
Friska mendesah kasar, mengingat hari dimana Albi memohon agar ia tidak pergi dari kehidupannya. Akan tetapi, dengan egois Friska menikahi pria lain.
"Kamu masih menginginkan Albi?" Tanya Lidya melihat Friska memainkan ujung sendok seraya tersenyum getir
Friska dan Lidya sudah lama menjalin pertemanan, tidak jauh berbeda dengan Lidya, Friska juga menikahi seorang pengusaha yang cukup terkenal di kalangan pengusaha lain.
Sedangkan dahulu Albi masih bekerja di bawah kepemimpinan Papanya. Itu pun ia jarang datang ke kantor,
6 bulan pernikahan pria itu mulai menampakkan sifat aslinya. Suka main perempuan, main tangan dan sering kali merendahkan Friska, pernikahan mereka hanya bertahan selama 2 tahun. Friska memilih mundur karena tidak sanggup lagi menjalani biduk rumah tangga bersama pria itu.
Friska kembali menghela nafas kasar " Sangat sulit untuk tidak menginginkannya"
"Lalu kenapa kamu meninggalkannya?"
"Akibat kebodohan sesaat, dan kini ia sudah memiliki istri" Friska tersenyum getir
"Istrinya anak dari suamiku" Ucap Lidya dan langsung membuat Friska terbelalak kaget. Apa maksud Lidya mengkhianati teman sendiri
"Aku pikir kamu sudah bahagia dengan pilihanmu" Sambung Lidya
"Lidya, apa kamu tidak waras? Aku ini sahabatmu aku yang selalu ada di saat kamu terpuruk tetapi dengan tega kamu menusukku dari belakang" Tanya Friska menahan amarah
"Aku tidak ada pilihan, aku juga perlu menyelamatkan diriku sendiri,dan aku tidak pernah lupa mengucapkan kata terimakasih kepadamu Friska, aku tidak seburuk yang kamu pikir"
"Oh ya lalu apa yang kamu lakukan ini baik? Dan kenapa kamu harus melibatkan Albi dalam permainanmu?" Friska menaikkan nada suaranya
Lidya tertawa licik "Friska seharusnya kamu sadar dan berterimakasih kepadaku, aku membantumu menemukan jalan untuk lebih dekat dengan Albi, sekarang Albi sudah menjadi CEO, rebut dia kembali! Bukankah Albi masih mencintaimu?"
"Apa?" Friska terlonjak kaget
"Bocah ingusan itu tidak sebanding denganmu"
"Aku mencintai Albi bukan karena jabatan"
Lidya kembali tertawa lepas "Kamu pikir aku bodoh? Jika tidak karena jabatan, apa mungkin kamu menikahi pria tua itu di saat Albi sedang berada di bawah"
Friska terdiam merenungi kebodohannya
__ADS_1
"itu bukan urusanmu! Dan semua itu tidak seperti pemikiranmu yang licik"
***
Pukul 10 pagi generasi dari Abrisam itu berkumpul dalam satu ruangan yang sama, tidak hanya mereka ada beberapa orang yang terlibat dalam pekerjaan itu juga terlihat ada disana
"Albi, apa pekerjaan seorang presiden direktur hanya berleha-leha?" Tanya Bara melihat tumpukan dokumen yang berisi dengan catatan kerugian dalam penjualan
Albi masih terlihat tenang dan tidak mempedulikan nada bicara Bara yang tinggi "Apa yang kamu lakukan dalam beberapa bulan ini? Kemarin aku telah di buat untuk memohon kepada beberapa investor agar mereka bertahan"
"Apakah hari ini aku harus mengulanginya?" ucapnya dengan sombong
"Apa senyumanmu yang manis, wajah tampan berwibawa, usia pun masih muda, tidak bisa meyakinkan mereka?" Tanya Bu Widi yang terlibat dalam proyek mereka
Albi menaikkan dagunya, lalu ia tersenyum ketus memandangi mereka secara bergantian "Apakah saya membutuhkan bantuan Kak Bara?"
"Tidak, kamu yang selalu ikut campur"
"kamu bilang ikut campur? Apa yang kamu bisa selain merengek kepada Papa dan kakakmu ini setelah melakukan kerugian di perusahaan?"
