In Another Life Secret

In Another Life Secret
Bagian 51


__ADS_3

...🍁Disclaimer🍁...


...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....


...•••...


Di tempat lain, jauh dari lokasi sekolah. Segerombolan anak muda tengah asik duduk di sebuah warung kecil dekat pinggir jalan. Mereka adalah para senior Starlight High School angkatan tahun lalu.


Disaat mereka sedang bercanda ria membahas banyak hal, suara deruman motor KLX dari ujung jalan sana datang dan berhenti di tempat parkir setapak di samping warung.


Cowok itu melepas helm di kepalanya lalu turun dari atas motor. Ia merapikan tatanan rambutnya sembari berjalan ke warung. Di dalam warung, orang-orang disana mengganguk karena kedatangannya. Sebagian saling adu tos padanya.


"Lo bolos sekolah?" ujarnya pada seorang cowok di sebelahnya. Cowok yang baru saja datang dan ikut bergabung di warung adalah Dean.


"Lo udah liat sendiri. Kenapa nanya lagi?" balasnya. Cowok itu adalah Brian.


Berangkat dari rumah sekaligus pamit dengan ibundanya, Brian justru tidak sampai pada tujuannya. Ia tiba di depan gerbang sekolah pukul 07.00, namun entah apa yang sedang lelaki itu pikirkan. Ia memutar balik motornya menuju warung ini.


Ia sarapan di warung kecil ini dan duduk sampai Dean datang. "Hm. Gimana keadaanya?"


"Hari ini mantan lo kembali sekolah. Anggota gue bilang tadi pagi dia diantar sopirnya. Selebihnya gue gak tau, gue disini."


"Mereka pacaran?" tanya Dean. Brian yang menyeruput teh manis panas di hadapannya langsung menoleh.


"Kalau udah jadi mantan, ya mantan ajah. Urusan lo sama tuh cewek apa lagi?"


"Anna masuk rumah sakit ajah lo gak ada niat jenguk tuh cewek. Udalah. Lupain dia," lanjut Brian.


"Gue nyesel." Dua kata yang terdengar pelan namun bagi mereka yang berada disitu cukup lantang dan jelas langsung mengalihkan semua perhatian.


Empat sahabat Dean menatapnya tanpa ekspresi. Sementara Brian, justru terkekeh. Laki-laki itu merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebungkus rokok lalu meraih satu batang dan diselipkan di antara bibirnya.


Ia meraih rokok di mulutnya dan diselipkan diantara kedua jari tangan. "Gue baru tau kalo lo bisa berani ngomong kayak gitu. Menyesal? Apa yang lo sesali dari cewek penyakitan kayak dia?"


Dean menggebrak meja dengan keras. Ia langsung berdiri menghadap Brian. Apapun yang berhubungan dengan Anna, ia tidak suka gadis itu dikatain atau bahkan jadi pembahasan laki-laki sialan seperti mereka. Anna itu masih sangat berharga untuknya.


Gebrakan yang baru saja terjadi tidak lantas membuat Brian gentar. Ia justru menyalakan korek apinya dan membakar ujung rokoknya. Menghisap dalam-dalam lalu menghembuskannya ke udara


"Santai ajah kali. Tangan lo bisa sakit sampai mukul meja kayak gitu."


"Sekali lagi lo ngomong yang engga, engga. Gue gak segan patahin tulang kering lo itu."


Brian menegang. Ia tidak suka ancaman. Ia berdiri dan mensejajarkan tingginya dengan Dean. "Cuman karena cewek itu lo ngancam gue? Asal lo tau, kalau bukan karena Sean yang ada disisinya selama ini, sejak awal gue udah hancurin tuh cewek."


"Lo gak tau banyak tentang dia selama di sekolah. Cewek gue berani di skor kepala sekolah cuman karena ancaman bokap nya."


"Dari tahun lalu atau dari kita saling kenal. Gue paling gak suka kalo ada yang ikut campur sama orang terdekat gue."


