
Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk tidak pergi ke kampus. Agra mengajak Keisha berkeliling menyusuri jalan di perkotaan. Agra yang suka membuat lelucon, beberapa kali membuat Keisha tertawa lepas. Pria itu selalu mampu menghibur Keisha. Sangat jauh berbeda dengan suaminya. keisha yang ceria dan Agra juga si ceria tidak ada habisnya membuat lelucon.
Agra memberhentikan mobilnya di sebuah tempat yang menghadap langsung ke lautan lepas. Pria itu mengajak Keisha bermain game di ponsel miliknya. Agra merasakan debaran setiap kali mereka bersama. Rasanya pria itu tidak ingin melihat Keisha melamun atau pun bersedih.
Angin laut terdengar begitu riuh, deburan ombak beberapa kali menghantam batu karang, Keisha menarik nafasnya lalu menghembuskan secara perlahan. Pikirannya sedikit lebih tenang.
"Bagaimana? Kamu sudah merasa lebih baik?" Tanya Agra, melihat Keisha asyik memotret pemandangan di sekitar
"Ya, berkat dirimu dan terimakasih telah membawaku kesini" Ucapnya tersenyum lepas
"Aku senang mendengarnya, bilang saja kepadaku jika kamu ingin sesuatu, akan aku lakukan apapun itu"
"Apapun?" Tanya Keisha menatap Agra
"Hmmmmm"
"Sebenarnya aku ingin pergi ke Hawaii" Ucap Keisha tersenyum lebar
"Ayo kita ke hawaii, tenang saja Kei keluargaku begitu kaya" Agra menanggapi dengan serius
"Apa kamu sedang menyombongkan diri? Tidak usah aku hanya asal bicara"
"Tidak, tetapi kenyataannya seperti itu" Ucap Agra sedikit angkuh
Keisha tersenyum lebar "Heool!"
"Kamu yakin tidak mau ke hawaii?" Keisha mengangguk
"Kenapa laut ini begitu tenang, dan mampu membuat kita berlama-lama di sini" tanya Keisha
"Kamu tahu penyair asal Bengali, India"
"Tidak, apa hubungannya dengan laut?" tanya Keisha berdelik heran
"Katanya kamu tidak bisa menyeberang lautan hanya dengan berdiri dan menatap air"
"Lalu?"
"Bahwa kita tak boleh menyerah pada kehidupan, sekeras apa pun ia menerjang, kita harus berani untuk menghadapi dan melaluinya. Tak akan ada hasil bila yang dilakukan justru meratapi dan berkeluh kesah saja"
"Dan ada lagi?"
__ADS_1
"Apa itu?"
"Van Gogh pernah menuturkan bahwa hati manusia ialah ibarat lautan. Terkadang tenang namun juga menghanyutkan. Memiliki amarah yang luar biasa tinggi namun juga kesabaran yang tak terhingga"
"Seperti halnya kamu Keisha,jangan berlarut-larut meratapinya sendiri" Keisha tersenyum manis
"Kak Agra begitu pandai mengambil hati orang lain"
"Hahaah, tidak semua hati bisa aku masuki"
"Keisha" panggil agra menatap serius
"Kenapa"
"Sebenarnya ada yang ingin kukatakan kepadamu!" Ucap Agra, lalu mengambil ponsel gadis itu dan menggenggam tangan Keisha sangat lembut. Dari tatapannya begitu tulus,
"Apa itu?"
"Keisha sebenarnya aku jatuh cinta kepadamu,aku lelaki yang tidak suka basa basi" Keisha terlonjak kaget mendengar pengakuan cinta itu, untuk pertama kalinya ada seorang pria mengungkapkan perasaan kepada dirinya,
Dan Keisha juga merasakan debaran setiap kali Agra menatapnya penuh cinta. Pria itu selalu berhasil membuat ia menghilangkan lelah di pikiran. Lagi-lagi sangat jauh berbeda dengan Albi yang tidak pernah menatap Keisha sekali pun
"Lelucon apa ini?" Tanya Keisha mengalihkan keseriusan Agra
Bukan ingin menyakiti hati Albi, tetapi hubungan Keisha bersama Albi seperti tidak ada kejelasan. Bahkan Albi juga pernah mengatakan ia hanya memanfaatkan dirinya. Begitu juga orang tuanya yang hanya mempermainkan dirinya.
