
Kara menatap suaminya dan menggeleng lemah dengan wajah cemberut. Dia tahu dia sangat bodoh dalam hal pelajaran. Bahkan, kuliah pun bukan murni untuk mencari ilmu supaya menjadi orang pintar.
“Ya, aku tahu itu punya laki-laki tapi aku enggak tahu itu tadi maksudnya apa.” Karamel menutup wajahnya dengan bantal.
Sebagai wanita, memalukan sekali mengakui di hadapan suaminya bahwa dia adalah orang yang bodoh. Akan tetapi, di hadapan laki-laki pintar seperti Azka, Karamel tidak mungkin berpura-pura, apalagi dia memang sudah terlihat sekali bodohnya.
“Ya ampun, Mel. Makanya kalau dijelasin itu didengerin. Cantik saja enggak cukup, Mel. Bayangkan kalau nanti kamu punya anak, terus anak kamu tanya ini apa itu apa, tapi kamu enggak tahu. Kamu mau jawab apa?” tanya Azka yang mencoba bersabar menghadapi istrinya.
“Ya, aku suruh tanya sama guru lesnya saja, Kak. Uang yang Kak Azka kasih sama aku ‘kan banyak, pasti cukup buat bayar guru les,” jawab Kara dengan santai.
“Setidaknya kamu akan malu sama anak kamu sendiri kalau kamu enggak bisa apa-apa.” Azka jadi kesal karena jawaban Kara yang tidak sesuai keinginannya. Dia mencari celananya dan memakainya kembali.
“Kak Azka, jangan begitu dong.” Kara mendekati suaminya yang sibuk memakai celananya. Mata Kara membelalak sempurna saat melihat sosi bakar jumbo yang tadi digenggamnya sekarang berubah wujud menjadi sosis biasa yang tidak jumbo.
“Kenapa lagi, Mel?”
__ADS_1
Azka duduk di sofa diikuti oleh Kara yang juga ikut duduk di sebelah suaminya.
“Jangan marah. Jadi, Kak Azka memang normal, ‘kan?” tanya Kara sambil nyengir kuda.
“Kamu sudah siap aku bikin hamil? Kalau kamu hamil, itu akan membungkam mulut semua orang termasuk Arsha,” jawab Azka lalu menyalakan laptop miliknya.
“Kalau aku hamil, masih boleh main, Kak?”
Azka menatap tajam Karamel yang akhirnya memilih diam.
Azka menunjukkan sebuah gambar dan juga video animasi tentang alat reeproduksi. Lalu, Azka mulai menerangkan pada istrinya itu tentang pelajaran yang seharusnya dia dapatkan di SMP dan SMA.
“Coba saja kalau guru aku dulu teranginnya kayak gini, aku pasti ngerti,” kata Kara sambil menyandarkan kepalanya di bahu Azka.
Gadis itu malah tertidur lelap di bahu Azka yang akhirnya menggendongnya ke kasur.
__ADS_1
“Dasar kamu, Mel. Aku tahu kamu anak baik yang belum terkontaminasi oleh pergaulan zaman. Pasti Ayah panik banget waktu tahu kamu keluyuran enggak jelas. Makanya Ayah langsung jodohin kita,” kata Azka sambil menyelimuti tubuh Karamel.
“Aku akan jaga dan bertahan sama kamu, Mel. Ayah kamu sudah menjaga kamu dengan baik, aku pun akan melakukan hal yang sama. Awas saja kalau kamu bergaul sama anak yang enggak bener.” Azka tersenyum sebelum akhirnya mencium dan memeluk tubuh Kara yang sudah berkelana ke alam mimpi.
***
***
Azka mengajak Karamel untuk melihat apartemen yang akan mereka tinggali. Sebelum ke kantor dan ke kampus, mereka meluangkan waktu untuk melihat apartemen mereka. Dengan mengendarai mobil Azka, mereka pun mengunjungi apartemen itu.
“Wow, tinggi banget ya, Kak. Tapi apartemennya punya dua kamar, apa kita tidur terpisah?” tanya Kara bersemangat.
“Tidak. Kamar sebelah itu akan aku jadikan ruang kerja sekaligus perpustakaan mini, dan kita akan penuhi lemari itu dengan buku. Kamu harus membeli satu buku yang akan aku beritahu nanti. Supaya kamu bisa belajar dengan baik.”
Kembang kopinya jangan lupa 💋💋
__ADS_1