
Seorang lelaki paruh baya dan beberapa orang anak buahnya berjalan memasuki gedung apartemen yang terletak di kawasan ramai penduduk. "Buka pintu itu dengan paksa" ucap seorang lelaki bertubuh kekar
"Siap boss" ucapnya, pintu itu telah di jaga oleh anak buahnya, ketika menyadari seperti ada yang merusak pintunya, Friska bergegas melihat keluar
Pintu terbuka suara yang tak asing menyapa wanita itu "Friska! Senang melihatmu lagi"
"Apa kabarmu? Kau semakin cantik" ucapnya tersenyum lebar
Friska terlonjak kaget melihat pria berengsek itu mengetahui tempat tinggal barunya. Ini kali ketiga Friska pindah rumah, Friska sengaja bersembunyi dan tidak memberitahu keluarganya bahwa ia telah bercerai. Lelaki berwajah sangar dengan mata sipit yang telah hidup dengannya selama dua tahun lebih.
Lelaki yang bernama Andreas itu menyeringai melihat wajah pucat wanita di hadapannya "Kau telah mengundangku datang kesini untuk hal yang tidak penting"
Andreas lalu menerobos masuk seraya menarik lengan Friska dan menyuruh anak buahnya untuk tidak memperbolehkan siapapun mendekati tempat ini. Ia duduk di sofa kecil lalu menatap Friska sangat tajam "Kau pengkhianat yang telah menghilang tanpa sepengetahuanku?" katanya menarik lengan Friska untuk duduk di sebelahnya
Andreas mengangkat dagu wanita itu, dan menatapnya lekat "Aku tidak ada urusan denganmu lagi" ujar Friska tanpa mengalihkan tatapannya
Andreas memicingkan mata, menaikkan satu alis, kemudian melirik Friska "Kau ingat aku ini masih suamimu"
"Kita telah bercerai" mendengar kata itu amarah Andreas semakin meradang
"Persetan dengan perceraian, selama aku belum memutuskan kau tidak berhak mengambil langkah bodoh, camkan itu!"
"Sekarang keluar dari rumahku!" usir Friska, kemudian Andreas mengusap dagunya lalu tertawa jahat
"Wanita murahan berani mengusirku!"
"Iya! Kau sangat pantas di usir" Tutur Friska
Plaaaakk!
Satu tamparan melayang di pipi kanannya, tak lama kemudian tangan Andreas mencekam lengan Friska dengan tenaganya, ia kembali tersenyum jahat lalu mendorong Friska ke lantai
"Ingat! Jika tidak ingin kekasihmu terluka, turuti kataku!" ia menunjukkan seolah ia adalah orang yang bengis dan berkuasa
"Apa perlu aku menghancurkan lelaki itu juga?" Friska mendongak menatap pria gila itu
__ADS_1
Friska berteriak "Keluar dari sini bajingan!" Andreas kemudian berdiri dan kembali menampar Friska sehingga dari mulutnya mengeluarkan darah. Friska menyembunyikan tangannya yang gemetaran dan kembali menatap lelaki itu dengan hina
"Apa kau sudah gila, tidak ada yang berani mengusirku, kembali ke rumahku atau-"
"Aku tidak akan pernah memasuki kandang singa itu lagi" ucap Friska memotong pembicaraannya
Andreas semakin marah, lalu ia menendang nakas kecil yang di atasnya ada vas bunga berukuran sedang. Pecahan vas kaca itu mengenai tangan Friska.
Friska semakin di hantui oleh rasa takut, takut pria itu akan membunuhnya secara keji. Namun ia mencoba untuk terlihat baik-baik saja
"Lihat saja nanti apa yang akan aku perbuat!" ucap Andreas menarik rambut Friska lalu pergi meninggalkan Friska seorang diri
Friska menghembuskan napasnya yang terasa berat, dadanya begitu sesak lalu ia menangis menahan sakit. Kemudian ia meraih ponselnya mencari nomor yang akan di hubunginya,
Friska mencoba mengatur nafas "Hallo!" ucap suara dari seberang sana
"Albi tolong aku! Aku mohon!" pintanya sambil menangis
"Kirim alamatmu" ucap Albi mendengar gadis itu seperti sedang ketakutan
Albi yang telah sampai di kantor, memutar balikkan mobilnya ke alamat yang sudah di kirim, 20 menit perjalanan Albi sampai di gedung apartemen itu, setelah menemukan nomor unitnya, Friska mempersilakan Albi untuk masuk. Albi terdiam menatap pipi lebam dan tangan yang masih mengeluarkan darah bahkan serpihan kaca itu masih menancap disana
"Apa yang terjadi denganmu?" Tanyanya mengambil posisi duduk di samping Friska
Albi menarik tangan Friska, lalu ia perlahan mengeluarkan serpihan kaca itu, Friska meringis menahan sakit. Kemudian Albi kembali meraih kotak obat yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka duduk.
