
Layaknya remaja yang baru saja mendengarkan ungkapan cinta dari seorang laki-laki, wajah Kara sudah seperti udang rebus. Merah merona alami tanpa pewarna buatan, dan Azka semakin menyukai rona merah itu.
“Belajar saling mencintai?”
“Ya, jadi aku akan mencintai kamu seperti suami yang seharusnya, dan kamu juga akan menjadi istri yang sesungguhnya. Demi pernikahan ini, banyak yang harus kita pelajari, Mel. Kita bisa sama-sama belajar membuka hati,” kata Azka lalu meraih tangan Kara dan meletakkan di dadanya.
Kara tersenyum dan mengangguk. Dia tidak punya siapa-siapa lagi, bukankah hidupnya sekarang bergantung pada Azka.
“Aku rasa itu bukan ide yang buruk,” balas Kara yang kini membalas dengan mencium pipi kiri Azka. “Maaf, Om.”
Azka tertawa karena Kara memanggilnya Om, bukan Kak seperti biasanya.
“Gitu dong berani cium duluan,” kata Azka.
Mereka sibuk bercanda dengan cara mereka sampai mengabaikan film yang saat ini mereka tonton. Hingga tanpa terasa film yang mereka tonton sudah habis tanpa mereka paham jalan ceritanya.
“Yah, kok udah habis sih. Endingnya dia sama siapa dong?” Karamel bertanya-tanya dengan pandangan yang sibuk menoleh kanan dan kiri, memperhatikan orang-orang yang mulai meninggalkan bioskop.
“Endingnya aku sama kamu saling membuka hati, Mel.” Azka meraih tangan Kara dan mengajaknya keluar. “Kapan-kapan kita nonton lagi.”
__ADS_1
“Yah, sayang banget.” Kara mengerucutkan bibir tapi Azka sama sekali tidak melihatnya.
“Sayang banget sama siapa? Sama aku?” tanya Azka.
“Ih, Kakak jangan godain aku terus dong.”
Setelah selesai menonton, Azka mengajak Kara untuk makan bersama lalu berbelanja kebutuhan dapur karena Azka ingin Kara belajar memasak.
***
***
Pagi ini, Kara dan Azka masih menikmati hari libur mereka. Azka mulai berani memeluk Kara saat tidur karena ingin bisa menumbuhkan rasa cinta pada gadis itu.
“Kakak, aku masih ngantuk!” ucap Kara yang tak ingin tidurnya terganggu.
Kemarin mereka pulang sudah larut, sehingga wajar jika Kara merasakan kantuk yang luar biasa.
Azka mengabaikan penolakan Kara, dia kembali mencium dan memaksa Kara untuk segera bangun.
__ADS_1
“Aku akan mengajakmu jalan-jalan naik motor. Kita akan pergi ke pegununangan, jadi cepatlah bangun, Mel.”
Mendengar perkataan Azka yang ingin mengajaknya pergi lagi, Kara langsung membuka mata dan menatap suaminya.
“Kita pergi ke mana, Kak?” tanya Kara bersemangat. Dia melupakan rasa kantuk yang masih menyiksa itu dan memilih untuk mendengarkan penjelasan Azka tentang berlibur.
“Jalan-jalan naik motor. Ikut enggak?”
“Mau, tapi aku pengen digendong ke kamar mandi, boleh enggak?” tanya Kara sambil mengulurkan kedua tangannya ke hadapan Azka.
“Oke, tapi gimana kalau kita mandi bareng.” Azka mencoba mencari kesempatan untuk sekalian mengajari istrinya supaya mereka lebih dekat lagi.
“Suami istri harus mandi bareng ya, Kak?” tanya Kara yang bingung antara menolak atau menerima.
“Kayaknya sih iya. Tapi, kalau kamu enggak mau juga enggak usah deh. Aku akan gendong kamu sampai ke kamar mandi.” Azka menunggu jawaban Kara, tapi beberapa detik reaksi Kara hanya diam.
Laki-laki itu tersenyum seraya merutuki pikiran bodohnya sendiri. Lalu, Azka meraih tubuh Kara dan menggendongnya di depan dada. Tatapan mereka saling bertemu, meskipun Kara hanya diam saja. Wanita itu masih berperang dengan hatinya sendiri, apakah dia setuju dengan permintaan Azka atau tidak.
Sampai di kamar mandi, Azka menurunkan Kara dan berniat meninggalkannya. Namun, tangan Kara berhasil menahan gerakannya.
__ADS_1
“Kakak mau ke mana? Katanya mau mandi bersama?”
Ritual Jejaknya jangan lupa 💋