ISTRI BADASKU

ISTRI BADASKU
SEMUA SAMA, MENGECEWAKAN!


__ADS_3

Keisha tersenyum simpul takkala melihat dua orang yang selalu menyakitinya. Pak Rudi terlihat kaget melihat kedatangan anaknya sepagi ini. Begitu juga Lidya langsung memasang wajah khawatir, melihat Keisha begitu di penuhi aura emosi.


"Bagaimana hutangnya Pa, aku ingin bercerai" Tanya Keisha, Pak Rudi kaget bukan main ,ia bertanya dari mana Keisha mengetahui itu semua, ia saling berpandangan dengan Lidya


Pak Rudi mencoba mengelak kembali "Kenapa tiba-tiba..."


"Papa tidak berhutangkan, Papa hanya mengikuti keinginan wanita gila ini" Tunjuk Keisha ke arah Lidya


"Untuk sesaat iya sih aku terpancing dengan permainan kalian, tetapi aku sudah mengetahui semuanya"


"Kamu tidak boleh bercerai sama Albi, kamu masih muda Kei, apa kata orang,Papa tidak ingin kamu janda di usia yang sekarang, perlahan nikmati pernikahan kalian dan Papa minta maaf"


"Pa, aku tidak peduli dengan kata orang dan aku tidak apa jika itu sudah menjadi jalan takdirku"


Pak Rudi tidak ingin anaknya seperti dirinya, sebisa mungkin ia harus mempertahankan pernikahan Keisha walaupun itu mungkin menyakitkan bagi Keisha "Papa tidak mengizinkan kamu tinggal disini, dan Papa juga tidak akan membiayai kehidupan kamu. Jika kamu melakukan perceraian itu"


Ancaman Pak Rudi membuat Keisha terdiam beberapa saat "Aku juga berhak atas rumah ini dan saham yang Papa miliki,dan bagaimana pun juga aku ini anak Papa,tolong pa sekali saja hargai keputusanku"


"Tapi Mama kamu sudah meninggal, Papa kepala keluarga, Papa yang akan menentukan semuanya dan kamu juga hargai keputusan papa untuk tidak bercerai dengan suamimu"


"Lima tahun pernikahan tidak ada yang berjalan sempurna Keisha, apa lagi yang kamu cari? ujung-ujungnya nanti juga akan menikah" Keisha mendongak melihat Papanya, orang yang sudah menghancurkan rumah tangganya sendiri kini dengan begitu beraninya memberi nasihat ke rumah tangga orang lain


"Jika tidak ada pernikahan yang sempurna lalu kenapa papa melakukan kesalahan yang menjijikkan"


"Keisha" Teriak Pak Rudi


"Keluar kamu dari rumah ini, kamu dan papa berbeda dan sekalipun tidak ada kata perceraian di hidupmu"


Lagi-lagi setiap ucapan Pak Rudi menyakiti perasaan Keisha. Lidya tersenyum kecil mendengar keributan di antara mereka, Lidya selalu berharap semoga Papa dan anak itu tidak pernah akur.Lidya senang melihat keributan itu, sungguh! ia sangat menyukai keributan di antara mereka.


Keinginan Pak Rudi baik, ia tidak ingin anaknya menjadi janda di usia muda tetapi ia mengatakan dengan cara yang salah.


Perasaannya yang sudah terluka dan berbicara pun percuma, seolah semua kesalahan berasal dari dirinya, Keisha pergi meninggalkan rumah itu.

__ADS_1


Semua terlihat buruk, mengecewakan dan menyakitkan.


Dan pagi ini Keisha tidak bersemangat menjalani harinya. Tidak ada tempat tujuan yang lain, selain ke kampus.


Keisha menikmati angin pagi di taman kampus. Wajah yang begitu sedih tidak bisa di tutupinya.


Agra, pria manis dan hangat yang mudah tersenyum melemparkan sebatang cokelat ke tangan Keisha


"Katanya kalau sedang bersedih, obat terbaik adalah cokelat" Ujar Agra mengambil posisi duduk di samping gadis itu


"Oh ya"


"Iya, karena rasanya yang manis bisa meluluhkan hati yang sedang bersedih"


"Hhhmm" jawab Keisha, Agra menoleh ia melihat raut wajah sedih itu tidak bisa di sembunyikan dengan baik, Agra berfikir sejenak lalu tersenyum


"Kamu mau dengar cerita tentang acara semalam" Sambung Agra


"Tidak"


"Tapi aku tidak ingin mendengarkannya"


