ISTRI BADASKU

ISTRI BADASKU
SEAKAN PILIHAN ITU SULIT


__ADS_3

Keisha Irawan wanita yang tidak suka memohon kepada seseorang, tidak suka kebohongan, dan membenci perselingkuhan. Begitu keluar dari ruang inap Albi, Keisha mengepalkan tangan, berdecih muak. Hari ini Albi menyatakan perang kepadanya.


Bu Dini memeluk Keisha begitu sampai di luar, ia menguatkan menantunya bahwa jalan kebenaran akan menemukan caranya sendiri untuk kembali. Keisha hanya mengangguk lalu tersenyum, tak lama kemudian ia juga berpamitan untuk pulang. Bu Dini mengangguk lesu melihat keadaan saat ini


"Keisha" panggil Dara


Keisha menghentikan langkahnya dan tetap diam di tempat, Dara mendekati adik iparnya itu lalu menggenggam tangan Keisha "Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, jangan di tahan"


"Maksud kak Dara?"


"Aku rasa, kamu mengerti ucapan kakak" Dara tersenyum


"Sesekali bersikap kejam tidak apa!" sambungnya lalu berpamitan untuk pergi


Keisha tertawa kasar ketika di dalam mobil, Lidya, orang yang telah menyeretnya ke dalam pernikahan gila dan percintaan segitiga ini. Dan di saat Keisha mulai menyukai Albi,lelaki itu seenaknya mempermainkan perasaannya. Keisha menarik pedal gasnya dengan emosi yang sudah memuncak.


"Awas kau Lidya!"


Keisha menerobos masuk ke dalam rumahnya, berteriak memanggil Lidya dari arah pintu masuk. "Nyonya keluar non!" ucap Bik Sur dari arah tengah


"Keluar?"


"Iya non, tadi teman-temannya datang kesini"


"Haaa! Wanita sialan itu bersenang-senang di atas penderitaan orang lain!"


Keisha mengambil ponsel dari tasnya, ia menghubungi seseorang yang berpengaruh dalam urusan mencari orang di perusahaan Papanya "Om Ray,tolong cari tahu lokasi Lidya sekarang ada dimana?" ucap Keisha menelepon orang yang pernah menjadi kepercayaan mamanya


Tidak menunggu waktu lama, lelaki itu mengirimkan lokasi dimana ada Lidya, Keisha tersenyum ejek. Ternyata wanita itu sedang berada di sebuah club


Tak berselang lama ponselnya kembali berdering Om Ray tertulis disana


"Ada apa om" tanya Keisha


"Kapan ada waktu untuk bertemu sama Om?"


"Ada apa?" tanya Keisha kembali

__ADS_1


"Kamu sudah siap masuk ke perusahaan mamamu?" Tanya om Ray, dan Keisha hanya membalas dengan tawa lepasnya


Telepon di tutup, Keisha langsung terduduk, kenapa lelaki itu selalu menyuruhnya untuk mengambil alih di perusahaan Mamanya, untuk melangkah kesana Keisha belum menemukan keberanian. Dunia bisnis begitu kejam dan Keisha masih ingin bebas menikmati hidupnya.


Tidak ingin terikat dengan tanggung jawab yang besar, setidaknya sampai tamat kuliah Keisha bisa merasakan menjadi anak normal lainnya, melakukan apapun tanpa mempedulikan keluhan orang lain.


***


Perawat mengobati tangan Friska yang terluka, tatapan Albi tidak beralih sedari tadi, ia menatap Friska yang sedang meringis menahan sakit, Friska menoleh lalu tersenyum kearah Albi


"Sudah selesai" ucap perawat lalu pergi


Kemudian Friska mendekati Albi, langsung di sambut hangat oleh pria itu. Albi menggenggam tangan Friska dan kembali menatapnya "Maafin aku" ucap Albi


"Untuk apa?"


"Untuk semuanya?"


"Hhhmmm, kamu tidak salah"


Friska menepis air matanya "Kamu tahu aku berhenti jadi model karena apa?"


