ISTRI BADASKU

ISTRI BADASKU
TRAUMA SEAKAN MENERTAWAKAN


__ADS_3

Agra dan Keisha menghabiskan waktu seharian. Entah kenapa setiap bersama Agra, Keisha selalu bisa melupakan masalahnya. Pria itu selalu menjadi pendengar yang baik. Dan penanya yang selalu memberikan solusi.


"Besok kemana lagi kita tuan putri?" tanya Agra begitu bersemangat


"Kak Agra mau kemana?" Keisha balik bertanya


"Kemana saja asal bersama kamu" Keisha tersenyum lalu Agra juga ikut tersenyum


Jam delapan malam Keisha kembali ke rumah Albi. Ia, pulang di antar oleh Agra. Di lantai dua Albi sudah menunggunya. Bahkan sedari tadi diam-diam Albi mengintip dari balik jendela.


Keisha turun dari mobil Agra, ia pun tidak lupa melambaikan tangan dan tersenyum manis menatap kepergian kekasihnya.


Pak Herman membukakan gerbang seraya tersenyum. Keisha juga melihat mobil Albi sudah terparkir di samping mobilnya.


Gadis itu mempercepat langkah kakinya menaiki anak tangga. Begitu ia membuka pintu kamar, Albi sedang berdiri di depan jendela. Menatap keluar bahkan masih bersikap dingin seperti biasanya.


"Itu siapa?" Tanya Albi tetap pada posisinya


"Pacar aku" Ujar Keisha yang tidak mempedulikan perasaan suaminya


"Apa kamu mau balas dendam?" Tanya Albi lalu membalikkan badan dan menatap Keisha sangat serius


Keisha mendengus kesal "Balas dendam kenapa? Mas Albi tidak menyukai siapapun. Jadi aku tidak mungkin begini terus.


Aku perempuan dan aku menyukai pria" Tutur Keisha kembali kesal lalu tersenyum kecil. Entah apa yang membuat dia sekesal itu. Baru saja Keisha mau melangkah menuju kamar mandi. Tangan Albi sudah lebih dulu menahan lengannya untuk tidak pergi.


Begitu Keisha memutar badan, Albi menarik tubuhnya, lalu pria itu mendekatkan wajahnya dengan berani, sebuah kecupan mesra, bibir Albi sudah menempel di bibir Keisha, untuk pertama kali Keisha merasakan sesuatu lembut yang menempel di bibirnya, hangat dan Keisha menyukai itu. Spontan saja Keisha kaget dan tidak bergerak sama sekali. Matanya membesar menatap Albi. Pria dingin itu mencuri ciuman pertamanya


"Tetapi aku juga bisa menyukai seseorang!" Ucap Albi menyentuh hidung istrinya. Ekspresi kaget Keisha masih terlihat. Ia tidak percaya Albi seberani itu


Bibir Keisha berkedut beberapa kali lalu "Mas Albi menyukai aku?" mendengar pertanyaan Keisha, Albi tersenyum kecil

__ADS_1


"Tidak!"


"Haa! Lalu kenapa menciumku?" seolah Albi kembali mempermainkannya


"Apa salahnya mencium istri sendiri? Dan bukankah ini yang kamu mau selama ini? menggodaku setiap hari"


"Apa menggodamu? Mas Albi hentikan ucapanmu itu aku tidak suka menggoda seorang pria"


"Oh ya, katamu setiap melihat pria tampan-"


"Hentikan" ucap Keisha merasa tersudut


"Oh ya kembali ke awal tentu kamu salah, kamu mencuri ciuman pertamaku yang sudah aku jaga dan rawat dengan baik" Jawab Keisha ketus, lagi-lagi Albi menyembunyikan senyuman kecilnya


"Berarti aku pria tampan yang beruntung itu?" goda Albi dan berhasil membuat Keisha tersenyum


"Aaaa, kamu tersenyum berarti aku benar" Keisha mendongakkan kepalanya untuk sesaat dia terdiam


Albi kembali memasang wajah cueknya "Putuskan dia" Sambung Albi seraya berjalan keluar dari kamar


"Keisha tidak semua keinginan harus bisa di ungkapkan"


"Kenapa? aku menyukainya dan itu semua sudah terjadi" Albi menghela nafas beratnya dan melanjutkan langkahnya kembali tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


 


Entah sedang apa Albi di lantai satu Keisha mulai tidak peduli. Ia asyik bersama ponselnya.


