
...Disclaimer🍁...
...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....
...•••...
Sudah lima jam yang lalu pemilik kedai di pinggir kota tersebut mengeluh menatap satu pelanggannya yang satu jam lalu meraung tidak jelas. Pria dengan kemeja biru dibalut dengan jas hitamnya memasang wajah lusuh, lelah dan kantung mata yang membengkak.
Pria itu terus saja duduk disana bahkan menenggang minuman beralkohol di tangannya. Ini sudah gelas kelima yang ia tenggang habis. Setelah itu, kedua tangannya menjulur memanjang di atas meja--kepalanya bersandar di tiang penopang kedai. Meracau tidak jelas dan sesekali ia bergumam menyebutkan nama seseorang.
"Apa aku ayah yang paling jahat di dunia ini. Dia putriku, tapi kenapa aku begitu tega memukulnya dengan tangan ini..." ucapnya sembari mendongak menatap lampu di atas kepala.
"Tangan ini tidak seharusnya memukulnya. Sial sekali rasanya. Aku tak pantas dipanggil ayah lagi oleh anak itu."
"Argh!!"
Gelas digenggamnya dengan keras menghantam lantai--sang pemilik kedai mulai geram melihatnya. Meskipun pria di hadapannya ini kerap membayar lebih tapi tidak seharusnya ia menghancurkan gelas-gelas berharganya.
Kalau begini terus sama saja kedai kopi nya ini akan mengeluarkan banyak dana lagi untuk membeli gelas-gelas di kedainya.
"Bagaimana ini? Bawa saja dia. Dia akan membuat kedai ku ini hancur tak bersisa," ujar pemilik kedai kepada seorang pelanggan setia tidak jauh dari tempat pria itu berada.
Bagaimana ia mengusir pria itu, sudah berulang kali dibujuk untuk pergi dari tempatnya, tetapi percuma saja. Bukan tidak berani, tapi ia hanya tidak ingin membuat masalah terlebih ia juga tidak ingin menghabiskan waktunya meladeni pria seperti itu.
"Kau bisa pulang sekarang, Ryan. Kau sudah mabuk. Bukankah putrimu sendirian di rumah. Kau tidak kasian melihatnya."
"Tidak seharusnya kau berada di tempat seperti ini--menghabiskan banyak waktumu di luar sementara kau masih punya seorang putri di rumah."
"Putriku? Anak sialan itu? Ah, kau benar sekali," ujarnya mengangkat wajah menatap pria yang baru saja berbicara dengannya.
"Kau tau, anak sialan itu tidak seharusnya ada di dunia ini. Baiknya dia menghilang saja seperti uang-uangku," tawa pria itu.
__ADS_1
Dia Ryan, ayahnya Anna. Pria itu datang kemari untuk menenangkan pikirannya karena ratusan juta uangnya sudah lenyap ditipu kliennya sendiri.
Kebodohannya membuat dirinya hampir mengalami kebangkrutan dalam sekejap mata. Beruntung asistennya bisa diandalkan hingga masalah yang tadi siang bisa ia handle.
"Hidup ini memang sangat menyedihkan jika kita hidup bersama dengan orang-orang yang tidak berguna."
"Kau tau tidak, Sovian. Putriku yang dirumah—dialah yang menyebabkan istriku meninggal dunia. Tak pantas anak seperti itu ada di dunia ini. Kalau kau mau, datanglah ke rumahku dan bawa anak sialan itu menjauh dari sisiku. Dia tidak ada gunanya sama sekali," ucapnya membuat pria itu menegang mendengarnya.
"Kau tidak seharusnya mengatakan itu Ryan! Kau harusnya beruntung memiliki anak seperti dia. Dia menyayangimu tapi kau tidak pernah menyadari itu. Dalam hatimu hanya ada kebencian dengan anakmu sendiri!"
"Kau menceramahi ku, Sovian?! Lancang sekali kau berkata seperti itu pada temanmu sendiri!"
"Aku tidak lancang, Ryan, tapi lihat keadaan di sekitarmu. Buka matamu lebar-lebar. Banyak orang yang menginginkan anak, tapi kau... kau justru menyakiti anakmu sendiri!"
"Diamlah atau mulut mu itu akan ku bakar dengan rokok ini." Ryan mengangkat pandangannya walau netra mata itu sedikit menyipit menatapnya.
"Terserah kau saja. Kita berdua tidak satu dua tahun lagi berteman. Jangan sampai kau menyesali perbuatan bodoh mu ini..." Sovian merapikan serpihan kaca yang berserak di lantai.
Pemilik kedai itu kembali menghela napas panjang. Ia menatap pria di seberang mejanya. Matanya terpejam. Mulutnya selalu melontarkan kata-kata kasar. Sumpah serapah pun sudah berulang kali ia ucapkan. Ia memberanikan diri menepuk pundak Ryan.
