
Tubuh Keisha limbung, beberapa kali ia hampir terjatuh, Aida mengedipkan matanya ia berusaha menarik kesadaran kembali untuk menjaga Keisha dari rayuan lelaki hidung belang.
"Hi, berani kau menyentuh temanku, ku patahkan tanganmu" teriak Aida ketika melihat seorang pria menyentuh bahu Keisha
"Sebelum kau mematahkan tanganku, aku sudah membaringkan mu di ranjang"
Aida mendengus kesal, ia mendekati pria itu, sekali hantaman lelaki itu terjatuh, Aida kembali menampar pipi pria itu "Dasar mulut jahanam!" ucap Aida tertawa lepas melihat pria itu tidak memberikan perlawan
Melihat Aida yang sedang berantem, Keisha mengedipkan matanya lalu Keisha mengetuk sisi kepalanya untuk menghilangkan pusing
"Aida kenapa?" teriak Keisha
"Tidak apa, lanjutkan saja" balas Aida berteriak, Keisha mengangguk dan ia kembali menari mengabaikan nyeri yang menyerang kepalanya
Aida melepaskan cengkeramnya dari pria itu, dan membiarkan lelaki itu pergi "Dasar wanita gila" teriak pria itu dari jarak yang sedikit jauh, Aida hanya membalas dengan mengangkat jari tengahnya
Keisha semakin kehilangan kendali, ia berteriak sesuka hati, sedangkan Aida masih menunggu dengan harap-harap cemas berharap Albi segera datang karena ia juga merasakan tubuhnya yang mulai goyah.
Sepanjang perjalanan macet parah, mobil Albi tidak bisa bergerak sama sekali, lelaki itu terlihat beberapa kali memijit pelipis matanya. Aida juga merasakan kepalanya mulai pusing, tak berselang lama ia menghubungi Agra meminta pria itu untuk menjemput mereka di sebuah club.
Hanya butuh setengah jam Agra sampai di tempat mereka, ia melihat Keisha dan Aida bersender di sofa yang sama
"Apa yang kalian lakukan berdua?" Teriak Agra, mereka berdua tersenyum lepas menatap kedatangan pria tampan itu
"Aaaa pacar aku datang" Tunjuk Keisha semringah
"Besok kuhajar kalian berdua" Ucap Agra memapah dua orang itu menuju pintu keluar
Ketika sampai di luar Aida muntah beberapa kali lalu ia tersadar "Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Agra menatap gadis mungil itu
"Iya" Ucap Aida menekan-nekan kepalanya
Tidak begitu dengan Keisha, ia masih sibuk berjalan kesana kemari dengan sempoyongan. Agra dan Aida mengikuti dari belakang
"Papanya selingkuh lagi" Ucap Aida membuka obrolan
"Jadi ini alasan kalian masuk kesini?"
"Hhhmmm, ia menangis sampai bingung caranya untuk melanjutkan hidup lagi"
__ADS_1
"Kak Agra tahu ia begitu banyak mengalami luka yang tidak bisa di lihat, ia menyimpan seorang diri" Agra terdiam seraya memandangi Keisha yang tiba-tiba berjongkok
"Setiap hari ia tersenyum manis untuk menutupi lukanya agar orang tidak menanyakan kamu kenapa Kei?"
"ya, kebanyakan orang yang ceria menahan rasa sakit yang mengerikan" Tutur Agra
"Hhhmmm, ia juga memiliki trauma yang membuat ia ketakutan"
"Trauma?"
"Hhmmmm kematian mamanya selalu membekas di ingatannya"
"Kenapa?"
