Istriku Bukan Adikku

Istriku Bukan Adikku
IBA — Bab 34


__ADS_3

Kara terlihat sibuk membaca buku yang baru dibelinya. Buku berisi edukasi seeks untuk anak usia dini itu benar-benar membuatnya bosan.


Gadis itu melirik suaminya yang sedang fokus bekerja. Diam-diam, dia merebahkan tubuh karena sangat bosan membaca. Tidur sebentar pasti tidak akan ketahuan, ‘kan?


Lima menit berselang, seorang wanita cantik yang menjadi sekretaris Azka masuk.


“Permisi, Pak. Ini kontrak yang Bapak minta!” Wanita itu menyerahkan map berisi surat kontrak kerja yang Azka minta.


Mata Azka malah tertuju pada Kara yang tertidur di sofa dengan buku yang menutupi wajahnya.


“Oke, besok saya tidak ke kantor. Semua kerjaan bisa kamu email seperti biasa. Kalau ada apa-apa langsung telfon saya,” kata Azka yang kembali memperhatikan sekretarisnya.


“Baik, Pak. Em, apa Bapak butuh sesuatu lagi?” tanya wanita itu.


“Bikinkan susu hangat saja, setengah jam lagi.” Tatapan mata Azka kembali tertuju pada Karamel yang masih tertidur.


Hal itu membuat sekretaris Azka itu ikut melirik Karamel.


“Apa saya perlu mencarikan selimut untuk adik Bapak?”


“Adik? Dia istriku, bukan adikku.”

__ADS_1


Jawaban Azka tentu saja membuat sekretarisnya itu kehilangan kata-kata. Selama ini, rumor di kantor memang mengatakan bahwa Azka mempunyai kelainan. Walaupun mereka tidak tahu pasti apa yang melandasi itu, tapi mereka sempat curiga dengan teman lama Azka yang dulu sering datang ke kantor.


“Enggak percaya? Karena dia terlalu muda? Memangnya kamu pikir saya sudah setua apa?” tanya Azka dengan kesal.


“Bu-bukan, Pak. Saya cuma ....”


“Cuma apa?”


“Cu-cuma tidak percaya, Pak. Karena kami belum pernah menghadiri pernikahan Bapak.”


“Memangnya saya harus bikin undangan untuk karyawan, supaya dapat sumbangan begitu?” Azka terus saja mengoceh membuat wanita cantik itu jadi serba salah. “Keluar kamu! Jangan bergosip. Awas saja kalau bergosip karena cuma kamu yang tahu!”


Sekretaris itu keluar dari ruangan Azka dengan perasaan takut. Entah dia sudah melakukan kesalahan apa sampai membuat Azka jadi kesal.


“Memangnya aku sama Karamel kelihatan jauh banget apa umurnya? Enggak cocok jadi suami istri? Cuma beda sepuluh tahun saja kenapa langsung dibilang adikku. Dasar sekretaris kurang cerdas!”


Azka terus menggerutu. Pikirannya yang kacau membuat Azka jadi gampang terpancing emosi.


***


Setengah jam kemudian, susu hangat sudah tersedia di meja Azka. Laki-laki itu lalu membangunkan Karamel yang masih terlelap tanpa terganggu sedikit pun.

__ADS_1


“Mel, ayo bangun! Kamu mau tidur di sini?” Azka menggoyang-goyangkan lengan istrinya.


Merasa terganggu, Kara pun membuka mata dan mengerjap-ngerjap. Dia masih belum sadar sepenuhnya di mana posisinya saat ini.


“Minum susu hangat dulu, baru kita pulang!” Azka menunjuk susu di meja, lalu dia berdiri dan mulai bersiap pulang.


“Kakak aku mau pipis,” kata Kara sambil menyingkirkan jas milik Azka yang dipakai untuk menyelimuti tubuhnya.


“Kamar mandinya di sana! Habis itu jangan lupa minum susu, biar tinggi kamu!” Azka memberitahukan letak toilet pribadi di ruangannya, lalu dia terkekeh saat melihat Kara cemberut karena ejekannya.


***


***


Azka dan Kara sudah sampai di apartemen mereka. Walau belum semua barang dipindahkan, tapi Azka memutuskan untuk tidur di apartemen supaya dia dan kara bisa belajar menyesuaikan diri.


Saat sampai di kamar mereka, ternyata hanya baju-baju Azka yang sudah dipindahkan.


“Kok enggak ada baju-baju aku sih, Kak? Terus aku gimana dong? Masa enggak pakai baju?” tanya Kara yang sudah gerah ingin segera mandi.


Kembang kopi, like, komennya banyakin dulu 💋💋💋

__ADS_1


__ADS_2