In Another Life Secret

In Another Life Secret
Bagian 31


__ADS_3

...🍁Disclaimer🍁...


...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....


...•••...


Tim dari kelas XI IPS 1 sedang melakukan latihan tari daerah di ruang kesenian. Latihan pertama ini didampingi langsung oleh Bu Dian sebagai guru kesenian. Beliau ikut andil melihat secara langsung gerakan yang akan ditampilkan dalam acara pensi dua minggu kedepan.


"Tolong, kamu yang pakai jepitan putih. Apa kau baik-baik saja? Ibu lihat kau kesulitan mengerakkan kakimu. Kakimu cedera?"


Gadis dengan jepit rambut dibarisan belakang nomor dua sebelah kiri menoleh. "Mohon maaf Bu. Dua hari lalu kaki saya terkilir dan sudah diurut kok Bu. Saya tidak masalah kok Bu."


"Iya kamu tidak masalah. Tapi pentas seni yang akan diselenggarakan tahun ini persaingannya sangat ketat. Jika kau cedera sebaiknya kau banyak istirahat saja. Jangan terlalu memaksa. Saya rasa tim kalian punya penari cadangan, kan?" Bu Dian menoleh ketua dari peserta tari daerah tersebut.


"Kita sudah persiapkan lima orang Bu untuk menjadi peserta cadangan."


"Saya mohon Bu. Kasih saya kesempatan sekali ini saja. Saya benar-benar tidak apa-apa Bu. Kesalahan yang terjadi tadi tidak akan saya ulangi lagi," ucap gadis tersebut. Bu Dian yang berdiri berkacak pinggang di depan meja mengangguk ringan.


"Baiklah. Jika kau tidak sanggup minta temanmu yang lain menggantikan mu. Kau paham?"


"Baik, Bu. Terimakasih banyak."


"Bagaimana, Sean? Apa kau sudah melihat semua peserta yang akan berpartisipasi untuk pensi nanti di ruangan sebelah?"


Bu Dian menghampiri Sean yang baru saja masuk ke dalam ruangan kesenian.


"Tinggal satu peserta lagi Bu yang tidak ikut latihan pagi ini. Peserta dibagian bernyanyi dua lagi sesuai permintaan ibu kemarin. Sudah saya coba menghubunginya tapi sampai sekarang tidak ada jawabannya juga Bu."


"Jangan kau persulit urusanmu Sean. Kau pasti sibuk kan jadi kalau orangnya tidak jelas, menganggap remeh acara ini kau cari gantinya."


"Selain dia tidak ada lagi Bu yang mendaftarkan diri untuk ikut bagian menyanyi di acara pensi nanti." Bu Dian memijit pelipisnya kasar.


"Hari pertama latihan saja sudah sekacau ini. Kalau begitu hubungi dia terus untuk ikut latihan hari ini. Jika tidak ada tanggapan kabari ibu segera. Tidak bernyanyi juga tidak masalah. Kita masih ada kegiatan yang lain."


...•••...


Sebuah ruang musik berukuran besar tempat para siswa yang ikut pensi berlatih dua jam lalu mulai terlihat sepi, hanya ada beberapa orang saja yang terlihat di depan ruangan musik itu dan tidak lain mereka ialah Satria, Arkana dan Sean.


"Kalau Anna ngga ikut latihan hari ini terpaksa kita ngga bakalan ada kegiatan nyanyi buat pensi kedepan," ujar Satria menatap Sean yang tampak tidak semangat sejak mereka menyudahi latihan pensi tadi.


"Iya tuh tinggal dia doang yang belum latihan. Dari tadi ngga ada kabarnya juga," timpal Arkana duduk disebelah Satria sambil memakan cilok dua ribu yang ia beli dari belakang sekolah.


"Sebenarnya gak perlu dilatih lagi sih dia. Anna kan mahir nyanyi apalagi main gitar so pasti dia pasti bisa," balas Satria kembali. Begitu sibuknya pun mereka berbicara Sean tetap bungkam.


"Memang sih, tapi tuh cewek gak datang entah karena sesuatu hal atau memang—karena kejadian kemarin. Lo meluk dia..." tandas Arkana begitu saja.


