In Another Life Secret

In Another Life Secret
Bagian 9


__ADS_3

...🍁Disclaimer🍁...


...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....


...•••...


Kini keempat siswa yang bermasalah di kantin tadi sudah berdiri di depan pintu ruangan kepala sekolah. Mereka adalah Anna, Kinara, Sera dan Ghea. Mereka berempat secara paksa dibawa Sean ke ruang BK, seperti anjuran Pak Robert namun karena kejadian di kantin cukup ricuh, mereka pada akhirnya dibawa menghadap bapak kepala sekolah.


Kali ini mungkin peringatan dari bapak kepsek akan sedikit menggigit, karena permasalahan mereka sudah dua langkah dari guru pembina bimbingan konseling yang biasanya guru BK lah keseringan mendisiplinkan para siswa di sekolah ini.


Di dekat pembatas pagar besi depan ruangan kepala sekolah, Anna terlihat gusar sambil menatap ujung sepatunya. Sekujur tubuhnya benar-benar ngilu dan sakit, termasuk pundaknya yang dengan sengaja Ghea tusuk dengan kuku-kukunya yang panjang, alhasil seragamnya pun robek dan pundaknya juga jadi terluka lebih parah.


Beruntung Anna selama ini memanjangkan rambutnya jadi luka di pundak bisa ia tutupi dengan helaian rambutnya.


Disaat ia bersandar di pagar besi dibelakangnya, Sean yang kebetulan memang berdiri disebelahnya melirik dan sekilas memperhatikan Anna—tiba-tiba saja Sean memberinya satu buah permen secara diam-diam, tanpa diketahui tiga perempuan di depan mereka.


Melihat uluran tangan Sean dari samping tubuhnya, Anna langsung melirik kemudian mendongakkan kepala memandang laki-laki disebelahnya. Kedua mata mereka bertemu sebentar, sampai lirikan mata Sean mengalihkan pandangan Anna. 


"Ambil," ucapnya pada Sean.


"Gue gak suka permen," jawab Anna ketus lalu kembali merunduk.


Melihat respon Anna yang dingin, Sean pun merundukkan badannya lebih rendah pada Anna. Wajahnya juga ikut mendekat ke telinga Anna dan berbisik dengan pelan.


"Jangan buat gue malu di depan teman-teman lo. Gue kasih lo permen karena gue lihat dari tadi lo diem ajah. Ambil nih biar gak terlalu dipikirin masalah tadi, lumayan di emot di mulut, hehehe," kekeh Sean memamerkan deretan giginya yang rapi.


Mendengar kalimat super panjang dari sosok yang ia tidak kenal membuat Anna melirik sinis.


Gak dipikirin gimana? Anna saat ini sudah berada di depan ruangan kepala sekolah. Apa ini sesuatu yang tidak harus ia pikirkan?


"Apa perlu gue bukain juga?" kata Sean kembali membuat Anna langsung mengegeleng. Tangan mungilnya menerima permen warna pink itu dari tangan besar Sean yang berurat.


Anna pelan-pelan membuka permen tersebut dan memasukkannya dalam mulut. Melihat bibir gadis itu manyun beberapa senti membuat Sean tersenyum diam-diam.


Tubuh mereka hanya berjarak satu jengkal saja. Bukan karena Anna yang mepet-mepet dekat dengan Sean, tapi Sean lah yang menggeser tubuhnya lebih dekat pada Anna.


Dua menit kemudian, suara dari dalam ruangan kepala sekolah perlahan terdengar meminta mereka masuk. Sean yang sejak tadi menunggu hal ini segera mengulurkan tangannya membuka pintu dan mereka berlima melangkah masuk secara bergiliran.


Ketika mereka masuk, Anna langsung mendapati keberadaan guru-guru BK yang dikenali satu sekolah dan tentunya ada bapak kepala sekolah, duduk di kursi kebesarannya. Selain mereka, di sofa sebelah kanan ada wali kelas Anna Bu Aurora, serta Pak Robert guru pembina kesiswaan.


Pak Atmaja begitu terkenal dengan kedisiplinannya dan beliau sangat benci dengan siswa-siswi yang melanggar aturan. Beliau duduk di kursi kebesarannya seraya kedua tangan saling bertautan di atas meja. Sudut mata yang mulai berkeriput dengan sorot mata tajam memandangi kedatangan mereka.


Anna memasang wajah datarnya saat Bu Cindi meminta mereka duduk di salah satu kursi di hadapan meja kepala sekolah. Posisi mereka benar-benar berhadapan langsung dengan Pak Atmaja.


