
...šDisclaimerš...
...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....
...ā¢ā¢ā¢...
Siang ini jam kelima pada pembelajaran--ruang IPA satu tampak riuh di dalam dan luar kelas. Beberapa siswa terlihat membersihkan kelas, mengelap kaca bahkan sibuk merapikan pot bunga yang menggantung di bawah atap juga pot yang diletakkan di depan kelas.
Kinara, Yesi, Ria dan juga Anna mendapat bagian kebersihan di gudang sekolah. Keempat gadis itu bergegas segera menyelesaikan pekerjaan mereka sebelum bel istirahat berbunyi panjang.
"Mau gue beli minuman apa sama lo, Anna? Jus, Aqua, boba atau nutrisari dingin?" ujar Kinara menawarkan segala jenis minuman di kantin sekolah.
Anna yang sedang merapikan posisi kursi dan meja di sudut gudang menolehkan kepala. "Air mineral ajah deh. Jangan dingin ya."
"Okay. Lo tunggu disini ya. Jangan balek sebelum kita datang," ujarnya kembali lalu mengajak Ria dan Yesi ke kantin.
Setelah kepergian ketiga temannya, Anna pun berjalan ke arah jendela melanjutkan pekerjaannya yang tertinggal sedikit. Saat ia membuka tuas jendela, matanya terbelalak melihat sepasang siswa yang berada di belakang gedung ini tengah melakukan hal yang tidak-tidak.
Dari atas tempatnya berada, Anna begitu jelas mengenal dua orang dibawah sana. Siapa lagi kalau bukan Brian dan Sera.
"Sudah seminggu aku tidak masuk sekolah, kenapa malah aku melihat mereka melakukan hal sekotor itu di sekolah. Astaga, bagaimana ini?"
Anna terkejut bukan main dan langsung menutup mulutnya dengan tangan seraya bergidik ngeri ketika mendengar suara ******* Sera yang sangat menganggu. Benar-benar tidak tahu malu!
Anna melihat betapa menikmatinya gadis itu disaat Brian tengah menyentuh sesuatu yang tidak seharusnya cowok itu lakukan disana.
"Apa tidak ada tempat lain yang cocok untuk melakukan hal seperti itu selain di sekolah? Kalau ada yang lihat pasti mereka dikeluarin dari sekolah," ujarnya masih memandangi keberadaan mereka.
Dua insan dibawah sana sedang bercumbu mesra. Perempuan itu sampai melingkarkan tangannya di leher belakang dan meremas kuat rambut cowok di hadapannya. Keterkejutan Anna kian bertambah dua kali lipat ketika Brian dengan cekatan membuka dua kancing bagian atas seragam perempuan itu, kemudian menyusupkan tangannya.
"Astaga..." Anna kembali dibuat menganga dan menutup matanya. Ia dengan cepat menarik tuas jendela lalu menutupnya rapat-rapat.
Ketika suara Kinara yang keras terdengar dari luar gudang, Anna segera menutup jendela itu dan langsung berjalan ke arah ketiga temannya yang hendak memasuki gudang dan disaat kegugupannya masih menguasai pikirannya disaat itulah Kinara menawarkannya sebuah minuman dan memakan roti yang mereka bawa.
"Kenapa, Na? Mukanya kok tegang amat? Lo lapar? Capek?" tanya Kinara.
"Lo habis liat setan ya di ruangan ini," ucap Ria mengamati wajah gadis itu.
"Apaan sih. Ngaco bangat. Gue capek bangat bersihin semua jendela di gudang ini. Debunya banyak bangat, yaudah yuk kerjaan kita udah selesai. Kita balik ke kelas ajah," ucapnya buru-buru membuat Ria mengerutkan keningnya.
"Tapi jendela yang disana belum siapĀ masih cuman yang sebelah ini," kata Yesi.
"Eh.. Udah, udah gue bersihin kok pas kalian pergi, yuk, yuk!" ujar Naya menarik ketiga tangan temannya keluar dari ruangan itu.
...ā¢ā¢ā¢...
"Sialan! Kenapa gue sampai liatin mereka kayak gitu tadi. Kalau sampai Brian lihat gue tadi gimana ya?" ujar Anna menggigit kukunya karena saling pikirannya masih terngiang dengan hal tadi.
