
...🍁 Disclaimer🍁...
...Cerita ini asli dari imajinasi author, baik dari nama, tempat dan alur cerita semua murni dari imajinasi saya sendiri. Semoga kamu menyukai dan menikmati cerita ini!...
...⚠️DON'T COPY MY STORY, PLEASE!⚠️...
...***...
Esok paginya pada pukul tujuh pas Anna sudah berdiri di depan kaca setinggi satu meter di hadapannya. Gadis itu menatap pantulan dirinya dengan raut wajah tidak bersemangat.
Tangannya yang gemetaran pun perlahan mengoleskan lip tint berwarna soft guna menutupi bibirnya yang pucat. Wajahnya yang dipenuhi lebam-lebam juga sudah ia tutupi dengan foundation dengan tone sesuai warna kulitnya.
Anna yang terbangun tadi pagi cukup terkejut menatap wajahnya sembab dan ada beberapa luka memar di pipi dan luka di keningnya. Poni panjangnya ia rapikan kembali untuk menutupi luka di dahinya.
Beberapa kali helaan napas keluar dari bibir gadis itu. Sebenarnya hari ini ia tidak ada tenaga datang ke sekolah, tapi ia juga tidak ingin memancing kemarahan ayahnya kembali setelah kemarin sore ia mendapat hukuman yang cukup parah dari hari sebelumnya.
Kondisi kakinya yang teramat sakit kemarin malam sangat menggangu pergerakan Anna. Kaki kanannya tetap ia bungkus dengan sepatu, tak peduli dengan rasa yang menyakitkan menjalar dalam dirinya.
"Non Anna sarapan dulu ya. Bibi udah buatin sandwich kesukaan non ini," kata Bi Rina menawarkan sarapan pagi pada anak majikannya tapi tak dihiraukan oleh Anna yang bersiap berangkat sekolah.
"Ayah belum berangkat ke kantor Bi?" tanyanya mengalihkan topik pembicaraan.
"Bapak sudah berangkat lebih awal tadi non. Kalau belum Bibi mana berani bawa sarapan ini untuk non."
Anna pun mengangguk paham kemudian berjalan dengan terpincang kearah meja makan. Disana ia menghabiskan menu sarapannya. Beliau dengan mata berkaca-kaca mengelus pundak gadis itu dan tiba-tiba Anna mengusap punggung tangan beliau saat tubuhnya dipeluk erat oleh Bi Rina.
"Non Anna harus kuat ya. Maafin Bibi yang gak bisa nolongin non setiap bapak menghukum non."
"Bibi gak perlu minta maaf. Anna yang salah udah keterlaluan berulah di sekolah. Mungkin memang benar yang dikatakan Ayah kalau Anna memang anak pembawa sial di keluarga ini."
"Tidak Non. Tidak ada pembawa sial di dunia ini, jangan bicara seperti itu. Justru Tuan yang tidak pernah mau bersyukur punya putri sebaik dan secantik non."
"Sekarang non habiskan saja sarapannya biar berangkat sekolah."
"Iya Bi."
Setelah Anna merasa tenang dan perutnya juga sudah terisi kembali, tak lupa meraih tas sekolahnya di atas sofa dan berpamitan pada Bi Rina untuk berangkat ke sekolah.
Anna terdiam sejenak ketika sudah berada di depan gerbang sekolahnya. Gadis itu baru saja turun dari angkot. Beberapa murid yang berseliweran menatap dirinya aneh, membuat gadis itu risih dan tak nyaman
Tubuhnya juga benar-benar tidak bisa diajak kerja sama. Perempuan itu pun menunduk, seolah menghindar dari tatapan tak mengenakkan dari siswa lain yang menatapnya. Ia juga mengurai rambut panjangnya menutupi bekas pukulan sang ayah di wajahnya yang bisa saja terlihat oleh siswa lain.
Perempuan itu kembali menarik napas panjang kemudian membenahi tas punggungnya. Gadis itu mulai melangkah dengan perlahan, tatapan para murid disana semakin mencekiknya ketika melihat Anna berjalan dengan kaki pincang.
Namun, saat menaiki anak tangga pertama memasuki gedung kelas, Anna sedikit oleng karena rasa sakit di pergelangan kakinya. Dan tidak disangka seseorang menahan tubuhnya agar tidak jatuh ke tanah.
