
Keisha tidak tahu arah, ia juga kebingungan menghadapi situasi ini. Ia bertanya-tanya ada apa dengan Papanya? Apa yang salah dengan keluarganya? Kenapa kesalahan itu terulang kembali? Apa itu sebuah penyakit?
Nyatanya memang begitu, kehidupan dan luka bak tak terpisahkan. Kesedihan, duka, dan air mata yang menyebabkan luka menjadi bagian dari hidup. Seberapa pun kita berusaha menghindarinya, kita akan menghadapi situasi semacam itu dalam hidup
"Aida aku pulang duluan"
"Aku temani!" Kata Aida yang melihat Keisha begitu linglung
"Tidak, aku mau sendiri" Ucapnya menuju kearah parkiran mobil
Friska tidak memahami apa yang terjadi, ia menatap kepergian kedua gadis itu dengan berbagai pertanyaan? Dan apa yang terjadi dengan Lidya?
"Keisha kamu benar-benar jahat ya!" Ucap Aida ikut masuk ke dalam mobil sahabatnya
Mereka berdua sama-sama terdiam, lalu Aida mengarahkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke kedua mata Keisha, spontan Keisha meringis kesakitan "Aaaaaaa?"
"Bodohnya, lakukan seperti itu?" Ucap Aida melihat Keisha mulai menangis
"Mataku yang ditusuk tetapi kenapa dadaku yang sesak? Bagaimana ini?"
"Aida aku harus bagaimana? Bagaimana caranya aku menjalani hidup?" Tangisannya semakin terisak-isak
"Aku sangat muak berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja tetapi sebenarnya tidak" ucap Keisha memukul-mukul dadanya yang terasa sesak
Aida menatap Keisha, merasakan apa yang du rasakan sahabatnya itu "Kei lakukan seperti dahulu, hadapi mereka yang menyakitimu? Jangan menahan diri karena itu akan menyakiti dirimu sendiri"
"kamu ingat,katamu mereka yang menyakiti orang lain pada akhirnya akan menghadapi karma mereka sendiri.
"Aku tahu kamu kuat dari pada wanita lain,menangislah hari ini tetapi untuk esok mari kita hadapi dunia dengan berani" Aida ikut menangis, menyadari betapa beratnya masalah yang di hadapi sahabatnya
"Jika kamu tidak kuat, coba lagi, coba terus, dan jika benar-benar sudah di titik melelahkan, bawa aku Kei, susahkan aku, repotkan aku terus, bersandar kepada bahuku, aku juga kuat jika itu tentang berbagi kepadamu"
"Keisha, tidak peduli seberapa jauh hidup mendorongmu ke bawah, tidak peduli seberapa banyak kamu terluka, aku percaya kamu selalu dapat bangkit kembali"
Tangisan Keisha semakin menjadi ketika melihat Aida juga ikut menangis, Aida memeluk sahabatnya sampai tenang. Entah berapa lama mereka berada di parkiran itu , karena langit malam sudah menghitam.
__ADS_1
Keisha menepis air matanya lalu tersenyum menyakitkan "Kamu mau hilang kewarasan hari ini?"
"Ya mari kita gila bersama dan melupakan si berengs*ek itu"
Keisha tertawa, mereka berdua berniat pergi ke sebuah club untuk pertama kalinya, dahulu mereka berdua saling bercerita sebelum memasuki usia 20 tahun ia akan melakukan hal gila di sebuah club.
"Lupakan hari sialan ini" Teriak Aida begitu sampai disana
Dapat dilihat, jika club itu di isi oleh kebanyakan para mahasiswa, mereka tertawa bersama, menikmati setiap alunan musik yang memenuhi seluruh ruangan kemudian mereka mengenyakkan diri di sofa. Beberapa minuman telah ada di meja mereka, berkaleng-kaleng bir dan alkohol dalam botol kaca terlihat menarik oleh mereka berdua
Musik semakin menghentakkan dalam ruangan yang di isi oleh lautan manusia, tubuh mereka meliuk kegirangan bercampur dengan keringat yang bercucuran
Keisha, pikiranya begitu tertekan, ia minum tanpa malu-malu, karena baru pertama meminum itu tubuhnya langsung goyah, beberapa gelas telah di minum oleh Keisha, ia mulai mabuk dan mulai menari mengikuti irama musik yang menghentak, Aida tertawa semringah membiarkan Keisha menikmatinya agar wanita itu bisa melupakan kepedihan di hatinya untuk sesaat.
