Istriku Bukan Adikku

Istriku Bukan Adikku
IBA— Bab 64


__ADS_3

Usai makan malam bersama orang tua Azka, kini sepasang suami istri yang sedang berbunga-bunga itu sedang menaiki lift menuju unit apartemen mereka. Dengan bingung, Azka memasuki ruang kerjanya yang akhir-akhir ini juga menjadi tempat tidurnya. Tidak mungkin ‘kan tiba-tiba tidur dengan Kara tanpa izin istrinya itu, meskipun hubungan mereka sudah membaik.


aKara yang sudah masuk kamar lebih dulu, bingung karena suaminya tidak ikut masuk. Dia keluar lagi untuk mencari Azka yang sudah masuk ke kamarnya sendiri.


“Kak, kamu tidur di sini?” tanya Kara. Dia berdiri di ambang pintu sambil memperhatikan suaminya yang sedang melepas kemeja.


“Iya, biasanya ‘kan juga gitu, Mel,” jawab Azka.


“Oh, jadi enggak mau tidur sama aku. Ya udah kalau gitu.” Karamel berbalik badan dan meninggalkan suaminya.


Azka langsung sadar seketika dan mengejar istrinya. Dengan cepat tangannya menarik tangan Kara dan bertanya, “Mau kok. Mau banget. Aku pikir kamu masih belum izinin aku tidur sama kamu,” kata Azka dengan berdebar.


“Kita ‘kan udah baikan. Mau diapa-apain juga aku istri sah kamu, dan kamu berhak sama diriku, Kak Azka. Masa' dosen enggak ngerti,” balas Kara dengan malu.


Sejenak Azka kehilangan kata-katanya. Dia menatap Kara yang sangat berbeda jauh setelah pergi darinya.


“Kamu sudah mengerti hak dan kewajiban suami istri, Mel?” tanya Azka.


“Udah dijelasin semua sama Tante,” jawab Kara melepaskan tangan Azka dan berjalan cepat menuju kamar mandi. Dia harus menyembunyikan wajahnya yang malu-malu.


Azka sampai menyusul kamar mandi dan membuat Kara yang sedang mencuci mukajado terkejut.

__ADS_1


Kara pikir, suaminya akan kembali membahas hak dan kewajiban suami istri, tapi ternyata Azka hanya datang untuk menyikat gigi saja.


Keluar dari kamar mandi. Azka merebahkan tubuh di kasur dan menatap Kara dengan tatapan yang membingungkan.


“Aku pengen peluk kamu malam ini, Mel. Boleh, ‘kan?” tanya Azka sambil meletakkan bantal milik Kara tepat di sebelah tangannya.


Kara naik ke ranjang dan menatap suaminya dengan bingung.


“Kakak enggak tertarik sama aku?”


Azka mengerutkan kening, niatnya bukan begitu, tapi sepertinya Kara salah paham.


“Sayang, bukan begitu.” Azka bangun dan mensejajarkan posisinya dengan Kara. “Tadinya, aku enggak mau kamu berpikir kalau aku hanya mau tubuh kamu. Aku takut kamu belum siap, Mel.”


Azka bersorak kegirangan. Sebagai laki-laki normal, dia memang sudah lama menahan keinginannya untuk merasakan surga dunia. Akan tetapi, dia sadar diri Kara tidak akan dengan mudah memberikan haknya. Apalagi, hubungan mereka yang baru saja membaik.


“Aku ....”


Kara melihat keraguan di mata suaminya. Dia berinisiatif untuk meraih tangan Azka dan meletakkan di dadanya.


“Aku juga mau lihat sosis jumbo,” kata Kara yang kini menggerakkan tangannya di bagian bawah Azka.

__ADS_1


Sinyal hijau benar-benar sudah didapatkan oleh Azka. Tanpa ragu lagi, dia mencium bibir Kara dan melakukan apa yang seharusnya dilakukan.


Mereka mengikuti naluri yang membawa mereka mengarungi surga kenikmatan. Meski awalnya Kara berteriak kesakitan, tapi pada akhirnya dia juga menikmati itu semua.


Dua hati yang sedang menggebu-gebu itu, mengakhiri kegiatan mereka dengan hentakan terakhir yang menghasilkan bibit-bibit berkualitas ke dalam rahim Kara.


“Maaf, Mel. Aku lupa keluarin di luar,” kata Azka yang terdengar sangat merasa bersalahnya.


Kara mengelap keringat punggung suaminya yang masih berada di atas, menempa tubuhnya. “Enggak apa-apa, Kak. Papa udah pengen cucu, ‘kan?”


Azka yang tadinya ambruk dengan posisi yang masih menyatu, akhirnya bangun dan menatap wajah istrinya.


“Kamu serius?” tanya Azka dengan wajah berbinar. “Kamu masih kuliah, Mel. Masih terlalu muda dan masih banyak yang belum kamu lakukan. Kalau ada anak kamu akan ....”


Kara mencium bibir Azka yang membuat laki-laki itu berhenti bicara.


“Semua udah ditakdirkan, Kak. Kalau aku hamil, berarti emang begitu takdirnya.”


Azka tidak menyangka, pikiran Kara benar-benar sudah dewasa. Sangat berbeda dengan gadis yang dia nikahi di hadapan ayahnya dulu.


“Makasih banyak, Mel. Dan maafkan aku,” kata Azka. Dia mendekap erat tubuh Kara yang sudah menyerahkan mahkotanya hari ini.

__ADS_1


**


Kembang kopinya jangan lupa 😚😚


__ADS_2