"Mantan lo itu—selain mulutnya gak bisa dijaga dia juga murahan!"


Satu pukulan keras dari Dean mendarat di rahang Brian, membuat cowok itu langsung terkapar. Satu pukulan telak itu benar-benar melukai sudut bibirnya.


Kenapa tidak ada yang melerai? Tidak ada yang mau kena amuk seorang Dean. Brian bangkit sambil mengusap kotoran di hoodie yang ia pakai juga celana abu-abunya.


Masih posisi berdiri, Brian meludah sembarangan. Tatapannya begitu menyala ke arah Dean. "Hari ini gue gak bakalan jadi lawan lo, tapi besok gue gak tau gue sama lo bisa ajah jadi musuh."


Brian berjalan ke arah motornya, menyalakan mesin motor lalu mengenakan helm. Setelah itu ia berlalu dari depan warung dengan suara deruman motor yang memekakkan telinga.


"Nambah ajah satu musuh," ujar Dion.


"Gue sih bilang makasih sama lo De. Untung lo emosian dan mukul tuh anak. Lo gak tau ajah selama lo hilang, tuh bocah bisanya merintah mulu," cecar Slamet.


Slamet jujur saja ia senang Dean menghajar Brian sampai terluka begitu. Selama Dean menghilangkan jejak, yang seharusnya Slamet menggantikan posisi cowok itu sementara waktu justru merasa kecewa karena sikap Brian yang merasa dia senior di kumpulan mereka.


Slamet tipikal orang yang tidak suka langsung adu pukul saat merasa kesal atau marah. Ia justru sabar menunggu waktunya. Tapi hari ini, ia tersenyum penuh kemenangan melihat Brian ambruk di tanah dalam sekali pukulan.


"Lo gak pernah cerita masalah ini," ucap Dean kepada Slamet. Cowok itu dengan napas menggebu mendaratkan bokongnya di kursi kayu panjang di depan warung.


"Mau kemana gue cerita. Lo susah dihubungin dan itu yang gue bilang kemarin sama lo. Berhenti mengusik Anna."


Setelah pulang dari sekolah, Satria membawa Ria ke taman kota. Awalnya Ria menolak niat baik Satria yang mengajaknya jalan sore ini tapi entah kenapa Ria justru luluh dan kini ia sedang bersiap memilih milih pakaian yang akan ia gunakan ngedate dadakan dengan Satria.


Sudah lima belas menit ia memilihkan pakaian santai hanya untuk jalan-jalan. Namun, pada akhirnya pilihan itu jatuh pada sebuah crop top berwarna putih dan celana jeans biru langit. Tidak lupa Ria juga meraih sepasang sepatu sneakers putih bergaris hitam dari rak sepatunya.


Pukul empat sore tepat, waktu yang ditunggu-tunggu oleh Ria sejak tadi. Ia sudah lima menit lalu selesai dengan penampilannya dan disaat itu juga Satria tak kunjung datang menjemputnya.


Kembali gadis itu berkaca di depan cerminnya yang besar. Mulai dari ujung kaki hingga ujung rambut ia perhatikan. Hari ini rambutnya ia gerai saja, tapi sedikit anak rambutnya ia pelintir dan dijepit dengan jepitan rambut.


Ria terkejut saat mendengar suara klakson motor di depan rumahnya. Ia berjalan lebih dekat ke arah jendela, melirik ke bawah sana dan benar Satria menepati janjinya. Cowok itu sepuluh kali lipat lebih tampan dengan mengenakan kaos hitam dibalut dengan jaket juga celana cargo abu-abu dan sepatu sneaker hitam.


Ria melihat Satria melambaikan tangan ke arahnya, ia pun membalas dengan senyuman singkat. Segera ia raih tas pundak cokelatnya di kasur lalu berlari keluar dari kamar.

__ADS_1


"Mau kemana, Non?" tanya Asisten Rumah Tangga kepadanya.


