In Another Life Secret

In Another Life Secret
Bagian 23


__ADS_3

...🍁Disclaimer🍁...


...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....


...•••...


Satu tahun yang lalu saat Anna duduk dibangku kelas sepuluh dan berstatus pacar dari Dean--most wanted Starlight High School angkatan 2020. Siapa yang tak ingin membahas hubungan mereka? Banyak orang yang selalu membicarakan kisah mereka disekolah dan tidak sedikit pula yang menyindir hubungan Anna dan Dean karena sebagian orang itu adalah orang-orang yang mendukung Theresia, gadis yang dikabarkan pernah menjalin hubungan pacaran dengan Dean.


Kini Anna dan Dean sedang berada di tempat dimana mereka dulu ya resmi pacaran dan entah kenapa perasaan Anna sekarang tidak karuan. Hatinya sedikit takut karena sejak setengah jam Dean tidak mengatakan apapun padanya. Lelaki itu hanya berdiri sambil menatap dirinya lamat-lamat.


"..."


"Kita putus ajah, Na. Gue bosan."


Beberapa detik mengatakan itu, Anna langsung mengangkat pandangannya. Menatap lekat mata milik Dean dengan tatapan lembut. Ia tersenyum getir, ia sudah tau kejadian ini akan terjadi. Salahnya berharap banyak pada orang yang sama sekali tidak ada perasaan untuknya.


"Yaudah Kak gak papa. Pintunya disebelah sana ya." Anna menunjuk pintu menggunakan dagunya. Setelah itu, bibirnya terasa kelu untuk mengatakan sesuatu pada Dean.


"Iya. Jaga diri lo baik-baik ya." Cowok itu beranjak dari ruang perpustakaan--meninggalkan Anna yang menitikkan air mata. Kepalanya menunduk sembari memejamkan mata. Beruntung perpustakaan saat ini tidak ramai jadi ia bisa menangisi dirinya sendiri.


"Memutuskan hubungan bukan karena bosan tapi memang dia sudah ada yang lain. Bodohnya kau Anna tidak pernah sadar diri," gumam Anna kemudian tersenyum kecut disela-sela matanya berair.


"Harusnya aku tidak boleh berharap banyak pada sesuatu yang memang tidak ditakdirkan untuk aku miliki."


Sebelum Dean memilih mengakhiri hubungannya dengan Anna. Dean saat itu sedang berada di dalam kelas bersama teman-temannya. Dua meja belajar mereka digabung di tengah kelas. Dean duduk diantara Cakra dan Seto, sementara Gibran duduk di dekat Aldi serta Brian.


"Gue mau nanya lah," ujar Gibran. "Kenapa cewek-cewek zaman sekarang lebih suka mengejar orang yang gak suka balik sama dia?"


"Lo lagi nyindir pacar orang?" timpal Seto.


"Hmm. Kayak Anna tuh contohnya. Dia perempuan pertama yang baru ini gue dengar mau ungkapin perasaannya sama cowok dan itu Dean sendiri, teman kita bro..."


"Ck! Mending juga ngejar gue. Gue jamin bakalan enak tuh hidupnya," sambung Aldi terkekeh.


"Dari sononya memang udah kayak gitu, orang-orang lebih suka mengejar apa yang gak suka balik sama mereka. Mengejar yang belum pasti. Mengejar yang tidak pernah peduli, padahal disekelilingnya banyak yang peduli malah dianggap biasa," celetuk Cakra.


"Jiahhhhh, puitis bangat lu Cak," ujar Gibran tertawa renyah.


"Gimana? gimana? Udah cocok belum gue jadi menantu Bu Rendang?" tawa Cakra.


"Anjir, Bu Rendang..."


"Iya loh Bu Rendang. Dia punya anak gadis yang cantik bangat Gib, anak kuliahan sih. Kali ajah Bu Rendang mau anak gadis satu-satunya itu pacaran sama brondong kayak gue ini," kekehnya.


"Bisa ajah lu Cak," seru Seto.


"Eh, napa diam bae lo Dean, sariawan lo," cecar Gibran membuat Dean langsung melayangkan tatapan tajam padanya.

__ADS_1


"Pikiran lo lagi kacau ya?" tanya Cakra.


"Gak ada hal yang bisa buat pikiran gue kacau," balas Dean membuat Aldi, Brian , serta Cakra langsung tertawa ngakak. Menertawai teman yang terlalu percaya diri adalah kebiasaan mereka.


"Yakin bangat bilangnya. Seriusan lo baik-baik ajah?" tanya Cakra kembali. Dean tidak membalas. Ia bangkit dari duduknya membuat teman-temannya yang berada disana mengerutkan dahi.


