
Azka sudah selesai sarapan dan bersiap untuk berangkat ke kantor. Dia berangkat lebih dulu dari papanya yang masih bersantai menikmati kopi buatan Kara.
Kara mengantarkan Azka ke pintu depan seperti yang biasa Mama Dita lakukan saat Papa Tio berangkat kerja. Dengan gaya imut dia mengulurkan tangan hendak mencium tangan Azka. Bukannya memberikan tangannya, tetapi yang Azka lakukan malah mengambil dompet dan mengeluarkan kartu ATM yang kemarin sempat ditolak oleh Kara.
“Ini, kakak enggak ada uang tunai. Kamu ambil sendiri saja nanti,” kata Azka. Dia meletakkan kartu ATM itu di tangan Kara mengembalikan dompet ke celananya.
“Ih apa sih Kakak, orang cuma mau salim kok.” Kara menyimpan kartu ATM itu di tangan kirinya dan kembali mengulurkan tangannya.
“Oh, bagus deh kalau kamu mulai belajar jadi istri yang baik.” Azka juga kembali memberikan tangannya agar Kara dapat mencium tangan itu. “Oh iya, jangan lupa ambil uang, nanti bilang Arsha suruh mampir ke ATM. Jangan sampai nahan lapar kayak kemarin!” katanya sebelum membuka pintu mobil.
“Iya, iya, Kak. Hati-hati.” Kara melambaikan tangannya saat Azka masuk ke mobilnya.
“Hem, semangat belajarnya!” Azka balas melambaikan tangan, lalu melajukan mobilnya menuju kantor.
‘Ternyata, begini ya rasanya jadi istri sungguhan.’ Kara tersenyum lalu kembali ke dalam rumah.
***
***
__ADS_1
Sesuai rencana, Kara berangkat bersama Arsha ke kampus dan mampir dulu ke ATM untuk mengambil uang. Namun, saat di depan ATM dia malah lupa nomor pinnya dan terpaksa menelepon Azka.
Di sisi lain, Azka yang sedang memimpin rapat, sengaja mengabaikan panggilan telepon dari Kara dan ternyata gadis itu tetap saja meneleponnya tanpa peduli sudah diabaikan. Azka pun terpaksa menjawab panggilan dari Kara dan menunda rapat.
“Apa sih, Mel? Aku lagi kerja sekarang. Kalau aku reject, berarti lagi sibuk, masa’ kamu enggak ngerti sih?” tanya Azka dengan nada kesal. Dia sedang pusing dengan rapat dan istri bocahnya itu terus mengganggu.
“Pin ATM berapa, Kak?”
Azka menghela napas mencoba untuk tetap sabar, karena memang dia juga lupa memberitahu Kara mengenai hal itu. “Lima enam kali.”
Tanpa basa-basi dan mengucapkan terima kasih, Kara langsung menutup telepon dan kembali ke mesin ATM. Saat mengecek isi saldonya, gadis itu menjerit saking kagetnya.
Gila, duit sebanyak ini apa uang jajan aku setahun ya?
Selesai mengambil uang di ATM, Kara keluar menghampiri Arsha yang dengan setia menunggu di parkiran.
“Kenapa teriak?” tanya Arsha khawatir.
Kara hanya cengar-cengir dan dengan polosnya menjawab, “Itu, saldo aku ada dua puluh juta. Itu uang jajan setahun kali ya, Kak.”
__ADS_1
Arsha hanya senyum tipis sambil geleng-geleng kepala.
“Kak Azka itu banyak uang. Kalau aku jadi dia, pasti aku kasih lebih,” balas Arsha lalu meminta Kara untuk kembali naik ke boncengan motornya.
“Aku kadang lupa kalau Kak Azka itu bukan OB.”
Mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju kampus. Karena jarak yang tidak terlalu jauh, mereka sampai dalam waktu lima menit saja. Lalu, Kara kembali turun setelah Arsha memarkirkan motornya.
“Nanti kabari kalau sudah selesai, Ra.”
Kara hanya mengangguk dan mengembalikan helm pada Arsha.
Hingga tiba-tiba seorang gadis yang menjadi primadona di kampus menghampiri mereka.
“Hai, Arsha. Jadi, ini alasan kamu enggak mau angkat telepon aku lagi?” tanya gadis itu sambil melirik Karamel.
“Ya, kenapa? Sudah tahu, ‘kan? So, jangan ganggu aku lagi. Ayo, Ra, aku antar ke kelas kamu!”
Kembang kopinya jangan lupa 😚
__ADS_1