Ia melirik dan mendapati Sean berdiri dengan jarak yang begitu dekat sambil memegang lengannya. Bisa ia rasakan wangi parfum yang Sean pakai beraroma mint yang segar.
Kejadian yang baru saja terjadi tak lepas dari pengamatan siswa yang berlalu lalang disana. Ada yang menatap sinis dan ada yang tersenyum karena mereka terlihat cocok atau serasi.
"Kaki lo luka? Kalau iya jangan dipaksa pake sepatu, pakai sandal kan juga bisa. Dari tadi gue perhatiin lo jalan kayak gak biasanya."
"Engga usah peduli. Lepasin..." Anna menepis tangan Sean dengan kasar. Ia kembali melanjutkan langkahnya tapi Anna yang tidak santai berjalan seolah terburu-buru kembali mendarat di pelukan Sean.
Kali ini Anna tidak bisa mengelak lagi. Kakinya memang sangat sakit sekali sampai satu langkah saja ia berjalan tubuhnya oleng kembali.
"Kalau dibilangin tuh di dengar. Ayo, gue bantu..." ucap Sean dan kembali Anna menjauhkan tangannya. Matanya mendelik tajam pada Sean.
"Lo tuli apa gimana? Gue udah bilang gak usah peduli. Apa lo ngga paham maksud perkataan gue barusan?!" sarkas Anna tegas dan Sean sama sekali tidak menurut. Ia justru menyentuh lengan Anna sampai membuat ******* kasar dari bibir gadis itu.
"Lepasin!" Anna mendorong tubuh Sean agar menjaga jarak darinya. Sean mundur beberapa langkah dan menatap Anna dengan wajah datar.
"Gue hutang apa sama lo sampai ngikutin gue terus? Kelas lo ada di gedung sebelah kanan. Please... gue ngga butuh dipeduliin siapa pun."
"Gue tau kelas gue ada di gedung sebelah kanan, tapi apa salah gue ngawasin lo sampai benar-benar selamat sampai kelas?"
Sean tersenyum tapi tidak dengan Anna yang emosi sendiri. Spontan, entah setan apa yang merasuki laki-laki itu, ia langsung menarik lengan Anna sampai membuat Anna memekik keras.
"Argh!!" Anna meringis lalu menjauhkan tangan Sean dari lengannya. Sentuhan yang tiba-tiba terasa pelan bagi Sean justru membuat lengan seragam gadis itu terlihat ada bercak merahnya.
Kenapa harus sekarang, batin Anna melihat lengan seragamnya ternodai oleh darah yang ia obati tadi pagi. Luka yang sudah ia obati sekarang kembali berdarah dan itu tak luput dari pandangan Sean. Cowok itu mendekat dan langsung menggulung lengan seragam Anna hingga menampakkan luka seperti sayatan disana.
"Ini... Lengan lo kenapa bisa begini?" tandas Sean menatapnya lekat. Cowok itu langsung merogoh kantung tasnya yang kecil lalu meraih sapu tangan berwarna putih bergaris hitam dari dalam.
Sean menarik perempuan itu untuk duduk di bangku panjang dekat ruang tata usaha. "Tahan sebentar ya. Gue ke ruang UKS dulu."
Beberapa orang yang berjalan menuju lantai dua heran melihat Anna duduk di depan ruang tata usaha seorang diri. Sebagian lagi yang melewatinya hanya cuek bebek seperti tidak melihat keberadaan gadis itu.
Hampir satu menit menunggu, akhirnya cowok itu datang dengan kotak p3k di tangannya. Ia duduk dengan jarak tiga jengkal di samping Anna. Bisa ia lihat bagaimana tampannya wajah Ketua osisnya itu bila dilihat dari jarak dekat seperti ini.
Sean melepaskan tas punggungnya, menyandarkannya di tembok lalu mulai perlahan membuka kotak p3k. "Gue memang gak mahir obatin orang yang sakit, tapi gue bisa sedikit."
Tanpa banyak omong cowok itu dengan cekatan mengobati luka basah di lengan gadis itu. Satu hal yang membuat Sean bingung, ia tahu rasa sakit yang bisa terjadi ketika alkohol menyentuh luka yang terbuka, tapi sejak ia mengobati luka gadis di hadapannya itu, suara rengekan tak terdengar keluar dari mulutnya.
Anna sendiri, ia hanya fokus menatap orang-orang yang berlalu lalang melewati mereka. Tidak peduli dengan apa yang ketua osisnya itu lakukan di lengannya.