"Lo mau kemana lagi, baru juga datang." Dean mengenakan jaketnya, meraih kunci motor di atas meja dan mengabaikan teman-temannya.


"Jawab woy mau kemana lo? Lo mau temuin Anna lagi? Katanya gak suka, secepatnya bakalan diputusin, gaje lo..."


Dean tidak menyahut, ia keluar dari kelas dan melangkah menuju sebuah kelas bertepatan bersebrangan dengan gedung kelasnya.


Sampainya ia disana, dengan sekali hentakan tangannya menarik pergelangan tangan seorang perempuan menuju sebuah lorong kecil tak jauh dari kelas tersebut.


Gadis dibelakangnya tersenyum menatap Dean. "Tumben jam segini kamu datang temuin aku? Ada apa? rindu ya?"


Theresia. Perempuan yang berhasil membuat hati seorang most wanted bernama Dean jatuh cinta berkali-kali padanya. Senyum khas milik Theresia mampu meruntuhkan pertahanan seorang Dean.


"Anna..." Satu kata yang membuat Theresia menjauhkan tangannya dari genggaman tangan cowok tersebut.


Theresia menatap nyalang manik mata Dean. "Anna? Kenapa dari sekian banyak perempuan kamu hanya menyebut nama gadis sialan itu di depanku. Sudah aku bilang kan jangan menyebut namanya kalau kau sedang bersamaku Dean. Apa kau tidak bisa paham?"


Theresia geram. Keduanya saling pandang sebentar sebelum Dean memutus pandangannya menatap gadis itu.


"Apa sih yang ia perbuat sampai setiap kita ketemuan dia yang selalu kamu bahas. Apa tidak bisa sekali ajah membicarakan tentang kita berdua?!"


"Gadis sialan...."


"Jadi ada apa dengannya? Apa aku harus mendengar semua tentang gadis itu lagi dari mulutmu? Bukannya kau mengatakan kau tidak menyukainya?"


"Itu dulu..." jawab Dean singkat dan jelas membuat Theresia mendelik, mengepalkan kedua tangannya di samping roknya.


"Hah? Maksudmu? Jangan katakan kau menyukainya?"


"Aku tidak mengatakan demikian, Sia. Tidak mungkin aku menyukainya. Dia bukan tipe cewek yang sepertimu. Dia masih jauh dibawah mu."


"Baguslah. Boleh aku memelukmu? Kau tidak pernah memelukku lagi, biasanya sering tapi entah kenapa sudah tidak lagi," kata Theresia dengan sendu.


Inilah titik kelemahan Dean, ia tidak pernah suka ada gadis yang bersedih di depan matanya. Sementara Theresia ia justru tahu sekali bahwa Dean tidak akan bisa menolak permintaannya sejak mereka sudah bersama dari Taman kanak-kanak.


Dean pun termenung memikirkan permintaan gadis itu. Akan tetapi, detik berikutnya Dean mengangguk pelan membuat Theresia membuka lengannya lebar.


Ia memeluk tubuh tegap Dean tidak sebentar dan yang lebih mengerikan lagi Theresia yang hanya sebatas teman berani mengecup lembut pipi Dean, cowok itu tidak bereaksi berlebihan hanya membalas pelukan Theresia yang semakin erat di tubuhnya.


Dean juga mendengar Theresia bergumam sesuatu. "Aku mencintaimu, Dean. Kau begitu juga, bukan?" Cowok itu termenung menatap wajah perempuan di pelukannya. Sampai di detik berikutnya Theresia mengembangkan senyum lebarnya lalu memeluk erat pinggang Dean.


"...."

__ADS_1


"Jadi bosan yang kakak maksud itu berpindah perasaan pada orang lain, begitu ya?"


Anna datang dan memergoki keduanya. Anna berdiri tegak tanpa ada raut kesedihan di wajahnya. Walau sebenarnya ia mengepal kuat kedua tangannya di sisi rok abu-abunya. Theresia menoleh ke samping membuat Dean juga ikut menoleh ketika mendengar seruan seseorang di tempat itu.


Benar adanya. Tak satupun laki-laki yang bisa ia percaya di hidup ini.


Ayahnya yang suka bermain tangan dengannya dan Dean sebagai mantan kekasihnya beberapa jam lalu juga menyakiti dirinya. Sebodoh itukah Anna di mata mereka? Dean bergerak. Cowok itu mendorong tubuh Theresia kasar hingga membentur tembok di belakangnya.


