
Kara terbangun di pagi yang masih gelap, di kamar yang berbeda dengan keadaan yang berbeda pula. Dia sangat kaget saat merasakan dekapan hangat tangan Azka yang tidur di belakangnya. Saking kagetnya Kara, gadis itu sampai mendorong tubuh suaminya tapi malah dia sendiri yang terjatuh dari kasur.
Azka yang terusik tidurnya karena mendengar suara benda jatuh, seketika langsung bangun dan melihat Kara yang terjatuh sambil memegangi paantatnya. Wajah sedihnya itu menunjukkan bahwa dia sangat kesakitan, bahkan kini Kara mulai menangis.
“Kamu kenapa, Mel?” Azka turun dari kasur dan memeriksa keadaan istrinya itu.
“Sakit, Kak.” Kara semakin menangis sambil terus mengusap bagian tubuhnya yang terasa sakit akibat jatuh dari kasur.
“Lagian kamu banyak tingkah, sudah dipeluk juga tetap saja bisa jatuh, gimana sih?” Azka hanya berani mengusap pinggang dan punggung Kara saja karena takut gadis itu tidak mengizinkan dan malah akan membuatnya marah.
“Aku lupa kalau kita tidur sekamar, Kak.”
Seketika itu Azka malah tertawa karena jawaban Kara itu. Padahal tadi malam mereka sudah sepakat. Mereka bahkan bercerita banyak hal untuk saling mengenal satu sama lain, bagaimana bisa Kara melupakan hal itu saat dia terbangun?
“Kakak jahat.” Kara sudah tidak terlalu merasakan sakit, tapi dia masih kesal dengan Azka yang malah menertawakannya.
“Ya sudah sini peluk, biar sedikit berkurang malunya,” kata Azka. Dia lalu memeluk Kara dan menyembunyikan wajah sang istri di dadanya.
__ADS_1
“Kakak bikin aku malu.” Kara balas merangkul pinggang Azka dengan kedua tangannya.
***
Azka akan menghadiri rapat pagi ini. Karena sekarang sudah ada Kara, dia mulai mengajari Kara untuk membantu menyiapkan kebutuhannya.
“Mel, bantu pakaikan dong!” pinta Azka saat melihat Kara sedang bermain ponsel.
“Memangnya Kakak enggak bisa pakai baju sendiri?” tanya Kara yang sepertinya enggan membantu Azka.
“Kamu katanya mau berubah jadi istri yang baik, ayo dong bantuin!”
“Kakak lebih dewasa tapi pakai baju saja tidak bisa,” gumam Kara. Dia memakaikan kemeja suaminya dan malah salah fokus dengan tubuh atletis Azka yang sangat terawat.
“Biasa saja lihatnya. Ini karena hasil rajin berolahraga,” kata Azka saat Kara terdiam memandangi tubuhnya.
“Aku biasa saja kok.” Kara kini membantu mengancingkan kemeja Azka walau sedikit kesulitan karena dia harus berjinjit. Maklum saja, Kara memang mungil dibanding Azka yang jangkung.
__ADS_1
“Masa sih, memang pacar kamu seganteng apa? Ganteng mana sama kakak?” tanya Azka semakin menggoda Kara.
“Yang jelas gantengnya Ello itu karena imut, dia ‘kan seumuran sama aku,” jawab Kara.
Azka yang mendengar jawaban jujur itu malah jadi sewot sendiri. Salah tanya ‘kan jadinya?
“Kakak gimana caranya aku masangin dasinya?” keluh Kara yang bingung, mengingat tinggi badannya yang sangat jauh di bawah Azka, Kara memang lebih sulit melakukan hal-hal seperti ini.
“Makanya minum susu biar tinggi.”
***
***
Kara menemani Azka sarapan sebelum berangkat ke kantor. Dia bahkan melayani Azka saat makan, meskipun karena paksaan Azka.
Melihat pemandangan indah itu Mama Dita ikut bahagia dan bersyukur karena perubahan Kara saat ini.
__ADS_1
“Kakak, aku nanti nebeng Kak Arsha boleh, ‘kan? Daripada naik ojek, ‘kan jadi lebih hemat.”
Azka berdehem lalu mengangguk. Kalau bilang tidak boleh, pasti Kara pikir dia membatasi kebebasannya. “Tapi ingat, cuma nebeng, enggak lebih!”