"Lahh ... gue kira lo ngobatin Anna di UKS ternyata malah duduk disini. Capek-cepek gue keliling lo buat."
Arkana datang dengan membawa kantong plastik berwarna putih. Cowok itu masih berdiri menghadap Anna dan Sean.
"Jadi lo beli?" tanya Sean. Arkana mengulurkan kantong plastik di tangannya. "Uang lo nanti ajah gue ganti. Sana lo balik kelas."
"Enak ajah main usir. Gue gabung disini ajah dulu, kelas kita masih kebersihan bentar."
Arkana duduk disebelah Sean sambil memangku tas cowok itu lalu melirik kearah Anna yang matanya menatap ke arah lain. Setelah selesai mengobati luka di lengan gadis itu, Sean menunduk menyentuh sepatu Anna.
Anna yang terkejut segera menjauhkan kakinya. "Mau ngapain?" kata Anna.
__ADS_1
"Mau ngapain lagi selain buka sepatu lo. Gue mau lihat separah apa kaki lo sampai buat lo pincang gitu."
"Engga usah! Jangan nambahin hutang budi gue sama lo. Gue gak papa kok," kata Anna bangkit, namun Sean tetep kekeh menarik gadis itu kembali untuk duduk di dekatnya.
Dan dengan paksa ia menahan kaki kanan Anna--membuka sepatunya sampai membuat Arkana yang bagaikan nyamuk ditempat itu melongo tidak percaya.
"Ini yang lo bilang gak papa. Kalau sakit begini apalagi bengkak jangan sesekali kakinya dibungkus pakai sepatu. Lo mau lama sembuh?"
Anna yang merasa ia diperhatikan merasa sedih. Kenapa orang lain yang justru peduli dengan dirinya? Kenapa orangtuanya sendiri justru tega melukainya?
"Bengkak amat kaki lo. Apa gak sakit pake sepatu dengan keadaan kaki kayak gitu?" ucap Arkana.
"Udah biasa," ketus Anna dan membuat Arkana serta Sean heran mendengarnya.
"Sampai pulang sekolah kaki lo terbungkus terus gue pastiin besok-besok lo gak bakalan bisa jalan lagi. Ini kaki lo udah bengkak sampai merah gini. Kenapa bisa?"
"Gak papa..."
Sean mendesah pelan melirik gadis disebelahnya. Ia tidak suka jawaban singkat seperti itu dan ia juga sama sekali tidak melihat wajah Anna sedih karena kakinya sakit.
"Udah bel nih lo gendong ajah tuh si Anna kasian juga dia jalan sampai kelas. Gue yang bakalan bawa tas lo berdua. Yok, yok!"
"Dari pada lo kena hukuman karena telat masuk kelas mending gue lakuin apa yang Arkana bilang barusan. Gue minta izin dari Lo?"
"Tapi kalau ada yang lihat?"
"Mereka punya mata makanya bisa lihat. Lagian lo mikir amat sih sama pandangan orang. Lo udah sakit ditambah kena hukum entar, gimana?" Kini giliran Arkana yang merepet padanya membuat Anna memejamkan matanya sebentar lalu tampak berpikir.
"Lama bangat lo berdua! Udah deh Na nurut aja. Kalau ada yang ngomongin lo entar bilang sama gue!" Sarkas Arkana yang sudah berdiri di dekat tangga.
"Sorry..."
Sean menggendong Anna yang ternyata ringan di pelukannya. Walau ini kali kedua ia menggendong gadis itu. Anna terus saja memasang wajah panik saat dua siswi perempuan berjalan berlawan arah melewati mereka.
Arkana yang sudah tiba di depan kelas gadis itu tiba-tiba saja tertawa takkala melihat sandal yang Anna kenakan sangat luci. Sandal pilihannya setelah cukup lama memilihnya di pasar yang tadi pagi ia lewati. Sandal motif beruang berwarna cokelat yang cukup besar di kaki gadis itu.
Kelas di depan mereka masih belum terlihat keberadaan guru disana. Arkana mengetuk pintu dan menyembulkan kepalanya.
"Permisi, ketua kelasnya boleh kemari, ngga?" ujar Arkana menatap puluhan siswa dikelas.
Melihat sosok Arkana berdiri di pintu membuat Bian selalu ketua kelas dengan cepat beranjak dari tempatnya. Cowok itu kaget sekaget-kagetnya melihat Anna berdiri dengan Sean yang memeluk pinggang gadis itu.