Ia tidak tahu saja kalau setelah kepergiannya tadi Brian justru mengetahui keberadaannya disana. Cowok itu tersenyum miring menatapnya saat Anna menutup jendela.
Anna yang saat ini sedang berjalan sendiri di koridor kelas menuju kantin di belakang kelas kakak kelasnya. Ia yang merasa sejak melewati lorong kelas itu justru merasa seperti ada seseorang yang mengikutinya.
Namun, saat dirinya berbalik badan tidak ada satupun orang di belakangnya. Ia semakin mempercepat langkahnya menyusuri koridor kelas duabelas yang tampak begitu sepi, tapi tanpa disengaja gadis itu justru menabrak tubuh seseorang. Begitu keras sampai membuat dahinya merasa sakit.
"Apa kau tidak punya mata?" Sepasang bola mata gadis itu terbelalak sempurna, detak jantungnya berhenti disertai darah yang mengalir hebat di sekujur tubuhnya.
Peringatan yang pernah Kinara beritahu padanya membuat Anna panik ditempat saat saling bertatapan dengan orang yang sama saat ia menolong gadis di kantin waktu itu. Baru saja ia memikirkan Brian, cowok itu malah berdiri tepat di hadapannya.
"Ma-maaf Kak, gue ngga bermak..."
Anna bergeming saat Brian melangkah lebih dekat padanya. Wajahnya sangat dekat nyaris menyentuh hidungnya sehingga Anna dengan jelas melihat warna abu-abu dari tatapan tajam itu.
"Lo--lo mau ngapain?" ujar Anna memundurkan langkahnya. Semakin ia mundur Brian semakin memajukan langkahnya hingga punggung kecil Anna mentok di tembok.
"Apa lo ingin bernasib sama seperti perempuan gila yang lo bela sewaktu di kantin beberapa hari lalu, hem?"
"E-enggak!" Cepat cepat Anna mengelak, berusaha mengumpulkan sisa kesadaran yang ia punya.
"Gue gak ada niat sekalipun ikut campur dengan urusan lo saat di kantin tapi gue juga perempuan gak mungkin gue biarin adik kelas itu lo marah-marahin kayak gitu, apalagi sampai mempermalukannya di depan semua orang."
"Benarkah? Lalu... Dean yang pernah lo kejar setahun lalu tidak juga membuat lo merasa malu?"
Brian terkekeh melihat ekspresi gadis itu. "Kalau bukan niat tak ingin ikut campur lalu apa? pahlawan?" Anna akan gila bila terus-terusan mengobrol dengan Brian.
"Gue udah bilang kalau itu naluri sesama perempuan, sama seperti lo juga ngga mungkin lo ngga nolongin teman lo kalau ada masalah."
"Menarik..."
Brian tersenyum miring menatap Anna yang sepertinya kelihatan takut dengannya. "Jadi yang lo lakuin di gudang sekolah apa? Lo ganggu bangat sama permainan gue. Lo mau kita main bertiga apa gimana?"
Dia tahu gue ada disana? batin Anna baru sadar dengan apa yang Brian ucapkan tadi.
Anna terkejut dan memundurkan langkahnya. Ia tidak tahu kalau Brian ternyata melihat keberadaannya tadi. Dan apa ini sekarang? Cowok itu justru mengajaknya melakukan hal tidak pantas itu sekarang? Oh, ****!
__ADS_1
"Gue ada urusan kak, permisi!"
Anna langsung berlalu dari hadapan Brian membuat cowok itu tersenyum miring menatap punggung kecil perempuan itu menghilang di belokan menuju kantin belakang.
Anna yang tidak memperhatikan langkahnya justru kembali menabrak tubuh seseorang membuat tubuhnya hampir jatuh kalau saja sosok itu tidak cepat meraih pinggang rampingnya dan Naya mendarat sempurna di dada bidang cowok itu.
Ia mendongak. "Kak Sean...."
"Ngapain ada disini?" Anna masih tidak menjawab. Gadis itu justru menoleh ke arah koridor dibelakangnya. Sosok Brian sudah tak ada lagi disana.
"Anna?"
"Hah?"
