ISTRI BADASKU

ISTRI BADASKU
MENCOBANYA ATAU TIDAK SAMA SEKALI


__ADS_3

Albi berdiri lengkap dengan setelan kantornya, kemeja putih dan celana hitam yang terlihat licin ia terlihat gagah dengan senyuman yang mengambang, Keisha tersenyum malu-malu ketika Albi berdiri di hadapannya, ia kembali mengingat kejadian panas yang semalam. Albi sungguh sangat berbeda di tambah saat ini pria itu memberikan sebuah kotak bewarna merah, Keisha membuka kotak itu yang berisikan sebuah kalung berlian, Keisha kembali menatap heran ke arah suaminya


"Hadiah buat kamu" ucap pria tampan bertubuh jangkung itu


Keisha menaikkan kedua alisnya "Dalam rangka apa?" tanya Keisha karena yang ia tahu selama menikah dengan Albi tidak pernah sekali pun lelaki itu memberikannya hadiah


"Terimakasih sudah menjadi istriku dan kamu sangat luar biasa" Albi berbicara dengan pelan dan mengambil kalung itu dari tangan Keisha kemudian ia melingkarkan ke leher istrinya


"Tidak boleh di buka ini jimat keberuntungan" ucap Albi terlihat raut kebahagian terpancar dari wajah tampannya


Keisha maju satu langkah senyumannya semakin mengambang lalu ia memberikan sebuah kecupan singkat di pipi Albi "Terimakasih suamiku"


Albi mendelik "Aku rasa aku tidak akan ke kantor hari ini" ucap Albi memeluk Keisha begitu hangat


"Kamu sudah siap hari ini?" tanya Albi lalu Keisha mengangguk yakin


Albi berangkat ke kantor dengan senyuman yang masih terukir di bibirnya. Namun tiba-tiba ia di kagetkan oleh mobil yang melaju dengan kecepatan penuh, Albi menginjak remnya secara mendadak ketika mobilnya hampir saja saling bertabrakan


Albi memutar kedua bola matanya sembari berdecak kesal "Kau gunakan untuk apa matamu?" teriaknya ke arah pria yang memakai kaca mata hitam itu


Alih-alih minta maaf mobil itu menancap gas dan pergi begitu saja, Albi menghembuskan napas secara perlahan lalu kembali menarik pedal gasnya


Keisha berpakain rapi layaknya wanita kantoran, ia memasuki gedung perusahaan itu berjalan dengan langkah anggun yang membuat pasang mata menatapnya ke arahnya. Hari ini Keisha akan mengikuti keinginan om Ray, ia terlihat sangat cantik dengan rambut . panjang di kucir satu, serta rok span yang bewarna senada dengan outernya tak lupa juga ia menenteng tas bewarna hitam yang berisikan ponsel dan alat make-upnya.


Begitu sampai di ruang presiden direktur ia langsung di sambut oleh Om Ray, Bian dan beberapa orang yang memiliki jabatan di perusahaan itu, Keisha melihat dari wajah mereka tampak menaruh harapan besar kepada dirinya, setelah mempersilakan Keisha untuk duduk mereka mulai berbincang cukup lama, mengenalkan seluk beluk perusahaan, menjelaskan beberapa tugas penting dari seorang CEO, otak Keisha berasa tidak sanggup lagi menangkap pembicaraan mereka


"Aku mohon jelaskan satu persatu dan secara pelan-pelan" ucap Keisha dengan wajah memohon


Bagaimana tidak, seorang wanita yang tadinya tidak ada beban kini harus di pusingkan dengan sederetan masalah perusahaan yang tidak di pahami sama sekali, om Ray memberikan Keisha waktu dan mereka meninggalkan Keisha seorang diri. Kini hanya tinggal ia seorang Keisha menatap lesu berdecak kesal melihat tumpukan kertas di atas meja.


Sedangkan di perusahaan Albi ia sedang mengadakan sebuah pertemuan dengan papanya, Pak Fadly mendapatkan laporan dari Bara langsung mengunjungi putra bungsunya itu, ia tidak habis pikir dengan Albi yang merekrut Friska kembali untuk menjadi modelnya


"Mencari pekerjaan? Untuk apa? Padahal dia tidak ada urusan lagi dengan keluarga kita" ucap Pak Fadly mulai terpancing emosi


"Kamu tahu wanita itu hanya memanfaatkan kamu?"


"Pa!"

__ADS_1


"Apa kamu mau bekerja dengan seorang pengkhianat seperti itu? Ketiga kakakmu tidak ada yang setuju jika kamu tetap melakukannya mereka tidak akan membantumu terutama Dio yang menjadi pengaruh besar di perusahaan yang saat ini kamu jalani" ucap Pak Fadly menggelengkan kepalanya beberapa kali


Sementara itu, Albi hanya membuang napas pelan melihat Papanya meninggalkan ruangannya.