Satu jam sudah berlalu. Albi belum juga kembali, mata Keisha mulai mengantuk. Ia pun tertidur pulas.


Sedangkan Albi merebahkan badannya di sofa ruang tamu. Bahkan sudah jam sebelas malam,pria itu belum juga kembali kedalam kamarnya.

__ADS_1


Albi merasakan ada sebuah perasaan yang sulit untuk ia jelaskan, Keisha gadis yang selalu mengganggu hari tenangnya kini mengatakan ia mencintai orang lain.mendengar ungkapan itu membuat Albi tidak mengerti dengan perasaaanya


Tepat jam setengah dua belas malam. Hujan kembali mengguyur perkotaan. Angin begitu kencang dan beberapa menit kemudian petir juga ikut terdengar menyambar beberapa kali. Keisha tidak akan takut jika itu hanya hujan, Tetapi petir itu seperti meninggalkan trauma buruk kepada dirinya. Keisha terbangun dan mulai ketakutan. Di sampingnya tidak ada Albi. Ranjang tidur Albi masih kosong.


Keisha pun mencoba menghubungi Albi. Namun, ponsel pria itu tertinggal di atas ranjang tidurnya.


Albi juga terbangun ketika hujan semakin deras, ia tahu Keisha akan mencarinya. Bukannya menemui Keisha, Albi malah bersembunyi di kamar tamu. Pria itu masih kesal ketika mendengar Keisha mencintai pria lain.


Keisha bergegas turun ke lantai satu. Namun, ruangan itu kosong bahkan lebih sunyi ketika hujan begitu deras.


Keisha mengintip dari gorden jendela. Mobil Albi terparkir di garasi.


Beberapa kali Keisha memanggil Albi tetapi tidak ada sahutan,


"Mas Albi, Mas..." Panggil Keisha


Jangan menangis,jangan menangis, kumohon jangan menangis hari ini saja kita lawan rasa takut itu, Keisha jangan menangis gumam Keisha sampai pada akhirnya air mata dan ingatan buruk itu kembali menghantuinya.


Keisha duduk di anak tangga, dan pada saat itu juga bayangan Mamanya terbujur kaku kembali terlintas disana.


Keisha menangis seraya menutup telinga. Beberapa menit kemudian Albi berjongkok di depan Keisha dan memegang tangan Istrinya.


"Maafin aku" Ucap Albi kala melihat Keisha menangis sesak


"Mas Albi, aku merindukan Mama, sangat merindukannya" Tutur Keisha menatap suaminya


"Iya" Albi menyeka air mata Keisha, dan membawa gadis itu kedalam dekapannya. Albi memang sedang kesal. Tetapi dia juga tidak tega ketika melihat Keisha menangis dan ketakutan.


Setiap kali memeluk istrinya, Albi merasakan ketenangan walaupun dia tidak mengerti dengan perasaanya saat ini.


"Andai aku bisa putar waktu kembali aku ingin menghabiskan banyak waktu bersama mama dengan menunjungi beberapa tempat yang sudah aku rencanakan" ucapnya di sela tangisan, Albi semakin kuat memeluk istrinya

__ADS_1


Tidak Apa Keisha sekarang ada aku,ajak aku ke tempat yang ingin kamu kunjungi, ajak aku melakukan hal yang kamu senangi, jangan menangis, jangan menyiksa diri sendiri, apapun itu aku akan selalu ada bersamamu.gumam Albi di dalam hatinya.


Merindukan orang yang sudah tiada itu begitu menyakitkan,kerinduan yang mendalam dan itu menjadi rindu yang pahit yang akan di rasakan, rindu tanpa bisa melihat atau mendengar suaranya.Rindu semua tentang halnya, dan begitu melelahkannya ketika rindu itu tidak bisa di bendung lagi, hanya bisa menerima kenyataan bahwa orang itu sudah tidak ada lagi dan membiarkan diri merasakan duka memprosesnya dan kembali membuka diri dengan realistis yang ada adalah jalan terbaik untuk meyakinkan semuanya baik-baik saja.


__ADS_2