
Keisha membenarkan posisi duduknya lalu kembali menatap pria yang ada di hadapannya. Albi memandanginya dengan wajah yang sulit di tebak.
"Bagaimana kamu bisa tahu aku ada disini?" tanya Keisha
"Apa yang kamu lakukan dengan dia?"
"Mas Albi kalau aku jelaskan apa kamu akan percaya?" Albi mengangguk karena ia tahu Keisha tidak suka berbohong
Benar saja Albi terlonjak kaget mendengar penjelasan dari istrinya, beberapa saat ia tertunduk lesu tidak tahu harus berkata apa kemudian Keisha memanggil Albi namun tidak ada sahutan
"Mas Albi kamu baik-baik saja?"
"Jadi Friska melakukan itu semua?" kata Albi
"Aku harus bagaimana? Kenapa terasa sesak sekali rasanya" sambung Albi memandangi istrinya
"Mas Albi kecewa karena dia main belakang?"
"Tidak"
"Lalu apa?"
"Kenapa aku baru tahu sekarang dan kenapa Bara melakukan itu?"
"Mas Albi sekecewa apapun dia tetap saudara kamu, biarkan itu menjadi masa lalu"
"Apa semudah itu memaafkan mereka yang menyakitiku?" Keisha menggelengkan kepala lalu berdiri dan mendekati suaminya
"Tidak semudah itu tetapi jika kita ikut balas dendam, kita tidak ada bedanya dengan mereka Mas. Kita hanya perlu buktikan bahwa kita bisa maju tanpa bantuan mereka"
Albi memilih diam, dan mereka pun memilih pergi dari kafe itu melihat kondisi Albi yang terlihat syok berat Keisha tersenyum memandangi suaminya, ia bernafas lega karena tidak perlu lagi bersusah payah menutupi semuanya.
"Mas mau kabur hari ini?" tanya Keisha, Albi langsung menoleh heran
"Kabur kemana toh kita hanya tinggal berdua"
"Pikiran Mas Albi kaku banget" ucap Keisha tersenyum, Keisha menarik pedal gasnya ia akan membawa Albi ke suatu tempat yang akan membuat pria itu tersenyum lepas nantinya
"Kita kemana?"
"Ikuti saja istrimu, Mas Albi duduk dengan tenang sambil pejamkan mata lalu lupakan mereka yang menyakiti kamu" tutur Keisha begitu bersemangat.
Di lain sisi Aida sedang berkumpul bersama teman seangkatannya, tiba-tiba saja Agra menghampiri dan mengajak Aida untuk menemaninya makan
"Aida apa yang terjadi di antara kalian berdua?" goda teman-temannya
"Hanya teman!" pungkas Aida meninggalkan mereka
Agra mengajak Aida untuk makan di restoran kampus, ia mengambil posisi duduk saling berhadapan, mereka sama-sama terdiam selagi menikmati makanannya. Melihat Aida telah selesai Agra tersenyum menatap gadis itu.
"Aku minta maaf" Kata Agra dan langsung membuat Aida menoleh bingung
"Kenapa?"
"Karena tidak bisa untuk menyukai kamu juga, maafkan aku Aida"
Aida tersenyum rasanya itu sudah menjadi hal yang biasa baginya "Tidak apa Kak Agra seharusnya aku yang minta maaf"
"Tidak Ai, aku yang tidak pantas di maafkan karena telah menolak wanita sebaik kamu"
"Aku mau cuti kuliah" Aida mendongak menatap pria itu
"Kenapa apa karena aku?"
"Tidak, aku mau ikut dengan papa"
Aida terdiam ketika Agra menjelaskan masalah ia akan cuti, dan cintanya untuk pria itu benar-benar telah berakhir, kesempatan itu tidak ada untuknya. Aida menghela nafas berat rasanya tidak apa ia di tolak asal masih bisa melihat pria itu
"Kamu tidak perlu khawatir kita masih satu kota dan kampus" kata Agra membuyarkan lamunan gadis itu
__ADS_1
"Aida jangan menunggu aku, temui pria yang rasa cintanya lebih besar kepada kamu, aku yakin kamu akan mendapatkan orang itu nanti" Aida hanya tersenyum kecil lalu mengangguk setuju
Jika itu sudah jalannya kita tidak bisa memaksa selain merelakan. Karena cinta itu harus timbal balik biar tidak ada yang terluka. Aida mencoba merelakan semuanya, membiarkan rasa suka itu ada sampai hilang dengan sendirinya,tidak apa karena yang di takdirkan untuk kita tidak mungkin melewatkannya. Aida tersenyum melihat pria itu telah menghilang dari pandangannya. Walaupan sakit tapi ada sebuah rasa lega.
