ISTRI BADASKU

ISTRI BADASKU
TETAP SAJA LUKA BAGI ORANG LAIN


__ADS_3

Dentuman musik memenuhi isi ruangan,aroma alkohol, asap rokok dan berbagai wangi parfum menyatu dalam ruangan itu. Lidya menyewa bar secara vvip untuk kesenangan ia dan teman-temannya. Setelah beberapa hari ini ia terkulai lesu, saatnya ia membalaskan dendam. Semua orang bersorak dengan meriah ketika Lidya mengeluarkan black card dari dompetnya "Guys mari kita bersenang-senang sampai mampus!" teriak Lidya


Mendengar itu,semuanya bertepuk tangan dan berteriak dengan suara menggema "Lidya, kau sangat kaya hari ini" ucap teman lelakinya


"Hempaskan uang suamimu itu" pungkas yang lain


"Ya, kalian berhak menikmati kekayaanku ini" sorak Lidya tertawa bahagia


Lidya menggoyangkan badannya, menari kesana kemari mengikuti alunan musik, terlihat kebahagiaan di wajahnya tidak bisa di bendung lagi,ia berfikir dengan otak liciknya tidak apa suaminya berselingkuh asal duit terus mengalir ke ATMnya,


Tiba-tiba Lidya di tarik oleh temannya untuk melihat kearah depan. Lidya bungkam, ia mengerjapkan kedua matanya, menatap Keisha sedang berkacak pinggang dengan aura yang sangat menyeramkan bahkan lebih menyeramkan dari hari biasanya


"Bagaimana kau Menikmatinya hari ini?" tanya Keisha dengan ekspresi datarnya tetapi tatapannya seperti mengintimidasi Lidya


Keisha kembali tertawa "Wooah, aku tidak percaya! Lihatlah dirimu sekarang? Bukankah di hari kemarin kau seperti mayat hidup?"


"Keluar kamu dari sini!" teriak Lidya menatap Keisha dengan tajam,baginya Keisha tidak ada hak untuk mengatur kesenangannya


"Silahkan nikmati kebahagiaanmu sebelum jatuh miskin"


"Apa kau ingin membunuhku sekarang? Jika iya, kenapa kamu memberiku makan?" ucapnya kembali, ia sangat senang mempermainkan Keisha


"Oh ya,kalau begitu sekarang muntahkan semuanya!" kata Keisha menjambak rambut Lidya dan menariknya keluar dari bar itu, Keisha yang memiliki postur tubuh lebih tinggi dari Lidya terlihat mudah membawa wanita itu keluar


Teman-teman Lidya terlonjak kaget "Perempuan itu siapa?" tanya teman lelakinya


"Anak tirinya Lidya!"


"Haaa! Dia menyeramkan sekali!" yang lain ikut mengangguk setuju


Begitu sampai di luar Lidya menepis tangan Keisha "Aku akan melaporkanmu atas tindakan kekerasan dan perbuatan tidak menyenangkan" ucap Lidya mengambil ponselnya dari dalam tas


"Benarkah? Silahkan lakukan?" Keisha tertawa


"Aku akan pergi" Lidya langsung mengalihkan pembicaraannya


Keisha menaikkan kedua alisnya lalu mencengkeram lengan Lidya "Aaa sakit" Lidya meringis kesakitan

__ADS_1


"Pembicaraan kita belum selesai ibu tiri!"


"Tidak, sudah selesai, sangat selesai dan suamiku menunggu di rumah" ucap Lidya berbalik badan, ia tidak ingin mati konyol saat ini


"BerhentiĀ  atau aku akan menyuruh Papa mengambil semua yang telah di berikan kepadamu, bukankah Papa sudah mengetahui kejadian tempo hari" Lidya langsung berhenti melangkah, ia tidak bisa membayangkan kalau kehilangan itu semuanya. Lidya belum siap kehilangan kemewahan itu dan ia juga belum siap di kucilkan oleh geng sosialitanya


"Apa yang kamu dapatkan setelah merencanakan pernikahan gilaku dengan Albi, dan apa kamu mengkhianati temanmu sendiri" Lidya menoleh kearah Keisha


"Aku mendapatkan perhatian lebih dari suamiku, dan apa salahnya dia sudah menikahi lelaki lain saat itu, hidup itu harus seimbang antara menerima dan memberi"


Keisha menatap wanita yang sedang tersenyum jahat itu "Apa benar kau tidak tahu apa-apa? Dia telah menyelamatkan keluarga Albi dua tahun yang lalu" Lidya membalikkan badan lalu mendekat kearah Keisha,sejenak ia berfikir cukup keras


"Tidak! Bukan dia yang menyelamatkan perusahaan keluarga Albi" Keisha terlonjak kaget, apa lagi ini? Melihat Keisha terdiam Lidya kembali berulah


"Atau bisa jadi iya Friska yang menyelamatkan pujaan hatinya"


"Kamu becanda?" teriak Keisha


"Tidak, aku hanya lupa karena kepalaku sering kamu jambak!"