"Iya jadi begini dan, udah itu aja" ucap Agra tersenyum manis, berharap Keisha juga ikut tersenyum


"Apaan sih, nggak jelas banget" Sahut Keisha tersenyum lepas. Melihat Keisha tersenyum, Agra kembali ikut tersenyum


"Gitu dong. Cantik kalau sedang tersenyum"


"Heeeol, ucapan lelaki buaya darat" ucap Keisha membuat Agra tertawa lepas


Keisha tersenyum dan membuka cokelat yang di berikan Agra. Agra pria baik dan menyenangkan. Keisha menikmati cokelat di setiap gigitannya.sedangkan Agra tidak mengalihkan Tatapannya dari wanita cantik di sampingnya itu. "Apa sedang kamu pikirkan?"


"Banyak hal"

__ADS_1


"Dengan kepalamu yang kecil ini, bisa memikirkan begitu banyak hal?" Keisha memukul lengan Agra lalu kembali tersenyum


"Jangan meremehkan kepalaku!" tuturnya kembali terkekeh geli


 


Entah sudah berapa menit lamanya Albi berada di kampus Keisha. Namun, ketika ia melihat istrinya tersenyum bersama pria lain, Albi mulai tidak nyaman. Tadi pagi Keisha pergi terburu-buru dan meninggalkan dompetnya yang berisi uang dan keperluannya. Niat Albi hanya mengantar itu. Tetapi ia menyaksikan pemandangan yang membuat dirinya sedikit merasakan gejolak.


Albi mengurungkan niat dan kembali ke mobilnya. Walaupun ia tidak saling mencintai, tapi kala melihat orang yang selalu bersama kita setiap hari, begitu menyakitkan ketika ia tersenyum kepada orang lain.


"Kamu sudah punya pasangan?" Tanya Agra. Keisha terdiam beberapa saat. Lalu ia menggelengkan kepala.


"Bagus" Sahut Agra tersenyum manis seraya mengusap rambut wanita di sampingnya.


Seharian di kampus, Keisha menikmati menjadi mahasiswa semester pertama. Setidaknya, jika di kampus ia melupakan masalah peliknya.


Begitu juga Albi, ia kembali sibuk dengan pekerjaannya. Albi selalu pulang larut malam. Namun, Keisha kini tidak lagi menunggunya. Keisha sudah terbiasa tinggal di rumah Albi sendirian.


Ketika Keisha berangkat kuliah, Albi belum bangun. Begitu juga, ketika Albi sampai di rumah istrinya sudah tidur.


Mereka tidak pernah lagi bicara setelah kejadian itu.


Jika pagi adalah waktu Keisha memandangi Albi, maka ketika malam tiba waktunya Albi memandangi Keisha.


Ia tersenyum kecil ketika melihat cara tidur Keisha yang selalu tidak bisa tenang.


Malam semakin dalam. Mereka berdua sama-sama tertidur di kamar yang sama. Namun, pada ranjang yang berbeda.


Tepat jam dua malam hujan di sertai angin kencang mengguyur perkotaan. Makin lama hujan semakin deras di sertai petir yang membuat langit terlihat menakutkan.


Keisha terbangun dan mulai takut kembali. Bayangan atas kematian Mamanya belum menghilang dari ingatannya. Albi terlihat menarik selimutnya. Beberapa kali Keisha mengalihkan pandangan kepada pria itu.


Sudah setengah jam Keisha terjaga. Sedangkan hujan tidak juga kunjung berhenti. Petir menggelegar. Dan angin semakin kencang. Keisha memberanikan diri dan berjalan ke arah ranjang suaminya. Keisha tepat duduk di samping tangan Albi. Perlahan, Keisha menggoyangkan badan pria itu. Tetap saja Albi tidak terjaga.

__ADS_1


"Mas Albi" Panggil Keisha. Spontan saja Albi menarik tangan gadis itu. Dan membawa gadis itu ke dalam dekapannya. Jantung Keisha berdetak kencang ketika tubuh mereka saling berdekatan. Albi menyelimuti Keisha dan memeluk gadis itu. Kini mereka berada dalam selimut yang sama. Nafas Albi begitu terdengar jelas di telinga Keisha. Albi menikmati tidurnya sedangkan Keisha sedetik pun tidak bisa memejamkan mata,


Dalam ketakutan, Keisha tersenyum memandingi wajah orang yang paling cuek di hidupnya. Keisha memejamkan mata ketika Albi memperbaiki posisi tidurnya.


__ADS_2