Keisha menghentikan mobilnya di sebuah pantai yang sangat menyejukkan mata, hanya ada mereka berdua. Keisha memaksa suaminya untuk ikut turun. Ia menggoda Albi sampai pria itu tersenyum manis ke arahnya
"Syukurlah" ucap Keisha tersenyum seraya memandangi lautan lepas
"Apanya?" tanya Albi lalu duduk di sebelah istrinya
"Mas Albi tahu aku juga sama dengan kamu, tidak bisa menerima semua pengkhianatan itu tetapi seiring berjalannya waktu aku mulai memahami bahwa tidak semua keinginanku harus di kabulkan"
"Aku membenci Lidya karena merebut papaku, ia mengambil kebahagiaan keluargaku tetapi di sisi lain dia juga memberikan aku kebahagiaan"
"Apa itu?" tanya Albi menoleh ke arah istrinya
"Kamu, Mas Albi kebahagiaanku jika bukan karena dia kita tidak akan menikah"
"Bukannya kamu membenci pernikahan kita?"
Keisha menganggukkan kepala "Hhm, tapi seiringnya waktu aku mulai menerima pernikahan kita, aku mulai bahagia kembali seakan mama juga merestui pernikahan kita"
"Lalu sekarang bagaimana dengan Lidya?"
"Mungkin aku juga harus menerima karena papa terlihat bahagia saat bersama dia, walaupun setiap pertemuan hanya ada pertengkaran antara aku dan dia, perlahan mas Albi semuanya akan membaik"
"Lalu bagaimana dengan Mas Albi?" sambung Keisha
"Aku tidak tahu hanya saja aku sudah bahagia dengan hidupku yang sekarang, mungkin memperbaiki sedikit kesalahan lebih baik dari pada memendam dendam"
"Aku tidak perlu lagi masa lalu dan tidak perlu juga memusingkan semua yang sudah terjadi, aku bahagia Kei, demi keluarga kita aku akan berjuang dan melupakan kesalahan mereka" ucap Albi memandangi istrinya seraya tersenyum manis
Keisha mendelik lalu berdecak "Jadi kapan kamu akan memberikan aku anak?" Keisha tertawa lepas dan langsung saja Albi menyentil kening istrinya
"Memang bisa aku sendiri?"
"Keisha kamu makin kesini makin kesana ya" Omel Albi
Keisha tersenyum lalu merebahkan kepalanya ke bahu kiri Albi, ia menghirup aroma lautan yang begitu khas "Kata Aida kita harus banyak-banyak buat anak mas terutama lelaki"
"Mulai lagi pikiran mesumnya" tutur Albi melingkarkan tangannya di bahu Keisha
"Kenapa Mas Albi tidak menyukainya?"
"Suka apapun itu asal bersama kamu aku suka!" ucap Albi di sambut gelak tawa oleh Keisha
Entah berapa lama mereka bercerita dan saling memandangi pemandangan yang indah di depan mata, sampai ponsel Keisha berdering dan membuat mereka saling berpandangan ,
Sebuah pesan masuk dari Lidya yang membuat Kening Keisha berkerut membacanya
Keisha maafkan aku! Maafkan aku mengambil kebahagiaan kamu! Aku harap kamu selalu bahagia bersama Albi, hidup selamanya bersamanya! Maafkan aku lagi-lagi aku membuat kesalahan, menyakiti kamu dan papamu! Hari ini dan kedepannya aku tidak akan menyakiti siapa pun lagi terutama kamu dan papamu, mulai hari ini juga aku akan menyakiti diriku sendiri,membawa rasa sakit kalian berdua. Katakan kepada papamu aku bahagia menjadi istrinya.
"Ada apa" tanya Albi langsung mengambil ponsel dari tangan istrinya
"Mas ayo kita ke rumah sakit"
Mereka berdua bergegas menuju rumah sakit, sepanjang perjalanan Keisha berharap semuanya baik-baik saja, tak berselang lama ponsel Keisha kembali berdering. Tertulis di layar om Ray
"Ya om kenapa?" tanya Keisha mulai merasakan hal yang tidak enak untuk di dengar
"Keisha Papa kamu sudah sadar dan ia mencari kamu" Keisha menghela nafas lega, menepis air matanya
"Iya om tunggu Keisha kesana"
"Keisha" panggil di seberang sana
"Iya om"
"Lidya sudah meninggal, setengah jam yang lalu dia meloncat dari atap gedung" tangan Keisha bergetar, dadanya begitu sesak mendengar kabar itu. Melihat raut wajah Keisha Albi mempercepat laju mobilnya
__ADS_1
Ketika mereka sampai di rumah sakit, Keisha langsung berlari ke ruangan dimana ada Lidya, disana ada Bik Sur dan beberapa anggota keluarganya, Keisha menitikkan air mata ketika ia mencoba untuk ikhlas menerima Lidya sebagai ibu tirinya di saat itu juga semuanya di akhiri oleh Lidya sendiri. Albi memeluk istrinya menguatkan Keisha bahwa semua sudah takdirnya.
