Istri Rahasia Guru Idaman

Istri Rahasia Guru Idaman
Ulang Tahun Naura, Pertemuan Dan Penjelasan Naura


__ADS_3

Ulang Tahun Naura,Pertemuan Dan Penjelasan Naura


Tak terasa dua minggu sudah Iqbal dirawat namun belum ada tanda-tanda dirinya akan sadar dari tidur panjangnya itu, Naura yang selalu telaten merawat Iqbal tanpa kenal lelah bahkan sekarang dirinya tidak pernah meninggalkan ruangan Iqbal sama sekali, semua kegiatan dirinya di lakukan dalam ruangan tempat Iqbal dirawat.


"Assalamualaikum"salam sang Bunda memasuki ruangan


"Waalaikumussalam Bun"jawab Naura sambil mencium tangan Erlina


"Gimana Nau"Erlina menanyakan keadaan Iqbal


"Belum ada perubahan Bun, tapi Nau yakin cepat atau lambat Bang Iqbal pasti sadar"ucap Naura meyakinkan dirinya sendiri


"Aamiin"ucap Erlina


"Yaudah kamu sarapan dulu yah,nih Bunda sudah bawain makanan buat kamu"ucap Erlina sambil memberikan sebuah bingkisan pada Naura


"Makasih Bun"jawab Naura


"Eh ngomong-ngomong Umi Aini kemana"tanya Erlina


"Masih di mushalla Bun"jawab Naura


"Yasudah Nau makan dulu ya Bun"lanjut Naura.


Sementara itu di kediaman Rindu, mereka tengah bersiap-siap menuju Cianjur.


"Udah semua kan Mi"tanya Abinya Rindu


"Udah Bi"jawab Uminya Rindu


"Kamu gimana Ndu"tanya sang Abi pada Rindu


"Insyaallah sudah semua Bi"jawab Rindu


"Yasudah kalau gitu kita berangkat yah"ucap sang Abi


"Bismillah"ucap mereka semua saat mobil mulai berjalan.


Hari sudah mulai sore tampak Naura saat ini tengah dengan telaten membasuh tubuh Iqbal dirinya tidak ingin melewatkan satu inci pun tubuh Iqbal.


Sementara di luar ruangan tampak Erlina dan Aini tengah membicarakan sesuatu yang sangat penting.


"Bagaimana Ni menurut mu"tanya Erlina


"Itukan amanah,ya harus kamu jalankan Er"ucap Aini


"Tapi kan kondisi Iqbal masih seperti ini"tanya Erlina


"Insyaallah justru dengan hal ini aku yakin akan memantik semangat Iqbal untuk bangun"ucap Aini


"Kamu yakin...?"tanya Erlina memastikan


"Insyaallah"jawab Aini


"Yasudah nanti malam kita lakukan ok"ucap Erlina yang dibalas anggukan oleh Aini.


Di dalam ruangan Naura yang baru saja selesai membasuh tubuh Iqbal,saat ini tengah mengajak Iqbal berbicara.


"Bang,Abang kapan bangunnya sih May kangen tau"ucap Naura


"Kalau Abang tidur terus siapa yang akan ngajarin Mau ngaji"ucap Naura.yang tak pernah patah semangat terus mengajak Iqbal berbicara.


Sementara itu di Cianjur,tampak sebuah mobil memasuki area sebuah pondok pesantren.Mobil pun berhenti tepat di depan rumah yang sepertinya merupakan rumah pendiri pondok pesantren tersebut.


Setelah mobil benar-benar berhenti tampak orang-orang yang ada di mobil tersebut keluar menuju rumah tersebut.


"Assalamualaikum"ucap seorang pria paruh baya


"Waalaikumussalam warahmatullah, tunggu sebentar"ucap suara dari dalam.


Tak lama akhirnya pintu pun terbuka.


"Ehh, Masyaallah kirain siapa ayo masuk"ucap orang yang membukakan pintu tersebut


"Terimakasih pak kyai"ucap pria paruh baya itu.


Mereka pun masuk ke dalam rumah tersebut,lalu duduk di atas karpet ruang tamu.


