
Suasana di hari minggu selalu menenangkan untuk berleha-leha. Keisha kembali merebahkan badannya. Dan di ranjang sebelah Albi masih tertidur pulas. Ia terlihat sangat lelah.
Mata Keisha tidak berpindah sedari tadi sedangkan otaknya masih memikirkan hal yang tidak perlu di pikirkannya, ia menatap suaminya. Albi berbohong perihal ia yang tidak menyukai siapa pun. Lebih tepatnya dia belum bisa move on dari kekasih bayangan masa lalunya.
Keisha menghela nafas berat.
Gadis itu memutarkan badan membelakangi suaminya.
Beberapa menit kemudian Albi terbangun dan langsung saja Keisha memejamkan matanya kembali.
Seperti biasa Albi selalu menggerakkan badannya sebelum menuju kamar mandi.
Tak begitu lama guyuran air terdengar membasahi badan pria itu.
Beberapa menit kemudian Albi keluar dengan dada telanjang dan hanya mengenakan cel*na dalam. Keisha yang sedang memainkan ponselnya langsung berteriak seraya menutup kedua matanya.
"Kenapa?" Tanya Albi mendengar teriakan Keisha yang memekakkan telinga, kemudian ia meraih ponselnya di atas meja
"Itu...."
Albi tersenyum kecil "Bukannya kamu tidak peduli?" Tanya Albi. Spontan saja Keisha berlari keluar kamar.
Sedangkan Albi hanya menggelengkan kepala, dan berpikir sejak kapan dia peduli dengan cara berpakaian Albi
Keisha menyandarkan tubuhnya di balik pintu kamar. Tidak lupa kedua tangannya mengacak-acak rambut panjangnya.Matanya baru saja melihat sesuatu yang menonjol dari balik celana lelaki itu
"Keisha" Panggil suara dari dalam kamar
"Apa?"
"Kesini"
"Mas albi sudah pakai baju apa belum?"
"Hmmm"
Dengan ragu-ragu Keisha menghampiri Albi. Pria itu sudah berpakaian rapi.
Albi mengenakan Kaos hitam dan celana jeans biru. Setelah tinggal berdua beberapa minggu ini, Keisha mulai sedikit mengetahui gaya berpakaian basic Albi, bagi Keisha ia semakin terlihat tampan. Selain kasual dan terkesan effortless,paduan yang satu itu tidak pernah gagal bikin Albi terlihat keren di mata Keisha.
"Siap-siap sana"
"Mau kemana?"
__ADS_1
"Kerumah Mama"
"Kok Mas nggak bilang?" ucap Keisha kembali kesal
"Inikan sudah di bilang"
"Maksudnya"
"Bau, mandi sana" Sahut Albi seraya menutup hidungnya. Keisha mengernyitkan keningnya kala melihat Albi selalu mempersingkat pembicaraan.
Pukul sebelas tepat Albi dan Keisha langsung berangkat ke rumah orang tuanya.
Seperti Keisha, Albi juga lebih suka mengendarai mobilnya sendiri.
Masih menjadi pertanyaan bagi Keisha kenapa Albi mengajak ia ke rumah mertuanya secara mendadak.
Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam.
Terkadang Keisha juga kesal melihat Albi, jika Keisha tidak memulai obrolan dahulu. Maka kesunyian yang selalu menemani mereka.
Cuma butuh tiga puluh menit perjalanan untuk sampai ke rumah Bu Dini.
Beberapa foto terpajang di dinding rumah itu.
Yang lebih menarik bagi Keisha melihat foto kecil Albi. Ternyata sudah dari kecil ia memiliki wajah tampan.
Keisha langsung di sambut oleh Ibu mertua dan Kakak iparnya.
Albi meninggalkan Keisha begitu saja. Sedikit canggung itu yang di rasakan Keisha."Mas Albi mau kemana?" tanya Keisha tidak mendapatkan jawaban dari pria itu
Sudah menjadi tradisi di keluarga Albi,setiap sebulan sekali mereka selalu berkumpul bersama.Sesibuk apapun berkumpul keluarga tidak boleh di lewatkan, dan setiap setahun sekali, seluruh anggota keluarga harus pergi berlibur bersama dan tidak ada alasan untuk tidak ikut
Keisha ikut duduk bersama mereka, berbagai pertanyaan mulai di lontarkan Kakak iparnya.