"Aku ketakutan, rasa takut yang belum pernah aku rasakan, Bi bagaimana ini?" Albi hanya terdiam melihat wanita itu menangis
Albi membersihkan darah lalu memberikan obat tak lama kemudian Albi juga memakaikan perban, friska menangis namun Albi tetap diam, ia juga membersihkan bekas darah yang menempel di bawah bibir wanita itu, dan Albi kembali memberikan obat
"Aku harus bagaimana?" tanya Friska
"Beritahu keluargamu"
"Aku tidak memiliki keberanian untuk mengatakan itu, Albi aku harus pindah kemana lagi?"
__ADS_1
"Dia terus mencariku, mengancamku dan melukaiku!"
"Aku tidak tahu harus kemana mencari perlindungan, Albi aku mohon lindungi aku!"
Albi mendongak seakan rasa sakit yang di alami Friska belum sebanding dengan apa yang telah di perbuat kepada dirinya "Friska suasana kita sudah berbeda, aku ada istri!"
"Kumohon!" pinta Friska
"Kuakui aku salah meninggalkanmu, tetapi aku yakin di hati kamu masih ada aku, sekali lagi, aku mohon lindungi aku seperti dulu"
Karena terburu-buru, Albi meninggalkan beberapa berkasnya di meja makan, Keisha melihat itu dan berniat untuk mengantarkan ke kantor suaminya. Keisha tidak sulit menemukan kantor itu karena Albi pernah membawanya kesana. Keisha yang penasaran melihat ruangan kerja Albi sengaja tidak memberitahu suaminya.
Ia langsung menuju ke meja resepsionis "Selamat pagi" Ucap wanita berambut ikal itu menyambut Keisha dengan ramah
"Pagi" Keisha tersenyum
"Ada yang bisa di bantu?"
"Hhhmm, mau bertemu dengan Pak Albi?"
"Apa sudah membuat janji sebelumnya?" Tanya wanita itu sambil melambaikan tangan kearah Dania yang hendak memasuki lift
"Ada apa?" Tanya Dania menghampirinya
"Aku istrinya Pak Albi" tutur Keisha kembali tersenyum , kedua wanita itu saling berpandangan lalu tersenyum
"Oh Bu Keisha" tutur Dania antusias, ia mengakui bossnya tidak salah memilih istri
"Panggil Keisha aja, jadi dimana ruangan Albi?"
"Mari aku antar" Ajak Dania
"Pak Albinya belum datang" Sambungnya ketika mereka sudah berada di dalam lift
Keisha mengernyitkan keningnya, satu jam yang lalu Albi telah pergi dan tidak mungkin ia terlambat karena jarak rumah ke kantor hanya dua puluh menitan. Dania mengantarkan Keisha keruangan dimana sehari-hari Albi menghabiskan waktu. Meja sekretarisnya tepat berada di samping pintu masuk keruangan itu.
__ADS_1
Dania meninggalkan Keisha seorang diri, karena ia harus ikut meeting pagi bersama beberapa orang karyawan, Keisha terpukau melihat kemewahan yang ada di ruangan itu. Tetapi tidak dengan tumpukan kertas yang berserakan di atas meja. Keisha duduk di kursi kebesaran suaminya seraya tersenyum semringah, karena penasaran Keisha membuka laci meja itu.
Laci pertama hanya ada beberapa berkas, begitu juga yang kedua, dan laci ketiga Keisha melihat bingkai foto yang terbalik, karena penasaran Keisha mengambil itu. Keisha terdiam memandangi foto Albi bersama Friska, ternyata ia masih menyimpan kenangan mereka. Keisha tersenyum kesal, meletakkan foto itu di atas meja dan pergi meninggalkan ruangan suaminya, ketika sampai di parkiran Keisha melihat mobil Albi, dan Dania ikut masuk ke dalam mobil itu.