"Kau pulang sana! Aku akan menutup kedai ini. Semua pelanggan sudah kabur karena ulahmu. Pergi sana," usir pemilik kedai itu pada Ryan yang menundukkan kepala di atas meja.
Ryan yang setengah sadar mendengarnya melirik dengan mata menajam. Ia bangkit dari duduknya seraya berdecih. Pria itu berjalan dengan sempoyongan. Ternyata dia sudah mabuk berat. Tungkainya pun sampai berjalan dengan oleng. Matanya terus mengerjap. Bibirnya bergumam tidak jelas. Lalu disusul dengan gelak tawa.
Ryan yang tidak memperhatikan jalan sampai sebuah motor menyerempet tubuhnya hingga jatuh. Si pemilik motor berhenti dan menghampiri korbannya. "Apa anda tidak apa-apa?" tanyanya mencoba membantu Ryan berdiri.
"Kau ini! Kau tidak punya mata, hah?!" amuknya menepis lengan laki-laki itu. Ryan mendongak sedikit menatap pemuda di sampingnya.
"Ternyata kau masih anak muda, tapi menyetir saja kau tidak mahir. Aku akan melaporkanmu ke kantor polisi. Dasar!!"
"Iya, maafkan saya. Saya tidak fokus tadi, Pak. Jadi mohon maafkan saya." Laki-laki yang tidak sengaja menambrak tubuh ayahnya Anna adalah Sean.
__ADS_1
Cowok itu baru saja keluar rumah untuk mencari udara segar. Sayangnya bukan udara segar yang membuatnya merasa damai melainkan perasaan menyesal karena menabrak seseorang.
"Maaf, maaf! Kenapa semua orang melakukan kesalahan ujungnya meminta maaf. Kau sama saja seperti putriku. Tidak becus dan tak berguna. Selalu membuat sial!!"
Ryan samar-samar menatap lelaki itu dengan mata menajam dan senyum gilanya. "Sana, minggir! Dasar bocah!"
Ryan mendorong tubuh Sean ke samping membuat cowok itu bergeser dengan manik mata yang menatap pria tersebut berusaha bangkit dan berjalan dengan sempoyongan.
"Dia mabuk?" gumam Sean. Matanya masih memperhatikan pria itu berjalan ke sebuah mobil hitam di seberang jalan.
"Bisa-bisanya menyetir sendirian dalam keadaan mabuk begitu. Aku harus mengantarnya pulang," ucap Sean mengayunkan kedua kakinya.
"Tunggu sebentar. Sebagai permintaan maaf saya, biar saya yang mengantar anda pulang. Tidak baik menyetir dalam keadaan mabuk. Anda bisa kecelakaan."
"Apa kau ini, hah?! Tidak perlu! Pergi sana, belajar dengan baik. Jangan suka keluyuran!!" Ryan menepis tangan Sean lalu kembali berjalan mendekat ke arah mobil--saat tangannya meraih pintu mobil tiba-tiba saja.
Pria itu ambruk di tanah membuat Sean langsung mendekat dan menolongnya. Hampir saja kepalanya menghantam tanah kalau Sean tidak bergerak cepat. Sean menatap keadaan sekitar. Jalanan di lokasi ini memang selalu terlihat sepi. Ia tidak mungkin meninggalkan pria itu begitu saja di pinggir jalan. Segera, ia menggendong pria paruh baya masuk dalam mobil. Ia membaringkannya di jok belakang.
Tidak ingin berniat jahat, laki-laki muda itu merogoh saku jas pria tua tersebut, menemukan kunci mobil dan sebuah telepon genggam. Ia menyalakan ponsel itu dan terkejut mendapati wallpaper ponsel itu ialah seorang gadis yang tampak tersenyum ke arah kamera.
Gadis berambut lurus berwarna hitam legam sebahu, mata bulat, bibir berwarna merah leci, memakai seragam sekolah dan wajahnya berseri-seri duduk di sebuah kursi empuk sedang tersenyum manis menatap ke arah sebuah kamera.
"Anna? jadi ... jadi beliau ini bokap lo?" ujar Sean melirik Ryan setengah tertidur di jok sebelahnya.
Sean memang mengutak-atik ponsel pria itu, tapi tangannya tidak bisa tidak diam hanya menatap satu foto yang menjadi wallpaper dari ponsel tersebut. Tiba-tiba saja manik matanya menangkap sebuah file yang cukup mengundang rasa penasarannya untuk membuka.
Setelah ia menekan file itu, sebua fakta yang baru saja ia ketahui membuat Sean kaget dan langsung mematikan ponsel ditangannya. Ia menaruhnya kembali disaku pria itu lalu keluar untuk mengantar pria itu ke alamat rumahnya. Sembari menyetir Sean tidak bisa menghiraukan fakta yang ia lihat barusan.
"Jadi selama ini yang mereka bilang tentang lo semuanya benar? Lo bukan anak kandung Om Ryan dan Tante Naura?"
- to be continued -
__ADS_1