnya. Anna tidak pernah melihatnya? Jelas. Ia tidak suka mendapat perhatian dari orang yang tidak ia kenal.


"Jarang sekali ada anak orang kaya naik angkutan umum kayak gini. Kalau pun ada, masalahnya gak bakalan jauh dari masalah keluarga. Biasanya lo diantar. Kenapa? Lo jatuh miskin," kata perempuan di samping orang yang berbicara lebih dulu pada Anna.


Anna terdiam kemudian mengalihkan tatapannya ke arah luar. Energinya akan habis cepat jika meladeni orang-orang seperti itu.


Sepuluh menit waktu yang ia tempuh sampai di depan gerbang sekolah, Anna pun lekas membayar ongkosnya dan berjalan cepat menuju gedung sekolah. Hari ini akan ada ulangan harian. Anna tidak akan melakukan kesalahan lagi dan mengecewakan sang ayah. Ia kerjakan soal ulangannya dengan benar lalu mengumpulkan jawabannya kurang dari satu jam.


Wajah pengisi kelas itu pun begitu mengetat setelah selesai mengadakan kuis dadakan. Sementara Anna dan Yesi yang sudah selesai terlihat berjalan menuju kantin.


Sepanjang lorong menuju kantin, Yesi tidak berhenti mengeluhkan ujiannya membuat Anna hanya bisa mengulas senyum simpul sesekali melirik Yesi karena gadis itu berbicara panjang lebar padanya. Biasanya jutek, dingin dan irit bicara.


"Hubungannya anak Bu Eva sama lo apa Yes. Itu kan udah tugasnya kenapa lo sensian sih."


"Ya kalau suatu saat gue jadi guru dan beliau punya anak terus gue jadi gurunya, gue bakalan buat soal ujian banyak-banyak dan beranak cucu. Mampus tuh anaknya." Kali ini Anna terkekeh karena ucapan Yesi. Ada-ada saja pemikiran temannya yang satu ini.


"Udah ah yang penting nilai lo udah aman. Gue yakin semuanya benar."


"Iya sih, tapi ngerjainnya itu loh apalagi rumusnya buat otak gue mau meledak!"


"Memangnya lihat rumus doang otak lo bisa meledak?" kekeh Anna.


"Ngga lucu loh Na. Maksud gue tuh kepala gue pening ngerjainnya."


"Oh gitu ya. Gue kira seriusan," sahutnya membuat Yesi kian kesal menatapnya.


"Tunggu deh. Ini tangan lo kenapa lagi? Ya ampun Na, apa gak ada lagi kulit lo yang mulus saking banyaknya luka?" tanya Yesi ketika tidak sengaja melihat pergelangan gadis itu diperban.


"Oh ini, gak papa. Cuman luka kecil ajah..."


"Masa iya luka kecil sampai diperban gini. Mana lukanya pas bangat di pergelangan tangan lo. Lo sempat berpikir buat bunuh diri ya?" tebak Yesi.


Anna menyentil dahi gadis itu. "Mikirnya jauh bangat sampai kesana."

__ADS_1


"Ya terus apa dong kalau luka dipergelangan tangan?"


"Gak boleh kepo. Udah ah ini cuman luka ringan doang, pokoknya ngga ada niatan bunuh diri juga."


Yesi tampak khawatir menatap Anna. Ia tau ada sesuatu yang terjadi pada Anna. Mungkin Anna tidak bisa sejujur itu mengatakannya dan Yesi sendiri tau ia tidak ada hak memaksa Anna untuk bercerita.


Sesampainya dikantin--Ria dan Kinara duduk dimeja tengah sembari tertawa-tawa. "Lo berdua jalan apa ngesot?" tukas Kinara pada Yesi dan Anna yang baru saja sampai dan duduk berhadapan dengan keduanya.


"Menurut lo? Sehat gini dibilang ngesoott," sahut Yesi mengeluarkan ponselnya dari saku rok.


"Kali ajah. Soalnya lo berdua lambat kayak siput," ucap Kinara. Yesi dan Anna duduk dibangku kosong di hadapan Kinara.


"Gak tuh. Siput sekarang udah gak manja. Jalannya juga udah cepat," kata Yesi.


"Permisi, ini pesanannya kak."


Suara seorang perempuan membuat Yesi menoleh ke samping kirinya. Ria minta tolong untuk membeli makanan mereka pada perempuan itu. Gadis itu meletakkan nampan berisi siomay dua mangkok, dan mie ayam bakso dua mangkok juga empat gelas es jeruk ke hadapan masing-masing.


"Tumben bangat," kata Anna.


"Sesekali ngga papa gue yang traktir," kata Ria tersenyum manis. Sementara di meja lain tidak jauh dari tempat mereka tempati suara keributan adu mulut seorang cowok dan cewek membuat keempat perempuan itu saling memperhatikan.


"Mulai dah tuh si Brian cari masalah. Rajin bangat dia buat onar di sekolah ini."


"Mungkin itu cewek yang ikut campur yang bukan urusannya. Udah tau dia itu senior masih ajah diladeni bahkan sampai adu mulut," kata Ria membuat Anna menoleh padanya.


"Kemarin juga gue dengar dia berantam sama Sean." Kinara angkat suara. Mendengar nama itu Anna langsung menoleh.


"Ribut? Sama Kak Sean?" tanya Anna memasang wajah penasaran. "Ada apa? Kenapa mereka sampai bermasalah?"


"Iya, ribut. Katanya tuh Sean jagonya cuman karena jabatannya doang. Brian kan suka bangat ngomong dibelakang. Itu sih masih makanya entah benarnya gimana," kata Kinara.


"Terus itu cewek ngapain sama Brian?" Anna lagi-lagi bertanya.


"Mana kita tau Na. Kalau mau tahu sana tanya Brian," ujar Ria. Yesi yang tak habis pikir dengan Ria pun menginjak kaki gadis itu.


"Aw, apaan sih, Yes! Kaki gue masih dipake."


"Mulut lo dijaga Ria sesekali. Jangan buat gue kesal mulu sama lo."


"Iya iya maaf," balas Ria memanyunkan bibirnya.


"Eh, lo mau kemana Anna?!"


- to be continued -

__ADS_1


__ADS_2