Semua orang disitu bahkan Sean sendiri dan dua anggota OSIS bagian keamanan menajamkan pendengaran masing-masing--bersiap mendengar alasan kenapa terjadi perkelahian di kantin sekolah.


Ada sedikit keheningan yang terjadi ketika Anna diminta berpindah tempat ke salah satu kursi yang sudah disediakan di depan meja Pak kepsek. Keheningan itu rupanya berlangsung lama, namun akhirnya sang kepala sekolah angkat suara.


Pak Atmaja menegakkan posisi duduknya dan melipat tangan di atas meja serta memasang tatapan interogasinya.


"Jelaskan sekarang, Anna. Bapak butuh penjelasanmu dan sampaikan dengan jujur apa yang menjadi masalah dari perkelahian yang terjadi di kantin tadi."


Anna mengangkat pandangannya menatap wajah kepala sekolah. Sebelum ia membuka suara, Anna perlahan menarik napas dalam lalu memejamkan matanya sebentar lalu menatap kembali sang kepala sekolah.


"Saya dituduh merusak hubungan orang di sekolah ini Pak bahkan mereka juga mengatai Bunda saya yang sudah meninggal. Semua itu jadi alasan saya untuk membuat keributan di kantin," kelas Anna tanpa mengalihkan pandangannya dari Pak Atmaja.


"Saya yang ditinggal lama oleh ibu saya tidak akan sanggup mendengar apapun yang berkaitan dengan ibu saya Pak. Karena saya emosi, saya menyerang Sera bahkan memukulnya."


Anna mengerjapkan matanya dua kali ketika Pak Atmaja menarik napas panjang lalu menyandarkan punggungnya di kursi. Pandangan pria paruh baya itu bergantian menatap tiga siswa lain yang berdiri di dekat Sean.


"Baiklah, kau bisa kembali ke tempatmu. Masalah ini ternyata tidak dimulai darimu."


Mendengar hal itu, Ghea yang bersebelahan dengan Sera meneguk ludahnya kasar. Anna yang menundukkan kepala lantas berbalik ke tempatnya, berdiri di dekat Kinara. 


Mata kepala sekolah kini beralih pada Kinara. Sekarang gilirannya yang berhadapan dengan Pak Atmaja. Gadis itu sudah seperti cacing kepanasan di kursinya. Sesekali ia terlihat melirik Anna yang justru tengah mengedipkan mata padanya.


"Kau sudah berteman baik kan dengan Anna?" Kinara mengangguk dua kali. "Coba jelaskan pada bapak apa yang sebenarnya terjadi di kantin tadi?"


Kinara bersusah payah menelan salivanya. Demi pertemanannya kali ini Kinara tak akan mengulangi kesalahannya dulu.


"Saya ikut campur karena Ghea berusaha melukai Anna, Pak. Awalnya tidak ada masalah sebelum Sera dengan sengaja menumpahkan air panas di paha Anna, kulit Anna terluka Pak karena ulahnya bahkan dengan alibinya mengatakan itu tidak disengaja—"


"Lalu kau juga menyerang Ghea?"


"Saya melakukan itu karena memang Ghea dan Sera ingin melukai Anna Pak. Saya temannya dan tidak mungkin tinggal diam juga saat mereka merunduk Anna Pak."


"Jadi hanya itu masalah yang terjadi sampai kalian saling adu pukul di kantin?" ujar Pak Atmaja.


Beliau bangkit dari kursi kebesarannya. Pak Atmaja berjalan melewati para guru yang duduk di sebelah mejanya. Pria itu bersandar di sisi meja dengan kedua tangan terlipat di depan dada.


"Saya sudah ingatkan dari dulu, jangan sampai berusan dengan bapak kecuali kamu berprestasi—kalian benar-benar melanggar peraturan sekolah. Itu pun pelanggaran yang sangat fatal. Bapak akan mengurangi seratus point kalian masing-masing," ujar Pak Atmaja tegas.


Mereka yang berada disana pun terkejut dan tidak percaya akibatnya akan seperti ini. Terlebih Kinara yang masih duduk di tempat terlihat mengepalkan tangan kuat melirik sosok Ghea yang duduk di dekat Sean.

__ADS_1


"Kamu.. Anna Natalia Senja." Gadis yang merasa namanya dipanggil mendongak menatap Pak Atmaja. Ia mengerjap sebentar lalu mulai memperhatikan Pak Atmaja.


