
Kara berhenti melangkah dan memejamkan mata sambil mengepalkan tangan. Hatinya seperti teriris karena sikap Arsha. Bagaimana bisa seorang adik ipar menyuruh kakak iparnya menceraikan kakak kandungnya sendiri?
“Kalau kamu mau aku bercerai, kenapa tidak kamu suruh saja kakakmu menceraikan aku? Kak Arsha, jangan bikin rasa segan dan kagum aku sama kamu jadi hilang ya. Terlepas seperti apa pun suamiku, kamu enggak berhak ngomong kayak gitu. Jangan ikuti aku lagi!” seru Kara sambil membuka lebar kelopak matanya yang memerah.
Arsha terdiam dan menatap kepergian kakak iparnya yang sedang menahan kesal. Dia merutuki kebodohannya sendiri yang memaksakan kehendak pada Kara. Jika Kara membencinya, maka kesempatannya akan semakin hilang.
Arsha kembali pulang dan malas ke kampus. Dia bertemu dengan Azka yang sedang dimarahi habis-habisan oleh papanya. Karena Azka tidak masuk kerja, proyek milyaran mereka hilang begitu saja.
Azka masih belum bisa konsentrasi bekerja. Dia masih memikirkan keberadaan Kara yang entah ada di mana. Laki-laki itu seperti kehilangan napas hidupnya sejak kepergian Kara.
“Azka, selain Kara, kamu juga punya tanggung jawab lain yaitu perusahaan. Sekarang kamu maunya apa?” tanya Papa Tio dengan suara lantang.
Arsha yang baru datang juga menunggu jawaban Azka. Dia berharap kakaknya itu akan menceraikan Kara.
__ADS_1
“Aku akan terus mencari Kara, Pa. Aku sangat merindukannya. Lebih baik Arsha saja yang memimpin perusahaan,” jawab Azka dengan pasrah.
“Apa kamu sudah sadar? Adik kamu itu masih kuliah, kerjanya keluyuran saja, mana bisa dia bertanggung jawab. Menjadi suami Kara saja papa meragukannya apalagi memimpin perusahaan,” balas Papa Tio semakin kesal.
“Aku tidak menginginkan perusahaan, Pa. Aku hanya mau Kara bukan yang lain,” sahut Arsha tak kalah emosi.
“Dia istriku, Arsha.” Azka berdiri dan mencekal kerah kemeja adiknya. Gurat lehernya mulai terlihat dengan rahang yang semakin keras. Azka sangat marah saat ini.
Azka melayangkan satu tinju di wajah Arsha yang membuat adiknya itu membalas dengan pukulan yang lebih keras.
Arsha kini berhasil mendorong tubuh Azka ke dinding.
“Laki-laki sepertimu enggak berhak mendapatkan cintanya Kara. Dia memang sangat naif saat membelamu. Kamu tahu, aku baru saja bertemu dengannya, dan dia bilang kalau dia tetap menghargai kamu sebagai suaminya, dasar suami baajiingan!”
__ADS_1
Satu pukulan lebih keras mengenai wajah Azka. Laki-laki itu bahkan mengeluarkan darah segar yang membuat Mama Dita menjerit keras.
“Arsha jangan! Ingat, Nak. Dia kakakmu, Arsha. Walau kamu membuatnya mati, belum tentu Kara menjadi milikmu,” teriak Mama Dita sambil menangis keras, tangannya mendekap erat tubuh Arsha yang perlahan mulai lemas.
“Kamu lihat dirimu sendiri Arsha, kamu sangat emosional. Bagaimana bisa kamu menjaga Kara dengan sikapmu yang seperti ini. Kalau waktu itu papa mengizinkan kamu yang menikah dengan Kara, bisa saja nanti saat Kara melakukan kesalahan, kamu melakukan tindakan di luar kendali seperti ini.”
Papa Tio menurunkan tangan Arsha dari tubuh kakaknya yang sudah berdarah-darah.
Sementara itu, Azka tidak mempedulikan lagi rasa sakitnya setelah dihajar Arsha. Yang saat ini dia pikirkan justru ucapan Arsha tentang Kara yang masih menghargai dirinya sebagai suami, setelah apa yang ia lakukan pada Kara. Rasanya jauh lebih sakit dari setiap pukulan yang Arsha berikan padanya.
Maafkan aku, Mel, maafkan aku. Aku benar-benar menyesal sudah menyakitimu. Apa ini hukuman yang harus aku terima? Apa setelah ini aku bisa menemukanmu, Mel? Aku sangat merindukanmu.
Kembang sama kopinya jangan lupa.. aku update cerai dulu ya akhir bulan ini kejar rangking wkkkk doakan bisa bertahan gaess
__ADS_1