"Bagaimana sikap Albi?" Tanya Istri si sulung. Keisha tidak bisa menjelaskan, ia hanya tersenyum kecil
"Albi memang memiliki sikap yang aneh" Sambung kakak iparnya yang lain. Lagi-lagi Keisha hanya tersenyum.
Lalu istri Bara keluar dengan membawa segelas minuman "Dia punya mantan yang tidak akan bisa di lupakannya loh Kei, makanya dia semakin cuek sama perempuan" Ucapnya lalu bergabung untuk duduk
Keisha menoleh lalu kembali tersenyum "Sebelum sama kamu, ia sudah beberapa kali di jodohkan tetapi selalu perempuannya yang angkat tangan" Ucapnya sambil tertawa
__ADS_1
"Tetapi kamu hebat juga, bisa mau sama dia"
"Tetapi tetap saja kamu pemenangnya kok Kei" Bela istri Dewa, Kakak ketiga dari Albi
"Ya, kakak cuman mengingatkan,tidak perlu pakai hati dengan Albi, nanti kamu sendiri yang terluka?" Ucap istri Bara kembali bersuara, Keisha hanya tersenyum kecil lalu menyeruput minumannya
Para pelayan sibuk menyusun hidangan di atas meja. Dan para menantu Bu Dini asyik berbagi cerita tentang anak mereka. Bu Dini mempunyai anak sebanyak empat orang. Dan itu semua berjenis kelamin laki-laki. Setiap menantunya sudah mempunyai anak. Kecuali Keisha, menantu baru di keluarga itu.
Mata Keisha sedari tadi sibuk mencari keberadaan Albi. Ia benar-benar ingin cepat pulang. Namun, pria itu tidak terlihat.
"Kei, ayo makan" Ajak Dara istri dari si sulung. Keisha mengangguk kecil.
Semuanya mulai menikmati makanan. Tidak begitu dengan Albi, dia tidak nampak sama sekali padahal ini acara keluarganya.
"Albi suka tidak nyaman kalau makan bersama" Tutur Bu Dini, seakan tahu apa yang di cari menantunya
"Padahal ini keluarganya semua" Omel Dara yang sudah mengenal Albi selama 7 tahun, Keisha hanya tersenyum kecil
"Kei dekatin dia terus, kalau bisa ganggu sampai dia marah" Suruh Bu Dini, lagi-lagi Keisha hanya tersenyum
"Tetapi sebenarnya Albi memiliki hati yang lembut kok Kei" ucap Dara kembali, menyendokan daging ke piring Keisha
Selagi makan mereka juga sibuk membahas berbagai hal. Keisha melihat ke tiga Kakak Albi yang tidak kalah tampan juga.
Keisha hanya terdiam, ia sendiri belum terbiasa bersama keluarga Albi.
Selesai menikmati makanannya, Keisha kembali mencari keberadaan suaminya di setiap sudut rumah mertuanya. Tetap saja dia tidak di temukan, Keisha berfikir mungkin Albi sudah pulang lebih dulu. Tidak berselang lama Keisha berpamitan dengan alasan ingin mengunjungi Papanya.
Baru saja Keisha menaiki taxi, Albi keluar dari persembunyian. Pria itu terlihat mencari keberadaan istrinya.
"Ada apa denganmu? kamu membawa istrimu kesini tetapi kamu abaikan begitu saja" Omel Dewa melihat Albi duduk di meja makan
"Entah,apa salahnya memperlakukan dia dengan baik" sambung istrinya
Dara memukul bahu Albi, menatap adik iparnya itu dengan kesal, jika dulu ketika membawa pacarnya ia begitu bersemangat mengenalkan kepada keluarganya, bahkan menyuruh kakak dan mamanya untuk memperlakukan pacarnya dengan baik, sedetik pun ia tidak pernah meninggalkan kekasihnya.
"Heran sama kamu,fokus sama satu perempuan" ucap Dio
Tiba-tiba Bara masuk dari arah samping "Ya mana bisa, otak dan pikirannya sudah di penuhi oleh perempuan yang tidak tahu diri itu"
Albi mendongak menatap Bara yang selalu mencari masalah kepadanya "Tidak ada urusan denganmu" ucapnya
Pllaaaak! Bu Dini memukul kepala Albi, ia menatap anaknya dengan tatapan mematikan "Benar apa yang di katakan kakakmu, sampai kapan kamu akan di bayangi masa lalu?"
__ADS_1