
24 jam sebelum kejadian.
Friska menatap bahagia kearah kertas yang ada di hadapannya saat ini, sebuah senyuman bahagia keluar dari bibirnya. Ia lalu menatap kearah Dania yang tengah tersenyum kepadanya, Dania melakukan perintah Albi untuk menemui Friska di kantornya, Friska lagi-lagi tersenyum sumringah karena keinginannya menjadi model akan kembali segera terwujud. Perusahaan Albi akan merekrutnya menjadi model untuk iklan beberapa produknya dengan bayaran yang cukup mahal.
"Tanda tangan disini" ucap Dania mengarahkan pada bagian pojok kertas
"Ya tentu saja" balas Friska mengambil pulpen dari tangan Dania, tak menunggu lama Friska langsung saja menandatangani kontrak kerja itu
"Untuk selanjutnya akan kami hubungi ketika Pak Albi sudah kembali bekerja" Friska mengangguk setuju dan langsung berpamitan, melihat kepergian Friska, Dania hanya menghela napas tidak mengerti dengan jalan pikiran bossnya yang merekrut kembali orang yang telah menyakitinya.
Ketika tiba di Lobby perusahaan, langkah Friska terhenti melihat Bara ada di hadapannya. Bara tersenyum licik dengan tatapan yang begitu tajam
"Berani sekali kamu menginjakkan kaki di perusahaan keluargaku" ucap Bara
"Maaf saya tidak ada urusan dengan anda" balas Friska membalas tatapan tajam itu
"Kemana hilangnya harga dirimu?" tanya Bara, Friska tersenyum kecut melihat orang yang selama ini telah mengganggu hidupnya
"Rendahan sekali!" sambungnya
Friska mengangkat kedua alisnya, lalu ia berdecih geli melihat wajah menjijikan dari seorang Bara
"Urus saja urusanmu, Albi sudah tahu semuanya jadi persiapkan diri anda" ucap Friska dengan raut wajah marah dan berlalu meninggalkan Bara seorang diri. Dania yang melihat kedatangan Bara langsung bersembunyi di salah satu ruangan dekat meja resepsionis. Ia tidak ingin berhubungan dengan Bara di saat Albi sedang tidak ada.
***
Albi melihat sesosok wanita dari pantulan cermin, Keisha sedang melamun sembari menunduk ke bawah, wajahnya terlihat lelah, ia lalu membuang napas kasar mendongakkan kepala melihat dirinya yang sangat kacau. Tidak hanya itu ia juga menangkap Albi sedang tersenyum memperhatikan tingkahnya sedari tadi
"Kenapa kamu memandangi ku seperti itu?" tanyanya dengan nada ketus kemudian ia bangkit dan langsung menuju kamar mandi
Keisha kembali melihat pantulan dirinya di kaca, ia menggerutu memikirkan ucapan Lidya tempo hari, kemudian ia membasuh mukanya dengan kasar, setelah selesai ia keluar dan melihat Albi sudah tidak ada lagi di ranjang tidurnya, kemudian Keisha langsung menuruni anak tangga dan melihat Albi sedang berbicara dengan seorang pria yang membelakanginya.
__ADS_1
"Keisha" panggil Albi ketika melihat istrinya berjalan ke arah dapur. Pria itu langsung membalikkan badan dan melihat ke arah gadis itu sambil tersenyum manis
Beberapa saat Keisha diam melongo melihat siapa yang datang, seorang lelaki tampan yang langsung memikat hatinya, Keisha menarik napas, menepuk pipinya setelah sadar ia langsung berlari ke arah pria itu, Keisha memberikan pelukan hangatnya kepada pria itu. Albi yang melihatnya terlonjak kaget dan langsung menarik Keisha agar melepaskan pelukannya.