"Hari ini bapak kasih keringanan untukmu. Begitu pun dengan Kinara. Kejadian yang melibatkan kalian bapak maafkan, tapi... jangan sampai diulangi kembali. Sekarang kalian berdua silahkan keluar dan kembali ke kelas. Lanjutkan pelajaran berikutnya."


Anna bangkit dari duduknya. "Terimakasih Pak," ucap Kinara dan langsung berjalan ke arah dimana Anna sudah berdiri.


Kinara merangkul lengan Anna sambil tersenyum hangat pada temannya itu. Mereka berdua dengan kompak mengangguk lalu berjalan menuju pintu. Kepergian Anna beberapa detik lalu membuat pandangan Sean mengarah padanya sampai akhirnya pintu ruangan itu tertutup dan ******* pelan keluar dari mulut Sean.


Sementara Ghea dan Sera mulai panik saat Pak Atmaja mendekat ke arah mereka.


"Berdiri kalian berdua!"


Suara tegas dan berat oleh Pak Atmaja membuat keduanya panik ditempat. Secara tiba-tiba saja telapak Pak Atmaja yang kasar menyentuh kedua pipi gadis itu hingga ringisan kecil melolos dari mulut Ghea dan Sera.


"Berulang kali membuat masalah di sekolah! Berulang kali nama kalian tercatat di buku dosa saya. Apa kalian pikir sekolah ini tempat untuk berkelahi sesuka hati kalian?!"


Ghea dan Sera diam dan terus menunduk. Mereka tidak memiliki keberanian menatap Pak Atmaja yang nampak marah menatap mereka.


"Kalau kalian berbuat masalah di luar sekolah itu bukan urusan bapak lagi! Tapi kalau masih berada di lokasi sekolah aturannya masih sama! Mengerti tidak kalian dengan apa yang bapak katakan?"


"Mengerti Pak. Maafkan atas kesalahan kami," ucap Ghea berseru begitu pelan.


"Apa kalian akan mengulang kesalahan seperti ini lagi?!"


Ghea dan Sera menggeleng kompak seraya memegangi pipi mereka yang sakit dan perih. Lima jari milik pak Atmaja cukup membuat Ghea dan Sera syok, tak menyangka akan mendapat seragan seperti ini secara tiba-tiba di hadapan semua guru-guru juga ada Sean disana.


"Kalau sampai besok siang orangtua kalian tidak datang menemui bapak di ruangan ini, jangan berharap nama kalian tercatat sebagai siswa Starlight High School mulai besok. Sekarang silahkan keluar..."


Keduanya pun berbalik badan menuju pintu. Setelah mereka keluar barulah Pak Atmaja menatap serius sosok Sean yang berdiri di dekat sofa. Beliau juga menghela napas panjang melihat Sean.


"Sini kamu Sean. Kau juga ikut-ikutan buat bapak kecewa. Entah bagaimana bisa kejadian seperti ini sampai terjadi.. dan itu kejadiannya di kantin!" kata Pak Atmaja tegas dan raut wajah tegang.


"Maafkan saya Pak..."


"Mereka bukan sekali ini lagi berbuat ulah di sekolah ini, Sean. Dulu Anna itu dengan Ghea sudah sering bermasalah. Mungkin kamu memang tidak tahu apa masalahnya, tapi begitulah. Mereka tidak pernah akur sejak kelas sepuluh."


"Jadi bapak sangat berharap dengan keberadaanmu jangan sampai masalah seperti tadi terulang lagi."


"Baik Pak. Sekali lagi saya minta maaf Pak. Kedepannya masalah seperti itu tidak akan terjadi lagi disekolah."


"Baiklah. Asal jangan diulang lagi. Oh, iya Bapak sampai lupa menanyakan ini, bagimana dengan persiapan pentas seni kita? Apa sudah rampung sampai delapan puluh persen?"


"Hampir Pak. Namun yang jadi kendala sekarang apa kita juga harus mengundang komite sekolah Pak untuk acara ini nantinya?"


"Baik Pak. Akan saya tambahkan di catatan pentas seni nantinya Pak."


"Yasudah kau bisa kembali ke kelasmu. Ingat ya masalah tadi jangan sampai terulang."


"Iya Pak. Permisi..." Sean menunduk hormat pada guru-guru dan kepala sekolah disana. Ia keluar bersama dengan dua anggota osisnya.


...🍁🍁🍁...


Setelah kepergian para siswa yang bermasalah dan anggota OSIS yang bertugas disana tadi, Pak Atmaja bangkit dari kursi kebesarannya dan duduk di dekat Pak Robert.