Raut wajah Sean yang datar tadinya langsung melirik sinis kearah Arkana. Cowok itu menekuk sudut bibirnya.


"Uda lo hubungin ngga sih dia?" tanya Sean sedikit kesal. Kesabarannya setipis tissue.


"Udah gue hubungin tapi ponselnya gak aktif. Kalau gak percaya nih ponsel gue, lo telepon sendiri," sahutnya.


"Hmm..."


"Gue dengar Bu Ami berniat buat lo duet sama Anna. Tuh guru memang peka bangat sama lo ya."


Ponsel milik Sean yang ia letakkan di atas sebuah buku tebal bergetar. Cowok itu meraih ponselnya lalu menatapnya dengan dahi berkerut.


"Lama gak ada kabar. Sekalinya ada kabar langsung ngirim foto," ucap Sean setelah menatap layar ponselnya.


"Siapa?" tanya Satria merapikan satu persatu alat musik ke tempatnya semula.


"Bang Theo."


"Oh! Mungkin dia mau ngundang kita lagi ke cafenya. Biasanya juga gitu kan dari dulu kalau cafe nya lagi ada acara."


Sean mengernyitkan dahi, memperbesar layar ponselnya menatap foto yang dikirim padanya. Ia mengenal gadis di foto ini dan dia adalah Anna.


Sedang apa dia disana, batin Sean.


"Gue cabut dulu sebentar. Ada yang mau gue urus ke tempat lain," kata Sean mengenakan almet-nya.


"Mau kemana lo?" tandas Arkana dengan gerakan ekor mata yang cepat melirik Sean.


"Woi, Sean!" teriak Satria pada cowok yang baru saja berlari keluar dari ruangan musik dan mengabaikan panggilan Arkana.


"Kita ikutin apa gimana?" tanya Arkana menoleh pada Satria.


"Lo mau masuk ruang BK?" cetus Satria. Jam sekarang lagi jam masuk belajar. Mana mungkin mereka keluar sementara gerbang sekolah selalu terjaga.


"Halah, kemarin ajah bisa masa sekarang gak... Sekali doang nakal besok-besok bisa dipikirin lagi," tutur Arkana.


"Yaudah, ayok. Sekali ajah cabut gak bakalan masalah juga." Satria benar-benar gila. Seharusnya ia duduk manis di kelas bukannya malah menuruti keinginan Arkana barusan.


...•••...

__ADS_1


📍Olivia's Cafe


Theo mengambil gambar gadis itu diam-diam. Setelah itu ia mengutak-atik ponselnya seraya mencuri pandang pada gadis di depannya, hingga setengah jam berlalu suara deru motor memasuki area parkir kafe membuat Anna membulatkan matanya menatap sosok yang berjalan ke arah mereka.


"Lo bakalan gue hukum karena berani ngga masuk sekolah."


Anna langsung saja terbatuk ketika melihat Sean berada di hadapannya bukan dihadapannya lagi tapi tepat disebelah kursi Anna. Cowok itu memandangnya intens membuat Anna pelan-pelan menelan ludahnya kasar.


"Ekhem..." Anna terbatuk kecil setelah menelan habis makanan di mulutnya.


"Kok lo bisa tau gue disini?" tanya Anna lembut. "Lo punya ilmu hitam, ya?"


Theo tertawa mendengarnya. Sedetik kemudian perempuan itu sadar dan langsung menatap Theo.


"Thanks ya kalau ngga ada lo mungkin gue bakalan kecarian," kata Sean menatap Theo lalu menepuk bahu cowok berkulit putih itu membuat Anna menaikkan sebelah alisnya.


"Theo ini senior lo. Dia alumni Starlight High School. Dia kerja disini buat menambah penghasilannya dan lo salah datang ke tempat ini. Dia hubungin gue karena dia juga kenal sama lo."


"Kenal sama gue?" tanya Anna menunjuk hidungnya dengan jari telunjuk. Bagimana bisa kenal gue aja baru kemari, gumamnya dalam hati.


"Kita sering nongkrong disini dan maaf sesekali bahas lo juga. Karena penasaran dia minta foto lo saat itu."


