Istriku Bukan Adikku

Istriku Bukan Adikku
IBA — Bab 50


__ADS_3

Azka menatap istrinya yang sekarang terlihat lebih dewasa. Kara yang ada di hadapannya bukan lagi sosok manja yang kemarin-kemarin mengisi hari Azka.


“Aku akan buktikan, Mel. Aku ingin menghadiri pernikahan Oliv bersamamu. Supaya kamu juga bisa melihat sendiri, bagaimana perasaanku sama kamu,” kata Azka.


Kara hanya diam dan masih berpikir. Karena gemas, Azka memajukan wajahnya menjadi semakin dekat dengan Kara yang hanya terhalang meja.


Secara refleks Kara memundurkan tubuhnya. Setelah itu, Kara bisa melihat jelas raut kekecewaan di wajah Azka yang memaksakan senyum.


“Aku cuma ingin melihat detail wajah kamu aja, Mel. Aku kangen momen-momen sama kamu. Biasanya tiap bangun pagi lihat kamu, sekarang semuanya terasa aneh.” Azka kembali ke posisinya dan menundukkan kepala. Dia sadar, semua telah berbeda karena kesalahannya sendiri. Bahkan, menyesal pun akan sulit mengubah keadaannya.


“Kapan pernikahannya?” tanya Kara mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Azka, karena Kara sendiri juga sangat merindukan momen-momen bersama Azka.


“Besok minggu, Mel. Kalau kamu bersedia kita bisa beli baju ....”


Dengan cepat Kara memotong pembicaraan Azka karena tidak mau membuat laki-laki itu berharap. “Aku pikir-pikir lagi nanti, Kak.”

__ADS_1


Azka terhempas. Tadinya dia berharap bisa membuat Kara yakin dengan perasaannya, dengan menghadiri pernikahan mantannya itu. Namun, usahanya tidak semudah itu. “Kalau kamu enggak bisa, aku juga enggak akan datang, Mel.”


Kara hanya diam. Masih memikirkan apakah perlu menghadiri acara itu. Akan tetapi, jika dia dan Azka datang, bukankah itu bisa membuktikan siapa yang lebuh berharga bagi Azka.


“Oh iya, Mel. Aku sengaja beli ini buat kamu. Entah kamu suka atau enggak, tapi ini pertama kalinya aku membeli bunga untuk wanita.” Azka menyodorkan bunga itu pada Kara.


Dengan sedikit senyum Kara menerimanya. “Tapi bunga ini enggak akan menghapus rasa kecewa, Kak. Sepertinya aku harus pergi, Kak. Aku masih butuh waktu untuk sendiri, tolong mengertilah!”


Kara melihat kedatangan bibinya yang tadi membeli sesuatu di toko yang tak jauh dari kafe.


“Aku enggak janji, Kak. Karena aku harus kerja.”


Lagi-lagi Azka merasa tertampar. Entah apa yang dilakukan Kara saat ini? Apa dia benar-benar ingin hidup mandiri?


Kara langsung berdiri dan bersiap mengajak pergi bibinya. Namun, saat sudah di luar kafe, tiba-tiba Azka menahan mereka.

__ADS_1


“Aku ingin bicara sebentar sama Tante,” kata Azka.


Kara dan tantenya saling melirik dan akhirnya Kara setuju. Azka diberi kesempatan untuk berbicara dengan satu-satunya orang yang saat ini Kara percaya.


“Ada apa, Nak?”


“Tante, saya titip Kara. Walaupun saya tidak tahu di mana dia tinggal, tapi saya percaya Tante orang baik yang akan menjaganya. Tolong jangan biarkan dia pergi jauh dari kota ini, saya takut tidak bisa menemukannya nanti.”


Tante Kara tersenyum dan mengangguk. Dia melihat kecemasan di mata Azka, dan wanita itu yakin, sebenarnya Azka laki-laki yang baik.


“Maaf ya Nak Azka, apa boleh tante memberi saran?” tanya wanita itu.


Azka mengangguk pelan tanda setuju.


“Begini, menurut tante, sebaiknya Nak Azka yakinkan diri Nak Azka dulu, siapa yang Nak Azka cintai. Tidak mudah bagi wanita jika mengetahui suaminya memiliki perasaan pada wanita lain. Kalian perlu sama-sama berpikir. Karamel perlu berpikir untuk memaafkan Nak Azka atau tidak, tapi Nak Azka juga harus berpikir ulang, apakah Karamel benar-benar wanita yang Nak Azka cintai atau tidak.”

__ADS_1


Kembang sama kopinya jangan lupa 💋💋💋


__ADS_2