"Caca mau jalan Bi sama teman. Tuh dia udah nungguin Bi. Nanti kalau mama papa nyariin bilang ajah Caca keluar bentar sama Satria ya Bi."


"Iya, Non. Hati-hati ya..."


"Iya Bi," balas Ria membuka pintu rumahnya.


Satria yang sudah menunggu sambil bersandar di samping motornya menatap kehadiran Ria keluar dari rumahnya. Satu kata yang keluar dari mulutnya tiba-tiba membuat Satria berdecak pelan.


Cantik, gumam Satria menatap kedatangan Ria ke arahnya.


"Sorry ya gue telat dikit. Tadi ngantarin nyokap bentar arisan." Ria mengangguk dengan sudut bibirnya terangkat sedikit.


"Gak apa-apa kok Kak," jawab Ria menerima uluran helm dari tangan Satria. Dengan bantuan pundak cowok itu, Ria berhasil naik ke atas motor yang cukup tinggi baginya.


"Udah?" seru Satria meliriknya.


"Udah." Namun, Satria justru menaikkan sebelah alisnya menatap gadis itu dari balik kaca spion.


"Kenapa?" tanya gadis itu.


"Gak mau pegangan?"


"Ini udah pegangan," balasnya menggenggam jaket belakang Satria. Tanpa berkata apa-apa, Satria langsung menarik gas dengan kencang, sehingga kedua tangan Ria secara spontan melingkar di pinggangnya.


"Jahil bangat."


"Sesekali doang gak masalah kan," jawab Satria. Senyum kejahilan ala seorang Satria tercetak bebas di wajahnya.


Lima belas menit menempuh perjalanan, Satria dan Ria akhirnya tiba di taman kota. Sore begini pun disana masih terlihat ramai.


Satria sebenarnya penasaran mengapa gadis ini sangat menyukai tempat-tempat seperti ini. Bagi dirinya, ini salah satu tempat yang paling membosankan. Di hamparan rumput disana, ada anak-anak kecil bersama ibunya tertawa riang dan berlari kesana kemari.


Keduanya duduk di kursi taman, Ria menengadahkan tangannya ke arah Satria. "Apa?" tanya Satria bingung alih-alih dia mengira Ria ingin menggenggam tangannya nyatanya tidak gadis itu justru menatapnya dengan dahi berkerut.


"Bukan tanganmu, astaga, tapi kameranya. Buat apa bawa kamera kemari kalau tidak ada objek yang mau difoto."


Satria tersadar dan langsung memberikan kamera digital miliknya, dia pun bingung untuk apa gadis itu meminjam kameranya.


Bagaimana cara pakainya? Astaga Ria kenapa kau sebodoh ini sih? gumamnya berbicara sendiri seraya memperhatikan segala tombol yang ada di kamera digital milik Satria.


Karena rambut bagian poni Ria mulai panjang, gadis itu terus saya menarik helaian rambutnya ke belakang dan lagi-lagi rambutnya jatuh mengganggu aktivitasnya. Satria yang terus mengamati gerak-geriknya mendecih pelan.


"Kemari sebentar. Biar gue ikatkan rambut lo yang mengganggu itu."


Ria yang masih sibuk dengan kamera ditangannya menoleh kearah Satria yang duduk di kursi besi panjang di belakangnya. Ia pun duduk membelakang Satria.


"Kalau rambut sepanjang ini bisa menyusahkan kenapa nggak lo potong aja?"


Ria mendesis. "Jadi lo nggak suka sama perempuan yang berambut panjang? Dengar-dengar gosip di sekolah lo suka. Kenapa gue lo minta di potong."


Satria terdiam. Seharusnya ia tidak mempertanyakan pertanyaan ini pada Ria. Bagaimana kalau sampai gadis itu marah dan tidak ingin berbicara lagi dengannya? Perasaannya akan dibawa ke mana. Satria harus mencari cara untuk membuat Ria kembali tersenyum kepadanya seperti tadi.


