Istriku Bukan Adikku

Istriku Bukan Adikku
IBA — Bab 54


__ADS_3

Berbelanja bersama memang hal yang umum dilakukan oleh pasangan suami istri, terutama bagi mereka yang baru saja menikah. Seperti Azka dan Kara yang juga tengah berbelanja. Mereka saat ini berada di sebuah minimarket yang tak jauh dari tempat tinggal Karamel.


Kara hanya mengambil kopi yang dulu biasa ada di dapur mama Dita. Akan tetapi, Kara memenuhi keranjang belanjaan itu dengan banyak camilan sampai membuat Kara terheran.


“Mel, kamu mau makan es krim enggak?” tanya Azka sembari mengajak Kara menuju kotak dingin yang berisi macam-macam es krim.


“Katanya mau bikin kopi, kok malah makan es krim?” tanya Kara bingung.


Azka tersenyum menatap Kara sebelum akhirnya kembali mengalihkan pandangn pada berbagai macam-macam es krim itu. Dia lalu mengambil dua es krim dan meletakkannya di keranjang.


“Aku ingin makan es krim sambil jalan ke kos kamu,” jawab Azka sembari mencubit gemas pipi Kara.


Melihat perlakuan Azka, Kara mematung dan itu membuat suaminya salah tingkah.


“Ma-maaf, aku lupa kalau kita ....” Azka tertunduk, mengambil napas sambil memejamkan mata sebelum akhirnya kembali menatap Karamel. “Maaf, aku terbawa suasana, Mel.”


Azka sadar, tidak seharusnya dia melakukan kebiasaan-kebiasaan mereka dulu. Mencubit pipi Kara secara spontan saja sudah membuat gadis itu memasang raut wajah tidak rela. Apalagi memaafkan kesalahan terbesarnya, rasanya tidak akan mungkin. Kesempatannya mendapat maaf rasanya semakin tipis.


Setelah mengatakan itu, Azka segera membayar ke kasir barang-barang yang telah dibelinya. Sementara itu, Kara memilih menunggu di luar minimarket. Dia memegangi pipinya yang tadi dicubit Azka. Sejujurnya dia merasa senang karena Kara juga merindukan perlakuan manis Azka sebagai suaminya.


Kara pikir, apa tantenya ada benarnya juga. Hidup sendiri itu tidak enak. Setiap malam, dia merindukan Azka, tapi karena rasa kecewanya, Kara berusaha menekan perasaanya pada Azka.


Laki-laki itu keliar dengan membawa dua plastik besar barang belanjaan. Kara mendekatinya dan mencari es krim yang dibeli Azka.

__ADS_1


Azka hanya memperhatikan gerak-gerik istrinya tanpa berniat bertanya. Namun, Kara yang memulai percakapan lebih dulu. “Katanya mau makan es krim sambil jalan, enggak jadi?”


“Jadi jadi, Mel. Kamu enggak marah?” tanya Azka ragu.


“Kalau masalah mantan, masih. Kalau masalah cubit pipi sembarangan, enggak,” jawab Kara, lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Azka.


Laki-laki itu kembali tersenyum merasa lega, lalu dengan susah payah karena membawa plastik belanjaan. Mereka akhirnya berjalan berdampingan sambil makan es krim, sesuatu yang Kara anggap hal romantis.


“Mel, kamu masih belum ingin pulang?” tanya Azka sembari memakan es krimnya.


“Belum. Aku suka di sini, dan di tempat kerjaku,” jawab Kara.


Azka jadi teringat perintahnya pada sang sekretaris beberapa waktu lalu. Dia jadi penasaran, cerita versi Kara. “Oh. gimana kerjaan kamu? Lancar, ‘kan?”


Azka berdehem, apa iya, dia harus membeli ponsel setiap hari supaya dia seantusias ini?


“Berarti kamu dapat banyak bonus dong, Mel?” tanya Azka pura-pura tidak mengerti.


“Ya, sebagian aku lempar ke teman-teman aku yang belum memenuhi target,” jawab Kara apa adanya.


“Kok gitu sih? Sayang dong,” komentar Azka yang juga menyesalkan keputusan Kara. Padahal dia berharap Kara akan mendapat banyak bonus dan bangga.


“Ya, namanya teman. Lagian semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati kerja keras bersama, ‘kan?”

__ADS_1


Azka merasa bangga sekaligus sedih dengan pemikiran Kara sekarang. Baru beberapa minggu mereka berpisah, tapi pikiran Kara bisa sedewasa ini.


Tanpa terasa, mereka sudah sampai di depan tempat tinggal Kara. Gadis itu langsung masuk dan membuatkan kopi untuk suaminya, sedangkan Azka harus rela menunggu di luar karena Kara tidak mengizinkannya masuk.


Setelah membuat kopi, Kara kembali menemui Azka untuk menyuguhkan kopi buatannya.


“Makasih, Mel. Akhirnya bisa menikmati kopi buatan kamu. Apa aku boleh ke sini setiap hari buat minta kopi?” tanya Azka sembari menyeruput kopi panas itu.


Kara menghela napas berat. “Memangnya Kakak enggak kerja? Lagian tinggal bikin aja apa susahnya,” jawab Kara.


“Susah, Mel. Karena aku ke sini juga sekalian usaha buat bikin kamu pulang dan maafin aku. Kasih aku kesempatan kedua, Mel.”


“Kakak butuh aku cuma karena kopi? Karena sosis jumbo Kakak juga, ‘kan?” tanya Kara dengan mata yang mulai terasa panas.


“Enggak gitu, Mel. Kenapa kamu berpikir seperti itu?”


“Karena Kakak cuma manfaatin aku untuk itu dalam pernikahan kita. Cinta Kak Azka bukan buat aku.”


Air mata Kara sudah tidak dapat lagi ditahan, rasa kecewanya sudah dia tumpahkan perlahan di hadapan Azka.


“Mel, kalau aku mikir hal kayak gitu, aku udah ambil hak aku sejak awal, Mel. Kalau kamu mikirnya aku kayak gitu, aku bersumpah enggak akan memperlihatkan itu lagi di depan kamu, apalagi sampai menyentuh kamu, tanpa kamu minta. Walau sebenarnya itu hak aku, tapi aku tidak seperti itu, Mel.”


Kembang kopi dan vote nya jangan lupa💋💋💋

__ADS_1


__ADS_2