
Ungkapan cinta Ello pada Kara sukses membuat Azka dongkol. Meski sebenarnya, apa yang Ello katakan itu hampir sama dengan perkataannya pada Olivia waktu itu. Tetap saja, Azka cemburu.
“Ello, kamu enggak salah apa-apa. Aku yang enggak pantes buat kamu,” kata Kara sembari mengusap lembut lengan mantan pacarnya itu.
“Kalau enggak salah, kenapa kamu putusin aku? Kamu punya cowok lain?” tanya Ello, kecewa.
Kara menundukkan kepala, dia memang memiliki laki-laki lain seperti tuduhan Ello, bahkan mereka telah menikah. Akan tetapi, itu juga bukan kemauan Kara sendiri.
Helaan napas terdengar dari mulut gadis cantik yang memakai jumpsuit overall berbahan jeans itu. Dia menarik tangan Ello agar mereka bisa berjalan bersamaan.
“Sambil makan ya, aku lapar,” kata Kara.
Azka yang melihat mereka berjalan pergi, diam-diam mengikuti di belakang mereka. Sambil memakai maskernya, Azka mengikuti langkah istrinya bersama laki-laki lain.
Dia mengerti bagaimana perasaan Kara saat dia mengejar Olivia waktu itu. Ah, Olivia lagi. Seandainya saja waktu itu ia tidak bertemu dengannya.
Azka mencari tempat duduk yang tepat agar Kara tidak mengenali dirinya yang menguntit.
“Jelasin sama aku. Kenapa kamu putusin aku gitu aja?” tanya Ello setelah mereka memesan makanan dan minuman.
Kara menundukkan kepala sejenak sebelum akhirnya menatap wajah Ello. “Aku sudah menikah.”
Bagqi disambar petir di siang bolong, Ello sampai membuka mulut lebar-lebar saking terkejutnya.
__ADS_1
“Enggak lucu, Ra.” Ello sampai memundurkan tubuhnya dan bersandar di kursi. “Kamu bohong, Kara.”
“Enggak, El. Aku serius. Aku menikah di rumah sakit sesaat sebelum ayah meninggal.”
“Berarti kamu enggak cinta sama dia ‘kan, Ra? Aku yakin kamu masih punya perasaan sama aku,” kata Ello sembari menggenggam tangan Karamel.
“Aku sudah menikah. Apa yang ayah pilihkan buatku, itu pasti yang terbaik. Meski entah ada cinta atau tidak di antar kami. Biar itu menjadi urusan kami. Yang jelas hubunganku sama kamu sudah berakhir. Ello, berbahagialah dan temukan gadis baik.” Kara menarik tangannya dari Ello.
“Kara, apa kamu benar-benar bahagia? Kalau tidak, aku akan menemui suamimu dan memintamu baik-baik.” Ello masih sangat berharap pada Kara. Dia sudah menyukai Kara sejak lama, tapi mereka baru berpacaran saat hampir lulus SMA.
Azka merasakan kepalanya yang mendidih saat Ello mengatakan hal seperti itu. Apakah Kara akan menerima penawaran itu?
“Aku enggak bisa, El. Aku enggak mau meminta pisah dari dia, kecuali dia sendiri yang menceraikan aku,” jawab Kara dengan suara bergetar.
Mendengar apa yang Kara katakan, hati Azka jadi bertambah sesak. Azka sadar, Ello jauh lebih muda dan tampan dibandingkan dengannya. Kara juga pasti memilih Ello karena hatinya menerima laki-laki itu, bukan karena terpaksa seperti dirinya. Namun, Kara masih memilih dirinya daripada Ello. Azka semakin merasa bersalah, menyakiti hati istrinya itu.
“Jadi, aku harap kita bisa jadi teman baik, El.”
Meski berat hati, Ello akhirnya mengangguk karena dia masih menghargai keputusan Kara.
****
****
__ADS_1
Dua hari sejak pertemuan Kara dan Ello, sikap Azka pada Kara jadi semakin manis. Meski mereka masih tidur terpisah, tapi Azka tetap berusaha menjadi yang terbaik untuk Kara.
Sore ini, Kara meminta izin untuk pulang terlambat. Dia menemani Seli membelikan hadiah untuk pacarnya.
“Kamu sama Pak Azka masih belum baikan?” tanya Seli saat mereka sibuk memilih kemeja yang cocok.
“Belum, aku aja belum yakin sama perasaan dia,” jawab Kara.
Azka memang sudah berusaha meyakinkannya bahwa laki-laki itu mencintainya. Akan tetapi, dia yang mendengar sendiri ungkapan cinta Azka pada Olivia, membuat hati Kara susah yakin.
“Gimana kalau kita uji saja. Jadi, kamu tahu jelas Pak Azka cinta ke kamu atau Kak Oliv.”
“Caranya?”
“Ada sih. Tapi, kamu juga harus siap patah hati sih kalau ternyata nanti terbukti Pak Azka cintanya sama Kak Oliv.”
“Sebenarnya enggak ada gunanya lagi sih, Sel.”
“Kalau aku sih yakin Pak Azka itu udah cinta sama kamu. Tapi, ya enggak ada salahnya ‘kan dicoba dulu, Ra?”
Setelah berpikir cukup lama, Kara akhirnya menghela napas berat dan membalas. “Boleh deh, Sel.”
***
__ADS_1
Kembang kopinya jangan lupa 😚😚