
Helaan nafas berat Pak Rudi terdengar jelas oleh Lidya. Ia merasakan sesuatu sudah terjadi di antara mereka berdua.
Lidya mencoba tersenyum dan bersikap baik kembali. Ia mencoba meyakinkan suaminya sedemikian licik.
"Sayang ini salah satu cara agar Keisha belajar dewasa dan bisa menghargai orang yang lebih tua darinya" tak lupa tangannya membelai pipi suaminya
"Tapi dia masih butuh kuliah,masih banyak hal menyenangkan yang ingin di lakukannya"
"Kuliah sambil menikah juga bisa. Kamu percaya sama aku"
"Keluarga Tante Dini tidak akan mengecewakan kita,aku tahu betul siapa keluarga mereka"
Pak Rudi terdiam beberapa menit, lalu mengangguk tanda setuju. Entah bagaimana, setiap omongan yang keluar dari mulut Lidya seperti racun yang membiuskan, begitu mudah meyakinkan Pak Rudi.
Ia tidak banyak bicara dan langsung masuk kedalam kamarnya.
Sedangkan Lidya mencoba mengusik Keisha kembali.
Lidya melihat Keisha sedang tertunduk lesu menatap ponselnya "Bagaimana? Ibu tiri kamu hebatkan?" Tutur Lidya di depan pintu kamar Keisha yang masih terbuka lebar
"Begitu dong jadi anak harus penurut, nggak pembangkang terus" Sambung Lidya terus mengoceh kesenangan
"Bik Sur" Teriak Keisha sekuat tenaganya
"Iya Non" Jawab Bi Sur lari tergopoh-gopoh dari lantai dasar,Bik Sur melihag keberadaan Lidya langsung menatap kesal. Sama seperti Keisha, Bik Sur tidak menyukainya karena selalu membuat Keisha terluka
"Anak Mama butuh apa? " Tanya Lidya tersenyum jahat
"Bik, aku sudah bilang sampah itu di buang di tempat yang seharusnya, bukan di pelihara, Buang sana" Suruh Keisha tetap asyik dengan ponselnya
"Nyonya ayo keluar,setiap hari mengganggu Non Keisha" ucap Bi Sur seraya menarik tangan Lidya
"Jangan sentuh saya dengan tangan kotormu itu, Saya ini Nyonya kamu, jangan sampai saya pecat"
"Bik sampahnya semakin busuk, cepat di buang, aku udah nggak kuat sama bauknya!"
"Keisha aku ini istri Papa kamu" Omel Lidya
"Cepat nyonya, kasihan hidung non Keisha mencium bauk busuk" Lidya menatap garang kepada pembantunya itu, seakan ikut mengolok-oloknya juga
"Bik tarik aja sampah itu dengan kasar dan tutup pintu kamar agar bauknya bisa hilang" Bik Sur kembali menarik tangan Lidya. Spontan saja Lidya berteriak memarahi pembantunya.
__ADS_1
Lidya semakin marah dan berlari menuju kamar suaminya. Niat hati mau mengadu. Namun, Pak Rudi sudah terlelap dalam tidurnya.
Memasuki pukul sepuluh malam Keisha membuka jendela kamarnya. Gadis itu membiarkan angin malam membelai kulit putihnya.
Bukannya takut menikah, tetapi Keisha lebih takut meninggalkan Papanya bersama Ibu tiri yang kejam itu.
Perlahan Lidya menguasai Pak Rudi. Dan ketakutan Keisha semakin menjadi kala dirinya akan menikah beberapa hari lagi.
Ketukan pintu membuyarkan lamunan Keisha,ia menoleh kearah pintu yang terbuka. disana Bik Sur sedang tersenyum menatapnya
"Ada apa Bik?" tanya Keisha, Bik Sur mendekat lalu tersenyum menghirup udara malam
"Menenangkan ya non" Keisha tersenyum lalu mengangguk
"Bik, ternyata aku kalah!"
"Tidak, Non Keisha baru memulainya"
"Non orangnya tidak pernah mau menyerah,selalu melakukan yang terbaik" Keisha tersenyum
"Mama non Keisha pernah bilang, untuk menjaga non terus dan non Keisha tidak perlu takut, semuanya sudah di persiapkan,ketika waktunya tiba non Keisha akan mengetahuinya" Keisha menoleh kearah Bik Sur
"Apa itu Bik?" Bik Sur menggelengkan kepala
***
Keisha sibuk mempersiapkan kuliahnya. Mulai dari mendaftar online sampai pendaftaran ulang. Keisha memilih melanjutkan sekolahnya di kampus swasta di kota kelahirannya. Namun, cukup jauh dari rumah.
