
"Manusia sekecil ini bisa membuat aku bingung" Ucap Albi masih menatap istrinya,Albi selalu bingung menghadapi gejolak hatinya ketika bersama Keisha, dan ketika Keisha tidak ada ia merasa seperti orang yang sangat kesepian. Keisha telah merobohkan tiang pertahanannya yang selama dua tahun ini sudah terkunci rapat
"Bingung mana yang harus kamu pilih bukan?" Tanya Keisha tertawa getir
"Tidak, bingung untuk beberapa hal"
"Apa itu?"
"Bingung sama pikiran mesum kamu yang saat ini mulai menghilang kemana?" goda Albi, Keisha langsung mendengus kesal
"Kapan kamu akan menceraikan aku?" tanya Keisha dengan tatapan sendu
"Kamu mulai lagi membahas itu, aku sudah mintaa maaf atas ucapanku"
"Mas Albi"
"Tidur, biar cepat sembuh" Suruh Albi mengakhiri pembicaraan lalu ia memejamkan kedua matanya, Keisha kembali merungut kesal.
"Keisha?"
"Apa" jawabnya jutek
"Aku tahu kamu sedang memaki aku di dalam hati kamu bukan" Keisha mendengus, tiba-tiba saja Albi tersenyum dengan mata tertutup
Sampai pagi menjelang mereka tertidur di ranjang yang sama. Keisha yang masih belum kuat berdiri dan berjalan, mulai sedikit risih ketika ia hendak menuju kamar mandi.
Sebisa mungkin, tanpa ingin membangunkan Albi, ia juga tidak ingin mengganggu tidur Albi. Keisha berusaha berdiri. Namun, kakinya belum kuat menopang tubuhnya, tak sengaja gadis itu menyenggol gelas dan terjatuh ke lantai.
Spontan saja Albi kaget dan membuka matanya. Ia melihat Keisha meringis kesakitan.
"Mau kemana?" Tanya Albi, membantu Keisha untuk berdiri kembali
"Aku mau buang air kecil" Langsung saja Albi menggendong istrinya ke kamar mandi.
Bukannya keluar, Albi masih berdiri menunggu Keisha
"Keluar" Suruh Keisha
"Kamu bisa sendiri?Mana yang mau di buka"
"Bisa,aku bisa membukanya sendiri Mas Albi"
__ADS_1
"Aku ini suami kamu, tidak perlu malu"
"Mas Albi keluar!" teriak Keisha
"Tidak" Sahut Albi menggoda Keisha
"Mas Albi please" Albi menggelengkan kepala dan masih tetap pada posisinya.
Melihat Keisha mulai cemberut dan menyiramkan air kearahnya , Albi bergegas keluar seraya tersenyum kecil.
Setelah selesai Keisha berteriak sekencang mungkin memanggil suaminya. Tidak ada jawaban, Keisha berusaha untuk keluar dari kamar mandi sendirian.
Tidak kuat menahan sakit ia memilih duduk di depan pintu. Albi sudah tidak ada di kamar, beberapa menit yang lalu Bik Ira memanggil pria itu untuk menemui tamu yang mencarinya.
Friska, tamu yang suka datang di kala pagi hari.
Albi menyuruh Bik Sur untuk menemui Keisha dan Pak Bowo membawa kursi roda menuju kamar di lantai dua.
Keisha sedikit lega melihat kedatangan Bik Sur dan Pak Bowo. Dua orang itu membantu Keisha untuk duduk di kursi roda.
"Mas Albi kemana Bik?"
"Ada tamu non"
"Iya tamu perempuan" Keisha terdiam dia sudah bisa menebak siapa yang datang sepagi ini kalau bukan Friska.
Bik Sur mendorong Keisha keluar dari kamar, dari lantai dua Keisha melihat Albi bersama Friska, bahkan mereka terlihat bercerita seasyik itu.Bik Sur menghela nafas sedih ketika melihat Keisha tertunduk diam
Friska yang masih begitu penasaran dengan istri Albi dan kata orang-orang ia baru tamat dari sekolah menengah atas. Friska mengalihkan pandangan ke sekeliling ruangan itu,tatapannya berhenti di lantai dua, Friska melihat Keisha sedang duduk di kursi roda spontan saja ia terlihat seperti sedang tersenyum ejek.