"Mau rambut lo panjang atau pendek gue tetap suka kok. Gue udah jatuh cinta sama lo sejak gue lihat lo..."


Wajah Ria benar-benar memerah bak kepiting rebus setelah mendengar Satria menggodanya. "Apaan sih nggak jelas banget," balas Ria gugup.


Untung saja ia tidak berdiri menghadap Satria, jadi cowok itu tidak akan memperhatikan pipinya yang merona.


"Gue bisa minta tolong nggak sama lo?" Satria berkata sesuatu membuat Ria berbalik badan dan keduanya pun duduk dengan jarak hanya dua jengkal saja. Ditambah Satria juga memajukan sedikit tubuhnya dan wajah mereka hampir bersentuhan kalau Satria tidak mengatur jaraknya.


"Apa?" tanya Ria menaikkan sebelah alisnya.


"Lain kali kalau mau ke sekolah rambutnya nggak usah dikuncir kayak kemarin. Gue nggak suka kalo ada orang lain lihat leher indah lo itu."


"Hah?" Ria spontan menyentuh lehernya. Bisa-bisanya laki-laki di hadapannya ini mengatakan seperti itu.


"Leher lo terlalu indah untuk diperlihatkan ke semua orang termasuk laki-laki hidung belang yang selalu merhatiin lo disekolah. Gue bisa bedain cowok yang suka liat cewek cantik dan cowok yang pemangsa."


"Apa bedanya sama lo? Sekarang aja lo berhasil ikat rambut gue dan liatin leher gue dari tadi."


"Gue? Gue beda dengan mereka. Sebelum gue ada niatan untuk melakukan hal yang buat lo marah gue lebih dulu ambil tindakan."


"Hm, okay. Besok-besok gak gue gerai lagi. Ini karena permintaan lo ya, bukan karena ada unsur lain."


Satria mengulas senyum tipisnya dan mengusap lembut wajah Ria membuat perempuan itu membulatkan mata dan sangat gugup dengan jantung hampir melompat dari tempatnya.


"Kenapa lo liatin gue?"


"Iya lo cantik, makanya gue suka."

__ADS_1


Help! Kenapa jantung ini deg deg-an begini sih?


"Wajah lo ini masalah buat gue. Masalahnya wajah lo terlalu indah untuk dilihat. Gue benar-benar enggak tahan untuk tidak menyentuh pipi gemas lo ini." Pertama kali Ria mendengar Satria berbicara seperti itu padanya. Dari situ Ria spontan tertawa terbahak-bahak.


"Omong kosong apa yang baru aja lo bilang, Kak Satria? Hari gini masih ada aja cowok yang suka gombal."


"Gue serius Ria, gue nggak lagi gombal kok."


"Udah ah. Selain lo pintar ngambil foto, ternyata lo juga pandai membual ya" ucap Ria yang masih diselingi tawa yang membuat Satria betah berlama-lama menatapnya.


"Boleh tahu sudah berapa perempuan yang mendapatkan kalimat ini?" Satria tampak berpikir.


"Hanya ada tiga orang," jawabnya tegas.


"Lagi-lagi lo berbohong. Engga mungkin bangat tiga orang. Semua perempuan yang ada di sekolah bahkan terang-terangan gue denger nyatakan perasaannya sama lo."


"Tahu dari mana?" tanya Satria menaikkan sebelah alis.


"Ya gue cari tahu, ehh..." Ria menutup wajahnya dengan satu tangan lalu merutuki dirinya yang bodoh dal hati.


Bodoh bangat, ya ampun.


"Jadi ternyata selama ini lo juga kepo sama gue. Gue kira cuman gue doang yang sibuk merhatiin lo dari jauh."


"Omongan gue yang barusan lo dengar hanya untuk tiga orang yang pernah gue ucapin—pertama Bunda, kakak, dan yang terakhir lo."


Ria langsung mencebikkan bibirnya sebal. "Ya udah. Jadi ini gimana cara pakainya?" tanyanya sambil menyentuh kembali kamera digital milik Satria--mengalihkan pembicaraan mereka ke topik lain.