Seperti permintaan Mamanya, Keisha mengambil jurusan International Business.
Sedangkan di sisi lain Pak Rudi dan Lidya sibuk mempersiapkan pernikahan Keisha dan Albi. Lidya begitu bersemangat untuk membantu mempersiapkan semuanya, karena dengan cara itu Keisha akan angkat kaki dari rumah.
Menjelang hari pernikahan, Keisha tidak pernah bertemu dengan Albi sekali pun. Keisha tidak tahu bagaimana bentuk rupa calon suaminya.
Buruk atau tampan tidak ada masalah bagi Keisha, baginya baik dan setia sudah cukup.
Albi yang juga tidak mengetahui bentuk rupa calon istrinya juga tidak memusingkan hal itu. Baginya menikah hanya ide gila dari orang tuanya.
Pria berusia dua puluh tiga tahun itu hanya mengetahui calon istrinya baru saja tamat dari sekolah menengah atas.
"Albi kapan kamu akan menemui calon istri mu?" Tanya Bu Dini menghampiri anaknya yang sibuk bersama laptopnya
__ADS_1
"Di hari pernikahan"
"Albi...."
"Ma, aku sibuk. Aku tidak ada waktu untuk mengurusi hal itu" balas Albi menatap Bu Dini dengan tatapan tajam
"Sebentar lagi kamu akan punya istri dan Mama minta ubah sikap kamu"
"Perlakukan dia dengan baik, dan lupakan kekasihmu yang lalu" Albi masih memilih tetap diam
"Kamu tidak perlu menyalahi diri sendiri lagi, dia yang meninggalkan kamu bukan kamu yang meninggalkannya"
"Mama cukup" Ucap Albi seraya membenarkan posisi duduknya
"Tidak perlu kamu menunggu dia lagi, ingat ucapan Mama"
"Rasanya tidak adil hanya kamu yang menderita seorang diri-"
"Ma" ucap Albi memotong pembicaraan Mamanya,namun tatapannya begitu tajam
"Jika nanti kamu mengecewakan istrimu, kamu akan berurusan dengan Mama"
Albi menoleh kearah Mamanya "Mama menyayangi dia?"
"Tentu, karena dia akan menjadi bagian dari keluarga kita"
Albi tidak menjawab perkataan Bu Dini lagi. Tetapi tatapannya masih terpaku kepada Bu Dini. Helaan nafas panjang Bu Dini mengakhiri pembicaraan mereka.
Albi terkenal dengan hemat bicaranya. Jika tidak penting, maka ia tidak akan membuka mulutnya.
Albi sang calon ahli waris dari Abrisam Grup sudah memiliki sebuah rumah di kawasan elit yang tidak terlalu jauh dari rumah orang tuanya. Rumah berlantai dua itu sudah di miliki sejak ia duduk di bangku SMA.Karena Pak Fadly memiliki empat anak lelaki,ia sudah memberikan rumah pada masing-masing anaknya, tetapi Dio, kakak tertua yang sudah memiliki tiga orang anak lebih senang tinggal di rumah orang tuanya.
Dan Albi juga lebih senang menghabiskan waktu di rumah orang tuanya, walaupun sehari-hari ia hanya di kamar mengurung diri
Rumah itu akan di tempati setelah menikah nanti.
Ada yang unik dari rumah Albi. Iya, meskipun nanti dia dan Keisha sudah sah manjadi pasangan suami istri. Dia tidak akan tidur bersama.
Albi sudah mempersiapkan dua ranjang tidur di kamarnya yang terletak di lantai dua. Itu semua di persiapkan Albi tanpa sepengetahuan keluarganya.
Pikir Albi jika menikah karena di jodohkan akan memiliki banyak kesalahan pahaman dan tentu juga tidak nyaman jika saling bersentuhan.
__ADS_1
Padahal dahulu, ia sudah mempersiapkan ranjang yang empuk dan mahal untuk pernikahannya, karena gagal Albi mengubah itu semua, pernikahan impiannya sudah berakhir.