Istriku Bukan Adikku

Istriku Bukan Adikku
IBA — Bab 17


__ADS_3

Seli sangat tahu hubungan Kara dengan Ello yang harus terpisah karena jarak di antara mereka, tapi Seli juga tidak habis pikir, bisa-bisanya gadis itu sudah ke kampus dibonceng cowok lain. Mana cowok itu seniornya pula. Entah apa yang ada di otak Kara itu.


“Tenang aja, dia tidak akan menjadi pacar aku, Sel. Kita Cuma teman kok, adik kakak aja. Ya, mungkin karena Kak Arsha itu baik dan perhatian kali ya,” ucap Kara yang bosan melihat wajah kesal sahabatnya itu.


“Apa sih Karamel. Kamu itu udah punya Ello, apa coba kurangnya Ello. Udah ganteng, pinter, tajir.”


“Stop! Jangan bahas Ello. Oke.”


Kara berjalan lebih dulu keluar dari kelasnya. Dia tidak menuju kantin seperti biasa, tapi malah menuju perpustakaan. Gadis itu cukup sadar diri bahwa dia tidak punya uang saat ini. Mau pinjam uang tapi momennya masih kurang tepat karena Seli terus saja membahas masalah Ello.


“Kamu ngapain ke perpustakaan?” tanya Seli.


Kara malah pura-pura tidak mendengar dan terus berjalan mengabaikan Seli. Sesampainya di perpustakaan, ruang itu sangat sunyi. Suasana yang sangat berbeda dengan kantin yang biasa dia datangi.


“Huft, terpaksa harus ke sini. Apa aku telepon Kak Azka saja ya? Ah tapi malu banget. Aku ‘kan masih kesel sama dia,” gumam Kara sambil memainkan tali tasnya.

__ADS_1


“Kenapa enggak telepon aja? Memangnya kamu enggak ingin ke kantin, ngemil-ngemil di kantin gitu?” bisik seseorang yang tepat berada di belakang Kara.


Secara otomatis, gadis itu menoleh pada laki-laki yang ada di belakangnya.


Memalukan! Azka yang tiba-tiba muncul membuat Kara menutup wajahnya dengan tas, lalu berniat menghindar. Namun, Azka yang selalu sigap dalam membaca pergerakan Kara, tiba-tiba menarik tangan gadis itu dan membawanya ke taman kecil yang tak jauh dari perpustakaan.


“Kakak kenapa tarik-tarik aku, sih?” tanya Kara yang merasa diseret oleh Azka. Dia yakin, pergelangan tangannya pasti akan merah-merah setelah ini.


“Ke sini saja, biar tidak mengganggu yang lain lagi belajar.” Azka melepaskan cengkeramannya pada tangan Kara.


Azka tersenyum kecil memperhatikan tingkah istrinya yang menggemaskan. Dia lalu membuka dompet dan mengeluarkan uangnya. “Kamu belum minta uang jajan,” kata Azka sambil menyerahkan beberapa lembar uang pada Kara.


“Ya ampun, Kak. Ini banyak banget. Satu saja.” Kara mengambil satu lembar dan mengembalikan sisanya pada Azka.


“Biar enggak bolak-balik minta. Ini aku kasih ATM, tapi ingat jangan gunakan untuk hal yang aneh-aneh.”

__ADS_1


Kara menatap kartu bertuliskan platinum itu dengan kening yang berkerut. “Ini duit, Kak? Buat apa?” tanya Kara yang masih juga tidak mengerti.


“Ya kalau kamu ke mesin ATM, kamu bisa ambil duit dengan kartu itu. Setiap bulan, aku akan kirim uang ke ATM itu. Itu namanya uang bulanan suami untuk is–”


Kara tiba-tiba menutup mulut Azka dengan tangannya. “Jangan kenceng-kenceng, Kak. Kalau ada yang dengar bagaimana?”


“Ya sudah, ‘kan memang kamu istri aku,” jawab Azka dengan santai.


“Ih, apa sih Kak Azka. Mahasiswa di sini tahunya kakak itu kakak aku, bukan suamiku. Jangan melanggar perjanjian kita dong,” balas Kara. Dia memasukkan ATM dan uang pemberian Azka itu ke dalam tas.


“Perjanjian yang mana?”


“Jangan pura-pura lupa. Kakak bilang sendiri jangan ikut campur urusan masing-masing!”


“Kalau begitu, urusan uang jajan sama uang kuliah juga bukan urusan aku, ‘kan?”

__ADS_1


Gaes, karakternya Kara kan emang childish. Maaf ya, kalau kalian nggak suka sama karakternya 🙏


__ADS_2