"Ada apa denganmu, asal peluk saja!" ucap Albi mulai terpancing emosi, pria itu kemudian tersenyum dan langsung duduk di salah satu sofa, Albi mulai menatap pria itu dengan pandangan tidak suka
"Keisha ada apa dengan senyuman kamu, dan kenapa kamu menjadi salah tingkah? "bisik Albi melihat istrinya tidak berhenti tersenyum lalu ia menarik tangan Keisha untuk duduk di sebelahnya
"Kamu siapa dan ada perlu apa kemari?" tanya Albi sambil memutar bola matanya dengan malas
Keisha menoleh ke arah Albi sambil menggerutu kesal "Ada apa dengan ucapan mu yang kasar itu? "
"Kamu yang ada apa kecentilan sendiri?" balas Albi, pria itu langsung tersenyum lalu mengedipkan mata ke arah Keisha
"Mas Bian apa kabar?" tanya Keisha tersenyum
"Ooohhoo kenapa kamu mengenalnya?" bisik Albi
"Dia anak om aku" balas Keisha menyeringai
Bian saat ini juga bekerja di perusahaan Pak Rudi sebagai board of directors atau dewan direksi, ia di pilih langsung oleh Pak Rudi karena berbagai alasan, salah satunya ia ingin Bian bertanggung jawab atas pengambilan keputusan strategi dan pengawasan perusahaan. Yang terpenting ia bisa melindungi dan menjaga Keisha ketika gadis itu suatu hari nanti menggantikan tugas papanya.
"Baik, kamu terlihat bahagia setelah menikah?" goda Bian tersenyum manis
"Hahaha hanya sekedar yang terlihat" balas Keisha menatap tajam ke arah Albi
"Maaf Mas Bian tidak bisa datang di saat mama kamu meninggal dan juga tidak datang di hari pernikahan kamu"
"Tidak apa, sekarang kegiatan Mas Bian apa?"
"Hhhmmm, Pak Rudi meminta aku untuk bekerja di perusahaannya"
__ADS_1
Keisha tersenyum lega, setidaknya ada orang terdekat yang membantu papanya "Syukurlah" ucap Keisha
"Keisha banyak hal yang ingin aku ceritakan kepada kamu setelah beberapa tahun tidak bertemu tetapi melihat keadaan saat ini sepertinya lain waktu saja"
"Apa itu aku tidak sibuk kok Mas, sungguh tidak sibuk hari ini!" ucap Keisha bersemangat
Albi menoleh ke arah Keisha dengan tatapan kesal "Tidak, kamu sangat sibuk hari ini" pungkas Albi, Bian hanya tersenyum kecil
"Tidak ada yang akan aku lakukan hari ini" ucap Keisha juga ikutan kesal melihat Albi yang ikut campur urusannya
"Ada katanya kamu mau ke rumah mama"
"Kapan aku katakan itu? Ada apa denganmu tiba-tiba bersikap aneh"
"Baru saja kamu katakan" melihat mereka ribut, Bian langsung berpamitan untuk pergi, dengan senang hati Albi mengantarkan pria itu ke depan
"Mas Bian hubungi aku nanti ya" teriak Keisha ketika pria itu sudah berada di dekat mobil, Bian mengangguk lalu kembali tersenyum ke arah mereka berdua
Mobil Bian telah meninggalkan rumah Albi, Albi langsung menatap aneh ke arah istrinya yang masih saja senyum-senyum sendiri bahkan ia juga sedikit malu-malu terlihat dari pipinya yang memerah, Albi menarik hidung Keisha dan membuat gadis itu berteriak kesal
"Kenapa tiba-tiba kamu begitu bersemangat melihatnya padahal ia terlihat biasa saja"
Keisha menoleh menatap pria itu, bibirnya sedikit terangkat "Apa maksud ucapan mu itu?"
"Keisha ia masih jauh di bawahku" ucap Albi menyombongkan ketampanannya
Keisha mendelik geli mendengarnya lalu ia kembali tersenyum "Mas Albi tahu siapa pria itu jika aku katakan Mas Albi akan terkejut"
"Siapa dia?"
"Cinta pertamaku saat aku duduk di bangku SMP, walau pun jarak umur kami berbeda jauh jika dulu dia mengajak aku menikah, akan aku terima dengan rendah hati lalu mengucapkan terimakasih karena telah memilihku"
__ADS_1
Albi langsung menyentil dahi Keisha lalu tersenyum ejek "Sadar diri sekarang" Keisha meringis kemudian Albi mendekatinya
" Tetapi tetap saja aku pemenangnya saat ini" ucap Albi tersenyum penuh kemenangan lalu memeluk Keisha dengan Erat.