"Kei, ada telepon" Ucap Aida melihat nama Albi tertulis di layar
"Hah!"
Aida mengambil ponsel yang terus berbunyi itu dan berniat untuk mengangkatnya, suara musik yang terlalu keras, Aida mematikan panggilan dan mengirim pesan kepada Albi
Friska menemui Albi, wanita itu mendatangi rumah Albi. Ia membawa beberapa berkas yang di minta oleh Albi. Begitu sampai, Friska melihat rumah itu sunyi, Friska di sambut ramah oleh pria tampan itu.
"Mana istrimu?" Tanya Friska penasaran karena tadi sore ia melihat Keisha sudah memasuki mobil
"Biasa, namanya anak kuliahan"
"Jadi gimana proposal yang kemarin?" Tanya Albi
"Albi, bagaimana kamu memperlakukan dia di rumah ini?"
"Maksud kamu?"
"Istrimu? Apa kamu mengatakan kamu masih mencintaiku?" Albi terkekeh geli
"Friska..."
__ADS_1
"Berhenti berpura-pura bodoh, aku sudah mengenal kamu cukup lama"
Karena Friska kembali membahas masa lalu, Albi bertanya kembali "kenapa?" tanya Albi pada Friska
"apanya?" Friska balik bertanya
"kenapa kamu menolak menikahiku?" tanya Albi to the point, sudah berapa lama Albi bertanya-tanya mengapa tiba-tiba Friska meninggalkan pernikahan mereka yang tinggal hitungan hari, keanehan itu semakin membuat Albi menjadi penasaran,dan kenapa selama dua tahun Friska tidak pernah menemuinya sekali pun.
Friska tersenyum kecut "rasanya jawaban termudah adalah aku tidak pantas bersamamu"
"setelah kita bertahun-tahun menjalin hubungan? Kamu masih merasa tidak pantas?" Albi merasa jawaban Friska adalah sebuah kebohongan
Friska tersenyum getir "Hhhhmm aku yang salah atas semua ini, sudahlah lupakan!!" ucap Friska, ada suata hal yang sulit di jelaskan oleh Friska. Namun ketika bersama Albi ia mengerti bahwa cinta itu indah dan keindahan itu ada pada pria itu, Albi selalu membuatnya bahagia, lelaki itu selalu berhasil memberikan apa yang di butuhkannya
"Apa yang kamu inginkan dariku?" tanya Albi kembali
"banyak hal, salah satunya apa aku bisa mendapatkan kembali cinta dan perhatian itu setelah ada wanita lain di sampingmu?" Albi terdiam beberapa saat
"Friska, jujur dulu hanya kamu yang aku inginkan, tetapi setelah dia masuk kedalam kehidupanku, merusak hari tenangku, dan entah kenapa aku selalu berharap dan yakin bahwa hanya dia yang akan mendampingiku selamanya"
Friska tersenyum getir "apa kamu mencintainya?"
"entahlah, aku masih bingung menjelaskan perihal sejauh itu" Albi menatap kearah Friska
"boleh aku mengatakan sesuatu?" tanya Friska
"apa?"
"kamu benar, aku tidak menikmati pernikahanku, terpuruk sendiri dengan hal-hal yang aku persulit sendiri, akhirnya percerain yang terjadi. Aku kurang bersyukur dengan kehidupanku yang sebelumnya" lalu mereka berdua sama-sama terdiam
"Albi,, maafkan aku menyakitimu namun jujur aku masih mencintaimu" ucapan Friska membuat Albi kembali terdiam
"Kamu tidak perlu memikirkan itu, lupakan saja! Oh ya, hubungi istrimu dia baru saja melewati hari yang berat?" Albi mendongak penasaran
"Aku pergi" ucap Friska menepuk bahu Albi
__ADS_1
Albi langsung menghubungi Keisha, tetapi tidak ada jawaban, Albi tidak menyerah, ketika ada yang mengangkat teleponnya, Albi mendengar suara yang berisik, teriakan dan detuman musik terdengar secara bersamaaan.