Friska tidak berhenti memandangi Keisha sedari tadi, sampai Albi memanggilnya.
"Jadi wanita yang di jodohkan sama kamu cacat?" Tanya Friska sengaja menaikkan nada suaranya agar di dengar oleh Keisha, padahal tempo hari yang lalu ia sudah melihat bahwa gadis itu terlihat sehat,
Benar saja Keisha mendengar ejekan itu. Ia hanya menghela nafas lalu kembali menunduk terdiam
"Dia tidak cacat,lagi sakit aja" Balas Albi
"Tidak cacat tapi memakai kursi roda?" Sindir Friska kembali
__ADS_1
"Kemarin dia jatuh akibat kesalahanku"
"Kenapa kamu menyalahkan diri Bi? It's oke, mungkin dia aja yang mau cari perhatian sama kamu" Albi hanya terdiam
"Pak Bowo" Teriak Keisha, spontan saja Albi dan Friska menoleh ke arah lantai dua.
Beberapa menit kemudian Pak Bowo muncul dari arah dapur
"Pak bawa turun kursi rodanya ya" Keisha kembali di bantu oleh Bik sur menuruni anak tangga, walaupun raut wajahnya memperlihatkan kesakitan. Tetapi Keisha tetap berusaha.
Baru saja Albi berdiri ingin membantu istrinya, tangan Friska sudah lebih dulu menggenggamnya.
"Ada yang ingin aku katakan kepad kamu" ucap Friska menahan agar Albi tidak pergi.
Keisha tidak kuat lagi sampai ia terduduk di anak tangga. Untung saja badan Bik Sur sedikit berisi, hingga bisa menggendong badan kecil Keisha. Albi lalu menepis tangan Friska, ia sedikit berlari ke arah Keisha. Albi meminta biar ia yang menggendong istrinya. Namun, Keisha langsung membuang muka dan melingkari kedua tangannya di leher Bik Sur.
"Biar Bik Sur aja tuan" Ucap Bik Sur terlihat kecewa kepada lelaki itu
Keisha kembali menaiki kursi rodanya dan berlalu meninggalkan Albi. Sekilas Keisha tersenyum simpul menatap Friska.
Bik Sur meninggalkan Keisha di depan pintu kamar tamu, beberapa menit kemudian wanita paruh baya itu keluar dengan membawa tasnya dan kembali mendorong Keisha ke arah pintu keluar.
"Sampai sembuh aku akan ke rumah Papa" Ucap Keisha tanpa sama sekali menatap Albi. Friska tersenyum aneh. Sedangkan Albi langsung berlari mendekati istrinya.
"Tidak bisa!" Ucap Albi menatap istrinya kembali
"Kenapa? Bukankah dia sudah kembali?"
"Kei...."
"Mas aku malas meributkan hal-hal yang itu saja?" Ucapan Keisha membuat Albi terdiam. Bik Sur langsung mendorong kursi roda Keisha keluar. Di depan rumah sudah ada mobil dan Pak Supri yang menjemput mereka.
Bohong jika Keisha tidak kesal melihat kedekatan Albi dan Friska.
Ketika bersama Friska Albi tersenyum lepas. Sedangkan ketika bersama Keisha hanya suasana dingin yang selalu tercipta.
Friska sengaja datang karena pekerjaan, ia menjadi salah satu investor yang akan bergabung di perusahaan Albi, saat ini Friska meninggalkan dunia model yang sudah ia geluti beberapa tahun ini dan sekarang ia ikut menjalani bisnis keluarganya, bahkan Friska juga membantu mengenalkan Albi kepada beberapa orang kenalannya.
Untuk saat ini keadaan perusahaan kosmetik yang di pegang oleh Albi sedikit mengalami kendala.
Pria itu bekerja dua kali lebih keras, mencari investor kemana kemari, dan di saat yang sama Friska menawarkan bantuan.
__ADS_1
Satu alasan Albi menerima tawaran itu, karena perusahaan keluarga Friska bergerak di bidang fashion kekinian.
"Ini berkas yang harus kamu kaji ulang sebelum di tanda tangani" Ucap Friska, kemudian ia melihat gurat kesedihan di wajah pria tampan itu