Di tengah-tengah mereka berbicara, deruman motor yang memekakkan telinga baru saja memasuki area parkiran cafe. Dua motor sport dan sang pengendara dengan cepat turun dari atas motor.


"Bang Theo!!" seru Arkana datang sambil melambaikan tangan.


"Apa kabar, bang?" Satria menyapa ketika tiba ditempat. Kedatangan mereka langsung saja membuat Anna yang masih terduduk di kursi membuka mulut lebar.


Apa-apaan mereka ni? Kenapa mereka bisa datang? batin Anna setelah melihat empat laki-laki dihadapannya begitu akrab, layaknya teman lama.


"Gue kabar baik. Lo berdua gimana?" Theo balik bertanya membuat Arkana langsung duduk santai di kursi di meja yang ditempati Anna.


"Ya lihat sendiri lah bang. Kita masih gini-gini ajah pun," jawab Arkana tertawa sambil melirik kearah Anna. Gadis itu menaikkan sebelah alisnya dan Arkana hanya mengulas senyum singkat padanya.


"Ikut gue ke sekolah!"


Suara Sean kembali terdengar. Cowok itu menarik pergelangan tangan Anna dengan kasar. Entah kenapa begitu tiba-tiba, tapi Anna tidak terlalu suka. Gadis itu menolak takkala Anna menepis genggamannya.


"Gue mohon jangan sekarang Na. Hari ini latihan pertama lo buat pensi yang akan dilaksanakan dua minggu lagi. Anak-anak lain udah latihan dan lo juga harus," kata Sean membuat mereka kembali diperhatikan Theo, Satria dan Arkana.


"Mereka pacaran?" bisik Theo pada Satia. Cowok itu dengan cepat mengegeleng.


"Bukan pacaran Bang tapi lebih tepatnya gadis itu adik kandungnya Sean."


Theo yang menatap Sean dan Anna lantas berkata. "Pantas mereka mirip."


"Gue ngga bisa ikutan untuk acara sekolah kedepan. Maaf. Lo bisa cari yang lain," ujar Anna tiba-tiba. Setelah itu Anna membereskan segala perbekalannya di atas meja, memasukkan semuanya ke dalam tas lalu berjalan keluar dari meja.


Belum sempat kakinya melangkah dahulu, Sean sudah menahan pergelangan tangannya kembali membuat Anna berbalik dan keduanya saling adu pandang.


"Maksud lo gimana? Kenapa baru sekarang lo ngomong begini?"


"Lepasin," ujar Anna berusaha menepis tangan cowok itu yang kian menguat menggenggam pergelangan tangannya.


"Jangan dipaksa, Sean" ucap Theo mengingatkan.


"Jangan ikut campur, Bang!" balas Sean sengit dan ketus tanpa melirik ke arah Theo. Theo yang paham betul siapa Sean lantas menghela napas panjang.


"Gue datang kemari buat jemput lo untuk latihan, karena gue ngga mau setelah gue minta tolong lo dikeluarin Bu Ami hanya karena hal sepele, dan sekarang lo malah minta gue buat cari penyanyi lain sementara lo bisa."


"Lo berencana mainin gue?"


"Bukan begitu..."


"Jadi apa? Kenapa lo jadi ngga konsisten gini sih jadi perempuan?" Sean menatapnya dengan dahi terlipat.


"Bukannya bilang makasih udah di tolong, sekarang lo malah banyak alasan. Lo pikir gue gak cape ngurus semua acara pensi nanti dan sekarang ditambah lo banyak tingkah!"


Anna ikut menggeram. Ia melototkan matanya menatap Sean. "Gue banyak tingkah? lo ngomong gitu karena lo marah sama gue atau apa?"


"Sejak awal yang minta gue nyanyi di acara pensi itu kan elo sendiri bukan atas kemauan gue! Seenaknya ajah lo bilang gue seperti itu. Bilang makasih juga lo engga ada. Sialan!"


Anna mengumpat kasar. Setelah itu ia berlalu meninggalkan cafe. Keempat laki-laki disana masih tidak percaya dengan sikap arogan Anna yang tiba-tiba.


...•••...


