
Flashback dua tahun yang lalu
Hari ini Albi dan Friska begitu bersemangat, karena hari ini mereka akan melakukan fitting baju pengantin di sebuah butik ternama. Friska mengerjapkan mata melihat pesona tampan dari foto yang di kirimkan kekasihnya itu.
Berselang satu menit pesan Albi juga masuk secara bersamaan
Sayang kemungkinan aku terlambat menjemput kamu!
Aku ikut meeting keluar bersama papa, tak lupa emoji hati ia sematkan di akhir pesan
Friska tersenyum, lalu jari jemarinya dengan lincah membalas pesan
Tidak apa sayang, aku berangkat sendiri, kita ketemu di butik saja
Oke, kamu hati-hati di jalan balas Albi mengakhiri pesan mereka
Ketika memasuki pukul 4 sore, Friska keluar dari rumahnya seorang diri. Di hari biasanya ia selalu di antarkan oleh sopir dan di temani oleh asisten pribadinya. Hari ini moodnya sedang bagus, ia memilih berkendara sendiri.
Baru setengah jalan dari rumahnya sebuah mobil memepet mobilnya, Friska langsung menepikan mobilnya dan melihat dua orang lelaki berpakaian serba hitam khas seorang pengawal mendekati mobilnya, tak berselang lama seorang lelaki yang ia kenal juga turun dari mobil itu
"Kak Bara!" Gumam Friska
Dahinya mengkerut, apa yang sedang terjadi pikirnya? Bara mengetuk kaca mobil untuk menyuruh Friska membukakan pintu, Bara tersenyum lalu duduk di kursi sebelah, Friska menoleh melihat lelaki itu dengan raut wajah kebingungan
Friska menyunggingkan senyum lalu bertanya "Ada apa Kak Bara?"
"Bagaimana jika kamu menemaniku dulu?"
"Tapi kak, aku ada janji dengan Albi"
Lelaki itu menyeringai lalu menatap tajam "Sombong sekali adik iparku ini"
"Kita ke kafe dekat sini saja, hanya butuh 10 menit" ucap Bara, Friska mengangguk kemudian menarik pedal gasnya dan berhenti di sebuah kafe yang cukup sunyi dari pengunjung
Ketika Bara masuk, Friska juga ikut masuk, wanita itu masih di hantui atas berbagai macam pertanyaan "Duduk" Suruh Bara
__ADS_1
Ketika mereka sudah duduk dengan nyaman, Bara menatap Friska lekat-lekat kemudian menyeringai menakutkan "Kamu lebih suka menikahi Albi atau melukai Albi?"
Friska mencoba tersenyum "Maksud kak Bara?"
"Saya rasa kamu tidak bodoh, batalkan pernikahan kalian" ucap lelaki itu memainkan sendok di gelas kopinya, Friska menatap tajam tidak mengerti apa yang di inginkan Bara dari dirinya
Bara menggeser kursinya mendekati Friska "Putuskan sekarang, aku tidak suka menunggu hal yang tidak penting" ucapnya mencengkeram lengan Friska dengan erat, Friska meringis merasakan cengkeraman kuat dari lelaki itu
"Aku tidak suka adikku menikahimu!"
"Kak Bara lepaskan" ia melepaskan cengkeramannya lalu kembali tertawa jahat
"Apa yang salah, Albi juga adiknya kamu"
"Saya tahu, tapi dia sangat mengganggu!"
"Bagaimana pun juga ia tidak berhak mengambil alih perusahaan yang sudah aku pegang bertahun-tahun,butuh kerja keras untuk menaikkan nama perusahaan itu dan setelah jaya, dia menikah lalu mengambil alih!"
"Padahal dia hanya bisa merengek dan berdiam di rumah dengan sifat anehnya itu! Tetapi ia berlagak menikah dan mengambil semuanya!" Friska terlonjak kaget mendengar ucapan Bara yang begitu membenci Albi. Bukankah mereka bersaudara tetapi kenapa dia begitu kejam?
