
Kara memeluk erat tubuh Azka yang masih membeku. Jawaban yang Kara berikan membuat laki-laki tampan yang usianya sepuluh tahun di atas istrinya itu tersenyum bingung.
“Kamu enggak bercanda ‘kan, Mel?” tanya Azka yang seakan masih tidak percaya. Dia membalas pelukan Kara dan melihat Olivia tersenyum.
“Aku serius, Kak.” Kara melepas pelukannya dan menatap Azka sembari tersenyum.
“Kamu enggak lagi ngerjain aku, ‘kan?” tanya Azka curiga. Matanya menatap Seli yang berjalan menghampiri Olivia, suatu kebetulan yang sangat aneh.
“Maaf, Kak. Aku memang sengaja biar tahu perasaan kamu yang sebenarnya,” jawab Kara, merasa bersalah.
“Kalau Ello?”
“Aku juga bagian dari rencana Kara karena aku juga mau pastikan kalau Kara dapat suami yang baik,” sahut Ello sembari menyerahkan buket bunganya pada Azka. “Kasih dong, biar romantis.”
Azka menerima bunga itu dan memberikannya pada Kara. “Dari mantan kamu,” katanya yang kemudian kembali memeluk Kara. Rasa bahagia kini sangat Azka rasakan. Meski ia telah dikerjai istrinya sendiri, tapi dengan begitu hubungan mereka kembali membaik.
“Ra, kita pulang dulu. Bentar lagi mertua kamu datang,” kata Seli yang membuat pelukan Azka dan Kara terlepas.
Kara memang mengatakan pada Azka untuk datang lebih awal, padahal sebenarnya itu untuk menjebak Azka ke dalam perangkap rencananya bersama Seli.
“Seli, Kak Oliv makasih banget ya untuk bantuannya.” Kara memeluk Seli dan juga Olivia.
“Sama-sama, aku harap kalian bisa langgeng.” Olivia membalas pelukan Kara.
“Jangan lupa traktirannya, Ra.”
__ADS_1
“Iya, siap.”
Seli dan Olivia meninggalkan restoran itu. Kini, giliran Ello yang berpamitan dengan Azka dan Kara.
“Makasih ya, El.”
“It's oke. Aku harap kalian selalu bahagia,” kata Ello dengan tulus. Meski dia masih mencintai Kara, tapi dia mengikhlaskan Kara bersama suaminya.
“Thanks, Bro.”
Ello mengangguk dan meninggalkan restoran.
Azka lalu mengajak Kara untuk masuk ke restoran dan memulai hubungan baru mereka yang sedang bahagia.
Azka tersenyum dan menggelengkan kepala. “Aku malah bahagia banget karena akhirnya kamu benar-benar kembali sama aku. Makasih, Mel.”
“Semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua, Kak. Aku juga mau hidup bahagia, bukan hidup dengan sakit hati yang akan buat aku tersiksa juga.”
“Aku cinta kamu, Mel. Sungguhan, aku sekarang yakin sangat yakin kalau kamu sudah mengisi hatiku sejak kamu panggil aku, Om.”
Kara tertawa pelan. Ternyata suaminya masih mengingat panggilan pertamanya dulu. “Aku juga cinta kamu, Kak. Tapi, jangan ulangi lagi.”
“Enggak akan. Aku janji, Mel.”
Dua manusia yang baru saja berbaikan itu saling tertawa dan mengungkapkan cinta. Tidak lama, mama dan papa Azka yang mengundang mereka berdua makan malam, akhirnya tiba.
__ADS_1
“Kok kalian udah datang?” tanya Mama Dita yang kemudian duduk bergabung dengan Kara dan Azka.
“Iya, Ma. Kita udah dari tadi kok, ya ‘kan, Sayang.”
Dipanggil sayang oleh Azka, wajah Kara benar-benar merona seperti udang rebus. “Apa sih, Kak. Malu tau sama Mama Papa,” balas Kara.
“Kalian udah balikan?” tanya Mama Dita dengan raut tak kalah bahagia.
Azka mengangguk dan merangkul pundak Kara sebagai jawaban.
“Wah, bagus dong. Impian papa buat nimang cucu dari kalian bisa segera terwujud kayaknya,” sahut Papa Tio.
Azka hanya tersenyum biasa sedangkan Kara malah semakin merona.
“Jangan dulu dong, Pa. Kara ‘kan masih sangat muda.” Mama ikut memberi komentarnya.
“Enggak dulu, Pa. Aku yakin Karamel masih ingin menikmati masa mudanya.”
“Tapi kamu udah berumur, Azka.”
“Enggak masalah, Pa.”
Mendengar perdebatan mama, papa, dan suaminya, Kara jadi merasa bersalah. Azka dan Mama Dita sangat memikirkan perasaanya, tapi Kara yakin dua orang itu juga sama-sama menginginkan penerus. Apakah sudah saatnya dia memikirkan anggota keluarga baru untuk keluarga mereka?
Kembang kopinya dulu, jangan lupa 😍😍
__ADS_1