Sepeda motor hitam milik Satria berhenti di depan gerbang rumah Anna. Anna turun dan berdiri menatap Satria.


"Makasih Kak udah antarin pulang."


Pada akhirnya Satria lah yang membujuk Anna untuk diantar pulang. Setelah Anna pergi dan diantar oleh Satria, Sean juga pergi dari cafe.


"Santai ajah. Kalau sama gue bersikap biasa ajah ya. Kita kan teman jadi sesama teman harus saling menolong."


"Yaudah sana lo masuk. Apa perlu gue antarin juga sampai depan pintu rumah?" imbuh Satria.

__ADS_1


Mata gadis itu langsung membelalak, ia menggeleng cepat. Tetapi saat ini, Anna justru masih berdiam diri membuat Satria mengerutkan keningnya.


"Kenapa belum masuk? Masih mikirin omongin Sean lagi?"


Anna dengan polosnya mengangguk. Ia membenarkan ucapan Satria. Sebenarnya ia tidak bermaksud membuat Sean kecewa dengannya, tapi mau gimana lagi hidupnya saja sudah sekacau ini ditambah masalah dengan Ayahnya.


"Gak usah dimasukin ke hati, okay. Sean memang gitu orangnya, tapi maaf nih sebenarnya lo juga salah ngambil keputusan."


"Seandainya lo cerita dari awal kalau kami memang terlalu maksa, lo bisa tolak. Masalah apapun yang buat lo merasa terbebani harusnya lo bilang."


"Yaudalah, gak papa. Makin lo pikirin entar makin suka lagi sama teman gue," ujar Satria terkekeh.


"Apaan sih Kak..."


"Iya, iya. Kalau lo masih mikirin hal itu nanti deh gue bilang sama Sean biar jangan marah sama lo lagi. Kalau gitu gue pamit ya," katanya lalu menyalakan motor dan tak lupa kembali mengenakan helmnya.


Sekali lagi ia melambaikan tangan pada Anna sampai suara deruman motornya menghilang di udara.


Setelah pulang diantar oleh Satria, Anna dengan raut wajah lesu melangkah masuk ke rumah, ia melihat pintu rumahnya terbuka lebar. Sebuah mobil Rush hitam juga terparkir di garasi.


Mobil ayah, batinnya.


Dengan mengambil langkah pasti, Anna pun masuk dan tidak lupa mengucapkan salam. Belum juga lima langkah dari depan pintu, manik matanya begitu terkejut ketika melihat ayahnya dan seorang wanita yang tidak ia kenal bangkit dari sofa dan tatapan dari ayahnya membuat Anna memundurkan langkahnya.


"Mau kemana kamu, Anna? Kemari kau anak pembuat masalah!" seru Ryan padanya.


Anna tidak menurut, ia malah berbalik badan dan berlari ke pintu. Namun, disaat ia berbalik badan, pintu dihadapannya sudah tertutup rapat dan Bi Rina yang berdiri di depan pintu menatapnya sendu.


Derap langkah kaki dari arah belakangnya membuat gadis itu panik. Ia berbalik dan memundurkan langkahnya hingga membentur pintu rumah.


"Ayah mendapat telepon dari sekolah dan mendengar bahwa kau tidak masuk sekolah hari ini. Pergi kemana kau satu harian ini, hah?!"


Ayahnya marah dan memandang dirinya dengan sorot mata yang bisa melenyapkan Anna saat itu juga.


"Ayah juga lihat kau diantar oleh laki-laki. Apa seharian ini kau bersama laki-laki itu?"


Anna diam seribu bahasa. Telapak tangan hingga dahinya mulai berkeringat. Kali ini apa lagi yang akan pria itu lakukan padanya. Tidak bisakah ayahnya tidak mempermasalahkan semua hal yang berujung pada kekerasan fisik.


"Jawab ayah, Anna! Kau kemana satu hari ini? Apa kau jual diri bersama laki-laki yang mengantarmu pulang barusan. Dua kali ayah lihat kau diantar laki-laki berbeda! Apa yang kau lakukan dengan mereka?"


