
Mata Keisha yang sedang tertuju pada layar ponsel beralih pada pintu kamar yang baru saja terbuka, melihat Albi. Keisha langsung memejamkan matanya, Keisha memilih mengabaikan suaminya yang menyebalkan itu "Kamu masih marah?" tanya Albi berdiri di sebelah ranjang Keisha
Keisha hanya terdiam, iya tentu saja ia masih marah melihat sikap Albi yang plin-plan, Albi membuka selimut yang menutupi wajah gadis itu. Dan ia melihat tatapan sinis dari istrinya, Keisha masih mencoba menahan diri untuk tidak emosi, ia menghela napas kemudian "Aku ngantuk,tolong jangan di ganggu!"
"Aku yang salah, aku minta maaf Kei, dan sampai kapan kamu akan seperti ini?"
"Tidak tahu sampai kapan, bisa jadi sampai dunia ini hancur"
"Keisha" panggil Albi begitu lembut,Albi juga menyadari sikap Keisha yang sensitif karena gadis itu baru menginjak usia dewasa. tidak ada jawaban dari Keisha, Albi kemudian keluar dari kamar, ia menghubungi penjaga rumah untuk menemuinya di ruang tamu
"Ada apa tuan?" tanya lelaki paruh baya itu ketika melihat Albi tengah asyik dengan ponselnya
"Besok ranjang tidur di kamar saya akan di ganti"
"Iya tuan"
"Orang furniture akan datang besok siang, dan untuk kedua ranjang di atas silahkan kamu ambil"
"Tetapi tuan itukan mah-"
"Saya tidak suka mengulangi ucapan saya untuk kedua kalinya" ucap Albi dan menyuruh Pak Herman untuk kembali ke pos jaga
***
Keisha dan Aida duduk di bangku kayu, di bawah pohon besar yang rindang sambil bercerita serius "Bagaimana dengan papamu" tanya Aida penasaran setelah hari itu
"Aku sempat menemui Papa di kantor dan Lidya di rumah" Aida menatap Keisha menunggu kelanjutan ceritanya
"Lidya sakit"
Aida mendengus geli, soal memainkan drama memang Lidya pemenangnya "Drama apa lagi yang di buat?"
"Entahlah, dan papa sudah tahu bahwa ia yang mendorongku ke dalam kolam"
"Syukurlah,lalu?" tanya Aida
"Kamu tahu sendiri papa aku gimana, Pak Rudi balas dendam dengan cara yang seenak hatinya saja"
__ADS_1
"Sepertinya papa benar-benar mencintai Lidya, ketika aku suruh untuk menceraikannya, Papa hanya diam dan menunduk lesu"
"Apa aku harus menerima dengan lapang dada,dan mengikhlaskan semuanya?" tanyanya lalu tersenyum
"Lalu bagaimana dengan mama?" Aida balik bertanya
"Entahlah, semua terlihat rumit Ai,terkadang aku juga berfikir aku sedikit egois kepada Papa, tetapi terkadang aku juga tidak memikirkan perasaan mama"
"Keisha, mama kamu di atas sana pasti mengerti dan ia tidak akan menyalahkan kamu" Aida memberikan pelukan sebagai penguat untuk sahabatnya
Beberapa saat kemudian suara yang tak asing menyapa mereka "Hi!" Sapa Agra, entah bagaimana caranya pria itu selalu menemukan keberadaan mereka
Aida dan Keisha sama-sama menoleh, kehadiran Agra membuat Aida menahan napas di tambah pria itu duduk di sebelahnya dengan nyaman
Tangan kanannya menyodorkan sebungkus cokelat kearah Keisha "Terimakasih" Ucap Keisha
"Untuk kamu juga ada" Aida sempat terdiam, sebelum mengambil cokelat dari tangan Agra, Aida mendesah tanpa sadar sampai Keisha dan Agra terkekeh geli
Melihat sikap Aida yang tidak seperti biasanya, Keisha kembali menggoda sahabatnya itu "Ai kenapa tiba-tiba kamu menjadi wanita pendiam? Apa sesuatu telah terjadi di antara kalian berdua?" tebakan Keisha membuat Aida batuk-batuk kecil sedangkan Agra hanya tersenyum kecil menanggapinya
"Tahu, ketika kamu jatuh cinta kamu akan banyak diam!" goda Keisha terkekeh geli, Aida mendecih lalu menepuk bahu sahabatnya
"Tidak seperti itu nona!" mereka bertiga tertawa bersama dan kembali keruangan belajar
Ketika sampai di ruangan, Keisha merasakan ada hal yang aneh yang di sembunyikan sahabatnya. Keisha menatap lekat kearah Aida, sampai wanita itu tidak nyaman dengan tatapan intimidasi dari Keisha
"Kamu menyukai Agra?" tanya Keisha to the point
Aida langsung menutup mulutnya dan mengalihkan pandangan kearah lain "Hhhmm, kamu tidak bisa berbohong sama aku Ai!"