Beberapa saat kemudian Keisha juga mengunjungi ruang inap Papanya, ia melihat Papanya sedang menangis, Keisha berlari dan memeluk lelaki itu "Maafkan Keisha pa"
"Jangan minta maaf karena papa pun tidak berhak menerima permintaan maaf dari kamu" Pak Rudi memeluk putrinya sangat erat
"Bagaimana ini Pa" tanya Keisha dalam tangisannya
"Tidak apa, papa sudah ikhlas semuanya mungkin sudah takdir papa begini tetapi selagi kamu ada papa kuat sayang, papa menyesali semuanya, maafkan papa Kei" Keisha hanya mengangguk lalu menepis air mata di kedua pipi Pak Rudi
Hari ini juga Lidya di bawa oleh keluarganya untuk di makamkan,Keisha dan Albi juga terlihat datang begitu juga Friska terlihat ada disana. Teman-teman Lidya juga banyak yang ikut pergi ke pemakaman. Jenazah Lidya sudah tertimbun tanah, beberapa temannya terlihat menangis. Tiba-tiba seorang wanita paruh baya menghampiri Keisha,ia terlihat tertunduk lesu
"Keisha maafin kesalahan Lidya, maafin dia sudah merebut kebahagiaan keluarga kamu, aku selaku mamanya memintaa maaf yang sebesar-besarnya atas kelakuan anak saya" ucapnya menggenggam tangan Keisha dengan erat, Keisha tersenyum lalu memeluk mama Lidya yang terlihat terpukul melihat kejadian ini
"Semuanya sudah aku maafkan Bu"
Satu persatu satu orang mulai meninggalkan area pemakaman itu, Friska terlihat menghampiri Mereka berdua. Friska menatap Albi lalu mengalihkan pandangannya ke arah Keisha "Maafkan aku ya, aku tidak ada niat merusak kebahagiaan kalian terutama kamu Albi maafin aku telah menyakiti kamu dan membohongi kamu beberapa tahun yang lalu" Albi hanya mengangguk
"Maafin aku untuk semuanya dan juga aku ingin berpamitan dari kamu"
"Kamu mau kemana?" tanya Keisha
"Aku mendapatkan tawaran kerja dari keluarga Mama dan sepertinya aku akan menetap di Australia, aku selalu doakan kalian bahagia selamanya" ucap Friska langsung berpamitan untuk pergi.
Beberapa bulan setelah kejadian itu, Pak Rudi mulai bekerja di kantornya begitu juga Keisha ikut serta dengan Papanya, Keisha menawarkan kerja sama bersama suaminya untuk menguatkan perusahaan Albi dari gencaran Bara.
Saat jam makan siang, Aida dan Keisha menikmati makan siang di kafe tempat mereka biasa menghabiskan waktu, tak berselang lama dari pintu masuk tampak seorang pria tampan menghampiri mereka, Aida merungut kesal menepuk bahu sahabatnya
"Keisha kamu benar-benar jahat"
"Kenapa?" tanya Keisha tersenyum
"Kenapa kata kamu? Hei dengarin! Aku ini bukan obat nyamuk buat kalian" omel Aida di saat Albi duduk di sebelah istrinya
"Makanya cepat nikah" ejek Albi lalu tertawa ejek bersama Keisha
"Kalau begitu aku pamit" balas Aida merasa ternistakan
"Jangan buru-buru ada hadiah untuk kamu?" cegat Keisha menahan tangan sahabatnya itu
"Apa? Lelaki tampankah?"
"Tepat sasaran" ucap Keisha tersenyum lepas
Tidak berselang lama dari pintu masuk Bian juga terlihat datang dengan ketampanannya, Bian tersenyum kearah mereka
"Tampan bukan?" tanya Keisha ikut tenggelam menatap pria itu
Albi mendongak kesal lalu mencubit pipi istrinya "Eh mata di jaga" omel Albi seraya menutup kedua mata Keisha dengan telapak tangannya
"Aku telat ya?" tanya Bian mengambil posisi duduk di sebelah Aida
"Tidak, kami baru mau mulai makan" ucap Aida dan Bian mengarahkan matanya ke arah piring Aida yang sudah terlihat kosong
"Benarkah?" balas Bian tersenyum kecil
Mereka berempat saling bercerita lepas sambil menikmati makanan, Bian yang terlihat dewasa bisa menikmati obrolan bersama mereka. Tidak ada rasa canggung sedikit pun
"Bagaimana kalau kita liburan ke hawaii?" kata Keisha bersemangat
"Setuju" ucap Albi
"Kalian aja, aku tidak mau merusak kebahagiaan diriku sendiri" ucap Aida terlihat ketus
"Kalau ada aku apa Aida mau ikut?" tanya Bian dan langsung sendok yang di pegang Aida jatuh, Aida mengangguk setuju,mereka pun tertawa bahagia dan mulai merencanakan perjalanan liburan mereka.
❤
Tunggu part Aida selanjutnya ya!! Terimakasih❤
__ADS_1