"Katanya di hari kepergian Mamanya, ia masih saja mengabaikan mamanya yang saat itu tengah ribut dengan papanya"
"Itu bukan salah dia"
"Itu yang selalu kuyakinkan, tetapi dia tidak bisa menerima itu, ia tetap menyalahkan diri sendiri"
Satu jam kurang bermacet-macetan, Albi melihat Keisha tengah berdiri di bahu jalan, kemudian ia menepikan mobilnya dan berjalan menuju kearah istrinya.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Albi sedikit geram
Keisha mundur beberapa langkah untuk mendekat kearah Aida
"Pacar aku, suami aku" Kata Keisha bergantian menunjuk pria itu
Lalu ia meringis memukul kepala "Aida, ternyata aku juga sampah!" Kemudian ia menghentakkan pantat dan duduk bersimpuh
"kalian tau rasa sakit yang paling buruk adalah ketika aku tersenyum hanya untuk menghentikan air mata yang jatuh" ucapnya lalu tersenyum kembali
"Kei ayo berdiri" Ajak Aida merangkul bahu sahabatnya
Keisha menangis lalu tersenyum kembali "Aida dia mencuri ciuman pertamaku!" Tunjuknya kearah Albi, mendengar itu Albi batuk-batuk kecil sedangkan Agra hanya tersenyum kesal
"Bibirku yang malang" Ucapnya menyentuh bibirnya berulang kali
"Ayo berdiri dan kita pulang" Pungkas Albi
__ADS_1
"lepaskan!" Teriak Keisha menarik tangannya lalu ia berdiri tegap. Tak lama ia kembali tertawa lepas
"Dia menyukai bibirku tapi tidak dengan tubuhku, padahal tidak ada yang salah dengan bentuk tubuhku" Ucapnya seraya menyentuh kedua dadanya, spontan Aida menarik tangan Keisha
"Anak ini, besok kamu akan malu sendiri begitu menyadari kebodohanmu ini"
"Kenapa?" Tanyanya kembali meringis
"Aida aku begitu menyedihkan, ia masih mencintai masa lalunya, bagaimana ini? Aku tahu itu dan itu menyesakkan setiap kali aku mengingatnya"
Lalu Keisha berbisik di telinga sahabatnya, namun tetap terdengar oleh kedua orang pria itu "Kamu tahu, tubuhnya begitu menarik ia memiliki payudar* yang menjulang dan tentu saja, siapapun akan tertarik melihatnya" Keisha kembali menyentuh dadanya
"Keisha" Teriak Aida, mukanya mulai memerah menahan malu melihat ulah sahabatnya
"Kalian pulang saja" Suruh Albi kepada mereka berdua, Agra tersenyum kecut lalu tangan Aida menahannya untuk tidak melakukan apapun
Keisha kembali berjongkok memandangi hamparan pasir kecil yang bertebaran di bahu jalan, tak lama ia menangis kembali. Albi ikut berjongkok bersama wanita itu, Albi menyentuh dagu Keisha dan menarik wajah Keisha dengan jari telunjuknya hingga ia menengadahkan wajahnya kearah Albi
Betapa sedihnya wajah gadis itu, Albi menatap wajah yang begitu kecil namun cantik sekali "Mas Albi aku selalu memikirkanmu bahkan ketika kamu meninggalkanku sendirian" ucapnya, lalu ia kembali menundukkan kepala
"istriku kenapa? Tidak ada yang meninggalkan mu" tanya Albi menatap Keisha yang masih menunduk
Ucapan Albi di dengar oleh Keisha, ia menatap suaminya, Keisha tersenyum ketika tatapannya bertemu
"dengar,, aku suamimu sekarang jadi ayo berbagi setiap masalah yang kita hadapi? Dan tidak ada yang boleh menyakitimu tanpa seizinku" ucap Albi menggenggam erat tangan Keisha
"kamu tidak sendiri, ada aku! Sekarang apa kamu sakit?" Albi mulai khawatir melihat wajah pucat istrinya
Keisha menggelengkan kepala, lalu ia pun bangkit dari duduknya, tak lama Keisha memuntahkan semua isi perutnya akibat pengaruh alkohol, cipratan itu mengenai baju kemeja putih yang di kenakan Albi.
Albi menatapnya kemudian tersenyum, lelaki itu menyentuh wajah Keisha perlahan dan tatapannya begitu lembut
"jangan pernah berfikir bahwa kamu sendirian lagi"
"Kei kamu itu cantik, cerewat dan selalu menggerutu, dan badan kamu juga seksi jadi berhenti membandingkan dirimu dengan orang lain"
Keisha hanya terdiam memandangi Albi, kepalanya seperti tidak bisa mencerna ucapan seseorang.
"sekarang ayo kita pulang" ajak Albi mendekatinya lalu memeluk mesra istrinya.
__ADS_1
Sesampainya di mobil, Albi tidak berhenti menatap Keisha yang sudah tertidur, ia menyisirkan rambut Keisha kebelakang telinga gadis itu "aku bukan tidak menyukaimu, sebenarnya aku ingin lebih dekat mengenalmu, jadi kuharap kamu tetap di sisiku" pinta Albi,