Setahu Keisha, Albi tidak mencintai dia, lelaki itu masih terjebak bersama kenangan masa lalu. Bahkan untuk menghindari hubungan suami-istri Albi juga kembali berbohong perihal ia yang tidak tertarik dengan siapa pun. Namun, nyatanya pria itu masih mencintai mantan kekasih yang telah pergi meninggalkannya.
Agra masih menatap Keisha yang terdiam. Pria itu masih tersenyum manis, menunggu jawaban dari Keisha.Apapun itu nanti jawabannya, Agra akan menerima dengan lapang dada,
"Apa kamu mengajak aku untuk berkencan? Dengan seseorang yang begitu banyak terluka" Tanya Keisha sedikit canggung
"Ya, mari berbagi semua hal bersamaku? Tentang luka yang kamu alami juga"
"Jika nanti aku membohongimu,apa kamu akan memaafkan aku?"
Sejenak Agra terdiam "Bohong soal apa?"
"Apapun itu"
__ADS_1
Agra mengangguk "Ya, selalu ada ruang maaf untuk kamu Kei" Kemudian Keisha mengangguk setuju, ia tidak memikirkan resiko apa yang akan terjadi nanti, setidaknya ini bisa di jadikan balas dendam untuk Papanya. Bagaimana Papa, seperti itu juga anak, tidak ada bedanya. Pikir Keisha.
Pak Rudi akan marah besar jika tahu Keisha berselingkuh. Namun, ini bukan seperti Papanya. Keisha mempunyai banyak alasan. Sedangkan Papanya, ia sendiri yang menyakiti hati istri dan anaknya.
Agra tersenyum manis begitu Keisha mengiyakannya. Setelah cukup lama bermain game, melakukan foto berdua, mereka mulai kelaparan. Agra dan Keisha memilih restoran yang tidak terlalu jauh dari tempat itu.
Pak Rudi tepat berada disana, menikmati makan siang bersama rekan bisnisnya. Lelaki berumur empat puluh tahun itu melihat anaknya bersama pria lain. Bahkan terlihat sangat dekat.
Pak Rudi mengatakan ingin ke toilet sebentar, padahal ia ingin menemui anaknya yang berada tepat di dekat pintu masuk.
"Keisha" Panggil Pak Rudi
"Papa" Balas Keisha tersenyum geli. Pak Rudi langsung menarik anaknya kedalam mobil yang terparkir langsung di depan restoran
"Aku juga selingkuh,ternyata punya pasangan lebih itu enak ya Pa?" Ucap Keisha sebelum Papanya bertanya
"Keisha" Teriak Pak Rudi
"Papa tidak perlu berteriak, Seperti Papa, seperti itu juga anaknya,anak selalu mencontoh apa yang di lakukan Papanya"
"Kamu itu perempuan"
"Selingkuh tidak memandang gender Pa" Keisha masih tersenyum lebar, pukulan telak untuk Pak Rudi
"Nanti temui Papa di rumah" Ucap Pak Rudi tidak bisa berkata-kata lagi dan juga tidak ingin memarahi anaknya di tempat umum
"Tidak bisa dong Pa tadi papa sudah mengusirku,dan malam aku bersama Albi dan siang ini aku bersama pacar aku. Sama seperti yang Papa lakukan ke Mama dulu" ucap Keisha tersenyum menyebalkan
"Anak kurang ajar" Ujar Pak Rudi sekali lagi begitu mendengar ucapan Keisha
"Iya, karena darah Papa yang mengalir di tubuh aku dengan derasnya" Balas Keisha kembali tersenyum kesal seraya membuka pintu mobil.
Agra sudah menunggunya di depan pintu masuk restoran, pria itu terlihat kebingungan.
"Biasa Papa aku" Ucap Keisha tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa
"Oh ya, aku akan menyapanya"
"Tidak usah sekarang, Papa lagi sibuk" Agra mengangguk setuju
Keisha tersenyum simpul melihat kearah Papanya. Sedangkan Pak Rudi tampak menyesali perbuatannya.
__ADS_1
Jika saja ia tidak menyakiti hati kedua wanita yang selalu mendampinginya. Mungkin saja anaknya tidak sebenci itu.