Albi mengangkat bahunya "Kenapa?" Friska menggulung lengan baju lalu membuka sedikit kancing bajunya. Ia memperlihatkan bekas luka yang telah menghitam di tubuhnya, Albi menatapnya dengan tatapan sendu. Tubuh Friska yang mulus kini telah berubah menjadi sebuah kenangan yang buruk di ingatan wanita itu


"Disini, disini dan disini" tunjuk Friska kearah pantat, paha dan kakinya


Albi menyentuh kulit yang menghitam itu , mengerti seperti apa rasa sakitnya "Kamu tidak mengobatinya? Sekarang banyak dokter kulit yang terakreditasi bagus"


Friska menggelengkan kepala kemudian kembali tersenyum "Buat apa aku mengobati? Besoknya dia akan menyakitiku lagi"


"Kenapa kamu hanya diam ketika di perlakukan seperti itu?"


Sesaat Friska tidak menjawab pertanyaan Albi "Demi keluargaku dan kamu, jika aku bersuara kalian akan terluka,aku tidak ingin itu terjadi"


"Dan pada akhirnya aku sampai di titik lelah itu, aku melawannya tetapi ia membalas dengan pukulan kasar, aku kabur dan bersembunyi penuh ketakutan tetapi dia kembali menemukan aku"


Albi menghela napas berat, merangkul bahu Friska dan memeluk wanita itu. Pikir Albi. Kenapa ini semua terjadi kepadanya? Kenapa harus hubungan percintaannya yang harus di uji? Kenapa orang yang di sayangi yang harus terluka dan menanggung semua ini sendirian. Kenapa ia tidak mencaritahu lagi setelah Friska tidak ada kabar? Albi mulai merasa bersalah

__ADS_1


"Sekarang ada aku!" ucap Albi, Friska tersenyum


"Hhmm kamu lebih suka menjadi model atau bekerja di kantor Papamu?" Tanya Albi melepaskan pelukan karena melihat Friska yang sekarang sering membantu bisnis Papanya


Friska mendelik lalu menggenggam tangan Albi "Menjadi model, kamu tahukan aku mendapatkan itu semua tidak mudah, butuh tenaga dan kerja keras untuk sampai di titik ini dan aku menyukai foto diriku ada dimana-mana, di saat orang lain mengenali aku, aku begitu bahagia dan bersemangat" jawabnya tersenyum


"Lalu kenapa kamu menyerah?"


"Hanya saja-" Friska menghentikan ucapannya dan kembali menundukkan kepala


"Hanya saja apa?"


"Untuk kembali kesana terasa sulit, selama dua tahun aku menghilang, dan menutupi diri dari orang-orang yang dahulunya peduli, aku rasa sudah saatnya aku pensiun" ucap Friska tidak begitu yakin dengan hatinya


"Baiklah, aku akan mengabulkan keinginanmu" Albi memberikan senyuman mautnya


Friska berdecih "Bagaimana caranya?"


Albi membelai rambut Friska "Kamu lupa? Perusahaan aku bergerak di bidang kecantikan"


"Setelah keluar dari rumah sakit, kamu akan menjadi model brand kosmetik di perusahaanku"


Friska tersenyum bahagia "Benarkah? Bi kamu tidak boleh berbohong" Albi tersenyum lalu mengangguk meyakinkan,


"Tetapi,,, bagaimana dengan Papa kamu"


"Itu biar menjadi urusanku, kamu hanya perlu mempersiapkan diri untuk memulainya semuanya lagi"


"Bagaimana juga dengan istrimu?" seketika Albi langsung terdiam, ia sempat melupakan istrinya untuk beberapa saat.


"Tidak apa!" jawabnya


Setelah berbincang cukup lama, Albi menyuruh Friska untuk pulang dulu. Berbagai pertimbangan, Friska setuju dan akan segera kembali ucapnya.


Kini Albi seorang diri, tidak ada siapa-siapa yang menjaganya. Bu Dini karena kesal melihat tingkah Albi memilih untuk pulang bersama menantunya, Albi mengalihkan pandangannya kearah pintu masuk. Berharap Keisha mendatanginya. Lelaki itu terlihat menyesal ketika menyuruh Keisha untuk keluar juga.


Pintu di geser, Albi tersenyum dan menoleh kearah pintu, dan hanya ada seorang perawat yang datang memeriksa kondisinya. Senyuman Albi langsung menghilang dan ia kembali memejamkan mata.

__ADS_1


__ADS_2