"Kalian mau minum apa"tanya kyai tersebut


"Tidak usah repot-repot pak kyai,air putih saja"jawab pria paruh baya itu.


"Aji Aji,kamu ini kaya sama siapa saja,saya nama saja tidak masalah"ucap kyai itu,lalu memanggil salah satu santri untuk menyiapkan air dan kue.


"Mohon ditunggu yah,ehh bukan kah ini Rindu"ucap kyai itu.


"Benar pak Kyai"ucap Rindu


"Sudah besar sekarang yah dulu waktu mondok masih kecil sekali,ucapnya lagi.


"Kamu gimana si Razi dulu kan dia masih SD"ucap Aji yang ternyata merupakan ayah dari Rindu


"Pak Kyai mohon maaf, kalau boleh saya tahu Bu Nyai dimana yah,saya ingin ngobrol"ucap Rindu

__ADS_1


"Kamu ternyata tidak berubah yah,dari kecil dekat sekali dengan istri saya"ucap kyai Razi


Rindu hanya menunduk malu.


"Tapi sayangnya istri saya saat ini sedang di Bogor"ucap kyai Razi


"Kalau boleh tau sedang apa istri mu di Bogor zi"ucap Abi nya Rindu.


"Kami sedang diberikan ujian, Iqbal masuk rumah sakit"ucap kyai Razi


"Inalillahi,Gus Iqbal kenapa pak Kyai"tanya Rindu kaget


"Dia kecelakaan"jawab Kyai 


"Kalau boleh kami tau dirawat di rumah sakit mana Gus Iqbal pak kyai"ucap Umi nya Rindu akhirnya buka suara


"Rumah Sakit Hati Bunda,apa kalian berniat untuk menjenguknya"ucap kyai Razi


"Iya pak Kyai"ucap pak Aji


"Kalau seperti itu besok pagi datang lah kemari kita berangkat bersama-sama"ucap kyai Razi.


Akhirnya mereka pun melanjutkan pembicaraan mereka hingga waktu menunjukkan pukul 10 malam, akhirnya keluarga Rindu pamit undur diri.


Sementara itu di rumah sakit Naura tengah tertidur di kursi sambil menggenggam tangan Iqbal,saat tengah malam tampak dua orang berjalan memasuki ruangan Iqbal sambil mengendap-endap mendekat kearah Naura, Naura yang merasa adanya pergerakan membuka matanya namu terlambat salah orang tersebut lebih dulu menyalakan lampu ruangan.


"HAPPY BIRTHDAY ANAK BUNDA"ucap Erlina


"Barakallah fi umrik anak Umi"ucap Aini


Naura yang sempat kaget, langsung menangis terharu


"Terimakasih Bunda Umi"ucap Naura


"Tiup lilinnya Nau"ucap Erlina


Naura pun langsung meniup lilin tersebut,lalu Erlina memberikan kado yang di titipkan oleh Iqbal padanya.


"Apa ini Bun"tanya Naura


"Buka saja, Bunda juga tidak tau"jawab Erlina


Naura pun membuka kado tersebut,saat kado tersebut di buka Naura memicingkan mata melihat ada sebuah surat dan map, Naura lalu membuka surat itu terlebih dahulu.


Assalamualaikum Mayra


Selamat ulang tahun ya,maaf Abang gak bisa ada di samping kamu saat kamu ulang,maaf juga Abang belum bisa jadi suami yang baik untuk kamu,Abang banyak sama kamu,sering nyakitin kamu,semoga kamu maafin Abang yah, sekali lagi selamat ulang tahun istri kecil Abang.


M.Iqbal Al Haq 


Naura yang membaca surat itu meneteskan airmata matanya ternyata Iqbal sudah punya firasat dari jauh-jauh hari.


"Abang gak salah bang, May yang salah maafin May bang,May belum bisa jadi istri terbaik untuk Abang"ucap Naura


lalu Naura pun membuka map tersebut dan dirinya kembali kaget melihat isi map tersebut merupakan surat tanah dan rumah dengan nama dirinya terdapat juga sebuah note sana.