"Kak Sean," ujarnya. Barulah Bian melirik Anna seolah berkata bawa gue masuk kelas.
"Woy Kinara ini Anna udah datang!"
"Hah? Mana?" seru Kinara berlari ke depan kelas dan melihat Anna berdiri disamping Sean.
Perempuan itu juga takkala terkejut melihatnya dan detik kemudian menggulum bibirnya menahan senyum ketika Sean masih betah melingkarkan tangannya di pinggang temannya.
Kedua cowok itu saling pandang beberapa saat sebelum Anna menyiku tangan Sean di pinggang. Sadar tangannya masih melingkar di pinggang gadis itu, Sean langsung melepaskan tangannya
Segera Anna mengulurkan tangan untuk membantu Anna masuk ke kelas tapi sebelum itu Kinara kembali menilik Sean.
"Thanks ya Kak udah baik ngantarin Anna." Sean mengangguk lalu pergi bersama Arkana dari depan kelas itu segera.
Setelah Anna duduk nyaman di kursinya, Karina yang memilih bersamanya duduk hari ini mulai meliriknya serius. Lirikan itu tak lantas membuat Anna risih, ia justru mengeluarkan bukunya dan mulai mengerjakan soal disana. Tapi sebelum angka pertama tertulis di buku, Kinara mengatakan sesuatu.
"Kenapa kaki lo bengkak? Itu bukan karena jatuh atau terkilir, kan?"
Anna tak menjawab membuat Kinara mendesah pelan lalu membaringkan kepalanya di atas buku paket miliknya.
"Karena kita teman lo harus cerita sesuatu sama gue Na. Jangan diam kayak gini terus. Diam begini gak akan buat masalah lo selesai."
"Ada apa sebenarnya?" tanya Kinara kembali. Tapi sebelum Anna menjawab, suara teriakan melengking mengejutkan seisi kelas itu.
"Gue dapat es batunya Kinara!"
Ria berlari kearah meja dimana Kinara dan Anna duduk. Gadis itu meletakkan mangkuk besar diatas meja yang berisikan es batu juga dua kain lap putih.
"Berisik bangat lo Ria!" teriak seorang cowok yang berdiri di dekat tumpukan sapu di pojokan.
"Kenapa? Gak suka lo kalo gue ribut?" sarkas Ria melirik tajam.
"Ehe terserah lo deh. Cewek memang gak bisa dilawan," balas cowok itu lalu kembali melanjutkan aktivitasnya.
"Sini, sini, kaki lo taruh di paha gue biar gue kompres," kata Ria menepuk paha Anna pelan.
"Kenapa lo bisa tau kaki gue bengkak. Lo kan gak ada di kelas pas gue datang." Ria melengkungkan sudut bibirnya sambil merendam kainlap di dalam mangkok.
"Tadi Bian ngechat gue. Kebetulan gue tadi lagi di kantin sama Yesi. Sini gue kompres bentar biar mendingan."
Anna yang memang menghargai kebaikan Ria langsung melepas sendalnya dan mulai memperhatikan Ria mengobati kakinya yang bengkak.
"Lo belum jawab pertanyaan gue Na," ucap Kinara pada Anna.
"Gue ngga apa-apa Kin..."
"Yakin gak apa-apa?" Anna mengangguk dan Kinara memutuskan menyudahi bertanya lagi karena kekehnya Anna dengan jawabannya.
...•••...
Beberapa jam kemudian, bel panjang tanda istirahat pertama mengalun keras di sepanjang lorong. Ratusan siswa mulai berkerumun memenuhi koridor kelas masing-masing menuju kantin di belakang kelas mereka.
Seorang gadis yang menyendiri di dalam ruangan tampak tidak bersemangat. Ia bukannya ditinggal temannya tapi ia sendiri yang memilih menetap di kelas menghabiskan jam istirahat pertama.
Dua menit berlalu, Anna mulai jenuh dan suntuk di tempatnya berada. Ia mencoba untuk membuang rasa bosannya dengan duduk di depan kelas namun belum sempat kakinya berada di ambang pintu dahinya terantuk sesuatu yang keras.
__ADS_1
Tak sengaja ia menubruk dada seseorang hingga membuat ponsel orang tersebut terjatuh di lantai. Sosok itu segera meraih ponselnya dan memasukannya dalam saku.