Anna membulatkan matanya. Ia begitu terkejut mendengar ucapan sang ayah. Tapi sebisa mungkin ia mencoba lebih kuat. Ia mencoba menahan dirinya agar tidak terbawa suasana. Naya tidak boleh cengeng. Ia harus membela dirinya saat ini.


"Hentikan ayah! Ayah selalu berkata sesuka hati ayah tanpa memikirkan perasaanku. Jika aku pergi kemanapun aku mau, apa yang bisa ayah lakukan untukku?" ucap Anna lantang.


"Apa yang bisa ayah lakukan untukmu?" tanya Ryan mengulang pertanyaan yang sama saat Anna ucapkan.


Anna mendekatkan dirinya pada sang ayah. "Yang harus Anna lakukan adalah tetap berada dalam pengawasan ayah, bukan? Kenapa ayah selalu bertindak sesuka hati dengan kehidupan Anna. Kenapa tidak biarkan Anna hidup seperti biasanya?"


"Apa kau sadar apa yang baru saja kau katakan?!" seru Ryan dengan sorot mata melotot menatap sang putri.


"Apa aku pernah meminta sesuatu dari ayah? Apa aku pernah meminta waktu Ayah walau sebentar saja? Ayah bahkan tidak pernah melirikku sekalipun, jadi kenapa ayah melakukan ini padaku?"


"Ayah selalu menganggap ku orang asing. Tidak bisakah ayah melihatku dengan baik. Aku ini anakmu, putrimu yang seharusnya ayah lindungi. Tapi sekarang apa?"


Ryan terkejut setelah Anna angkat suara dengan berani. "Puluhan tahun ayah menyiksa aku seolah aku ini bukan anak kandung ayah!"


Ana mencoba menahan bulir air matanya agar tidak terjatuh dari kelopak mata. "Apa karena kau ayahku? karena kita keluarga?"


"Anna, tutup mulutmu!!" amuk ayahnya. Tetapi gadis itu tidak berhenti menyampaikan isi kepalanya agar sang ayah tahu bahwa ia sebenarnya lelah selalu diatur tanpa henti.


"Anna tidak tahu keluarga itu seperti apa? Aku juga tidak tahu seperti apa sikap yang baik seorang ayah bahkan aku juga tidak tahu tanggungjawab apa yang seharusnya seorang ayah lakukan dalam keluarga?"


"Pantas kah ayah dipanggil ayah sementara tiap hari ayah menyiksaku. Bukan hanya fisikku tapi batin ku juga rusak semua itu karena ayah!"


"Ayah tahu, ayah juga mengatakan aku anak pembawa sial kan jadi apa yang ayah harapkan lagi dariku?"


"Apa yang ayah harapkan katamu? Ayah berharap kau belajar dengan baik seperti anak sekolah biasanya. Berangkat sekolah, belajar dan jangan membuat ayah kesal."


"Apa hanya itu yang ingin Ayah harapkan dariku? Hal seperti itu sangat sulit ayah.. Ayah selalu ingin didengarkan tapi ayah nggak pernah mendengar ku sekalipun."


"Aku juga butuh sosok ayah.. tidak lama hanya sebentar Yah, tetapi itu pun ayah tidak bisa. Ayah lebih peduli dengan perempuan itu..."


Anna mengangkat jari telunjuk ke arah wanita yang berdiri di ruang tamu. Wanita itu mengenakan pakaian formal berwarna ungu. Disana juga jelas Anna melihat kalung peninggalan ibunya dikenakan wanita asing itu yang tidak ia kenal sama sekali.


"Perempuan yang entah siapa itu ayah bawa kemari bahkan sekarang juga ayah sudah berani menyentuh peninggalan Bunda dan memberikan kalung itu dipakai wanita sialan itu."


"Ayah benar-benar berubah sejak Bunda pergi jauh dari rumah ini. Aku benci ayah!"


Anna berlalu dari hadapan Ryan setelah mengatakan semua unek-unek nya yang ia tahan. Sementara Ryan untuk pertama kali mendengar itu langsung terdiam.


Apa yang sudah kulakukan? batin Ryan.


"Jadi dia putrimu yang bernama Anna itu, Mas? Kenapa sampai berkata seperti itu padamu?"


- to be continued -

__ADS_1


__ADS_2