"Apa perlu aku lakukan lagi supaya ingatanmu kembali?"


Lalu Lidya tertawa lepas "Kau buang kemana otakmu? Bukankah kau pintar?" ejek Lidya kembali


"Berani sekali-"


"Bye, aku pulang" Ucap Lidya tersenyum aneh


"Silahkan cari tahu di perusahaan Albi, maka kamu akan menemukan jawabannya" teriak Lidya semakin menjauh


***


Tatapan Albi terfokus pada layar ponsel, ia menatap nama Keisha. Ia berfikir sebelum memutuskan untuk menghubungi gadis itu


15 menit yang lalu Friska telah tiba kembali, ia memperhatikan Albi yang terdiam tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Friska memanggilnya beberapa kali namun Albi mengabaikannya


"Apa yang sedang kamu pikirkan?"

__ADS_1


"Apa kamu yang sakit?"


Albi masih terdiam, tatapannya masih terfokus ke layar ponsel. Tidak lama kemudian pintu ruangan terbuka setelah terdengar suara ketukan satu kali. Albi spontan menoleh kearah pintu


"Kamu belum pulang?" Tanya Dara terlihat menenteng beberapa makanan untuk Albi


Friska tersenyum ramah "Iya kak"


Dara tersenyum sebelum melanjutkan ucapannya "Friska aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian berdua, tetapi untuk saat ini kamu tidak boleh egois. Kamu tahu Albi sudah memiliki istri, kalian tidak bisa seperti dulu lagi"


Albi menoleh kearah Dara yang tengah menyusun buah yang ia bawa "Kak Dara hentikan!"


"Apa yang perlu di hentikan, yang kamu lakukan adalah hal yang salah, Albi kakak juga perempuan, istri mana yang baik-baik saja ketika di usir keluar oleh suaminya sendiri dan lebih membela kekasih di masa lalunya"


"Kak apa kakak tahu-" Friska menyentuh tangan Albi, ia menatap lelaki itu untuk tidak melanjutkan ucapannya


"Kak Dara aku minta maaf!" tutur Friska


"Jika kamu ingin minta maaf, lakukan kepada Keisha dan mama karena mereka yang tersakiti" lalu Dara berpamitan untuk pergi


Dara menghentikan langkahnya sebelum membuka pintu "Apapun alasan kamu dulu meninggalkan Albi dan untuk sekarang kamu ingin kembali lagi, tetap saja itu luka bagi orang lain!"


Mendengar ucapan Dara, Friska tertunduk lesu. Sangat jelas bahwa keluarga Albi tidak ingin menerimanya kembali. Tentu, pikir Friska. Keluarga mana yang baik-baik saja setelah membuat anaknya jatuh sakit berminggu-minggu.


Masih tersimpan di memori indahnya, dahulu keluarga Albi begitu menyayanginya. Terutama Bu Dini yang selalu menyuruh Friska untuk datang ke rumah hanya sekedar untuk makan. Ketika waktunya libur keluarga, Friska selalu di ajak. Tidak peduli kemana pun itu, Friska harus ikut, begitu juga Pak Fadly mengenalkan Friska kepada brand ternama untuk menjadikan ia model dari perusahaan mereka, Friska menemukan kebahagiaan dan ketenaran dalam waktu cepat.


Kenangan itu memenuhi isi kepala Lidya, suatu hari Albi mendatanginya dengan senyuman yang amat teramat manis "Sepertinya kamu sedang bahagia?" tanya Friska penasaran


"Hhhhmmm"


"Apa itu?"


"Papa ingin mengenalkan kamu kebeberapa brand ternama!"


"Oh ya" Friska tersenyum lebar kemudian memeluk Albi sangat erat


"Friska" panggil Albi ketika melihat wanita itu melamun

__ADS_1


"Albi aku merindukan itu!" ucap Friska menangis, Albi hanya menepuk dengan lembut bahu Friska, membiarkan Friska menumpahkan itu semua dengan tangisannya.


__ADS_2