Melihat siapa yang baru saja ia tabrak, Anna langsung merapikan rambutnya tapi ternyata wajah yang sudah ia usahakan ditutupi tampaknya terlihat dengan jelas di mata Sean.
Tangan cowok itu dengan gerakan cepat menyibak rambut Anna, mengumpulkan rambut gadis itu kebelakang kepalanya. Terlihatlah wajah Anna yang memar di beberapa titik.
"Dahi lo kenapa memar gini? Pipi lo juga..."
Sean mengamati setiap inci wajah gadis itu. Matanya kini beralih pada pipi dan sudut bibir Anna yang juga ikut membiru. Apa yang terjadi pada wajah gadis ini sebelumnya?
"Jangan sentuh gue!" Anna menepis kasar tangan Sean di depan pundaknya. "Gue gak mau cari masalah lagi sama tunangan lo. Awas biarin gue pergi."
Belum sempat Anna berjalan satu langkah menjauh dari cowok itu, tubuhnya kembali mendarat di pelukan Sean. Kali ini rasa sakit di kepalanya benar-benar tidak bisa Anna tahan lebih lama.
"Jauhin tangan lo dari badan gue! Jangan buat marah deh. Kepala gue lagi sakit bangat," kata Anna mencoba kembali berdiri tegak dan menjaga jarak dari Sean.
"Maka dari itu jadi perempuan jangan keras kepala. Ayo ikut gue ke UKS. Lagian Ghea juga bukan tunangan gue. Jangan mudah ambil kesimpulan sendiri dari cerita orang lain."
Anna berdecak pelan. Entah kegilaan apa yang merasuk dalam pikiran cowok itu sampai seaneh itu peduli padanya.
"Turunin gue! Lo apa-apaan sih. Bisa gila gue lama-lama dekat sama lo. Turunin Kak Sean!"
"Mending lo diam. Sekali lagi lo ngomong gue lempar lo dari lantai dua ini..."
Anna mendesah kecil lalu menenggelamkan wajah malunya di dada bidang Sean yang sangat keras dan kekar. Hal yang Anna rasakan sekarang ia begitu jelas mendengar detak jantung Sean dan hangat tubuh lelaki itu menyentuh kulitnya.
Sepanjang perjalanan, gadis itu sesekali mencuri-curi pandang menatap Sean. Rahangnya yang begitu tegas, bulu mata yang lentik, bibir kissable merah alami dan hidung sempurnanya membuat Anna meneguk salivanya.
"Gue tau gue setampan itu."
"Turunin gue! Jangan tambahin masalah di hidup gue!" potong Anna segera. "Ish--lo dengar gue gak sih?"
"Mending lo diam. Kasian badan lo yang lemas kayak gini masih ngomel-ngomel gak jelas."
Setibanya di ruang UKS Sean langsung menurunkan Anna di atas brankar. Dua siswa perempuan yang berjaga disana langsung mengambil alih.
"Dia demam dan kepalanya juga pening. Luka-luka yang lo liat di badannya biar gue yang obatin sebentar lagi. Lo berdua cuman bantu periksa keadaannya dan beri dia obat yang ada di UKS ini. Lima menit lagi gue datang kerjaan lo berdua harus udah selesai."
Sean keluar dari ruang UKS. Cowok itu pergi ke kantin. Tak lama setelah itu, ia kembali dengan segelas minuman hangat di tangan. "Kalo kerjaan lo berdua udah beres sekarang keluar dari sini. Biar gue yang obatin dia," titah Sean dan diangguki dua petugas PMR.
"Jangan pergi..." seru Anna. Kedua petugas UKS yang berjaga itu berhenti dan menoleh.
"Mau ajah lo berdua dengarin omongan dia. Kalau ada gosip baru disekolah gimana? Gue juga yang kena," kata Anna
"Gosip? Memangnya lo tahu apa yang bakalan terjadi kalau mereka ninggalin lo bareng gue disini?"
Anna membisu dan panik karena otaknya memang begitu cepat mencerna situasi yang akan terjadi. Perempuan itu pun menggeleng.
"Lo berdua masih mau berdiri disana?"
Kedua petugas itu pun menggeleng karena intimidasi Sean. Segera mereka keluar dan tidak lupa menutup pintu. Sean sendiri tidak memikirkan hal aneh jika berduaan seperti ini, tapi mungkin agak lain dengan Anna yang sudah cemas dan wanti-wanti.