"Anna? Gue bisa jelasin. Apa yang lo lihat barusan semua benar-benar gak ada niatan gue. Theresia yang melakukan itu dan gue sama sekali gak balas kok," kata Dean berusaha meraih tangan gadis itu.


"Diam, brengsek!!" murka Anna dengan mata melotot, napasnya juga naik turun tak beraturan.


Sementara Dean, cowok itu tersentak. Tubuhnya menegang dan mendadak kaku mendengar Anna mengucapkan satu kalimat menohok itu. Ia sungguh berani mengatakannya. Sejak ia mengenal Anna, bibir gadis itu tak sekalipun pernah berucap demikian, tapi hari ini Dean dibuat tercengang.


"Gue tau gue mantan lo beberapa jam lalu, tapi apa tidak bisa hargain perasaan gue. Gue juga punya perasaan ya. Kenapa mesti disekolah lakuin hal kayak gitu dan lo juga... lo engga tau malu ya jadi cewek. Kita sama-sama perempuan, apa mesti milik gue harus jadi milik lo juga?!"


"Sebutan apa sih yang cocok buat cowok yang bilang bosan tapi malah nyatakan perasaannya sama cewek lain? Cowok brengsek? cowok sialan atau apa?!"


"Anna... please dengarin gue dulu. Semua yang lo dengar atau bahkan lo lihat semuanya salah. Itu..."


"Engga!" bentak Anna keras. "Gak ada yang penting yang perlu gue dengar dari mulut lo lagi, sepatah kata pun! Lo cowok brengsek yang merasa dicintai," kelakar Anna jelas dan tegas.


"Lo pikir lo siapa bisa nyakitin perasaan orang sesuka itu sama lo? Jangan karena gue suka dan sayang sama lo, elo jadi seenaknya!"


Nada bicaranya berubah kasar. Tidak seperti saat mereka memutus hubungan tadi. Raut wajah Anna juga benar-benar sedang tidak main-main menatapnya.


"Anna, please..." Dean mencoba memanggil namanya namun perempuan itu terus saja menjauh dari pandangannya.


"Dean?" Theresia menahan pergelangan cowok itu ketika ingin mengejar Anna.


"Jangan sentuh, Sia! Anna lebih penting buat gue." Theresia mematung dengan mata terus menatap punggung lebar Dean mengejar kepergian gadis itu di lorong kelas.


"Milik gue akan tetap jadi milik gue Anna. Kalau gue ngga bisa miliki Dean, lo juga ngga pantas miliki dia."


"Anna!" Kembali Dean menyebut namanya. Kali ini suaranya begitu pelan. Mendengar panggilan itu mau tidak mau Anna menoleh dan menatap Dean yang sudah berada di hadapannya.


Ditatapnya manik mata cowok itu. Terbesit perasaan begitu dalam yang membuat Anna kenapa bisa menyukainya cowok seperti ini. Sudah disakitin, tidak dianggap, dan bahkan dimanfaatkan, Anna tetap masih memiliki perasaan sedikit ketika sudah berhadapan dengan Dean seperti saat ini.


"Gak ada yang salah kok. Gue yang salah menaruh harapan setinggi langit pada orang yang justru hatinya masih ada pada orang lain. Benar, gue yang rebut lo dari Kak Theresia."


"Mengenal lo adalah kesalahan terbesar yang membuat gue mengerti seperti apa rasanya itu sakit hati juga dikecewakan. Berbulan-bulan gue kagum sama lo sampai akhirnya punya hubungan spesial. Salah gue berharap banyak. Keberadaan gue tidak seharusnya buat lo berubah. Gue cuman jadi beban di hidup lo."


Anna berujar panjang lebar. Ia harus menyelesaikan masalah ini hari ini juga. Ia juga tidak akan sanggup jika orang-orang yang berada didekatnya seenaknya pada perasaannya.


"Pergi An, gue gak mau lihat lo lagi di hadapan gue," ucap Dean kepadanya. Harusnya yang lebih pantas mengatakan itu adalah Anna bukan Dean.


"Dengan senang hati. Makasih banyak buat lukanya Kak," sahut Anna berlalu meninggalkan Dean lebih dulu.

__ADS_1


Saat itu saat yang menyedihkan bagi Anna terlebih saat berakhirnya hubungan yang terjalin antara dirinya dengan Dean hanya karena alasan bosan namun nyatanya Dean masih mencintai cinta pertamanya. Mau tidak mau Anna tidak mungkin bertahan sebab Dean tidak pernah memiliki rasa padanya dan Anna harus tau kebenaran itu.


- to be continued -


__ADS_2