"Kenapa ada disini? Ngapain? Ada yang gangguin lo lagi?" tanyanya.
"Ah itu... anu... em... tadi gue ketemu sama Brian jadi gue takut kalau dia masih ngikutin gue sampai kemari."
Raut wajah Sean langsung berubah drastis. "Brian? Ada urusan apa lagi sama dia. Gue kan udah ingatin jangan dekat-dekat sama dia. Dia cowok ngga benar Na."
"Bukan gue yang dekat kok. Gue tadi.." ucapannya berhenti membuat Sean menaikkan satu alisnya.
"Tadi apa?" tanyanya. Anna yang tidak ingin orang lain mengetahui apa yang ia lihat, segera ia menarik tangan cowok itu menuju kantin.
Setibanya di kantin. "Na? Lo gak lagi sakit kan sampai sampai gandeng tangannya Kak Sean kayak gitu. Semua orang liatin lo tau," ujar Kinara memandang Anna yang masih betah menautkan jemarinya di tangan Sean.
Sean sendiri tidak ada keberatan sama sekali karena itu yang ia inginkan. "Tangan lo ini Na. astaga... budeg ya lo," tutur Ria memukul pelan tangannya.
"Ah ya ampun, maaf gue. Aishh.. gue bisa jelasin tadi gue it, g-gue..."
"Ada-ada ajah ya kelakuan lo."
"Maaf ya Kak," ucap Anna merunduk sedikit dan melihat Sean mengangguk mengerti.
"Jauhi Brian kalau lo tau sesuatu tentang dia. Gue gak bisa pastiin keadaan lo baik-baik ajah kalau gue ada atau gak di dekat lo kapan pun itu. Mungkin lo udah tau apa yang terjadi dengan Sera tapi demi kebaikan lo semua termasuk lo jangan cari masalah lagi."
"Lo harus tau kalau Brian suka sama lo!"
Sean langsung membuat hening satu meja dengan ucapannya bahkan Arkana dan Satria yang duduk bersebelahan dengan mereka tampang santai saja seolah mereka memang sudah tau hal ini.
"Brian suka sama Anna? Seriusan? Astaga. Gak benar nih kalo sampai Brian suka sama lo," kata Kinara.
"Demi apa cowok yang jelas punya pacar suka lgi sama cewek lain dan itu lo Anna," timpal Ria.
Kepanikan Anna dan kebenaran yang baru ia tahu itu justru membuat tangannya di atas paha menarik seragam sekolah Sean pelan. Seolah kelakuannya barusan meminta agar Sean memperhatikan dirinya.
Sean menoleh dan mereka saling pandang untuk beberapa saat. "Lo aman selagi lo nurut omongan gue," bisik Sean dengan halus di telinga Anna.
Gadis itu segera mengangguk pelan tanpa ia mengerti jangan sampai bertindak di luar batas kalau ia tidak ingin sesuatu terjadi padanya.
...ā¢ā¢ā¢...
"Yesi lo tau, nggak?" Dengan hebohnya Ria berlari tergopoh-gopoh setelah memarkirkan motornya di parkiran. Yesi hanya memutar bola matanya malas, dasar biang gosip.
"Engga tau," jawabnya cepat. Ria mendesah kesal, ia merapikan rambutnya yang berkeringat. Melanjutkan topik yang ia bahas hari ini kepada Yesi.
"Aduh Yes, lo itu bisa bangat buat gue kesal."
"Apaan memangnya?" tanya Yesi penasaran juga. Gadis itu berjalan menuju kelasnya berdampingan dengan Ria yang menyiapkan kata-kata untuk disampaikan pada Yesi.
"Lara punya cowok. Lo tahu ngga siapa cowoknya? Rido woi Rido!" hebohnya Ria memberi kabar. Terdengar seperti berteriak. Tidak takut, seseorang yang tengah ia bicarakan mendengar semuanya.
Yesi tampak tertarik, ia menarik lengan kiri Ria untuk segera menuju kelas mereka lalu duduk di bangku bagian belakang untuk memulai pembicaraan panas mereka.
Kelas tampak masih sepi, hanya ada Naya yang sibuk dengan buku paket di hadapannya. Kalau sudah begitu, Ria dan Yesi dan tidak akan menggangu bahkan berisik di dekat gadis itu.
