
Kara menghapus air mata yang membasahi pipi, lalu berjalan mendekati mertua dan iparnya. Perkataan Arsha tentang suaminya yang tidak normal, juga tentang Arsha yang ingin merebutnya dari Azka sangat tidak masuk pikiran Kara.
Apakah selama ini Arsha menyukainya? Bukankah dia adalah kakak ipar Arsha sendiri?
“Kara, ada apa, Sayang?” tanya Mama Dita yang baru menyadari kehadiran menantunya.
Kara terus berjalan memasuki kamar mertuanya, seolah tuli dengan pertanyaan Mama Dita.
“Ra, kamu dengar semuanya?” tanya Arsha yang kini berbalik badan untuk melihat Kara. Dia juga terkejut dengan kedatangan Kara yang tiba-tiba.
“Kenapa Kakak bilang Kak Azka tidak normal? Kenapa Kakak bilang akan merebutku dari Kak Azka?” Kara mengabaikan pertanyaan Mama Dita dan Arsha.
“Karena Papa Mama menjodohkan kamu dan Kak Azka untuk membuat Kak Azka normal lagi. Dia menyukai laki-laki Kara,” jawab Arsha. Dia melihat kedatangan Azka yang kini berdiri tak jauh di belakang Kara.
__ADS_1
Azka sendiri tidak mau mengelak, dia hanya diam karena penasaran dengan reaksi Kara. Apakah gadis itu akan menjauhi Arsha, atau malah menjauhi suaminya sendiri?
“Kak Azka, suka sesama jenis?” tanya Kara dengan nada lemah. Dia sangat terpukul mendengarnya. Apa benar suaminya tidak normal?
“Iya, Ra. Makanya aku mau selamatkan kamu dari pernikahan gila ini.” Arsha mendekat pada Kara.
Gadis itu diam sambil menundukkan kepala. Bibirnya bergetar menahan rasa kecewa yang menjalar di ulu hati, tapi bukankah menuduh tanap bukti itu tidak harus dipercaya.
“Mama bilang, aku harus mendengarkan Kak Azka. Aku akan percaya jika aku dengar penjelasan dia, tapi kenapa Kak Arsha menuduh Kak Azka seperti itu?” tanya Kara dengan sorot tajam. Dia tidak ingin percaya tanpa bukti nyata.
Dalam foto itu terlihat jelas, Azka yang sedam diciumi oleh laki-laki lain. Cukup banyak adegan dalam foto itu yang menunjukkan kedekatan mereka.
“Ini Kak Azka.” Kara bergetar, dia menutup mulutnya dengan tangannya sendiri. Tidak percaya dengan apa yang terjadi dalam foto itu.
__ADS_1
“Ya, dan aku yang mengambil gambarnya sendiri,” jawab Arsha. Dia melirik kakaknya yang sedang menelan ludahnya dengan susah payah. “Kamu tahu Kara. Aku sudah suka sama kamu sejak lama, tapi karena aku tahu kamu sudah punya pacar, aku mundur perlahan. Lalu, Papa tiba-tiba bilang akan menjodohkan kamu sama Kak Azka. Papa bilang Kak Azka harus kembali normal karena dia anak kesayangan Papa.”
“Bukan begitu, Arsha.” Mama Dita mencoba menjelaskan. Dia tahu, sejak tadi Azka hanya diam mendengar tuduhan dan hinaan adiknya. Mama Dita jadi tidak tega melihat Azka.
“Aku, akan tanya langsung sama Kak Azka,” kata Kara. Dia berbalik badan dan menemukan suaminya yang mematung di pintu. “Kak Azka.”
“Aku bisa menjelaskan semuanya.” Azka mendekati Kara dan ingin mencoba menjelaskan pada gadis itu. Melihat Kara yang menatapnya dengan takut, Azka tahu Kara sudah terpengaruh dengan foto itu.
“Apa itu benar?”
“Foto itu memang benar, tapi yang terjadi sebenarnya tidak seperti yang kamu pikirkan, Mel. Aku bisa membuktikan kalau aku normal,” jawab Azka.
Jantung Kara berdebar keras membayangkan apa yang akan Azka lakukan. Baru saja Azka melakukan hal yang kasar dan membuatnya ketakutan, lalu sekarang dia ingin mengulanginya?
__ADS_1
Kembang kopinya jangan lupa