
Saat Seli masih di ruangan Azka, Kara tiba-tiba datang untuk menanyakan buku yang harus dia beli. Wajahnya langsung panik saat mengetahui bahwa sahabatnya sedang terlibat pembicaraan dengan dosen sekaligus suami Kara sendiri.
“Oh, Pak Azka masih sibuk. Ya sudah nanti saja,” kata Kara yang kemudian berbalik badan untuk pergi.
“Tunggu! Kamu di sini juga tidak masalah. Kita lagi bahas kamu,” sahut Azka yang membuat langkah Kara terhenti.
Gadis itu lalu menatap sahabatnya yang tiba-tiba salah tingkah karena merasa bersalah.
“Bahas aku? Bahas apaan?” tanya Kara sambil melotot pada Seli.
“Bahas itu, pergaulan. Kamu ‘kan adiknya Pak Azka, jadi Pak Azka khawatir kamu salah bergaul. Aku bilang, enggak akan salah bergaul karena kamu sahabat aku, Ra,” jawab Seli sambil cengar-cengir.
Kara menatap curiga pada sahabatnya yang sering hilang kendali saat berhadapan dengan laki-laki tampan. Sementara yang ditatap mengalihkan pandangan tidak ingin ketahuan sudah bertindak ceroboh.
“Kamu sudah beli buku yang saya minta?” tanya Azka mengalihkan perhatian Karamel.
“Ah iya, aku ke sini mau nanyain buku itu. Serius aku harus beli buku kayak gitu?” Kara menatap tidak percaya pada suaminya yang terlihat biasa saja.
__ADS_1
“Ya, buku dasar itu perlu. Kalau kamu mau, setelah ini kita beli.” Azka bersiap membereskan pekerjaannya. Masih ada waktu empat jam untuk kembali ke kantor.
“Enak banget sih, Ra. Punya kakak dosen, pasti nilai kamu bakalan naik deh,” sahut Seli.
Sebelum Kara menjawab, Azka sudah menyahut lebih dulu. “Ya, semoga saja. Kasihan suaminya yang dibuat repot karena istrinya terlalu lemot.”
Laki-laki itu langsung berdiri dan merangkul pundak Kara. Seli yang sadar posisi juga berdiri dan berpamitan meninggalkan ruangan Azka.
“Jangan rangkul-rangkul deh, ini kampus!” bisik Kara dengan kesal.
Azka terkekeh geli lalu melepaskan rangkulannya dari pundak Kara.
***
***
“Kelamaan, Mel. Buku ini enggak ada yang dibuka plastiknya jadi beli saja.” Azka mengambil buku bergambar anak-anak yang dia pilihkan khusus untuk Kara belajar.
__ADS_1
“Tapi ini buku untuk anak-anak, Kak. Ya ampun, malu-maluin banget beli buku kayak gini,” protes Kara yang menolak belajar dengan buku anak-anak.
“Karena kamu enggak paham sama sekali. Jadi, kamu itu sama kayak anak SD yang harus diajari pelan-pelan. Kamu baca ini sambil nunggu aku selesai kerja. Besok aku ajak jalan-jalan kalau kamu selesai baca satu buku ini.”
Azka seolah tidak peduli dengan protes istrinya. Dia tetap membayar buku itu dan juga beberapa buku yang dia beli sendiri. Setelah selesai membayar, Azka mengajak Kara untuk ikut ke kantornya.
Ini adalah kali pertama Kara datang ke kantor suaminya dan melihat langsung tempat Azka mencari nafkah. Melihat bagaimana suaminya disambut, dan juga pandangan dari para wanita di kantor itu, Kara tahu bahwa suaminya sangat dikagumi.
“Kamu mau minum apa, biar OB buatkan?”
“Apa saja, aku mau tidur.”
“Tidak bisa, Mel. Kamu harus baca itu sampai habis supaya kita bisa berkencan besok.”
Kara menyipitkan mata. Dia tidak mungkin salah dengar, ‘kan?
“Kencan? Kita berdua?”
__ADS_1
“Ya, nonton di bioskop, belanja, jalan-jalan. Bukankah itu hal biasa yang suami istri lakukan? Mau aku ajak bikin anak juga kamu belum paham,” jawab Azka.
Kembang kopinya jangan lupa 💋