"Dan saya hanya mencoba memperbaiki kesalahan yang kamu tinggalkan"
Semua yang ada diruangan itu terdiam menyaksikan Albi yang mulai banyak bicara
"Apa kamu kira di bawah kepemimpinanmu semuanya berhasil? Tidak, berapa banyak keluhan yang kamu abaikan? Dan untuk semuanya yang ada di ruangan ini tolong bersabar" kata Albi memandangi mereka satu persatu
"Saya akan menjamin kerja keras kalian tidak akan sia-sia, saya pastikan itu!" Ucap Albi kemudian berlalu meninggalkan ruangan itu. Sedangkan Bara terlihat menahan emosinya karena sudah di permalukan oleh adiknya sendiri. Dio dan Dewa hanya tersenyum kecil melihat begitu banyak perubahan dari seorang Albi
Melihat pintu sudah tertutup Dio mengarahkan pandangannya kepada Bara "Apa yang sedang kamu lakukan? kamu mengancam dia?" tanya Dio mulai kesal kepada Bara si pembuat onar
"Aku hanya memberi pelajaran"
Dio tersenyum aneh "Apa pekerjaanmu lebih baik dari dia? Proyek yang ada di luar kota sedang bermasalah kenapa kamu tidak menyelesaikan itu"
Dewa ikut bersuara menyudutkan Bara "Itu ulahmu bukan, apa perlu aku yang mengambil hak milik perusahaan itu sekarang" ucapnya lalu pergi dan di susul oleh yang lain
Dania terlonjak kaget ketika Albi mendatangi meja kerjanya "Mulai hari ini apapun yang dilakukan Bara di perusahaan ini harus atas izin saya" Ucap Albi, Dania melihat kekesalan di wajah pria itu untuk pertama kali.
__ADS_1
Diruangannya, Albi menarik napas, tangannya mengepal mengingat betapa liciknya saudara kandung sendiri
***
Keisha tidak berhenti menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 10 malam. Keisha sedikit khawatir melihat kerja keras Albi yang berlebihan dan tidak pada waktunya.
Lima menit kemudian pintu kamar terbuka, Keisha melihat wajah lelah pria itu. "Kenapa dengan wajahmu? Apa kamu sedang ada masalah?"
Albi menatap gadis yang berada di depannya sedang tersenyum ramah menunggu ia pulang "Tidak, aku mau bersih-bersih dulu, kamu silahkan tidur" Suruh Albi
"Tunggu Mas Albi,Apakah kamu yakin tidak ada masalah?"
"Iya, jangan khawatirkan aku" Ucap Albi tersenyum lepas, hal yang jarang ia tampakkan
"Kamu berbohong, aku tahu kamu memasang senyum bodoh itu di saat melakukan kebohongan, karena aku tahu Mas Albi tidak akan pernah tersenyum lebar di saat bahagia"
"Apa itu? Kamu ada masalah?" Tanya Keisha melihat suaminya menunduk lesu
"Masalah pekerjaan lagi? Apa kamu takut gagal lagi? Apakah suami aku seorang pengecut?" ledek Keisha
Albi menaikkan kepalanya lalu menatap Keisha "Itu tidak benar"
"Heee, tetapi kamu terlihat ragu karena takut? Haa! Haruskah aku benar-benar melihat suamiku yang pengecut ini setiap hari" tutur Keisha tertawa semringah
"Keisha tidak semudah yang kamu pikirkan, dalam dunia bisnis begitu banyak kekacauan bahkan saudara sendiri saja bisa jadi musuh"
"Semuanya benar-benar kacau dan melelahkan"
"Makanya aku akan mendukung kamu dengan cara apapun yang aku bisa, alih-alih diam dan menyerah, kamu harus terus berusaha sampai akhir, agar bisa mencapai mimpimu meskipun mungkin sulit tetapi itu akan membuat kamu jadi lebih bangga kepada diri sendiri"
"Mas Albi jangan takut, lawan mereka dengan cara yang mengesankan, buktikan kamu bisa dengan caramu sendiri, aku yakin kamu memiliki orang-orang baik di sampingmu yang akan siap membantumu" Ucap Keisha tersenyum manis
"Terimakasih Keisha, terimakasih, kenapa hari ini kamu begitu dewasa?"
"Benarkah?" Keisha kembali tersenyum semringah, lalu tiba-tiba bibir Albi mendarat dengan lembut di pipi kanan gadis itu.
"Aaaa, tenaga aku langsung penuh" ucap lelaki itu menuju kamar mandi
__ADS_1