"Rido? Maksud lo Ridoā"
"Iya, Rido Fikri Saputra. Lo tahu kan gimana dia?" potong Ria cepat sembari bergidik ngeri.
"Lo taunya darimana?" tanya Yesi, ia benar-benar penasaran sekarang.
Setelah berteman lama dengan Ria, gadis yang tak pernah mau mendengar gosip atau bahkan meladeni Ria seperti sekarang perlahan mulai tergiur, ya begitulah Yesi kalau hidupnya tak ada beban.
Ria memutar bola matanya malas, ia mengambil ponselnya dari dalam tas. Lalu, menunjukkan serentetan pesan panjang dari sebuah chat grup yang entah grup siapa itu juga beberapa lembar foto, memperlihatkan Rido sedang bersama dengan gadis yang berbeda.
"Gue jadi khawatir sama Lara," ujar Yesi setelah melihat diri itu-- Yesi tampak menggigit kuku jarinya. Tanda bahwa ia tengah gelisah.
"Lo khawatir dia?" Yesi mengangguk. "Gila lo baik bangat khawatirkan orang kayak dia. Orang dia-nya ajah biasa-biasa kok."
Gadis di depan Ria itu mengembuskan napas pasrah, mencoba berpikiran jernih. Rido Saputra, pemuda itu cukup populer di kalangan siswi remaja di sekolahnya ini.
"Udahlah ah, kalo dia kenapa-napa ya itu urusannya," ujar Ria pada Yesi, gadis itu seperti punya dendam besar pada Lara. Terlihat, dari caranya berbicara yang tidak mau tahu.
__ADS_1
"Tapikan Ri, Ridoā"
"Lupain ah. Gue punya topik lain yang lebih hot," sela Ria cepat membuat Yesi menutup bibirnya rapat dan mendengarkan kabar-kabar terbaru dari Ria.
...ā¢ā¢ā¢...
"Balikin jajan gue!"
"Ogah... Ini ganti hutang lo!"
"Budeg lo! Ngga ya ngga..."
"Terserah lo lah Jamal, capek gue lama-lama."
Sean berdecak malas, percekcokan dua pemuda di hadapannya tidak siap-siap sejak bel istirahat berbunyi sepuluh menit lalu. Ia merogoh saku celana abu-abu miliknya. Mengambil ponsel dari dalam sana.
"Eh, eh. Lo semua udah pada tau, ngga?"
Arkana, pemuda itu menghentikan cekcok antara dirinya dengan Davian. Ia langsung mendekat kearah Sean yang hendak memainkan ponselnya setelah mendengar keributan mereka tadi.
Sementara Davian, ia berdecih sinis. Melihat Arkana yang baru saja teringat sesuatu dan mulai melaporkannya pada Sea dengan heboh. Seperti biasa Arkana tidak akan lupa berbagi sarapan seperti gosip untuk teman-temannya nikmati.
"Lara, adik kelas kita yang pernah jadi gebetan si Rogan, dia pacaran samaā"
"Rido, 'kan?" potong Sean cepat. Arkana langsung memasang wajah kesal setelah niat bercerita yang sampai dua ratus persen naik langsung turun drastis.
"Lo udah tau masalah Lara dan Rido itu yang sampai heboh di sosial media?" Sea mengangguk.
Arkana mengerjap beberapa kali, lalu menoleh pada sahabatnya Rogan. "Sayang bangat Ro, gebetan lo udah diambil sama Rido. Enak-enak lah tuh tiap hari..."
"Buka urusan gue!" cetus Rogan dengan ketus.
"Masa sih bukan urusan lo? Jadi yang jalan malam minggu kemarin, siapa? Elo, 'kan?"
"Berisik, anjir!" cecar Rogan marah.
"Wkwkwkw... sayang bangat," ujar Arkana tertawa. Gelak tawanya menggema di kelas yang sepi ini. Sean hanya memutar bola matanya malas, baik ia pergi ke kantin menemui Naya lalu makan bersama.
"Gila ya lo, Ar. Teman lo sendiri lo buat jadi bahan candaan. Parah lo," sinis Satria. Mendengar tawa Arkana yang semakin menggila membuat dirinya geram.
