Istriku Bukan Adikku

Istriku Bukan Adikku
IBA — Bab 12


__ADS_3

Dipanggil pendek dan gembul oleh Azka, tentu saja Kara jadi kesal. Ingin rasanya kabur dari kerumunan ini, tapi pasti akan menimbulkan keributan.


“Kara kamu kenal dia?” tanya Seli penasaran. “Tunggu deh, kayaknya dia yang kemarin hadir ke pemakaman juga ‘kan? Dia keluarga kamu?” Seli terus melayangkan banyak pertanyaan, mau tidak mau Kara pun harus menjawabnya.


“Dia kakak angkat aku,” jawab Kara dengan asal. Jika dia menjawab suami, maka masalahnya akan lebih besar, apalagi kerumunan di belakangnya juga pasti menguping apa yang dia katakan itu.


“Oh my God.”


Kara berjalan menghampiri Azka dan menatap suaminya itu dengan sorot tajam yang menyiratkan kemarahan.


“Aku nggak gembul ya, Om. Lagian Om ngapain sih ke sini?” tanya Kara dengan kesal.


“Om?” Giliran Azka yang melotot.


“Kak Azka.” Kara memutar bola matanya, jengah. “Kakak mau apa ke sini? Aku bisa pulang sendiri kok.”


Kara pikir Azka datang untuk menjemputnya, dan menurutnya itu tidak perlu karena bisa mengundang kecurigaan di antara teman-teman kampus.


“Saya akan gantikan Bu Dea. Kamu ada di kelasnya juga, ‘kan?” tanya Azka sambil memainkan alisnya. Bagi Azka, menggoda Kara jadi suatu hiburan tersendiri sekarang.

__ADS_1


“Kara, kenalin kita sama kakak kamu dong,” teriak seorang gadis yang merupakan kakak tingkat Kara.


“Iya dong, Kara. Punya kakak ganteng begitu masih jomblo nggak?” teriak gadis yang lainnya.


Kara malah semakin kesal. Sepertinya dia akan mendapat banyak masalah dengan munculnya Azka di kampus. Gadis itu masuk ke mobil Azka dan mengabaikan para mahasiswa yang mulai menggila.


Azka pun hendak ikut masuk ke mobil, tapi tiba-tiba tatapannya bertemu dengan Arsha yang menatapnya tidak suka. Azka mengabaikan adiknya itu, mereka memang dua bersaudara yang tidak pernah akur.


“Kak Azka jangan bilang-bilang kalau kita sudah menikah ya. Awas saja kalau Kakak bilang-bilang,” kata Kara setelah Azka masuk ke mobil. Menyebalkan sekali jika harus bertemu di rumah dan di kampus juga.


“Memang kenapa? Kamu ngaku jomblo ya,” sahut Azka.


“Ya, aku tidak akan mengganggu kok, tapi tidak seharusnya juga kamu menyembunyikan pernikahan kita. Kamu itu istriku bukan adikku.” Azka menyalakan mesin mobil dan melajukannya pelan.


“Bodo amat sih, Kak. Yang penting jangan ganggu aja. Aku juga enggak akan ganggu Kak Azka kok. Palingan Kak Azka juga punya pacar, ‘kan? Pasti Kakak enggak direstui, makanya mau nikah sama aku,” tebak Kara yang masih tidak mau menatap suaminya. Pandangannya tetap ke arah jendela mobil di sampingnya.


“Sok tahu kamu, Mel.”


***

__ADS_1


***


Selesai mandi, Kara langsung turun membantu Dita menyiapkan makan malam.


“Sayang, bagaimana kuliahnya hari ini?” tanya Dita yang selalu tersenyum, membuat Kara mulai menyukai ibu mertuanya itu.


“Ya, begitulah, Ma. Aku ‘kan enggak pintar, jadi ya biasa saja sih,” jawab Kara.


“Belajar sama Kak Azka, dia itu juga dosen loh. Kalau Arsha malah keluyuran terus jarang belajar.”


Mendengar kata dosen, Kara jadi teringat suaminya yang tiba-tiba menjadi dosennya.


“Kak Azka nyebelin, Ma. Aku mendingan bolos aja pas jam dia,” kata Kara sambil cemberut.


“Jangan macam-macam ya,” sahut Azka yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Kara. “Terlambat lebih dari lima menit, akan aku hukum, khusus kamu. Aku lihat nilai-nilai kamu dari Bu Dea sangat menyedihkan.”


🦩🦩🦩🦄🦄🦄


Makanya diajarin Om, biar pinter istrinya 💋💋

__ADS_1


__ADS_2