"Bagaimana Bu Ayu, apa uang sekolah Anna sudah dilunaskan? Hari ini hari terakhir dia kan bayar Spp nya yang menunggak?"


Bu Ayu yang duduk di sofa di depan Pak Atmaja mengangguk ringan. "Tadi pagi Anna sudah datang ke kantor pak dan masih setengahnya melunasi uang sekolahnya. Saya kasih waktu seminggu lagi untuk gadis itu melunasinya."


"Harusnya dia sudah tidak bisa lagi sekolah disini. Kalau disekolah lain dia pasti sudah diminta pindah tapi karena ayahnya dua hari lalu menelpon terpaksa saya urungkan."


"Secepatnya kita harus mempertimbangkan keberadaan Anna di sekolah ini."


...🍁🍁🍁...


"Gila, mamen! Gue rasa itu tulang pipinya si Ghea sama Sera pasti bengkak karena gamparan pak kepsek. Tadi juga dia ditampar Anna katanya," ujar Reyden.


"Tripple kill anjayyy..." seru Dito semangat. Mereka kini tengah berjalan di lorong kelas sepuluh. Masih belum tau kemana arah mereka saat ini.


"Gue bilang juga apa kemarin, Ghea sama Sera itu harus diawasi betul Sean. Kalo gak ya jatuhnya kayak gini. Lo juga yang kena ceramah sama kepsek," ujar Reyden kepada Sean.


"Tugas gue juga, jadi gak masalah kalau berurusan sama kepsek," balas Sean enteng sembari memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Tatapannya fokus menatap sepanjang lorong yang tampak sepi.


"Ngomong-ngomong lo udah tau masalah yang pernah terjadi sama Anna--maksud gue cewek yang ribut di kantin tadi sama Ghea juga Sera. Dia Anna, lengkapnya Anna Natalia Senja. Baru juga hari ini masuk sekolah," kata Dito.


"Bentar, bentar. Dia baru hari ini masuk sekolah? Maksud lo gimana?" tanya Sean.


"Dia itu udah lama menghilang karena masalah setahun lalu."


"Jangan bilang dia cewek yang selalu diomongin di sekolah ini? Cewek yang pernah jadi mantannya siapa itu namanya kemarin gue dengar...."


"Dean?" kata Dito.


"Nah, iya Dean."

__ADS_1


"Iya benar bangat. Anna satu-satunya perempuan yang berani ngomong suka dan nembak Dean setahun lalu. Gue kira Satria udah ceritain ini sama lo."


"Belum," jawab Sean mengernyit.


"Minta mereka ajah yang cerita sama lo. Karena setahu gue Satria juga cukup dekat sama Anna dulu, pasti mereka lebih tau banyak," kata Dito.


"Eh, ini kita langsung ke kelas atau kemana ini?" tanya Dito tiba-tiba pada Sean.


"Gue masih ada urusan. Lo berdua balik aja ke kelas. Oh iya, bilangin sama Diandra buat antar rekapan uang osis yang gue bilang ke ruang osis ya, jangan sampai lupa."


"Kita gak ikut juga?" tanya Reyden. Sean menggeleng.


"Engga usah. Gue cuman cek perhitungan dia yang salah tadi pagi, makanya bilangin ke dia ya."


"Oke! Kita cabut duluan," kata Dito. Mereka berjalan lurus menuju tangga.


Sementara Sean justru berjalan lurus di lorong kelas sepuluh yang lagi pada kegiatan belajar mengajar, namun kaki panjang itu berhenti di tengah-tengah koridor begitu melihat Anna berjalan ke arahnya. Bukannya masuk kelas, gadis itu justru terlihat di lorong yang sama dengannya.


Ia mau kemana disaat keadaan lagi panas-panasnya," lanjut Sean dalam hati.


Ketika pandangan mereka bertemu, lagi-lagi Anna menunduk dan sengaja menatap lantai putih koridor. Sean tau kalau gadis itu menghindarinya. Itu perkiraannya saja tapi memang benar.


"Lo nginjek sesuatu makanya lihat kebawah terus?" kata Sean membuat Anna menghentikan langkahnya lalu menoleh menatap laki-laki itu.


Laki-laki tampan yang sudah berdiri di sebelahnya, menatap dirinya dari ujung kepala hingga kaki. Lagi-lagi senyuman misterius itu yang Anna dapatkan setelah memandang Sean.


"Kita gak saling kenal jadi gak usah basa-basi menyapa dengan pertanyaan konyol begitu," cecar Anna dingin dan ketus.