Untuk istri kecil tercinta Abang


Mayra Naura Berenice


Naura sudah tak kuasa menahan tangisannya, dirinya pun menangis sejadi-jadinya membuat kedua orang tua di sampingnya kaget.


"Nau kamu kenapa"tanya Erlina


"Bang Iqbal Bun, ternyata bang Iqbal sudah punya firasat dari jauh-jauh hari hiks hiks"ucap Naura sambil menangis


Aini tampak mengambil surat yang di baca Naura tadi, dirinya kaget melihat isi surat tersebut karena jelas sekali Iqbal tampak sadar kalau dirinya tidak akan bisa bersama Naura di saat ulang tahunnya.


"Nau,kamu yang sabar yah, do'a kan semoga Iqbal semoga dia cepat sadar"ucap Aini


"Iya Umi makasih yah, Nau pengen shalat malam dulu yah, Nau pengen nenangin diri"ucap Naura meminta izin


"Iya Nau"jawab Erlina dan Aini bersamaan


Naura pun berjalan kearah kamar mandi untuk berwudhu, setelah selesai dirinya mengambil mukena dan sajadah lalu melaksanakan shalat malam.


Erlina yang melihat Naura melakukan shalat malam membuat dirinya terharu, dirinya bangga terhadap Naura semenjak menikah dengan Iqbal dirinya sudah banyak berubah


"Makasih Iqbal kamu sudah membuat anak Bunda berubah menjadi wanita yang lebih baik"ucap Erlina dalam hati


Ketika waktu menunjukkan pukul 10 pagi Aini mendapatkan kabar dari suaminya kalau dirinya akan kesini bersama sahabat dan keluarganya.dia pun memberitahukan hal itu pada Erlina, Erlina yang mendengar ucapan Aini langsung bergerak menuju kantin rumah sakit untuk membeli makanan untuk tamu mereka nanti.


Setelah shalat Dzuhur tampak Kyai Razi sudah memasuki rumah sakit di ikuti 3 orang di belakangnya.


"Assalamualaikum Mi"salm kyai Razi


"Waalaikumussalam Abi,gimana perjalanannya"


"Alhamdulillah lancar"ucap kyai Razi


Aini pun menoleh ke belakang dan menangkupkan tangan pada ayahnya Rindu lalu bersalaman dengan Umi Rindu dan terakhir berpelukan dengan Rindu.


"Kamu sudah besar sekarang yah Ndu"ucap Aini

__ADS_1


"Bu nyai bisa saja"balas Rindu malu


"Erlina kemana Mi"tanya Kya Razi


"Masih di mushalla Bi"jawab Aini


"Ohh iya bagaimana keadaan Gus Iqbal Bu Nyai"tanya Rindu


"Iqbal masih koma Ndu"jawab Aini


"Inalillahi,terus Gus Iqbal dirawat di ruangan mana Bu nyai"tanya Rindu


"Ini,di ruangan depan ini"tunjuk Aini pada pintu ruangan Iqbal


"Mohon maaf Bu nyai apa boleh Rindu melihat keadaan Gus Iqbal"tanya Rindu hati-hati


"Silahkan Ndu"jawab Aini


Rindu agak kaget mendengar jawaban Aini yang tidak melarangnya,namun dirinya tidak mempermasalahkan itu,lalu dirinya pun berjalan kearah pintu ruangan Iqbal,namun saat Rindu sudah membuka pintu ruangan itu dirinya langsung kaget,bukan kaget melihat kondisi Iqbal,tapi kaget saat melihat wajah Iqbal dan kaget melihat siapa orang yang duduk di samping Iqbal.


"Ja-jadi pak Iqbal adalah Gus Iqbal,dan orang yang duduk di samping Gus Iqbal adalah....."


