In Another Life Secret

In Another Life Secret
Bagian 21


__ADS_3

...šŸDisclaimeršŸ...


...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....


...•••...


Tepat sehabis makan siang, pengumuman yang cukup jelas terdengar di penjuru sekolah membuat semua siswa SMA Starlight High School bersorak riuh karena dipulangkan lebih awal dari jam biasanya.


Anna yang tadinya sedang mencatat materi di buku catatan pun akhirnya menutup pena cair serta buku pelajarannya. Ia mulai merapikan buku paket serta catatannya ke dalam tas.


Kinara datang menghampiri mejanya. "Pulang sama siapa, Na? di jemput, ngga?" tanya gadis yang sudah menggendong tasnya.


"Pulang sama kita ajah yok," sahut Ria baru saja datang dan berdiri di samping Anna sembari merangkul pundak gadis itu.


"Kita antar sampai depan rumah lo deh mumpung Yesi bawa mobil hari ini."


"Gak papa kok, gue bisa pulang sendiri naik angkot. Lagian gue mau ketemu bokap di kantornya," ujar Anna bohong pada ketiga temannya.


"Gitu ya. Tapi gue mau nanya sesuatu sama lo. Semalam lo gak kenapa-napa, kan? Bokap lo gak marah karena surat panggilan itu?" Yesi yang bersandar di sisi meja pun bertanya.


"Bokap gue ngga akan datang kalau bukan urusan pelajaran atau gue buat prestasi di sekolah."


"Bokap lo marah ya Na sama lo? Kalo gue lihat wajah lo sejak tadi pagi kayaknya iya. Lo pasti dipukul, kan? Kaki lo juga bengkak? Iya, bokap lo menyiksa lo lagi?"


"Gak papa kok kalo lo gak mau cerita sama kita. Kita maklum kok, tapi kalau lo butuh tempat kita bakalan dengarin cerita lo. Ehm..." ujar Kinara menggantung ucapannya


"Gimana kalo lo nginap dirumah gue dulu beberapa hari ini mumpung bokap nyokap gue udah balik dari luar kota. Sekalian gue sama mami bisa rawat luka lo dulu."


Anna menggeleng. "Lain kali ajah Kin, makasih banyak udah peduli. Ayah gue ngga bakalan bisa kasih izin Kin."


"Jangan menambah masalahnya lagi Kinara. Anna udah sampai segitunya dibuat ayahnya ditambah harus nginap dirumah lo, bisa-bisa besok Anna gak akan diizinin sekolah lagi."


"Iya juga ya," ujar Kinara tersadar.Ā "Gue masih gak nyangka lihat keadaan lo begini Na. Gue jadi pengen nangis tau ngga. Separah apapun salahnya ayah lo gak pantas main fisik kayak gini."


"Lo mau ayah lo gue laporin polisi ngga. Mami gue bakalan bantu nanti," kata Ria.


"Jangan Ria, please. Gue masih baik-baik ajah kok. Bagaimanapun dia tetap ayah gue." Yesi berdecak kesal. Perempuan itu mencondongkan badannya kearah Anna.


"Lihat gue Na. Bukan cuman lo yang pernah ngalamin hal kayak gini. Gue jauh lebih dari ini pernah tersiksa. Bokap gue—"


"Dia pernah disiksa ayahnya, Na. Lo pasti tau maksud gue," potong Kinara cepat membuat Yesi memundurkan tubuhnya dan Anna langsung menatapnya sendu. Bayangkan ayah sendiri melakukan hal seperti itu pada anaknya sendiri.

__ADS_1


"Gimana pun ayah lo suatu saat nanti, lo ngga bisa berdiam diri kayak gini. Lo harus butuh perlindungan dari orang dewasa. Ayah lo sewaktu-waktu bisa lakuin hal yang lebih dari yang lo bayangin," kata Yesi memegang kedua pundak Anna dengan kuat.


"Main fisik ajah ayah lo bisa jadi daripada lo tertekan batin mending lo cari perlindungan."


"Benar bangat tuh Na. Apalagi tiap pagi ada ajah yang luka dibagian tubuh Lo. Memang mungkin awalnya lo ngira kita gak terlalu nanyak lo kenapa, tapi karena Yesi udah pernah kayak gitu dia udah jelasin sama kita dan benar lo memang di pukul bokap."


"Kalo lo memang gak sanggup dan butuh pertolongan lo bisa hubungin gue," kata Yesi dan diangguki Ria dan Kinara.


"Kita pulang ajah yuk, takut Anna dicari-in ayahnya," kata Ria dan keduanya pun mengangguk.


Sepanjang lorong menuruni lantai tiga, Yesi tidak berhenti melirik Anna yang bergandengan tangan dengan Ria. Setibanya disana, Kinara, Ria dan Yesi lebih dulu pulang meninggalkan Anna seorang diri menunggu angkot di depan gerbang sekolah.


Setelah menunggu hampir dua menitan, barulah Anna cepat-cepat menaiki angkot yang sama dengan beberapa siswa lainnya. Untung angkotnya tidak penuh saat ini. Ia pun memilih duduk di dekat jendela.


Setelah menempuh lamanya perjalanan sekitar dua puluh menit, akhirnya Anna sampai di depan rumahnya. Ia satu-satunya penumpang terakhir yang diantar ke komplek perumahan elit ini.


