
Albi dan Keisha menikmati sarapan bersama, para ARTnya telah kembali bekerja, baru beberapa kali suapan ponsel Albi berdering, Keisha mengalihkan perhatian kearah pria itu, Albi mengambil ponselnya dari saku celana, ia melihat ponselnya cukup lama dengan tatapan tajam, Keisha memperhatikan gerak-gerik suaminya. Ekspresi Albi perlahan berubah menjadi tegang, dapat terlihat lewat kerutan dahinya
Nomor tidak di kenal mengirimkan foto Friska sedang di sekap di sebuah ruangan, ia juga meminta Albi untuk datang ke alamat itu "Siapa?" tanya Keisha
"Pesan spam!" ucap Albi memasukkan kembali ponselnya ke saku celana, tak berselang lama Albi beranjak dari duduknya
"Kamu benaran mau bawa mobil sendiri?"
"Iya, ke kampusnya masih ada dua jam lagi" Albi mengangguk dan langsung berpamitan setelah mencium kening Keisha,
Keisha terpana untuk pertama kalinya Albi melakukan itu di pagi hari, hal yang sudah lama ia impikan "Mas Albi hati-hati" Ucap Keisha melambaikan tangan
**
Albi keluar dari mobilnya, melihat sekeliling gedung usang yang masih terawat itu, semuanya tampak sepi dan tak berpenghuni bahkan gedung itu terletak di kawasan terpencil.
Albi membuka pintu besi dan mencapai ruang utama dari gedung itu, tidak ada siapa-siapa disana, tiba-tiba saja dari arah berlawan seseorang menyerang Albi secara brutal, Albi langsung menghindar dan memberikan pukulan kuat kepada lelaki itu,
Bruuuk! Lelaki itu jatuh tak berdaya Karena beberapa kali mendapatkan pukulan dan hantaman dari Albi
Albi mengatur nafas, secara bersamaan beberapa orang kembali menyerang Albi. Albi kehilangan kendali ketika melihat Friska di tarik keluar dengan paksa. Tangan wanita itu kembali berdarah, beberapa pukulan mengenai wajah Albi,
Albi tergeletak di lantai, satu pukulan keras mengenai perutnya, bahkan kaki Albi juga tidak luput dari tendangan mereka. 10 orang melawan satu orang. Albi tidak berdaya, darah bercucuran. Andreas si ketua mafia itu menarik Albi dan mendudukinya di kursi
Friska menangis berteriak minta tolong, plaaak! Tamparan kembali mengenai pipi gadis itu "Lihat, karena ulahmu!" ucap Andreas tersenyum jahat
"Lelaki yang kamu cintai dan yang kamu lindungi? Sudah tidak berdaya!"
"Berengsek!" Tutur Friska
__ADS_1
"Kau tahu dia melindungimu dan menikahi saya, tetapi saya begitu muak melihat tangisannya setiap hari, kau tahu apa yang aku lakukan? Memukulnya, dan memukulnya lagi" katanya mendekati Albi yang sudah tidak berdaya
"Sekarang lindungi dia, seperti dia melindungimu"
"Saya tidak mengenalmu sialan!" kata Albi tidak bisa melawan karena tangannya sudah di ikat
"Bara Abrisam? Dia berhutang banyak kepada saya, karena saya begitu terobsesi dengan kekasihmu ini, saya menukarnya dengan wanita sialan ini" tunjuk Andreas ke arah Friska
"Hentikan, aku akan ikut pulang bersamamu!" teriak Friska yang tidak ingin Albi mengetahui lebih jauh
"Kau mencoba melindungi dia kembali?" Andreas menarik rambut Friska
"Shiit!" Andreas meludahi Friska dan langsung pergi bersama anak buahnya
Sambil menangis Friska melepaskan ikatan yang membelenggu tubuh Albi, lelaki itu menatap Friska dalam-dalam, mencari jawaban atas pertanyaannya
"Apa maksud ucapannya?" tanya Albi melemah
"Friska apa yang kamu lindungi?" teriak Albi kebingungan
"Aku tidak ada melindungi siapa-siapa"
"Pembohong!" Albi berdiri lalu berjalan keluar dengan tergopoh-gopoh menahan sakit, Friska membantunya tetapi selalu di tepis
Ketika sampai di mobil Albi langsung jatuh pinsan, Friska berteriak panik, ia menangis sambil mengemudikan mobil ke rumah sakit. Ia bingung menghadapi masalah ini, hanya butuh lima belas menit mereka sampai di rumah sakit, Friska mengabaikan luka di tangannya, menepis air mata dan mencoba menghubungi keluarga Albi.
