
...🍁Disclaimer🍁...
...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....
...•••...
"Maafin aku, Kak. Aku janji gak akan cari masalah lagi sama kakak."
"Tck! Janji? Sekarang ini semua mulut orang udah terlalu sering bilang janji sampai kuping gue pegal dengarnya. Kalau lo langgar janji lo gimana?"
"Mau kemana lo, Anna?" Kinara menarik tangan Anna ketika gadis itu bangkit dari duduknya.
"Gue harus bantuin dia. Masa iya dari semua orang di kantin ini gak ada yang bantu."
"Lo gila ya! Lo gak ingat Brian itu orangnya gimana? Engga satu pun cewek yang berani cari masalah sama dia, kecuali gadis itu. Kita gak tau masalah mereka apa. Mending lo duduk, jangan ikut campur," hardik Kinara berdiri mencegat Anna hendak kearah keributan terjadi.
"Ngga bisa, Kin. Gue gak tega liat orang-orang yang sama kayak gue."
Anna memang keras kepala bila diingatkan. Sekali masuk kandang singa ada dua kemungkinan yang terjadi. Lo selamat dengan banyak luka atau mati mengenaskan dan Anna benar-benar mengambil pilihan kedua.
Brian Ravka Gionayllen. Dikenal satu penjuru sekolah karena sifatnya yang kasar tanpa pandang bulu. Tidak kenal ampun dan tempramental. Kekasih hati Sera tiga tahun terakhir ini.
"Anna!! aishh!!" geram Kinara melihat kepergian Anna begitu saja mendatangi tempat bahaya untuk dirinya. "Ngeyel bangat sih dibilangin. Kalau ada masalah lagi gimana?"
Tangan Brian tertahan di udara saat hendak menampar gadis di hadapannya. Cowok itu menoleh dan menemukan sesuatu yang lama tidak ia lihat berdiri di dekatnya. Senyum miring ala Brian tercetak di bibirnya.
"Banci namanya kalau berani menyentuh perempuan dengan cara main fisik," ucap Anna berani.
Brian lantas menarik kasar tangannya dari genggaman Anna lalu tersenyum misterius dan tanpa ragu mendekatkan wajahnya ke depan Anna membuat gadis itu memundurkan wajahnya dan gugup seketika.
"Ada tamu yang tak diundang ternyata. Mau jadi pahlawan di depan semua orang ya? Oh, atau lo mau bernasib sama seperti perempuan gila ini?"
"Yang gila itu lo bukan dia! Lo sebut dia gila, terus apa bedanya lo yang gangguin orang gila. Berarti lo lebih gila dari dia!" Skakmat.
Brian menggertakkan giginya mendengar kalimat itu lolos dari bibir Anna yang merah merona. Brian tidak akan semarah itu. Sudut bibirnya justru terangkat.
"Jadi ini yang buat Dean sampai betah pacaran sama lo karena sifat lo ini benar-benar menarik untuk dihadapi? Menarik..." ujar Brian sambil membelai rambut Anna yang gadis itu biarkan tergerai sejak selesai ujian.
"Pantas Dean ngotot datang ke rumah gue cuman nanyain alamat lo doang." Brian memajukan wajahnya ke samping wajah gadis itu, lebih tepatnya dekat telinga Anna.
__ADS_1
"Gimana kemarin malam? Dean gak datang temuin lo?" Anna mematung tak kala nama itu menyusup masuk dalam telinganya.
Brian bahkan menertawakan wajahnya yang dalam sekian detik berubah dengan dahi yang mengerut. Brian menatap wajahnya dengan jarak satu jengkal.
"Mending sekarang lo jaga diri lo baik-baik deh. Dean udah kembali Anna dan ada kemungkinan dia akan kembali merebut hati lo lagi. Semuanya bakalan kembali seperti semula. Kali ini lo harus lebih hati-hati."
"Apalagi gue lihat Sean lagi dekat sama lo..." cetus Brian disusul dengan lengkungan tipis di sudut bibir lelaki itu. Setelah membuat keadaan mencekam, Brian beralih pada perempuan yang berdiri di dekat mereka.
"Urusan kita belum selesai."
Setelah itu Brian melenggang pergi dengan suara tawa yang tidak terlalu keras tapi tawa itu bisa memuat Anna membeku ditempatnya. Kini selepas Brian pergi, gadis yang dengan sengaja ia tolong berdiri di hadapannya dengan tatapan tidak suka. Mata itu tampak marah memandang Anna.
"Lo bakalan menyesal karena terlalu ikut campur urusan orang lain. Lain kali jangan kayak gitu. Lo akan aman selama lo lebih pedulikan diri lo sendiri," ucap perempuan itu lalu pergi keluar dari kantin.
Disaat Anna menatap kepergian gadis disana, Anna mendengar bisik-bisik dari penghuni kantin. Tak sengaja juga bisik itu terdengar seperti menyebut namanya.
"Ternyata kelakuan dia dulu parah juga ya."
"Tau. Gue nggak nyangka dia bakalan ngelakuin hal kayak gitu di lingkungan sekolah."
"Anna?" Panggil Kinara.
Ia mengerutkan dahi melihat nomor tidak dikenal mengirimkan sebuah foto padanya. Foto yang menunjukkan seorang gadis tengah melakukan adegan ki*s dengan seorang laki-laki. Anna tidak tahu itu karena wajah gadis di foto itu tidak terlihat tapi Anna yakin itu bukan dirinya.
"Ini bukan gue," gumam Anna setelah melihat notifikasi grup dari atas layar ponselnya. Notif itu terus bermunculan dengan hinaan menusuk sampai-sampai Anna mengedarkan pandangannya ke penjuru kantin karena seruan itu semakin mengganggu telinganya. Mereka yang masih di kantin juga menatap jijik pada Anna.
