Istriku Bukan Adikku

Istriku Bukan Adikku
IBA — Bab 27


__ADS_3

Azka menahan tangan Karamel agar tidak berontak saat laki-laki itu mencium bibirnya. Azka terus memaksakan ciuman mereka, sampai membuat Kara menggigit bibirnya.


Karena kesakitan, Azka melepaskan ciuman mereka dan mulai menyesap leher Kara. Dia semakin berambisi membuktikan omongan Arsha itu salah.


Tangan Azka bergerak cepat menggenggam benda bulat dan kenyal yang masih terbungkus kaus. Kara mulai berteriak, tapi Azka seolah tuli. Dia mulai merasakan sesuatu yang mengeras di balik celananya.


“Teriaklah, aku tidak peduli,” kata Azka yang tidak berhenti menggesekkan kedua bagian penting dalam tubuh bawah mereka.


Kara yang tidak tahu apa-apa malah dibuat bingung oleh perlakuan Azka itu. Apa ini bisa disebut pelecehan? Tapi, mereka sudah menikah.


Suara teriakan Kara yang cukup kencang membuat Arsha ingin melihat apa yang terjadi. Pintu kamar yang sedikit terbuka membuat Arsha bisa dengan jelas melihat apa yang terjadi pada mereka. Matanya memerah menahan sesak di dada saat melihat kakaknya sendiri memperlakukan Kara dengan kasar.


Hampir saja dia masuk untuk menghajar kakaknya sendiri, tapi tangan Mama Dita menahan gerakannya.

__ADS_1


“Mereka sudah menikah. Azka pasti tahu apa yang harus dia lakukan. Arsha, biarkan kakakmu dan Kara memulai hidup baru mereka. Ikhlaskan Kara, Arsha. Mungkin dengan begitu kakakmu bisa membuktikan apa dia benar-benar normal atau tidak,” kata Mama Dita.


Mama Dita menarik tangan Arsha agar menjauh dari kamar Azka dan Kara.


“Ma, jangan hanya memikirkan anak Mama, tapi pikirkan Kara juga. Dia berhak bahagia, Ma,” protes Arsha yang merasa kesal dengan sikap mamanya.


“Arsha, Kak Azka itu lebih dewasa dan dia lebih bisa bertanggung jawab dengan Kara. Kalau kamu tidak ikut campur dan membiarkan kakakmu mengurus istrinya, kamu pasti akan melihat Kara bahagia.”


“Kenapa bukan aku saja yang dijodohkan? Mama sama Papa itu hanya memanfaatkan Kara, ‘kan? Aku akan membuktikan sama Mama, kalau aku juga bisa bertanggung jawab dan lebih bisa membahagiakan Kara. Lihat saja, aku akan merebut Kara dari Azka.”


Sementara itu, Azka masih sibuk dengan urusannya sendiri hingga membuat Kara menangis. Meski masih berpakaian utuh, tapi cara Azka memperlakukan Kara membuat gadis itu menangis ketakutan.


Sadar jika istrinya ketakutan, Azka pun melepaskan cengkeramannya pada tubuh Karamel dan berdiri dengan bagian bawah yang terasa sesak.

__ADS_1


“Aku laki-laki normal yang bisa marah saat melihat istrinya jalan dengan laki-laki lain. Itu belum seberapa karena aku bisa melakukan yang lebih dari ini, Mel.” Azka berjalan ke kamar mandi dan membiarkan Kara menangis sendirian.


Arsha sudah selesai bersiap. Dia akan meninggalkan rumah orang tuanya malam ini juga. Dengan ransel di punggung, Arsha menemui mamanya untuk berpamitan. Bagaimanapun juga dia masih anak beradab yang menghormati orang tuanya.


“Arsha kamu mau ke mana?” tanya Mama Dita panik.


“Aku mau pergi dari sini, Ma. Aku ingin hidup mandiri dan menghasilkan uangku sendiri,” jawab Arsha dengan sangat percaya diri.


“Kamu mau ke mana, Arsha? Apa kamu marah sama mama dan Kak Azka?” tanya Mama Dita khawatir. Dia menyentuh seluruh tangan putranya dan mencegahnya pergi.


“Aku tidak bisa tinggal bersama Kara dan dia, Ma. Aku akan berusaha mencari uang sendiri supaya aku layak untuk Kara dan aku akan merebut Kara dari suaminya yang tidak normal itu,” jawab Arsha.


Kara yang sedang mencari Mama Dita untuk curhat, tanpa sengaja mendengar pernyataan Arsha.

__ADS_1


“Apa maksud Kak Arsha?”


Kembang kopinya jangan lupa.. like dan komennya juga jangan kelewat ya 😚😚


__ADS_2