
Malam semakin sunyi. Dan rumah itu benar-benar sangat sunyi. Cuma terdengar suara dentuman jam. Perut lapar Keisha tiba-tiba menjadi kenyang. Keisha seperti berada di suatu tempat dimana suatu kondisi tidak ada siapa-siapa, ia merasa sepi, dan kenapa sepi selalu identik dengan malam dan setelah Mamanya meninggal, setiap hari, setiap waktu Keisha selalu merasa kesunyian dari dalam hatinya sekalipun ia berada di keramain,
Bagi Keisha seringkali kesunyian menyisakan sedih dan luka,dan beberapa kali ia sudah menyaksikan itu semua, meskipun tidak selamanya demikian tetapi sunyi ibarat ruangan gelap yang tidak berpenghuni. Ketika di rumah Albi Keisha semakin merasakan itu semua
Ia kembali ke lantai dua. Kali ini Keisha sedikit ketakutan.Ketakutan yang tidak bisa di jelaskan, Bukankah Albi itu juga mengenal Lidya. Pikiran Keisha melanglang buana tentang rencana Lidya bersama Albi. Bisa saja mereka berdua merencanakan sesuatu untuk menyingkirkan dirinya? atau bisa saja dahulu mereka sepasang kekasih? Pertanyaan itu memenuhi isi kepala Keisha
Keisha berdiri di depan pintu kamar, menatap Albi sangat tajam, ia tidak bergerak sama sekali sampai panggilan Albi membuyarkan lamunannya
"Kamu berdiri disana seperti hantu" ucap Albi
Keisha mendengus "Kenapa? ada apa?"
"Jangan berdiri disana menghalangi penglihatan" Keisha mengangguk,ia seperti melihat aura Albi semakin berbeda, sedikit lebih menyeramkan.
Keisha kembali ke ranjang tidurnya dan Albi kembali asyik bersama pekerjaannya.
Keisha kembali menatap Albi dengan tatapan tajam "Ada apa lagi denganmu? katakan apa yang ingin kamu katakan?" ucap Albi sungguh tidak nyaman dengan tatapan Keisha
"Mas Albi ada hubungan apa dengan Lidya?"
"Teman kuliah?"
"Katanya saudara"
"Mungkin" Jawan Albi singkat
"Apa mungkin kalian pernah berpacaran?" tanya Keisha to the point
Albi mengalihkan pandangannya kearah Keisha "Tidak mungkin itu!"
Tiba-tiba "Aku mau tidur di lantai satu" Ucap Keisha, dengan perasaan yang mulai tidak karuan
"Kamarnya belum di bersihkan"
"Kalau begitu aku tidur di sofa luar aja" Albi langsung mengalihkan pandangannya ke arah Keisha yang terlihat mulai risih
"Silahkan"
"Iya" Sahut Keisha langsung berlari seraya membawa selimut.
Padahal di lantai dua sofa dengan merek L Barcelona +Wingchairnya terlihat lebih nyaman. Namun, Keisha tetap memilih lantai satu dan langsung merebahkan badannya di sofa yang dekat dengan arah pintu keluar.
Badan yang masih lelah, langsung membuat Keisha tertidur.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Albi keluar dari kamar dan langsung ke meja makan. Pria itu melihat makanan di meja sama sekali belum di sentuh.
Ia mencari Keisha dan menemukan gadis itu sudah terlelap,beberapa saat Albi memandangi gadis itu dengan nyaman.
"Keisha" Panggil Albi beberapa kali. Keisha tersadar dari tidurnya, begitu melihat Albi raut wajah kaget tidak bisa di sembunyikan.
"Kamu mau apa?" Tanya Keisha dengan gerakan cepat
"Kamu sudah makan?"
"Aku kenyang, sungguh!" Tutur Keisha, gadis itu tidak akan memakan apapun yang di sediakan di rumah Albi. Sebelum ia tahu, apa rencana Lidya bersama Albi.
Sedingin-dinginnya sikap Albi, ia tidak pernah mengingkari janji. Kala ia mengingat pesan Pak Rudi untuk menjaga anaknya.
Walaupan perasaan cinta belum ada di antara mereka. Namun, Albi tidak akan membiarkan Keisha kelaparan.