"Dengan kehadiran Dewa sudah cukup merepotkan, sekarang di tambah dengan anak aneh itu"
"Kak Bara tidak pantas di sebut seorang Kakak!" Friska menatap tajam penuh benci
Bara membalas dengan tatapan tajam yang menusuk "Ya, jika kamu tidak ingin hal lebih terjadi kepada Albi, lupakan pernikahan kalian"
"Emangnya kamu siapa? Tidak ada yang berhak membatalkan pernikahan kami"
"Oh ya? Saya mendengar gosip seorang mafia sedang mengincar kamu bukan? Dan kalian juga sudah keluar kota bersama? Apa dia sudah tidur denganmu?" Friska terperangah, perkataan Bara berhasil membuatnya membuang nafas jijik. Bara benar-benar tercela, selalu mencari celah sempit untuk masuk
"Itu semua tidak benar, aku dan dia keluar kota hanya sebatas pekerjaan?"
"Apa Albi sudah tahu kalian keluar kota berdua? Haaa, kasihan sekali adikku!" Bara tertawa lepas dengan tatapan yang membunuh
"Kamu benar-benar kelewatan!"
__ADS_1
"Oh tentu, saya juga tahu mafia itu menyukaimu, tinggalkan pernikahan kalian!"
"Aku tidak akan melakukan itu hanya karena tikus kecil mengganggu hubungan kami!"
"Silahkan, berarti kamu menyeret Albi kedalam kematian, kamu tentu tahu apa yang di lakukan mafia itu kepada Albi?" ucap Bara menunjukan sebuah pesan ancaman dari kelompok mafia itu,tak ketinggalan mereka juga mengirim foto seorang anak pengusaha yang baru saja mereka bunuh
"Kak Bara" teriak Friska
"Sekali lagi lindungi Albi jika memang kamu mencintainya, dan menikah dengan mafia itu lebih baik, supaya Albi mengerti alasan ia di tinggalkan"
Kemudian Bara bangkit dari duduknya, menepuk bahu wanita itu dan kemudian pergi meninggalkan Friska yang masih terdiam kaku.
Albi sudah 15 menit menunggu di butik itu, namun Friska tak kunjung datang. Albi mencoba menghubunginya, tetapi Friska mengabaikannya. Sebuah pesan masuk langsung membuat Albi terduduk lemah .
Mari kita batalkan pernikahan ini!
Albi tidak ingin menunggu lama, ia mengunjungi kediaman Friska, ia ingin mendengar penjelasan dari gadis itu namun ia tidak menemukan Friska ada disana.
Setiap hari Albi datang, tetapi hanya penolakan yang ia dapat. Tiga minggu setelah kejadian itu, Albi mendengar kabar bahwa Friska telah menikah dengan seorang pengusaha.
Satu hari setelah itu Albi jatuh sakit, ia terbaring berhari-hari di kasurnya, berharap Friska menemuinya dan memberikan penjelasan kepada dirinya. Melihat kondisi Albi yang semakin parah, Bu Dini ingin menemui Friska secepatnya, "Albi apa yang bisa mama bantu" tanya Bu Dini seraya mengelus rambut anaknya
"Bangun, busungkan dadamu, tidak hanya dia perempuan di dunia ini" ucap Pak Fadly mulai merasa gerah melihat Albi yang hanya diam membisu
"Kamu itu laki-laki, tidak pantas rasanya menyia-nyiakan hidup untuk orang yang sudah menyakitimu"
Albi hanya terdiam, meratapi kesedihan dan kepedihannya. Bara dari sisi pintu melihat Albi dengan wajah tertunduk, ia tidak melakukan apa-apa untuk menyemangati Albi
Hari ini Bu Dini dan Dara pergi ke sebuah mall untuk membelikan beberapa hadiah untuk anak Dewa yang akan berulang tahun beberapa hari lagi, tatapan Bu Dini terpaku pada seorang wanita yang ia kenali, ia melihat Friska bersama suaminya. Friska tertawa merangkul lengan lelaki itu, seperti ia tidak memiliki masalah.
Dara mengalihkan pandangannya pada Bu Dini, dan ia juga melihat hal yang sama
Dara menggenggam tangan ibu mertuanya sangat erat "Kenapa ada perempuan seperti itu?" tanya Bu Dini di sela-sela kemarahannya
"Keluarga kita kurang baik apa kepadanya?" Dara hanya terdiam memeluk ibu mertuanya, ia mengerti perasaan itu.
__ADS_1