"Ini Mang ongkosnya," ujarnya mengulurkan uang sepuluh ribuan.


"Gak papa Neng, ambil ajah buat jajan Neng besok. Bapak ikhlas kok," ujarnya.


"Makasih banyak ya Pak."


"Sama-sama, Neng. Besok-besok kalau Neng gak diantar lagi naik angkot bapak ajah ya. Kasian Neng Anna padat-padatan naik angkot kayak kemarin-kemarin. Bapak bakalan sisain satu kursi untuk Neng."


"Loh pasti taulah Neng. Ibu-ibu komplek disini sering sekali bicarakan Neng. Ibu yang dirumah sering gabung sama ibu-ibu komplek dekat sini, jadi bapak tau sedikit," ujar pria paruh baya itu mengulas senyum tipis.


"Kalau begitu bapak pergi dulu ya. Besok pagi jam tujuh kurang bapak tunggu di depan komplek." Beliau pun berlalu dari depan rumah.


Setelah itu Anna masuk rumah dan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan ayahnya, sepertinya ayahnya belum pulang dari kantor.


Disaat kaki jenjangnya hendak melangkah di tangga pertama, seruan dari arah dapur mengalihkan perhatiannya. Bi Rina berjalan ke arahnya dengan tangan berisi nampan makanan lezat.


"Non sekarang cepat ganti baju ya dan ini makan siang untuk non, ganti sarapan tadi pagi. Bibi takut kalau bapak pulang dalam keadaan marah Non tidak akan ada jatah makan siang."


"Makasih banyak ya Bi. Kalau gak ada Bibi Anna pasti akan mati kelaparan."


"Iya non. Sekarang non bawa nampannya ke kamar ya."


...•••...


Malamnya tepat pada pukul sembilan, pintu kamar Anna terbuka lebar, menampakkan seorang gadis yang sudah rapi mengenakan hoodie kesayangannya berwarna hijau lumut.Ā Karena Anna tau ayahnya tidak akan pulang seminggu kedepan, mengurusi bisnis perusahaan sang ayah di luar kota, Anna pun memilih mencari udara segar diluar sana.

__ADS_1


Setelah keluar kamar ia berjalan menuruni anak tangga. Saat ia berjalan dan hendak menarik gagang pintu rumah, Bi Rina muncul dan berseru dari arah dapur membuat langkahnya terhenti.


"Non mau kemana?"


"Aduh Bi. Bibi ngagetin aku ajah. Untung jantung Anna ngga lompat."


"Non mau kemana malam-malam begini. Istirahat saja non, badan non kan belum pulih takutnya kenapa-napa lagi. Kakinya juga masih belum sembuh tuh non, kalau tambah parah non gak bisa jalan nanti."


"Udah mendingan kok Bi. Anna udah mulai lancar kok jalannya gak kayak pagi tadi." Bi Rina yang menghela napas membuat Anna tak enak hati.


"Bibi boleh tau Non mau kemana jam segini?"


"Mau cari makan Bi. Anna tiba-tiba lapar bangat pengen makan yang pedas-pedas."


"Jangan keluar, Non. Biar bibi masak sesuatu ajah buat non ya. Jam segini keluar rumah bahaya. Kalau nanti kenapa-napa Bibi lagi yang kena marah sama Tuan."


"Lama-lama Bibi jadi tukang cerewet ya. Anna cuman keluar sebentar kok gak akan pergi jauh. Bibi jaga rumah ya. Nanti Anna belikan sate kesukaan Bibi. Okay?"


"Aduh, Non. Ngga perlu beli apa-apa buat Bibi. Mending Non di rumah ajah. Kalau tuan pulang dan Non ngga ada di rumah tuan pasti marah besar."


"Ayah kayaknya ngga akan pulang malam ini Bi. Bibi tenang ajah aku sebentar aja kok, paling lama setengah jam."


Ting!


0878xxxxxxxx (No Name) :


[Masih ingat gue?]


Sebuah notifikasi pesan yang baru saja masuk ke ponselnya tidak terlalu menarik perhatiannya. Selama ia tidak mengenal pemilik nomor itu ia tidak akan meresponsnya.


Komplek perumahan elit disekitaran rumahnya memang terjamin aman bahkan untuk berjalan sendiri pun tidak akan jadi masalah bahkan tiang lampu berdiri kokoh di depan setiap rumah membuat Anna malam ini lebih berani keluar.


Setelah menempuh lima menit dengan berjalan kaki, Anna pun membeli beberapa makanan yang dijual dekat pinggir jalan. Setelah selesai membayar, ia pun dengan cepat bergegas pulang takut Bi Rina khawatir dengannya.


Setibanya di depan rumah dengan menggenggam satu kantong plastik berisi dua kotak ayam geprek dan satu bungkus sate padang Anna terkejut ketika suara deruman motor dekat komplek perumahannya semakin menggema.Ā 


Untung saja dia sudah di depan rumah kalau tidak mungkin tanda bahaya sudah memenuhi isi kepalanya. Saat ia membuka engsel pintu gerbang, suara deruman motor yang cukup familiar ingatannya tiba-tiba saja berhenti dan itu tepat di dekat pohon depan rumah.Ā 


Sorot lampu motor yang terarah padanya membuat Anna mematung di tempat tanpa menoleh pada pemotor itu.


"Kenapa pesan gue ngga dibalas?"

__ADS_1


- to be continued -


__ADS_2