
Azka mengikuti Ello yang sudah masuk ke restoran, dan ternyata laki-laki itu memang sengaja membawa bunga untuk Kara. Saat Azka masuk, Ello dan Kara sudah bertemu tepat di depan kasir dengan buket bunga yang hampir berpindah ke tangan Kara.
Azka yang melihat hal itu, merasa marah dan menarik Kara keluar dari restoran. Gadis itu terlihat mengukir senyum tipis saat berjalan mengikuti langkah suaminya.
Ello mengikuti Kara dan Azka sambil memegang buket bunga yang belum sempat diterima Kara.
“Mel, kamu masih berhubungan sama dia? Kenapa dia kasih kamu bunga?” tanya Azka sembari menahan kesal. Dia tidak ingin meledak di depan Kara yang nantinya akan membuat gadis itu semakin jauh darinya.
“Aku sama Ello ....”
“Iya, kamu sama Ello. Kenapa?” Mata Azka sudah memerah, napasnya memburu menahan amarah yang sudah ingin meledak.
“Azka,” panggil Olivia yang ternyata masih memperhatikan Azka sejak tadi.
__ADS_1
Azka dan Kara sama-sama menoleh. Azka sampai susah payah menelan ludahnya. Kenapa bisa semua ada di tempat yang sama di waktu yang sama pula?
“Oliv.” Azka tidak menyangka Olivia masih mengejarnya. Dia pikir setelah semua yang dikatakan tadi bisa membuat Olivia percaya dengan perasaannya, bahwa cinta Azka kini hanya untuk Kara.
“Kayaknya aku masuk dulu aja, enggak mau ganggu kalian,” kata Kara. Dia bergerak maju hendak meninggalkan Azka.
Namun, usaha Kara itu sia-sia saja karena Azka langsung menarik lengannya lalu merangkul pundaknya dengan erat. Kara tidak bisa ke mana-mana sekarang.
“Mumpung ada Oliv, biar aku perjelas supaya enggak ada salah paham, Mel. Aku cinta sama kamu. Yang aku katakan di depan minimarket itu, aku tarik kembali.” Mata Azka menatap tajam pada Kara yang berusaha sekuat tenaga untuk tidak tersipu, kalau tidak pasti rencananya akan gagal. “Dari kejadian itu aku banyak belajar, Mel. Rasa cinta aku ke kamu berbeda. Bukan hanya obsesi dan ingin memiliki, tapi cinta dan tanggung jawab yang menyadarkan aku bahwa kamu yang paling penting buat aku.”
“Jangan percaya, Ra. Dia begitu karena gagal memiliki mantannya yang sekarang sudah menikah. Kalau masalah tanggung jawab, aku juga bisa menikahimu.” Ello menatap Kara dengan serius.
Melihat itu, Emosi Azka sudah tidak bisa ditahan lagi. Dia mencengkeram kerah kemeja Ello dan mengepalkan tangan bersiap untuk menghajar Ello. Akan tetapi, dia masih menahan amarahnya karena tidak mau membuat keributan, apalagi membuat Kara membencinya.
__ADS_1
“Apa pantas laki-laki baik-baik mengatakan hal itu pada seorang istri di hadapan suaminya sendiri?”
“Azka, kalau dia mau sama istri kamu, kenapa kamu marah? Kalian menikah juga karena perjodohan. Istri kamu juga berhak bahagia. Kenapa kamu egois menghalangi kebahagiaannya?” sahut Olivia berusaha memprovokasi Azka lagi.
Azka melepaskan cengkeramannya pada kerah leher Ello. Dia lalu berbalik badan dan menatap Kara dengan putus asa. “Apa kamu bahagia sama dia, Mel?”
Kara menundukkan kepala, tapi Azka menangkup wajah itu dengan kedua tangannya. “Jawab, Mel. Apa kamu bahagia sama dia?” tanya Azka.
“Memangnya kalau aku bilang aku bahagia sama dia, Kakak akan melakukan apa?”
Azka memejamkan mata, debaran di jantungnya terasa semakin keras. Antara ikhlas dan tidak, Azka pikir mungkin ini yang terbaik untuk mereka.
“Kalau kamu bahagia pisah sama aku, akan akan mengabulkan apa pun yang kamu inginkan. Emang aku sangat salah,” jawab Azka dengan suaranya yang terdengar lemah.
__ADS_1
“Aku bahagia sama kamu, Kak. Aku sadar, manusia enggak ada yang sempurna,” balas Karamel.
Kembang kopinya dulu jangan lupa 😚😚😚