"Muka cantik dan wajah polos ngga akan bisa menutupi kebusukan terlalu lama. Ngga nyangka ya Na ternyata lo gak seperti yang kita pikirkan."
"Tobat deh lo. Kasian orangtua sekolahin lo tinggi-tinggi, tau-taunya udah jadi bekas orang lain malah mainnya di perpustakaan lagi. Gak coba di hotel ajah sekalian biar lebih hot."
"Benar bangat. Murahan...." Seru mereka yang dikantin kepada Anna.
"Itu bukan gue! Lo semua salah paham," kata Anna membela diri. Ia mengepalkan tangannya kuat. Menatap marah ke semua orang yang menatapnya jijik. Jelas itu bukan dirinya dan sekarang siapa yang melakukan itu?
"Anna?" Panggil Ria. "Bilang ke kita kalau yang difoto ini bukan elo." Anna terdiam sesaat.
"Kalo lo diam berarti benar orang yang ada di foto ini benaran lo Na. Kita gak nyangka lo ngelakuin hal kayak gitu di area sekolah. Jangan bilang selama ini lo juga bohongin kita, lo belum putus dengan Kak Dean..."
Anna menggeleng. "Gue bisa jelasin Ria. Foto itu bukan gue. Gue—"
__ADS_1
"Kita bertiga kecewa sama lo Na. Mulai sekarang jangan dekat-dekat sama kita lagi," ujar Ria pergi mengikuti Kinara dan Yesi yang sudah meninggalkan kantin lebih dulu. Sekarang tinggal Anna yang berada ditempat bersama dengan tatapan sinis orang-orang kantin.
"Jelasin sama kita dulu dong foto ini siapa?" Itu suara Ghea. Sosoknya muncul dari pintu belakang kantin. Anna berbalik badan menatap kedatangan Ghea dan Sera yang tersenyum miring berjalan ke arah Anna.
Anna lagi-lagi mengepalkan tangannya kuat-kuat sampai kukunya memutih saking kuatnya. Kalau bukan karena ulah dua gadis itu siapa lagi yang Anna curigai.
"Masa lo terima-terima ajah lo digosipin satu sekolah karena foto ini. Ayo dong buktikan kalau memang bukan lo yang di foto ini," kata Ghea tersenyum sinis.
"Udah pasti dia sih itu Ghe. Ngga mungkin ngga lo karena setahu kita Dean dekatnya sama lo doang pada saat itu bahkan pacarnya elo doang setelah Kak Dean putus dari Theresia," timpal Sera membuat keadaan benar-benar tidak terkendali. Anna semakin muak.
"Iya kan. Ngga mungkin Theresia juga. Dia kan gak pernah punya rambut gelombang kayak gitu. Theresia mah rambutnya selalu di cat pirang."
"Perempuan mana lagi yang cinta mati sama kakak kelas kita dulu selain lo--Perempuan dengan tampang tidak malu merendahkan dirinya dengan mengutarakan perasaannya pada cowok populer di sekolah kita."
"Dia gak sadar dilihat darimana pun dia ngga bakalan cocok bersanding dengan Theresia primadona Starlight High School," ujar Sera sambil menaikkan sebelah alis menatap Ghea. Ia senang melihat wajah ketakutan Anna yang semakin murung.
"Pantas ajah lo sampai ngga mau putus dari Kak Dean, rupanya karena udah pernah dicicipi. Takut ya kalau Dean ninggalin lo semua aib yang lo tutupi kebongkar. Iyah?" kata Sera.
"Lo berdua ngga bisa diam ya?" geram Anna mulai berani berbicara tegas. Suaranya mendominasi penjuru kantin.
"Gue ngga pernah begitu sama Kak Dean. Lo ngga malu ya urusin urusan orang lain. Lo ngga makan kalau gak ikut campur urusan orang lain?"
Ghea melotot tajam dengan rahang menegang memandangnya. Keduanya berdiri saling berhadapan. "Lo bilang apa barusan?" Ghea maju dan mendorong bahu Anna kasar. "Bilang apa lo barusan, hah?"
"Kenapa? Lo juga sakit hati kan dengar omongan gue kayak gitu. Gue juga sama bahkan bukan sekali dua kali lo berdua berusaha menghina gue. Kenapa sih lo berdua gak berhenti usik kehidupan gue?"
"Kalau karena ngga suka, ngga gini caranya Ghea, Sera. Itu semua sama ajah nunjukin diri lo berdua rendah di mata semua orang!"
"Apa?" tandas Ghea geram. Ghea berniat menampar gadis itu namun Anna dengan cepat menahan pergelangan tangan gadis itu.
"Gue berani ngomong karena gue ngga salah. Buat apa gue takut dengan hal yang sama sekali gak pernah gue lakuin. Gue tau foto itu pasti lo berdua yang rencanain, kan?"
Kali ini perempuan dengan sweater biru langit itu tampak begitu marah membuat Ghea mengerutkan keningnya. Cengkraman di tangan Ghea kian menguat.
Dari arah belakang, Sera dengan cepat menarik rambut panjang milik Anna membuat genggaman gadis itu terlepas dari kepala Ghea. Anna di dorong kasar hingga menghantam sisi meja dan jatuh di lantai.
"Anna!" teriak Tania menghampiri gadis itu dan membantunya berdiri. Tania melirik Ghea dan Sera bergantian. "Gue bakalan aduin lo berdua sama Bu Wanda! Kali ini lo gak bakalan gue ampuni."
- to be continued -
__ADS_1