Satria melangkah meninggalkan kelas yang tadinya berisi empat orang itu. Seperti biasa, lebih baik ia menatap gadis-gadis cantik di kantin daripada menghadapi Arkana yang menyebalkan itu. Sementara itu Arkana sudah menghentikan tawanya. Ia menatap serius ke arah Sean. Lalu, duduk di depan sahabatnya itu.
"Loā" Arkana menggantungkan ucapannya, ia menoleh ke segala arah. Memastikan tidak ada yang mendengar obrolan mereka. Setelah dirasa aman, Arkan mulai berbicara.
"Lo tau darimana?" lanjutnya. Ia menatap was-was Sean yang tersenyum miring. Ah, sahabat yang satu ini benar-benar sulit ditebak.
"Gimana gak gue tahu. Satria dekat sama Ria, bahkan jalan juga minggu lalu gue tau. Lo ngincar adik kelas kita X IPA 2 gue juga tau. Jadi, gak mungkin Lara yang pernah jadi gebetan Rogan dan jadian sama Rico gue ngga tau..."
"Lagian biarin ajah dulu, kalau dia macam-macam Rogan bakalan turun tangan. Dia sayang bangat sama tuh cewek," jawab Sean pemuda itu memejamkan mata sejenak lalu membuatnya dengan senyuman miring yang tercetak jelas di wajah.
...ā¢ā¢ā¢...
Siang ini, di cuaca yang begitu panas. Starlight High School digemparkan dengan adegan cipika-cipiki oleh Lara dan Rido dalam kelas gadis itu tentunya. Belum jadian satu minggu, Rido sudah berani mengecup bibir gadis itu di hadapan teman sekelasnya. Pemuda itu tampak tersenyum tipis, sama seperti Lara.
Tak merasa risih atau bahkan malu dengan tatapan sinis para siswa biang rumpi satu sekolah, keduanya saling menggenggam tangan, seolah mereka adalah pasangan paling romantis dan bahagia di sana.
Rogan yang kebetulan melihat itu dengan mata kepalanya berusaha tenang walau sebenarnya di dalam hati ia ingin sekali menghancurkan Rico karena berani menyentuh Lara terang-terangan di hadapan semua orang.
"Gak main-main ya tuh si Rido. Masih pacaran hitung hari, udah berani cium Lara kayak gitu. Kalo guru-guru tau, wih habis tuh bocah," celetuk Ria, ia menggeleng dramatis. Namun, bibirnya menyunggingkan senyum mengejek.
Ria memandang punggung Rido dan Lara yang keluar dari kelas. Entah kemana kedua pasangan sejoli itu pergi, padahal sudah bel masuk pelajaran berikutnya.
"Kayanya Lara kena pelet deh sama si Rido. Pelet cinta bertubi-tubi..."
"Ngaco..." ujar Kinara.
Keempat gadis itu tengah berada di depan kelas mereka. Tadi, Lara dan Rido melintasi koridor ini. Ria dengan senang hati mengejek mereka saat keduanya melintas.
"Sebenarnya kasian ya liat Lara gitu. Udah body goals, kenapa jadiannya sama Rido coba. Ada Rogan yang tampangnya sebelas dua belas sama Shawn Mandes, milihnya model kayu kering kayak gitu."
Seseorang baru saja bergabung bersama Naya, Ria, Kinara dan Yesi, lebih tepatnya Dian Chalista. Orang-orang memanggilnya Chalis. Gadis itu tengah memilin rambut sebahunya. Ia menatap iba pada pintu kelas Lara. Dalam suasana jam pelajaran tetangga kelasnya yang satu ini, selalu saja datang menggosip ria bersama Ria.
"Kalau menurut gue sih, bagus," timpal Ria, ia mengusap dagunya dengan telunjuk dan ibu jari. Lalu kembali menatap Yesi yang tengah mengernyit bingung.
"Jahat bangat lo," ejek Dian, ia merangkul bahu Yesi dan Naya. Tersenyum manis menatap Ria yang mendengus kesal.
"Gue kasian sama Lara. Rido kanā"
"Pemain maksud lo?" potong Ria cepat-cepat.
"Yes girl. I know you know that..."
- to be continued -
__ADS_1