Istriku Bukan Adikku

Istriku Bukan Adikku
IBA — Bab 37


__ADS_3

Sebenarnya Kara masih bingung dengan mayonis yang dimaksud Azka. Dia mencoba mengingat-ingat kejadian kemarin saat sosis bakar jumbo itu mengeluarkan sesuatu yang lengket. Apakah itu disebut mayonis?


Melihat istrinya yang terlihat bingung, Azka malah tertawa dan lagi-lagi mencubit pipi Kara dengan gemas.


“Masih bingung? Kamu mau praktik sekalian?” goda Azka yang kini sudah selesai menggosok gigi, tapi dia sama sekali tidak ada niatan untuk keluar sekarang.


“Enggak kok. Yang Kakak kemarin malam keluar dari sosis jumbonya Kakak itu mayonis, ‘kan?” tanya Kara dengan polosnya.


Azka merasa geli dengan julukan aneh Kara pada benda pribadi miliknya. Dia langsung menggendong Kara seperti karung beras dan membawanya ke tempat tidur mereka. Dia mengabaikan teriakan protes yang keluar dari bibir Kara yang malah membuatnya tertawa lepas.


“Kakak jahat banget sih, Aku ‘kan baru makan, kalau muntah gimana?” marah Kara saat suaminya sudah merebahkan tubuhnya di kasur.


“Ya tinggal dipel, ‘kan itu tugas kamu,” balas Azka tanpa rasa bersalah. Dia merebahkan tubuhnya di samping Kara yang kini menarik selimut untuk menutup seluruh tubuhnya.


“Kak Azka suami macam apa sih?” teriak Kara dari balik selimutnya.


Azka terkekeh geli dan dengan cepat menarik tangan Kara hingga selimutnya terbuka. “Suami macam apa!?


Memangnya kamu istri macam apa?” balas Azka sambil menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang.

__ADS_1


Kara kembali menyelimuti tubuhnya. Sementara Azka mengusap kepala Kara. “Mau aku jelaskan sesuatu enggak, Mel?” tanya Azka.


Gadis itu bangun dan menatap suaminya. Dia ikut duduk di samping Azka dan bertanya, “Apa?”


Azka meraih tangan Kara dan mulai menjelaskan apa saja yang harus dilakukan suami istri. Kewajiban dan batasan-batasan yang harus dipenuhi suami istri agar rumah tangga mereka berjalan dengan baik. Namun, ternyata Kara yang harusnya mendengar malah tertidur di pundak Azka. Membuat laki-laki itu menghela napas berat.


“Kebiasaan banget sih, Mel.”


***


***


Diam-diam Azka menatap wajah cantik itu dan mengecup pipi Karamel. Lalu, dia segera mandi dan bersiap untuk menghabiskan waktu seharian bersama Karamel.


Sampai Aksa selesai mandi, Kara masih belum juga bangun dari tidurnya. Azka langsung menyingkap gorden kamar dengan sekali gerakan berharap sinar matahari yang masuk bisa membuat gadis itu bangun.


Merasakan cahaya yang mengusik tidurnya, Kara malah mencari sesuatu yang bisa menutupi matanya. Namun, tangan Azka dengan sigap menghalanginya.


“Mau apa kamu? Buruan bangun, Mel.”

__ADS_1


“Nanti saja, Kak. Aku masih ngantuk banget,” kata Kara menolak perintah suaminya.


“Katanya mau jalan-jalan.” Azka naik ke kasur dan mulai memosisikan dirinya di atas Kara. “Kamu enggak butuh ini?”


Sifat jahil Azka mulai timbul lagi, dia sengaja menyentuh benda kenyal milik Kara agar gadis itu segera bangun.


“Kakak, nakal banget sih tangannya.”


Benar saja, Kara langsung bereaksi setelah benda sensitif itu disentuh Azka.


“Ingat yang tadi malam aku bilang? Suami punya hak atas semua tubuh istrinya.” Azka bangun dan duduk di samping ranjang. Matanya menatap Kara yang sebenarnya ingin protes tapi tidak punya keberanian.


“Tapi Kakak bikin aku kaget. Aku ‘kan belum siap, Kak!”


“Makanya belajar biar siap.”


Kara bangun dari tidurnya dan kini berhadapan dengan Azka. Cukup lama mereka sama-sama diam sampai akhirnya terdengar helaan napas berat yang keluar dari hidung Kara.


“Ya sudah, tapi pelan-pelan aja,” kata Kara yang membuat mata Azka terbelalak.

__ADS_1


Kembang Kopinya jangan lupa 💋💋💋💋


__ADS_2