Friska duduk melamun,setelah menandatangani kontrak itu, ia tidak pernah di hubungi oleh perusahaan Albi bahkan sudah berhari-hari lamanya


Di sisi lain Keisha mulai merasakan kejenuhan dan bingung, ia menyuruh Aida untuk mengunjungi kantornya, tidak menunggu waktu lama Aida langsung meluncur ke kantor itu, sekali putaran Aida berhasil memarkirkan mobilnya dengan sempurna, begitu mendapatkan telepon dari Keisha resepsionis langsung mengarahkan Aida ke ruangan dimana ada sahabatnya, pintu terbuka Aida melongo lalu tertawa melihat cara berpakaian Keisha yang terlihat lebih dewasa dari umurnya tetapi terlihat cocok dengannya


"Aku tidak mengenali kamu untuk sesaat" ucap Aida langsung menghempaskan pantatnya di sofa


"Rasanya aku sulit bernafas saat berada disini" Balas Keisha melihatkan file yang sedang ia pelajari


"Kei saran aku ya besok kamu bikin anak banyak-banyak deh terutama anak laki-laki"


"Kenapa?"


"Ketika keadaan darurat seperti ini setidaknya anak perempuan kamu masih bisa tertawa lepas menikmati hidup" Keisha hanya mengangguk setuju


Tok... Tok..


"Woooah aku rasa dunia ini di penuhi oleh pria tampan tanpa kita sadari" gumamnya langsung berdiri dan maju satu langkah ke arah Bian, Aida semakin salah tingkah ketika Bian memberikan senyuman mautnya


Kemudian ia menoleh ke arah Keisha "Nanti siang ada meeting ya" kata Bian dan langsung kembali berpamitan


"Kei angkat aku jadi sekretaris pribadi kamu" kata itu spontan keluar dari mulut Aida


Keisha berdecak heran "Kamu ingin membuat perusahaan papaku kacau balau tidak mungkin dua orang wanita bodoh di persatukan"


"Lupakan, aku rasa aku jatuh cinta kepada pria itu" ucap Aida percaya diri


"Lalu bagaimana dengan Agra"


Aida menyeringai "Aku tidak peduli karena setiap melihat pria tampan perasaanku berubah-ubah"


"Aaaa berarti suamiku?"


Aida menoleh heran "Pengecualian suamimu yang aneh itu" Keisha hanya tertawa dan kembali menatap layar komputer

__ADS_1


Akhirnya beberapa jam telah berlalu, rasanya Keisha kehilangan banyak tenaga,ia berniat mengunjungi kantor Albi karena jarak yang tidak terlalu jauh, sedangkan beberapa menit yang lalu Friska mengunjungi kantor Albi untuk menanyakan kejelasan dari pekerjaannya. Tanpa memberitahu Albi, Keisha langsung saja menuju ruangan itu. Roal gorden terlihat tertutup semua dan sekretaris Albi juga tidak berada disana.


Tanpa ketukan pintu Keisha langsung saja membukanya dan melihat dua orang itu sedang berbincang, Keisha menatap tajam begitu juga Albi terlonjak kaget melihat kedatangan istrinya sedangkan Friska hanya tersenyum kecil


"Aku rasa kamu benar-benar tidak ada pekerjaan selain mengganggu suami orang" ucap Keisha mendekati mereka berdua


Friska tersenyum kecut lalu mengarahkan tatapannya ke arah Keisha "Aku saat ini sedang bekerja, kamu tahu aku menjadi model iklan dari perusahaan ini"


Albi hanya memijit pangkal hidungnya begitu Keisha menatapnya dengan tatapan tajam


"Ooh selamat" ucap Keisha


"Ya" balas Friska tersenyum aneh


"Jadi kamu tidak berhak melarang saya untuk menjauhi Albi"


Keisha mendongak menatap wanita yang tidak tahu malu itu "Calon pencuri berani mengatakan itu, tidak tahu malu sekali anda"


"Sudah" ucap Albi melerai mereka berdua


"Friska mulai besok kamu tidak perlu menemui aku lagi, jika ada hal yang mendesak temui sekretarisku dan mulai besok ketua tim pemasaran yang akan memberikan tanggung jawab untuk pekerjaanmu"


"Albi" pungkas Friska


"Kenapa? Kamu tidak dengar apa yang di katakan suamiku jadi silahkan keluar" Friska menahan emosinya, namun tatapannya begitu tajam ke arah Keisha


"Albi kamu lupa?"


"Tidak, aku sudah bertanggung jawab memberikan kamu pekerjaan dan perlindungan yang aman"


"Aku rasa wanita ini telah mempengaruhi kamu" tunjuknya ke arah Keisha


Keisha menganggukkan kepala "Silahkan keluar pintu terbuka lebar" usir Keisha tersenyum ejek. Friska tidak terima di perlakukan seperti itu, ia kembali mengatakan yang membuat perasaan Albi menjadi goyah kembali


"Aku melindungi kamu dengan caraku, aku rela tubuhku di siksa agar kamu tidak terluka, aku rela menukar kebahagiaanku dengan nyawamu bahkan luka itu menjadi trauma yang begitu menakutkan setiap hari tetapi untuk sekali saja kamu tidak pernah melindungi aku Albi,tidak apa aku akan mengundurkan diri dari pekerjaan yang kamu tawarkan ini"


"Karena melihat kamu bahagia dan sehat rasanya sudah cukup, aku akan melindungi kamu sekali lagi sekalipun nyawaku taruhannya" Friska mengambil tasnya dan pergi meninggalkan ruangan itu, Albi terdiam melihat wanita itu pergi,rasa penyesalannya kembali muncul.

__ADS_1


__ADS_2