
Cuaca mendung mengawali pagi yang terasa dingin. Bukan hanya karena pendingin udara yang menyala, tapi juga karena Azka dan Kara tertidur tanpa sehelai kain yang melekat di tubuh mereka.
Selimut tebal menjadi satu-satunya benda yang menghangatkan tubuh Azka dan Kara yang masih berpelukan di atas kasur.
“Aku kira ini cuma mimpi, Mel,” gumam Azka yang baru terbangun dari tidurnya. Melihat istrinya yang tidur di sampingnya, Azka menyadari bahwa semalam mereka benar-benar melakukannya.
Azka lalu mengecup kening Kara dan mengucapkan kata cinta. Setelah itu dia bangun untuk menyiapkan sarapan.
***
Kara akhinya terbangun dan mendapati keadaannya yang tidak memakai apa pun. Tidak ada sosok sang suami di sampingnya membuat kening Kara berkerut. Ke mana Azka sepagi ini?
Dengan hati-hati, Kara memungut pakaiannya dan kemudian berlalu ke kamar mandi sebelum akhirnya keluar kamar. Senyumnya terukir cantik saat melihat sang suami sedang memasak di dapur.
Dia berjalan pelan mengendap-endap supaya tidak mengganggu suaminya. Lalu, Kara memeluk tubuh Azka dari belakang dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh Azka yang mengingatkannya akan pertempuran tadi malam.
“Kamu udah bangun sih, Mel. Masakannya belum matang loh padahal,” kata Azka. Dia mengecilkan kompor dan berbalik untuk mencium sang istri.
“Aku belum lapar kok. Aku pikir Kak Azka pergi ke mana gitu, tadi,” balas Kara sembari mendongak untuk menatap suaminya.
“Ya mana mungkin aku bisa pergi tanpa pamit kamu dulu, Mel.” Azka mencium kedua pipi Kara dengan gemas.
__ADS_1
Ciuman itu ternyata berlanjut ke adegan yang lebih inntim lagi, sampai-sampai Azka harus mematikan kompornya. Memang, kegiatan suami istri yang mereka lakukan, lama-lama membuat keduanya jadi kecanduan.
****
Setelah sarapan mesra itu, Azka mengantar Kara ke kampus seperti biasa. Meski dia sudah mengundurkan diri dari kampus, tapi pesonanya tidak terbantah. Para gadis masih menyambutnya antusias dan itu membuat hati Kara merasakan cemburu.
Dengan sengaja, Kara memeluk Azka sebelum masuk ke area kampus. “Kak, cium aku,” kata Kara sambil mendongak menatap suaminya dari bawah.
Azka menatap Kara yang tingginya tidak lebih dari pundaknya. “Kamu serius, ini di kampus, Mel. Kalau teman-teman kamu tahu, gimana?” tanya Azka dengan ragu. Dia lalu menatap sekeliling dan melihat para gadis memandangnya mereka dengan tegang.
“Serius, Kak. Cium aku ya, di ....”
Satu kecupan mesra mendarat di bibir Kara yang membuatnya membeku. Gadis itu belum menyelesaikan kalimatnya saat tiba-tiba Azka mencium lembut bibirnya walau hanya sekilas. Padahal, dia ingin dicium kening, tapi Azka malah melakukan hal lain.
“Kok di bibir, Kak,” kata Kara dengan lirih. Dia memegangi bibirnya yang baru saja dikecup manja oleh Azka.
“Katanya minta cium,” balas Azka sambil cengar-cengir.
Sementara di belakang mereka sudah banyak yang teriak-teriak heboh karena adegan Azka yang mencium bibir Kara, langsung di depan mereka.
“Aku mintanya cium kening, Kak.” Kara memanyunkan bibir sambil menatap sekeliling. Malu juga dilihat banyak orang seperti ini, bisa habislah dia kalau sampai pihak kampus tahu.
__ADS_1
Tanpa Kara duga, Azka malah mencium keningnya. “Udah, ‘kan? Sekarang belajar yang bener ya, istriku.”
Kara makin tercengang, sedangkan Azka tidak merasa bersalah sama sekali. Dengan pernyataan Azka tadi, para mahasiswi itu jadi semakin penasaran dengan hubungan keduanya.
Seolah tidak mempedulikan hal itu, Kara tetap berjalan ke gedung tempatnya mencari ilmu, tanpa berniat menjelaskan apa pun.
***
***
Azka baru sampai di kantor setelah mengantar Kara ke kampus. Saat di loby kantornya, mata Azka tiba-tiba membulat sempurna saat melihat seseorang yang selama ini telah menghilang dari kehidupannya.
Dia. Kenapa dia datang ke sini? Apa dia ingin membuat keributan lagi? Aku dan Kara baru saja bahagia.
“Maaf, Pak. Dia memaksa untuk menunggu Bapak,” kata resepsionis di kantor Azka.
Azka mengatur napasnya. Biar bagaimanapun, kesalahpahaman harus segera diselesaikan.
****
Votenya jangan lupa 💋💋
__ADS_1