"Naura"ucap Rindu kaget


Naura yang mendengar suara pintu terbuka langsung menoleh kearah pintu, dirinya kaget saat melihat Rindu berdiri di sana


"Rindu"ucap Naura


"Nau kenapa kamu ada disni,apa hubungan kamu dengan pak Iqbal"tanya Rindu


"G-gue bisa jelasin Ndu"ucap Naura


"Bang Iqbal adalah suami gue Ndu"lanjut Naura


"APA SUAMI"kaget Rindu


"Sejak kapan...?"tanya Rindu


"Seminggu sejak bang Iqbal mulai ngajar di sekolah"ucap Naura


"Kok bisa"tanya Rindu lagi


Akhirnya Naura pun menjelaskan awal pertemuannya dengan Iqbal dan bagaimana dirinya bisa menikah dengan Iqbal gara-gara begal, Rindu yang mendengarnya hanya bisa terperangah tak percaya.


Sementara di luar ruangan Erlina yang baru datang dari musholla kaget melihat keluarga Rindu ada disana


"Ehh mbak Winda kok bisa ada disini"tanya Erlina


"Ehh Lina kok kamu ada disini"Winda balik bertanya


"Kalian sudah saling mengenal"tanya Aini


"Anak saya sahabatan sama anaknya Bu nyai"ucap Winda


"Ehh kok bisa yah"anak saya kebetulan menantunya"ucap Aini santai


"M-maksud Bu Nyai Gus Iqbal itu suami Naura"tanya Winda,karena dia tau Erlina hanya memiliki satu anak saat ini.


"Iya Iqbal suami nya Naura"jawab Aini.


Kembali lagi kedalam ruangan Iqbal tampak Rindu sudah bisa mengendalikan rasa kagetnya, dirinya kini tengah duduk di sofa bersama Naura.


"Jadi waktu kamu pacaran lagi sama Edward, berarti kamu...."


"Iya,gue selingkuhin bang Iqbal waktu itu,gue khilaf waktu itu"ucap Naura langsung memotong ucap Rindu


"Gue nyesel banget Ndu,gue ngerasa udah jadi istri yang dzalim sama suami gue"ucap Naura kembali menangis.Rindu yang melihatnya tak tega melihat sahabatnya itu terpuruk, walaupun sebenarnya dirinya memiliki rasa pada Iqbal tapi dirinya harus mengikhlaskan rasa itu pupus demi sahabatnya.


"Kamu harus sabar Nau,yang terpenting kamu sudah mengakui kesalahan kamu dan tidak mengulangi kesalahan kamu"ucap Rindu sambil memeluk Naura


"Terus kenapa kalian merahasiakan pernikahan kalian"tanya Rindu lagi


"Karena ini semua kan berawal dari ke salah pahaman dan gue juga masih sekolah,jadi keluarga gue sama bang Iqbal sepakat merahasiakan pernikahan ini, sampai gue lulus SMA"ucap Naura di pelukan Rindu sambil terisak.


"Tapi setidaknya kamu cerita sama aku dan Sella Nau,jadi waktu Edward dekatin kamu kan kita bisa halangin dia"ucap Rindu


"Apa kamu tidak menganggap kami sahabat kamu Nau"tanya Rindu lagi


"Bukan begitu Ndu,jujur waktu pertama gue nikah sama bang Iqbal gue gak ada rasa sama sekali sama bang Iqbal, rasa cinta gue baru tumbuh perlahan saat gue sudah saling bersama di apartement,dan gue baru sadar gue cinta sama bang Iqbal itu waktu bang Iqbal pergi pelatihan"ucap Naura kembali menangis.


Rindu tidak menjawab ucapan Naura lagi dirinya langsung memeluk Naura erat kala mendengar Naura kembali menangis.


Sementara di depan pint tampak para orang tua juga ikut bersedih mendengar obrolan kedua sahabat itu, mereka memang sudah ada di sana sejak Naura dan Rindu saling bercerita.


Mungkin karena saking seriusnya mereka bercerita mereka tidak menyadari kehadiran para orang tua itu.


Tangisan Naura terhenti saat telinganya mendengar suara dari tempat tidur Iqbal.


"M-may"ucap suara itu pelan.


Naura pun langsung menoleh dan kaget.


"BANG IQBAL........"

__ADS_1


__ADS_2