Setelah lima menit mengajari gadis itu bagaimana cara mengoperasikan kamera digitalnya. Satria langsung meminta Ria untuk membidik sebuah objek di depan mereka. Dimana disana, di atas rerumputan hijau seorang anak tengah tersenyum lebar menatap ibunya.


"Bagus, ngga?" tanya Ria memperlihatkan hasil jepretan kamera digital di tangannya kepada Satria.


Jarak mereka yang dekat justru membuat Satria gugup. Ia berusaha sekuat tenaga menahan dirinya untuk tidak menoleh ke gadis yang wajahnya hanya beberapa centi dari wajahnya.


Ria yang sadar begitu dekat dengan Satria langsung menjaga jarak. "Kayaknya lo udah ahli kalau gue lihat-lihat," ucap Satria.


"Sebenarnya iya. Dua tahun lalu gue suka banget ngoleksi kamera digital kayak gini juga. Setiap tahun Bunda gue bakalan kasih hadiah kamera sebagai kado ulangtahun gue, tapi sejak gue di bangku SMA, bokap udah ngelarang gue buat terusin hobi gue itu."


"Bokap gue merasa kalau profesi kayak gitu nggak bisa menghasilkan uang banyak, jadi mungkin kedepannya gue bakalan ngelupain hobi ini."


"Sayang bangat. Bokap lo terlalu maksa."


"Mau gimana lagi. Cuman gue satu-satunya yang mereka punya."


Satria mengangguk paham. Daripada bercerita sedih Satria langsung mengalihkan pembicaraan mereka pada gerobak jajanan yang tidak jauh dari tempat mereka berada.


"Mau jajan?" tanyanya. Ria langsung mengikuti arah pandang cowok itu.


Di ujung sana, ada gerobak jajanan telur gulung. Setelah Satria membelikan telur gulung seharga sepuluh ribu rupiah padanya, Satria langsung mengantar gadis itu pulang.


Sudah dua jam mereka disana, langit juga terlihat mendung. Karena tidak ada izin dari orangtua, Satria takut membawa Ria pulang lebih lama.


"Papa?" seru Ria ketika melihat Papanya berdiri di depan gerbang rumah. Setelah ia turun, memberikan helm pada Satria dan berlari ke arah Papanya.


"Maaf ya, Om kalau saya lancang ngajak putri Om jalan-jalan ke taman tanpa seizin Om lebih dulu."


"Tidak apa-apa, Satria. Bagus juga kamu mengajak putri saya ini keluar. Kamu juga beruntung jadi orang pertama yang datang ke rumah ini seberani itu."


"Papa..." ujar Ria ketika Papanya terlalu jujur mengatakannya.


"Oh, iya Om. Kalau gitu saya pamit dulu ya Om," ucapnya.


"Besok jemput Ria kemari ya. Kalian berangkat sekolah bareng," ujar Harry, Papa Ria yang ternyata jauh dari dugaan Satria sebelumnya.


Arkana bilang kalau ayah Ria itu sangat garang seperti preman pasar, tapi pria yang berdiri dihadapannya justru sangat keren.


"Tapi Om..."


"Jangan pakai tapi, iyakan saja. Om percayakan anak saya padamu, tapi ingat jangan macam-macam."


"Pasti, Om. Besok pagi saya akan kemari jemput Ria." Setelah itu Harry berjalan ke rumah meninggalkan Ria masih bersama Satria.


"Bokap lo humble bangat ngomongnya," ujar Satria membuat Ria tersenyum.


"Cuman sama lo doang Papa gue humble, karena lo orang pertama yang berani ajak gue jalan tanpa izin, dan ngantarin gue tepat waktu."


"Gue suka bokap lo. Maksud gue, suka bukan karena... ya lo tau maksud gue. Yaudah ya, gue balik dulu."


"Boleh gak gue bilang suka sama lo Kak Satria?"


- to be continued -

__ADS_1


__ADS_2