"Benarkan kamu menyukainya?"
"Bukankah kamu juga menyukainya Kei?" Aida bertanya balik
Keisha mengangguk "Ya tetapi hanya sesaat"
"Kalau begitu kamu menyukai Albi?"
__ADS_1
Keisha terdiam lalu tersenyum "Iya, sekarang giliran kamu?"
"Sebenarnya, aku telah mengatakan mencintainya tetapi dia menolakku karena dia menyukai sahabatku" Aida tersenyum ketika mendapatkan pelukan dari Keisha
"Tidak apa ayo kita coba lagi, Aida sekarang kamu harus bersikap tidak peduli kepadanya"
"Kenapa?"
"Karena laki-laki itu begini, ketika di kejar dia akan menghindari kita tetapi di saat kita abaikan dia, dia akan bertanya-tanya dan menjadi penasaran? Kenapa dia tidak mengejarku lagi?"
"Apa mungkin?"
"Kita coba saja, kembali bersikap seperti Aida yang dulu karena kamu itu berharga tidak pantas di tolak" Aida tersenyum lega
Seperti permintaan Albi, kini kamarnya hanya memiliki satu ranjang tidur. Tak ada lagi jarak di antara mereka. Albi akan menghilangkan pikiran buruk tentang dirinya dari otak Keisha. Hari ini Keisha sengaja pulang malam, ia menghabiskan waktu bersama Aida, berbelanja sepuasnya hal yang sudah lama tidak di lakukan.
Pukul 10 malam Keisha tiba di rumah, ia membawa belanjaan menuju kamar, saat pintu di buka, Keisha melotot aneh melihat perubahan dari sisi kamarnya dan kembali membuat ia kesal. Di ranjang itu Albi sudah terbaring dengan mata yang tertutup
"Mas Albi mana ranjang tidurku?" tanyanya sedikit emosi
Albi membuka matanya, tersenyum menatap Keisha yang sedang berkacak pinggang di hadapannya "Karena sudah menikah tidur bersama lebih baik"
"Kenapa kamu tiba-tiba begini?"
"Sssstttt aku lelah!" ucapnya meletakkan telunjuk di bibirnya
Keisha merungut kesal, mau tidak mau ia harus tidur disana, jika tidur di luar Keisha akan di hantui oleh ketakutan. Setelah membersihkan diri, dengan ragu ia menaikki ranjang itu dan membaringkan tubuhnya, Albi menghadap ke sisi kiri dan Keisha memilih menghadap ke sisi kanan. Tak lama kemudian sebuah tangan besar melingkar di perutnya dan bibirnya mencium rambut Keisha.
"Hari ini aku kehilangan banyak tenaga" bisik Albi, kemudian dengan cepat Albi mengangkat tubuh Keisha, sekarang posisi mereka saling berhadapan. Keisha merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya
"Kamu boleh marah, tetapi tidak boleh berfikir akan meninggalkanku!" ucap Albi dengan senyuman yang menggoda, tangannya mengusap pipi Keisha, lalu ia membenamkan wajah Keisha dengan lembut ke dadanya
Keisha menarik nafas, senyuman mengukir di wajahnya. Albi sangat wangi, parfum mahalnya begitu menggairahkan, seakan Keisha telah melupakan kekesalan di hatinya
"Jauhkan pikiran mesummu itu, kuliah dulu yang benar!" ucap Albi menyentil dahi Keisha,
"Aaaaaa sakit!" pungkas Keisha lalu tersenyum lepas.
__ADS_1