Istriku Bukan Adikku

Istriku Bukan Adikku
IBA — Bab 48


__ADS_3

Setelah bertemu dengan Arsha, Kara menangis sejadi-jadinya di kamar kost yang menjadi tempat persembunyiannya selama ini. Dia tidak kuat lagi menahan kesedihan yang membuat dadanya semakin sesak.


Kara mengingat lagi saat Azka mengatakan perasaannya pada wanita yang menjadi mantan kekasihnya. Apalagi saat Kara berlari menjauh dan sang suami hanya diam tanpa berniat mengejarnya, rasanya hati Kara masih sangat hancur hingga menyebabkan luka yang teramat dalam.


“Apa aku enggak ada artinya buat kamu, Kak?” Kara menangis di balik pintu kamarnya yang tertutup rapat.


Dia belum siap bertemu dengan Azka yang sangat menyakitinya, tapi hati kecilnya juga merindukan kebersamaannya dengan Azka.


Pintu kamar Kara diketuk dengan pelan, gadis itu lalu menghapus air matanya sebelum membuka pintu dengan berdebar. Takut-takut ada Arsha yang datang.


“Tante,” sapa gadis jtu setelah melihat siapa yang datang.


“Kara, kamu menangis lagi? Apa kamu merindukan suami kamu?” tanya wanita yang Kara panggil tante itu.


Kara menggeleng pelan, meski dalam hati dia memang merindukan suaminya. “Aku baik-baik saja, Tante. Cuma ingat Ayah, aja.”

__ADS_1


Kara tersenyum dengan paksa lalu mengajak tantenya untuk masuk. Wanita itu adalah saudara jauh dari Kara, hanya dia satu-satunya saudara yang Kara tahu.


“Kalau tante boleh kasih saran, sebaiknya kamu bicarakan masalah ini dengan suami kamu. Tanya baik-baik bagaimana hubungan kalian! Kalau kamu terus lari, sampai tua pun masalah tidak akan selesai. Kalau pun nanti kalian berpisah, setidaknya beban yang mengganjal sudah hilang. Hubungan kalian akan jelas. Kalau pun kalian kembali bersama, setidaknya kamu punya kepastian bagaimana hati kamu harus bertindak.”


Kara mendengarkan nasehat yang wanita itu berikan. Air matanya semakin deras meluncur karena dia sudah terlanjur membuka hati untuk Azka.


“Jadi wanita yang tidak punya kejelasan status itu tidak enak, Kara. Saat kamu bertemu orang baru, itu akan menjadi batu sandungan untuk kebahagiaan kamu. Kamu berhak bahagia, dan bahagianya kamu hanya kamu yang tahu.”


Wanita itu memeluk Kara dan membiarkan tangis Kara pecah dipelukannya. Dia pun menyayangi Kara yang kini hidup seorang diri dan hanya memiliki suami yang entah bagaimana perasaannya.


Kara mengangguk dan mendengarkan setiap nasehat yang tantenya berikan.


“Aku masih butuh waktu untuk berpikir dan meyakini hati aku, Tante.”


“Kalau begitu, telepon dulu suami kamu. Supaya dia tidak terlalu cemas dan memberikan kamu waktu untuk saling berpikir.”

__ADS_1


Setelah mendengar nasehat tantenya, Kara akhirnya mengaktifkan kembali ponselnya. dia menarik napas berat sebelum menghembuskannya dengan kasar.


Kara menerima banyak sekali pesan dan panggilan dari suaminya. Dia mulai membaca satu per satu pesan itu sebelum menelepon Azka. Namun, baru satu pesan yang dibaca, ponselnya tiba-tiba berdering.


Azka tidak melewatkan waktu begitu tahu Kara mengaktifkan ponselnya.


Dengan ragu dan jantung berdebar tidak karuan, Kara menjawab panggilan video itu.


“Karamel, akhirnya kamu jawab teleponku.” Wajah Azka yang babak belur terlihat sedang tersenyum di ponsel Kara. “Kamu sekarang di mana, Mel? Aku kangen banget sama kamu. Maafkan aku, Mel. Aku benar-benar menyesal.”


Azka sama sekali tidak sabar saking bahagianya Kara menjawab teleponnya.


“Wajah kamu kenapa, Kak?” Kara justru fokus pada wajah Azka yang babak belur setelah dihajar Arsha.


“Bukan apa-apa, Mel. Sekarang kamu di mana? Kamu baik-baik saja, ‘kan?”

__ADS_1


Kembang kopinya jangan lupa 💋💋


__ADS_2