"Untuk apa sih lo ikut campur sama urusan gue. Gue bukan anak kecil lagi mesti di gendong ke UKS kayak tadi."
"Yang bilang lo anak kecil siapa? Gue yangndong lo jadi gak ada yang salah."
"Terserah lo deh. Capek gue ngomong sama cowok kayak lo," ujar Anna turun dari bangsal.
"Kalau lo jatuh pingsan jangan harap gue mau gendong lo ke UKS lagi. Perempuan sekarang keras kepala kebanyakan."
"Lo bilang apa barusan?"
"Lo perempuan keras kepala," sahut Sean dengan tegas. Ia hendak meninggalkan Anna yang masih berdiri di depan pintu UKS, namun ia cepat sadar mengingat luka lebam di wajah gadis itu.
Sean pun berbalik dan mendekat pada Anna. Perempuan itu tak mau menatapnya. "Gue belum obatin luka lo. Ayo, ikut gue dan tolong jangan ngelawan."
Sean berjalan lebih dulu memasuki ruang UKS. Sedangkan Anna masih tak bergerak di tempatnya. Matanya bergerak kesana-kemari mengikuti langkah kaki Sean yang meraih obat p3k lalu duduk di sofa dekat jendela.
"Gue engga punya banyak waktu meladeni keras kepala lo Anna. Selagi gue masih bersikap baik tolong lo hargai sedikit."
Merasa Sean satu-satunya orang yang peduli akhir-akhir ini padanya, membuat Anna mau tidak mau mendekat dan duduk disebelah cowok itu.
Naya tidak tahu maksud dan tujuan Sean bisa sebaik itu padanya. Tapi suatu saat nanti Anna akan membalas semua kebaikan yang Sean berikan padanya. Itu salah satu janjinya saat ini.
"Kenapa lo ngelakuin ini sama gue?" Pertanyaan yang keluar dari mulut seorang Tanaya benar-benar mengalihkan tatapan cowok itu padanya.
"Engga ada alasan yang bisa gue kasih tau kenapa gue kayak gini. Lo manusia jadi pasti butuh bantuan. Gue tau lo orangnya bodo amat sama diri lo sendiri, tapi kalau lo begini terus orang lain juga gak bakalan care sama lo. Utamakan diri lo baru orang lain."
"Gue tau. Gue cuman pastiin kenapa setiap gue butuh lo selalu ada dan satu lagi kenapa lo segampang itu menyimpulkan kalau gue ini adik lo yang hilang, cuman perkara kalung lo sampai segitunya. Kenapa?"
"Lo sendiri pasti udah tau gimana masalah gue setahun lalu. Gue sekarang ini engga mau lagi terima siapapun orang baru dalam hidup gue. Karena gue takut gue bakalan tergantung sama orang itu."
Seperti de javu, itu yang Sean rasakan setelah mendengar apa yang dikatakan Anna. Ini kali pertama Sean mendengar seseorang berbicara demikian padanya. Anna seperti tidak ingin dibantu setiap ia butuh karena ia takut kalau dirinya bisa ketergantungan padanya.
"Apa yang buat lo sampai takut bergantung pada orang lain?"
"Gue ngga punya ibu. Ibu gue meninggal pas gue masih kecil. Gue punya ayah tapi seperti tidak punya ayah. Gue dibesarkan dengan cara gue sendiri. Kalau gue ketemu sama orang yang baik, bisa ngertiin gue dan ninggalin gue, gue yang hancur."
"Lo pikir sendiri, apa yang terjadi nantinya kalau orang baik itu pergi ninggalin gue?"
Sean melihatnya cukup serius. Cara Anna berbicara dan sepasang matanya yang bergerak seperti gelisah, menyadarkan Sean bahwa Anna sepertinya sedang terluka.
Jika sampai hal itu terjadi pada gadis yang berusaha bertahan dan berdiri di kedua kakinya mungkin Anna akan mengalami luka dalam yang hebat terlebih tak ada sosok ibu di hidupnya selama ini.
"Gue salah minta lo jauh dan tidak peduli sama gue disaat gue butuh. Tapi satu hal yang lo harus tahu, kalau lo memang berniat baik sama gue please jangan setengah-setengah. Jangan datang kalau ujung-ujungnya lo bakalan pergi ninggalin gue."
- to be continued -
__ADS_1