Friska kembali menangis melihat kondisi Albi yang penuh dengan luka, setelah beberapa menit dokter menanganinya Albi kembali sadar dan melihat hanya ada dia dan Friska di ruangan itu "Apa itu alasan kamu membatalkan pernikahan kita?" tanya Albi menggenggam tangan Friska yang masih gemetar
"Albi aku mohon, kamu tidak perlu menyalahkan siapa pun?"
__ADS_1
"Apa yang di lakukan Bara kepadamu? Mengancammu?"
Tiba-tiba Albi teringat beberapa tahun yang lalu, perusahaan yang di pegang oleh Bara mengalami kerugian yang cukup besar, Pak Fadly sempat mengancam Bara, ia akan mencopot semua jabatan yang di pegang oleh anak keduanya itu. Namun, dengan waktu dekat perusahaan itu kembali jaya, bahkan seluruh hutangnya lunas tanpa bantuan dari keluarga.
Albi memijat kepalanya, betapa bodohnya dia melupakan itu. Dan dia bersenang-senang di atas penderitaan Friska.
Bu Dini, Keisha dan Dara tiba di ruangan tempat Albi di rawat, Bu Dini yang melihat kehadiran Friska langsung saja menampar wanita itu "Kurang ajar kamu ya, setelah meninggalkan anak saya lalu tiba-tiba kamu mencelakakan dia juga? Belum puas kamu menyakitinya" teriak Bu Dini dan ketika ia ingin menampar kembali, tangan Albi menahannya
"Mama cukup!" Bela Albi, Keisha yang melihat itu tersenyum getir. Apa secinta itu dia dengan Friska sampai di depan keluarga dan istrinya ia masih membela wanita itu
"Albi apa kamu sudah gila? Lihat istrimu orang yang selalu mendampingimu" Albi menoleh kearah Keisha yang sedang menatapnya
"Apa lagi yang kamu cari dari perempuan matre ini?"
"Ma cukup, dia rela menahan sakit bertahun-tahun demi melindungi keluarga kita, rasanya tidak pantas mama menghina dia sehina itu"
Bu Dini semakin geram melihat kebodohan Albi, ia kembali ingin menarik rambut Friska, namun, lagi-lagi Albi menghentikannya, Albi menggenggam tangan Friska dan menyembunyikan wanita itu di belakang badannya agar terhindar dari cakaran Mamanya,
melihat itu Bu Dini semakin muak,ia menatap tajam ke arah Friska "Sampai kapan pun kamu tidak akan bisa mendapatkan hati keluarga saya lagi, jika memang kamu membantu anak saya, saya rasa sudah adil kamu meninggalkannya dengan kejam sampai anak saya tidak bisa melakukan apapun lagi"
"Dan si bodoh ini entah apa yang sedang di lakukan" ucap Bu Dini menampar bahu Albi saking geramnya
"Sekarang kalian keluar" Usir Albi, tidak ada yang bergerak satu pun
"Keluar aku ingin beristirahat, termasuk kamu Keisha" ucap Albi, Keisha yang sedari tertunduk mengangkat kepalanya menatap pria itu
Dara merangkul bahu Keisha, dan membawa Keisha keluar dari ruangan itu, begitu juga Bu Dini menggenggam tangan menantunya dengan erat.
"Kamu tidak perlu takut karena mama akan selalu melindungi kamu" ucap Mamanya
__ADS_1
"Dia memang seenaknya saja, pergi tanpa pamit dan kembali tanpa permisi, bagi Mama hanya Keisha menantu di keluarga Abrisam, jika ada perempuan lain akan mama halau keluar" Dara tersenyum kecil mendengar ucapan Bu Dini,hanya iya yang mengerti alasan Bu Dini melakukan itu semua.