Albi mengajak Keisha dengan anggukan kecil dan meyakinkan. Tetapi gadis itu sudah lebih dulu takut, keberaniannya yang tadi penuh kini entah hilang kemana. Padahal beberapa jam yang lalu Keisha masih berniat menggoda suaminya. Tapi kalau sudah berhubungan dengan Lidya, ia harus berhati-hati.
"Bukannya tadi kamu bilang kamu tidak nyaman makan bersama orang lain?"
"Iya, lalu?"
Albi langsung menatap tubuh Keisha dengan tatapan tajam. Apa yang mau di dietkan. Gadis itu bahkan sudah kurus. Keisha langsung mengusir Albi dengan alasan sangat lelah dan sudah mengantuk.
Albi masih terdiam "Atau kamu mau tidur disini" Albi menghela nafas, pikiran mesum gadis itu kembali lagi
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Albi
"Tidur berdua bersamamu!" Keisha menyeringai,dan berharap Albi segera angkat kaki
"Apa hawa nafsumu tidak bisa di kendalikan lagi?" Keisha mengangguk
"Kenapa?"
"Karena setiap melihat lelaki tampan, tubuhku menggelora,seperti mengatakan aku menginginkannya"
"Apa kamu sudah gila" Teriak Albi meninggalkan Keisha, Keisha terlihat bernafas lega
"Jangan tidur terlalu nyenyak, aku tidak tahu apa yang terjadi kepada dirimu nanti" goda Keisha kembali, Albi hanya menggelengkan kepala
Albi bersandar di ranjang tidur, ia mulai geli melihat tingkah aneh istrinya?Apa gairahnya tidak pernah tersalurkan pikir Albi
__ADS_1
Meninggalkan kata diet dan godaan menyebalkan dari gadis itu.
Pagi mulai menerangi bumi. Hari ini Keisha mulai kuliah di universitas swasta yang tidak terlalu jauh dari rumah suaminya.
Jam enam pagi Keisha kembali masuk kedalam kamar Albi. Untung saja pria itu masih tidur, Keisha mengambil langkah cepat untuk bersiap-siap sebelum suaminya terbangun.
Satu jam Keisha menghabiskan waktu untuk mempersiapkan semuanya. Mulai dari mandi sampai merias wajahnya.
Jam sudah menunjukkan pukul Tujuh lewat sedangkan Albi masih terlelap.
"Aku berangkat" Ucap Keisha dalam keheningan, dan ia kembali berjongkok memandangi wajah Albi, setelah puas baru ia keluar
Selagi berjalan di tangga Keisha melihat Bik Ira sedang membersihkan setiap sudut rumah.
"Bik, bersihkan kamar tamu?" Suruhnya penuh harap
"Kamar tamu Non?" Tanya Bik Ira sedikit heran
"Iya"
"Tapi Non kamar tamu di rumah ini tidak ada ranjang tidurnya. Kedua kamar di lantai satu ini masih kosong non"
"Kenapa Bik?"
"Dulu tuan jarang kesini non. Yang sering di pakai cuma kamar atas"
"Ya udah kalau begitu" Sahut Keisha lesu kemudian bergegas sebelum terlambat. Seraya memikirkan tentang keanehan Albi. Tanpa di duga Pak Supri bersama mobil kesayangan Keisha sudah menunggu di luar gerbang rumah bercat krem itu
"Non Kei" Panggil Pak Supri melihat nona mudanya sibuk menatap ke bawah
"Pak Supri ada apa?" Tanya Keisha mulai cemas melihat kedatangan supir pribadi Papanya
"Ini non, Bapak di suruh antar mobil kesini sama boss"
"Papa?"
"Iya non, katanya non suka nggak nyaman kalau naik taxi"
Keisha tersenyum manis. Dan Pak supri langsung berpamitan. Dari lantai dua Albi memandangi Keisha,kemudian ia tersenyum kecil.
Kini, giliran Albi yang akan bersiap-siap berangkat ke kantor. Karena Albi sudah menikah, ia mendapatkan beberapa persen saham dari orang tuanya. Dan hari ini juga Albi akan menjadi CEO muda di kantor yang sudah di serahkan oleh papanya. Pak Fadli Abrisam yang memiliki cabang perusahaan di kota besar tidak begitu sulit membagikan warisannya kepada anak-anaknya.
"Kamar tamu tetap di kosongkan" Suruh Albi kepada asisten rumah tangganya sebelum berangkat
__ADS_1