"Ck! Gue kenal lo makanya gue berani ajak lo ngomong. Kalau lo orang asing, gue gak mungkin sapa lo barusan. Gue cuman pastiin keadaan lo udah baik apa belum?"


"Memangnya gue kenapa?" kata Anna dengan dahi mengernyit.


"Emm.. masalah dikantin tadi. Lo gak papa, 'kan?"


Anna menatap manik hazelnut milik Sean, menatap tak acuh. Menyipitkan mata dengan bibir tertutup rapat.


"Gue baik-baik ajah. Engga ada yang perlu dikhawatirkan."


"Pahanya uda diobatin?" tanya Sean lagi dengan maju selangkah mendekati Anna. Cowok itu tampak khawatir dari pancaran bola matanya menatap Anna, sedangkan Anna yang tingginya sebatas dada Sean benar-benar terlihat kecil. Seperti dirinya sedang berbicara pada tiang listrik.


Dia perhatian pada orang yang sama sekali belum ia kenal? lanjut Anna berbicara dalam hati.


Anna mengangkat tangannya di depan dada Sean, seolah mengisyaratkan cowok itu jangan maju lagi. Setiap Anna hendak berbicara Sean terus maju selangkah menepis jaraknya dengan Anna.


"Udah tadi. Teman gue udah bantu obatin di uks. Jaga jarak, gue gak suka. Entah ngapain maju-maju terus."


Sean tersenyum kecil melihat wajah jengkel Anna.


"Kepala lo masih nyut-nyutan?" tanyanya lagi membuat Anna memejamkan matanya sebentar. Tidak bisa berpikir jernih mendengar cowok itu semakin bertanya dengan gila.


"Kan gue udah bilang tadi. Apa perlu sepuluh kali lagi gue ulang. Pernyataan lo benar-benar ngga masuk akal, sumpah deh," beber Anna kesal. Udah tau masih nanya.


Sean justru tertawa menatap Anna. Tawanya bahkan terdengar semakin keras membuat Anna mengegelengkan kepalanya.


"Kenapa lo ketawa? Lo suka ya liat orang menderita?" hardik Anna sedikit kesal dengan cowok aneh di depannya ini.


"Bukan. Lo lucu ajah gue lihat. Lebih cantik kalau lihat muka lo marah-marah begini," kata Sean sembari mengangkat tangan mengelus puncak kepala Anna. Merasakan tangan Sean yang bergerak di puncak kepalanya membuat Anna terkesiap.


"Aish, apaan sih tangan lo ini?!"


Anna menepis tangan besar Sean dengan kasar membuat Sean menunduk dan mendekatkan wajahnya ke depan wajah Anna.


"Gue suka lihat wajah lo kesal, Anna. Gemesin bangat tau... Yok, kesal lagi..." Anna melototkan mata. Sean lantas memundurkan wajahnya setelah melihat wajah Anna menahan rasa amarah.


"Udah ya gue mau ke kelas. Lo habisin waktu gue ngobrolin hal yang gak penting," kata Anna hendak pergi tapi tangannya langsung di tahan Sean.


"Lo rugi kalau ngomong sama gue? Lagian salahnya dimana kalau gue nanyak keadaan lo?"


"Apa sih, gaje bangat jadi orang. Kalau mau ngomong entaran ajah deh, gue mau masuk."


"Bentar dulu," kata Sean mencegah perempuan itu pergi. "Lo mau ngobrol sama gue?"


"Kenapa nanyak gitu? Cuman ngobrol doang kan? Iya bisa tapi bukan sekarang. Gue mau masuk kelas."


"I-iyah cuman ngobrol doang, tapi lo bilang tadi kita gak saling kenaal. Apa lo sama sekali gak risih ngomong sama orang yang gak lo kenal?"


"Astaga, maunya apa sih? Jangan buat gue bingung. Gue memang bilang gak kenal makanya kita nanti-nanti ajah ngobrolnya biar saling kenal. Gue gak ada waktu, gue mau masuk kelas. Aish..."


"Oke, oke. Gue tunggu..."


Setelah Anna mengatakannya dan berjalan menuju kelasnya, Sean perlahan menarik sudut bibirnya. Ia tersenyum kecil sambil menatap punggung gadis itu menaiki tangga kelasnya. Pertemuan kedua mereka benar-benar tidak disangka akan seperti ini.


Sepanjang lorong kelas menuju lantai dua, Sean senyum-senyum sendiri dan ia tidak sadar kalau tingkahnya itu dilihat jelas oleh seseorang yang berdiri di balik tiang pembatas kelas.

__ADS_1


- to be continued -


__ADS_2